NovelToon NovelToon
Sistem Guru Legendaris: Dari Guru Buangan Menjadi Guru Terhebat

Sistem Guru Legendaris: Dari Guru Buangan Menjadi Guru Terhebat

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Mengubah Takdir / Idola sekolah
Popularitas:7.3k
Nilai: 5
Nama Author: Nissa Safira

Husen Alkhafi adalah seorang guru idealis dengan kemampuan mengajar luar biasa yang ditugaskan ke SMA Garuda dan memimpin Kelas XI-7 yang terkenal sebagai sarang berandalan.

Namun, di tengah keputusasaan menghadapi murid-murid bermasalah yang hobi melawan guru, Husen membangkitkan Sistem Guru Legendaris yang memungkinkannya melihat potensi tersembunyi setiap siswa beserta kelemahan mereka.

Kini, berbekal sistem misterius dan keteguhannya, Husen bertekad mengubah kelas sampah itu menjadi yang terbaik, membimbing murid-muridnya menuju masa depan yang cerah,

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nissa Safira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 22

Sorak sorai penonton kembali bergemuruh saat babak semifinal kategori Debat Sosial akhirnya dimulai.

Bara melangkah naik ke atas panggung dengan tatapan mata yang sangat berbeda dari babak penyisihan tadi.

Aura dingin sisa dari perkelahian di toilet pria masih menempel jelas di wajahnya.

Rico berjalan mengekor di belakangnya dengan langkah yang jauh lebih mantap dan tidak lagi gemetar.

Mereka kini berhadapan dengan tim unggulan dari SMA Bina Bangsa yang terkenal sangat kaku pada teori hafalan buku.

"Topik semifinal siang ini adalah Penghapusan Sistem Sekolah Bertaraf Internasional di sekolah negeri."

Dewan juri membacakan topik tersebut dengan suara lantang yang langsung menggema di seluruh sudut ruangan.

"Tim SMA Bina Bangsa sebagai pihak Pro, dan SMA Garuda Kelam sebagai pihak Kontra."

Ketua tim Bina Bangsa langsung mengambil mikrofon dengan wajah sangat angkuh dan meremehkan lawan di depannya.

"Sekolah bertaraf internasional sangat penting untuk mencetak bibit unggul yang bisa bersaing di dunia luar."

"Menghapus sistem itu sama saja dengan membunuh potensi anak cerdas demi menyamakan rata dengan murid yang tertinggal."

Bara mendengus kasar sampai suara napasnya terdengar jelas menembus mikrofon yang sedang dia genggam erat.

Dia menatap ketua tim lawan itu seolah sedang melihat mangsa yang sangat bodoh masuk ke kandang singa.

"Lu bilang mencetak bibit unggul buat bersaing di luar negeri?"

"Kenyataan di lapangannya, sekolah bertaraf internasional itu cuma tempat penitipan anak orang kaya yang kelebihan uang!"

Suara Bara meledak dengan sangat keras dan mengintimidasi sampai membuat tim lawan sedikit terlonjak mundur.

"Kalian pakai fasilitas negara, pakai uang pajak rakyat kecil, tapi yang bisa masuk cuma anak pejabat yang sanggup bayar uang pangkal puluhan juta."

"Terus lu berani bilang itu demi kemajuan bangsa saat sekolah di daerah pinggiran bocor atapnya setiap kali hujan turun?!"

Ketua tim Bina Bangsa menelan ludah dengan susah payah dan mencoba membalas dengan suara yang sedikit bergetar.

"Tapi data statistik menunjukkan lulusan sekolah internasional lebih banyak diterima di universitas top dunia!"

"Itu bukan karena sistem sekolahnya yang hebat, tapi karena bapak mereka sanggup bayar les ratusan juta sejak umur mereka lima tahun!"

Bara langsung memotong argumen itu tanpa ampun sedikit pun dan menunjuk tepat ke wajah pucat lawannya.

"Rico, bacakan alokasi dana pendidikan kota ini tahun lalu sekarang juga!"

Rico langsung membuka layar ponselnya dan membacakan data dengan suara lantang yang dipenuhi rasa percaya diri.

"Tujuh puluh persen dana subsidi daerah hanya berputar di lima sekolah unggulan, sementara lima puluh sekolah pinggiran harus berebut sisa tiga puluh persennya!"

Skakmat kedua yang jauh lebih telak dan mematikan dibandingkan dengan babak penyisihan sebelumnya.

Dewan juri dan seluruh penonton mendadak terdiam membisu mendengar kebusukan sistem yang ditelanjangi secara terbuka di atas panggung.

Bara mencondongkan tubuhnya ke depan dan menatap tajam para juri satu per satu tanpa rasa takut.

"Sistem sekolah elite itu cuma mesin pencetak kesenjangan sosial yang selama ini dilegalkan oleh pemerintah daerah."

"Kalau kalian mau mencetak anak bangsa yang tangguh, ratakan fasilitasnya dan biarkan kita bertarung murni dengan otak, bukan dengan dompet tebal orang tua!"

Teng teng teng.

Bel tanda waktu habis berbunyi nyaring, tapi tidak ada satu pun orang yang berani bersuara di gedung itu selama beberapa detik.

Prok prok prok!

Husen menjadi orang pertama yang berdiri tegak dan bertepuk tangan dengan sangat keras dari kursi penonton.

Tepukan tunggal itu langsung memicu gemuruh sorakan dukungan yang jauh lebih meriah dari seluruh penjuru gedung.

"Keputusan mutlak tanpa bantahan, SMA Garuda Kelam berhak melaju ke babak Final!"

Bara meletakkan mikrofonnya pelan ke atas meja lalu turun dari panggung dengan senyum kepuasan yang luar biasa lebar.

Dia menoleh ke arah tribun VIP dan menatap Reno dengan tatapan menantang yang sangat menyala-nyala.

Di ruangan aula yang berbeda, babak semifinal untuk kategori Sains Terapan juga sedang berlangsung dengan suhu ketegangan yang tinggi.

Nisa berdiri tenang di depan meja presentasi dengan generator magnetik ciptaannya yang terus berputar konstan tanpa henti.

Dewan juri tingkat kota sedang mencatat hasil tegangan listrik yang dihasilkan oleh alat tersebut dengan wajah penuh rasa takjub.

"Ini adalah tingkat efisiensi energi tertinggi yang pernah kami lihat dari seorang murid tingkat menengah atas."

"Kami sepakat untuk meloloskan karya Nisa Larasati ke babak Final tanpa perlu ada perdebatan lagi."

Namun, tiba-tiba terdengar suara langkah sepatu kulit yang sangat kasar mendekati area meja presentasi dewan juri.

Reno berjalan membelah kerumunan penonton dengan didampingi oleh dua orang panitia penyelenggara lomba.

Wajah anak konglomerat itu terlihat sangat merah padam menahan amarah yang sudah meledak hingga merusak akal sehatnya.

"Tunggu dulu, Bapak-bapak Juri yang saya hormati."

"Saya sebagai perwakilan keluarga sponsor utama acara ini menuntut agar alat itu dibongkar paksa sekarang juga."

Semua orang di dalam ruangan itu langsung menoleh ke arah Reno dengan tatapan heran dan sangat terkejut.

Nisa membetulkan letak kacamatanya perlahan dan menatap mantan teman satu sekolahnya itu dengan tatapan sedingin es.

"Apa hakmu mengganggu presentasi ilmiahku saat juri sudah memberikan keputusan mutlak, Reno?"

Reno tersenyum sinis lalu menunjuk ke arah generator magnetik Nisa yang sedang berputar di atas meja besi.

"Gue tidak percaya anak buangan dari sekolah rongsokan kayak lu bisa menciptakan energi loop tertutup yang melanggar hukum dasar fisika."

"Alat murahan itu pasti menyembunyikan baterai lithium berdaya besar di dalam alas besinya untuk memanipulasi putaran!"

Suara bisik-bisik keraguan langsung menyebar cepat di antara para penonton dan panitia lomba di belakang.

Beberapa juri mulai saling pandang dengan ekspresi ragu karena tuduhan Reno secara teknis memang masuk akal secara teori fisika klasik.

1
Dewiendahsetiowati
selamat untuk kemenangan sekolah Garuda Kelam Husein dan tiga serangkai Bara, Rico dan Nisa
Nissa Safira: Terima kasih banyak kak🥰🙏
Kemenangan ini bukan cuma buat Husen, tapi buat kita semua yang udah nahan kesel lihat kelakuan Pak Surya. Akhirnya tiga serangkai Bara, Rico, Nisa bisa senyum lega juga😁
Makasih ya kak udah jadi saksi kemenangan Garuda Kelam. Ditunggu dukungan kakak di tingkat nasional ya💪🥰🥰
total 1 replies
Dewiendahsetiowati
mampus kau
Nissa Safira: Mampus bener kak💪😂
akhirnya diborgol sendiri di depan wartawan. Puas banget nulisnya aku juga pas Husen colok flashdisk itu.
Makasih ya kak udah ikut puas bareng🤣🤗💪
total 1 replies
Aisyah Suyuti
seru
Nissa Safira: gasss terus kak.. ikuti keseruan cerita ini sampai akhir yaa🥰🔥
total 1 replies
Dewiendahsetiowati
lawan mereka Bara dan bikin malu mereka
Nissa Safira: gaaaas kak aku juga teriak bara lawan! lawan! 😤🔥
Tapi inget latihan Husen kak "Seorang pemimpin sejati tidak perlu memukul musuh yang bodoh, cukup mempermalukannya dengan fakta tajam"🔥🔥💪
total 1 replies
Dewiendahsetiowati
semakin seru ceritanya
Nissa Safira: waaaa makasih banyak kak 😭🙏
Serunya baru mulai kak.. Di Olimpiade nanti kita lawan Akademi Cakrawala lagi, Reno udah bilang "aku akan menghancurkannya sampai tak berbekas"! Bara juga udah ngamuk "aku ingin meremukkan kesombongan anak-anak kaya itu!"🔥🙏
total 1 replies
Dewiendahsetiowati
hadir thor
Nissa Safira: Hadirrr kak dewi😁🙏🔥
Absennya aku catet paling atas nih kak😂
Makasih udah hadir pagi-pagi kak💪
total 1 replies
xebeck D ron
akhirnya GK gabut gw😄😄
Nissa Safira: up tiap hari kok kak rudi💪
total 4 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!