NovelToon NovelToon
Wanita Yang Kubuat Janda

Wanita Yang Kubuat Janda

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Angst / Amnesia
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: Aurora.playgame

Bagaimana rasanya dicintai oleh orang yang telah merenggut kebahagiaan keluarga kecilnya? Dan bagaimana jika ia juga terlanjur mencintai pria yang telah menghilangkan nyawa suaminya?
Dalam keadaan amnesia total, Raya menjalani hidupnya dalam ketidaktahuan akan siapa dirinya yang sebenarnya. Di balik kehangatan dan kemewahan hidup yang diberikan oleh pria di sisinya, tersembunyi kebohongan besar yang merenggut masa lalunya.
Ketika benih cinta mulai tumbuh di atas tanah kebohongan dan rasa bersalah, kenyataan kelam perlahan terkuak. Bisakah cinta bertahan saat fakta terungkap bahwa pria yang dipujanya adalah dalang di balik kehancuran hidupnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aurora.playgame, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 32: Getaran Cinta

Setelah acara makan malam semalam...

Sinar matahari pagi merembes lembut melalui tirai linen putih di kamar utama, membiaskan pendar keemasan yang hangat ke atas lantai kayu parquet.

Suara deru burung-burung kecil di dahan pohon cemara halaman belakang terdengar samar, berpadu dengan keheningan damai yang menyelimuti seluruh sudut mansion mewah milik Aris Prakasa.

Di atas tempat tidur king size yang luas, Raya mengerjap perlahan. Kepalanya terasa ringan, seolah tidak ada lagi sisa-sisa pusing atau bayangan mimpi buruk yang sering menghantuinya di bulan-bulan awal setelah kecelakaan maut itu.

Raya bangkit perlahan, merapikan piyamanya, lalu melangkah keluar dari kamar. Saat melewati koridor menuju tangga utama, ia mendengar suara percakapan pelan dari arah lantai bawah, suara berat yang begitu akrab dan sangat ia rindukan setiap detik, sejak malam itu.

Raya melangkah menuruni anak tangga satu per satu dengan senyuman kecil yang tak sadar terukir di bibirnya. Dari balik dinding pembatas ruang keluarga, ia melihat pemandangan yang selalu berhasil membuat hatinya berdesir hangat.

Aris berdiri di dekat pulau dapur dengan kemeja kerjanya yang lengannya dilipat sampai siku. Pria itu sedang berbicara melalui sambungan telepon di ponselnya, sementara tangan kirinya sibuk menuangkan air panas ke dalam cangkir kopi hitam.

Meskipun garis wajahnya tampak tegas dan berwibawa sebagai seorang CEO, ada kelembutan tersendiri yang terpancar dari cara pria itu berdiri.

Seolah menyadari ada sepasang mata yang tengah mengawasinya, Aris menoleh ke arah tangga.

Manik mata tajam Aris langsung bertemu dengan pandangan Raya. Seketika itu juga, raut wajah serius di wajah Aris mencair. Sebuah senyuman tulus, hangat, dan penuh kasih sayang pun terukir di bibirnya, senyuman yang hanya diperuntukkan bagi Raya seorang.

"Baiklah, Hendra. Lanjutkan saja jadwalnya. Aku akan menyusul nanti siang," ujar Aris singkat pada sambungan teleponnya, lalu mematikan sambungan tersebut.

Aris meletakkan ponselnya di atas meja marmer, lalu merentangkan tangannya sedikit menyambut kedatangan Raya yang kini sudah menuruni anak tangga terakhir.

"Pagi, Raya," sapa Aris dengan suara baritonnya yang menenangkan. "Kenapa senyum-senyum sendiri dari tadi? Ada yang lucu?"

Raya menggeleng pelan, pipinya merona merah muda secara alami. Ia melangkah mendekat, lalu berhenti tepat di hadapan Aris. Jarak di antara mereka begitu dekat hingga Raya bisa mencium aroma parfum maskulin bercampur wangi kopi segar dari tubuh pria itu.

"Tidak ada yang lucu," jawab Raya malu-malu, manik matanya menatap binar di mata Aris. "Aku hanya... sedang menikmati pemandangan."

"Pemandangan apa?" alis Aris terangkat sebelah, senyuman jail pun tersungging di sudut bibirnya.

"Pemandangan seorang pria hebat yang sibuk membuat kopi untuk dirinya sendiri, padahal rumah ini punya tiga orang pelayan," goda Raya ringan, mencoba menyembunyikan degup jantungnya yang bergemuruh kencang setiap kali berada dekat dengan Aris.

Aris tertawa kecil, suara tawa renyah yang sangat jarang didengar orang lain di luar sana, namun menjadi melodi terindah bagi Raya. Aris lalu mengulurkan tangannya dan merapikan helaian rambut Raya yang sedikit berantakan di dekat telinga wanita itu.

"Pelayan tidak bisa membuat kopi dengan takaran cinta yang pas seperti ini," balas Aris gombal, hingga membuat pipi Raya makin merona merah padam.

Raya memalingkan wajahnya sejenak untuk menyembunyikan rasa salah tingkahnya, namun Aris dengan lembut menangkup dagunya, dan memaksa wanita itu kembali menatap matanya.

Di detik-detik keheningan pagi itu, dada Raya kembali berdesir hebat, sebuah sensasi manis, berdebar, dan memabukkan yang sudah berbulan-bulan terakhir ini rutin mengisi hari-hari hidupnya.

**

Seiring berjalannya waktu, setelah badai ketakutan, ancaman eksternal, dan konfrontasi keluarga berhasil dilewati, hidup di dalam mansion megah itu telah berubah total bagi Raya.

Meskipun ingatannya tentang masa lalu sebelum kecelakaan masih tertutup rapat di balik tirai hitam yang tebal, Raya memilih untuk tidak lagi merisaukannya. Buat apa meratapi masa lalu yang tidak dikenal, ketika masa kini menawarkan kebahagiaan yang begitu nyata?

Dan di pusat kebahagiaan itu, berdiri sosok Aris Prakasa.

Pria yang awalnya ia kenal sebagai penyelamat dan kekasih yang sabar kini telah bermetamorfosis menjadi seluruh dunianya. Setiap perhatian kecil yang Aris berikan, mulai dari memakaikan selimut saat ia tertidur di sofa, memastikan ia meminum vitamin tepat waktu, hingga tatapan mata penuh puja yang selalu Aris lemparkan kepadanya, membuat pertahanan hati Raya runtuh sepenuhnya.

Raya sedang jatuh cinta.

Bukan sekadar rasa terima kasih atau rasa bergantung pada seorang pelindung. Ini adalah rasa cinta yang murni, membara, dan mendebarkan, perasaan yang persis seperti yang dirasakan oleh seorang gadis belia yang baru pertama kali mengenal debar asmara.

Siang harinya, Raya duduk di ruang baca lantai dua sambil membaca sebuah novel roman klasik. Namun, konsentrasinya buyar total. Matanya berulang kali melirik ke arah jam dinding, lalu menatap layar ponsel di atas meja nakas.

"Sudah jam dua siang... Sebentar lagi Aris akan menelepon atau mengirim pesan," batin Raya tersenyum sendiri.

Benar saja, beberapa detik kemudian, ponselnya bergetar ringan. Nama "Aris" tertera di layar dengan ikon foto profil pria itu yang sedang tersenyum tipis.

Raya segera menggeser tombol hijau, dan mendekatkan ponselnya ke telinga dengan debar jantung yang mendadak berlari kencang.

"Halo, Aris...?" sapa Raya, suaranya terdengar begitu manis dan antusias.

"Halo, Raya... Apakah kamu sudah makan siang?" suara bariton Aris yang hangat langsung menyapa gendang telinganya, seolah pria itu sedang berbisik tepat di sebelah telinganya.

"Sudah... Aku baru saja selesai makan bersama Suster Santi dan Cyla. Kamu sendiri bagaimana? Jangan bilang kamu melewatkan makan siangmu lagi karena sibuk dengan rapat direksi?" selidik Raya dengan nada manja.

Di seberang sambungan sana, Aris terdengar tertawa pelan. Tawanya membuat perut Raya dipenuhi oleh ribuan kupu-kupu yang berterbangan liar.

"Iya, iya... Ampuni aku, Nona Dokter Pribadi," jawab Aris meledek penuh kelembutan. "Aku baru saja mau memesan makanan. Aku hanya menelepon untuk mendengar suaramu sebentar di tengah hari yang melelahkan ini."

Raya merona merah sendirian di ruang baca. Jantungnya bergemuruh hebat. Rasanya begitu luar biasa dicintai oleh pria sehebat Aris.

"Pekerjaanmu kan masih banyak, jangan menggodaku terus," cicit Raya malu-malu.

"Aku tidak sedang menggodamu, aku sedang jujur," suara Aris mendadak berubah menjadi sangat dalam dan serius. "Setiap kali hari terasa berat di kantor, bayanganmu di rumah adalah satu-satunya hal yang membuatku ingin segera menyelesaikan semuanya dan pulang secepat mungkin."

Kalimat itu menghantam dada Raya dengan gelombang kehangatan yang amat sangat. Matanya berkaca-kaca oleh rasa haru dan bahagia yang meluap-luap. Ia pun meremas ujung gaunnya erat-erat.

"Pulanglah cepat, Aris... Aku akan menunggu di sini," bisik Raya.

"Aku akan pulang secepat kilat, Sayang. Sampai jumpa nanti sore."

Sambungan pun terputus. Raya menurunkan ponselnya dari telinga, lalu mendekatkan benda pipih itu ke dadanya, dan merasakan debar jantungnya sendiri yang masih belum mau tenang. Ia merasa seperti perempuan paling beruntung di muka bumi ini.

"Rasanya bahagia sekali walau hanya mendengar suaranya..."

Bersambung...

1
YuWie
aris jg menderita..klo mental raya sdh kuat..jujur saja pak aris.. drpada broken semuanya
YuWie
masih di kota yg sama mana bisa sembunyi terus menerus pak aris..pindah gih ke luar negri
YuWie
lhaa gimn.. katanya semua sdh dijauhkan..kok malah terbaca tuh berita
YuWie
Luar biasa
YuWie
dang nikahi raya nya pak aris.
YuWie
klo ingatan raya kembali, apa jadinya pak aris
Aurora: kita cari tau jawaban di next episode-episode berikutnya...😃🤗
total 1 replies
YuWie
kebetulan ya ris..cintamu kau dptkan 😁
Aurora: Xixixi... hanya terbalut banyak boong 😅😅
total 1 replies
YuWie
pandangan pertama langsung jatuh cinta, suami nya pas is death..mmg jodohmu si raya ini pak arus..tapi sayang nya..jalannya tragis.
Aurora: yup, cinta pada pandangan pertama tak jarang terjadi 🤗
total 1 replies
YuWie
mabuk kok nyopir sendiri pak aris...
YuWie
secantik apa wanita itu aris..sehingga membuatmu falling inlove in first moment
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!