NovelToon NovelToon
Cinta Rahasia Bad Boy

Cinta Rahasia Bad Boy

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Romansa Fantasi / Bad Boy
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: Naelong

Devan itu biang kerok kampus. Baju berantakan, muka dingin, dan selalu ditakuti orang-orang. Tapi tak ada yang tahu kalau si cowok urakan ini punya rahasia besar: dia jatuh cinta setengah mati sama Aura, cewek baik-baik yang hidupnya lurus banget.
​Devan sadar diri. Dia merasa terlalu "kotor" buat masuk ke dunia Aura yang terang. Makanya, Devan cuma berani memandangi Aura dari jauh—mengambil ribuan foto Aura secara diam-diam dan menjaganya dari balik layar.
​Sampai suatu hari, rahasia itu terbongkar. Semua orang di kampus akhirnya tahu siapa sosok di balik foto-foto itu. Sekarang Devan cuma punya dua pilihan: mundur dan pura-pura lupa, atau nekat ngejar Aura terang-terangan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Naelong, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

tugas kelompok

Udara pagi di kampus terasa dingin setelah semalaman diguyur hujan lebat.

Aura melangkah memasuki ruang kelas Manajemen Pemasaran Lanjut di lantai dua dengan kepala yang masih dipenuhi bayangan percakapannya dengan Devan di depan tangga rektorat sore kemarin.

Kata-kata Devan—'Biarkan gosip di kampus tetap jadi misteri, cukup kita berdua yang tahu'—terus berputar di kepalanya, membuat dadanya bergemuruh aneh setiap kali ia mengingat sentuhan lembut ibu jari cowok itu di pipinya.

​Aura duduk di bangku sudut langganan sebelah jendela, meletakkan tasnya di atas meja.

Tak lama kemudian, Nisa datang sambil membawa segelas kopi hangat, lalu langsung mendaratkan duduk di sebelah Aura dengan wajah cemberut.

​"Pagi, Ra. Aduh, gila ya, gosip tentang akun @BehindTheLens itu makin nggak ada habisnya di grup angkatan kita!" keluh Nisa sambil membuka buku catatannya.

"Kemarin anak-anak bisnis bilang kalau pemilik akun itu mungkin mahasiswa seni rupa, tapi anak-anak hukum yakin itu cuma kerjaan orang iseng. Kamu sendiri semalam nggak ikut memantau grup kan, Ra?"

​Aura tersenyum tipis, berusaha menyembunyikan rasa gugupnya. "Nggak, Nis. Aku semalam tidur lebih awal, capek."

​"Untung banget kemarin Pak Surya nggak sampai menyita kamera Devan gara-gara Reno yang cari gara-gara," lanjut Nisa menggelengkan kepala.

"Tapi jujur ya, aku masih ngeri kalau ingat Devan. Cowok itu bener-bener misterius dan bahaya."

​Aura hanya diam mendengarkan. Jantungnya berdesir kecil. Kalau kalian tahu siapa Devan sebenarnya di balik kamera itu, batin Aura, kalian pasti nggak bakal ngomong begitu.

​Pintu kelas mendadak terbuka lebar, menghentikan obrolan para mahasiswa. Pak Surya, dosen pengampu mata kuliah sekaligus Dekan Kemahasiswaan yang terkenal paling killer se-fakultas, melangkah masuk dengan setumpuk berkas tebal di tangannya. Wajahnya tampak kaku seperti biasa, tanpa senyuman sedikit pun.

​Seluruh mahasiswa langsung diam, merapikan duduk mereka dan bersiap mendengarkan.

Pak Surya meletakkan berkasnya di atas meja dosen dengan bunyi dentuman pelan

​"Selamat pagi semuanya," sapa Pak Surya dengan suara beratnya. "Hari ini kita tidak akan membahas materi teori pemasaran. Saya mau mengumumkan tugas besar akhir semester yang bobot nilainya sangat menentukan kelulusan kalian."

​Seisi kelas langsung riuh rendah berbisik-bisik panik. Tugas besar akhir semester berarti kerja kelompok yang rumit dan menyita waktu.

​"Diam!" bentak Pak Surya singkat, membuat ruangan kembali senyap seketika.

"Untuk tugas kali ini, kelompoknya tidak boleh kalian pilih sendiri. Saya yang akan membagikan anggotanya secara acak berdasarkan undian data akademik agar kalian belajar bekerja sama dengan berbagai karakter mahasiswa di kampus ini."

​Nisa langsung mendesah pasrah di sebelah Aura. "Duh, Ra, semoga kita satu kelompok, ya. Kalau aku dipasangkan sama anak-anak yang malas, bisa jantungan aku."

​Pak Surya mulai menyebutkan satu per satu nama mahasiswa dan memasukkan mereka ke dalam kelompok yang terdiri dari empat orang.

Satu demi satu nama dibacakan, hingga giliran kelompok nomor empat yang membuat darah Aura mendadak berdesir dan napasnya tertahan.

​"Kelompok empat," suara Pak Surya menggema tegas ke seluruh sudut kelas. "Aura Maharani..."

​Nisa langsung menepuk pelan tangan Aura. "Wah, kamu kelompok empat, Ra! Bagus tuh!"

​"...Reno Pratama..." lanjut Pak Surya menyebutkan nama cowok menyebalkan yang sempat membuat kehebohan di kantin kemarin.

​Reno yang duduk di barisan depan langsung menoleh ke belakang, menyeringai sombong ke arah Aura.

​"...Siska Permata..." Pak Surya menyebutkan satu nama mahasiswi lagi. "...dan Devan Alandra."

​Deg.

​Seluruh isi kelas mendadak senyap total. Beberapa mahasiswa langsung berbisik-bisik heboh, saling melirik ke arah bangku paling belakang tempat Devan biasa duduk sendirian.

​Aura membelalak kaget.

Jantungnya berdegup kencang bukan kepalang. Devan? Dia satu kelompok dengan siska dan Reno? Ini bukan sekadar tugas kelompok biasa; ini seperti memasukkan tiga singa dan satu mangsa ke dalam satu kandang yang sama!

​Di barisan belakang, Devan yang tadinya duduk dengan kepala bersandar di dinding sambil menutup mata perlahan mengangkat wajahnya.

Cowok itu mengenakan jaket kulit hitam biasa, rambutnya agak berantakan, dan tatapan matanya langsung lurus menabrak manik mata Aura dari kejauhan.

Tidak ada ekspresi terkejut di wajah Devan, hanya tatapan dalam yang sulit diartikan.

​"Pak Surya," protes Reno langsung sambil mengacungkan tangan tanpa rasa malu.

"Saya keberatan kalau harus satu kelompok sama Devan. Dia kan mahasiswa bermasalah, sering bikin onar, dan baru saja bikin ricuh di kantin kemarin. Nanti tugas kita malah hancur gara-gara dia!"

​Beberapa mahasiswa mengangguk-angguk setuju dengan ucapan Reno, sementara Nisa menatap Aura dengan cemas.

​Pak Surya melotot tajam ke arah Reno di balik kacamata tebalnya. "Sudah saya bilang, Reno, pembagian ini acak berdasarkan sistem! Tidak ada hak bagi kalian untuk memilih-milih teman kelompok. Nilai tugas ini mencakup kerja sama tim. Kalau kelompok kalian gagal, kalian semua gagal!"

​Reno mendengus kesal, melirik tajam ke arah bangku belakang sebelum akhirnya duduk kembali dengan wajah masam.

​"Baik," lanjut Pak Surya tak peduli protes mahasiswa.

"Topik tugas kalian adalah membuat dokumentasi visual dan strategi pemasaran langsung untuk pameran seni kampus minggu depan. Proposal awal harus dikumpulkan di meja saya lusa sore. Silakan kalian diskusikan kelompok masing-masing sekarang!"

​Pak Surya membereskan berkasnya, lalu melangkah keluar kelas. Begitu pintu tertutup, suasana kelas langsung pecah oleh suara protes dan kursi yang digeser.

​Nisa langsung menoleh ke arah Aura dengan wajah pucat. "Ya ampun, Ra! Kamu sial banget! Bisa-bisanya satu kelompok sama Reno yang menyebalkan itu, ditambah lagi sama Devan si bad boy! Ini mah bukan tugas kelompok, ini medan perang!"

​Aura tidak menjawab.

Pikirannya benar-benar kalut. Bukan karena takut pada tugasnya, melainkan karena ia tahu persis bagaimana perangai Reno yang selalu mencari-cari celah untuk menjatuhkan Devan. Dan sekarang, mereka dipaksa bekerja sama dalam satu tim yang sama.

​Dari barisan belakang, Devan berdiri dari kursinya. Cowok itu menyambar tas kainnya, memasukkan tangan ke dalam saku celana jinsnya, lalu berjalan perlahan mendekati meja Aura.

​Langkah kaki Devan yang tenang membuat seisi kelas mendadak memerhatikan gerak-geriknya. Suasana sekitar meja Aura terasa makin tegang.

​Devan berhenti tepat di sebelah meja Aura. Ia menatap Aura lurus-lurus, lalu melirik sekilas ke arah Reno yang sudah berdiri di dekat papan tulis dengan melipat tangan di dada, menatap mereka berdua dengan senyuman sinis.

​"Lu dengar kan kata dosen tadi, Aura?" suara Devan terdengar berat dan tenang, tidak memedulikan bisik-bisik mahasiswa lain di sekitar mereka. "Kita sekelompok."

​Aura mendongak, menatap mata Devan yang kelam namun menenangkan. "Iya... aku dengar, Devan."

​Sebelum Devan sempat melanjutkan kalimatnya, Reno sudah melangkah mendekat dengan gaya angkuh, sengaja menepuk keras sudut meja Aura.

​"Wah, reuni kecil nih rupanya," sindir Reno sambil tersenyum mengejek ke arah Devan.

"Ketua senat teladan, biang kerok kampus, dan si tukang cari masalah disatukan dalam satu kelompok. Menarik sekali. Mau mulai dari mana nih diskusi kita, Dev? Mau diskusi di bengkel motor lu yang kumuh itu?"

​Beberapa mahasiswa di sekitar mereka tertawa kecil mendengarkan sindiran tajam Reno.

​Rahang Devan langsung mengeras. Tangannya yang berada di dalam saku mengepal kuat-kuat.

Aura yang melihat perubahan emosi di wajah Devan langsung berdiri, buru-buru menyela sebelum Devan meledakkan amarahnya di tengah kelas.

​"Udah, Reno!" kata Aura tegas, menatap Reno dengan tatapan tajam.

"Kalau mau tugas ini selesai dengan benar, kita harus bahas secara profesional. Nggak usah bawa-bawa urusan pribadi."

​Reno mendengus sinis, melirik Devan dengan pandangan meremehkan. "Profesional kata si bad boy ini? Mana ngerti dia soal profesionalisme, Ra. Dia kan hidupnya cuma tahu cara merusak barang dan bikin onar."

​Devan maju satu langkah, posturnya yang tinggi langsung menutupi bayangan Reno.

Suara Devan keluar begitu rendah dan dingin, membuat siapa pun yang mendengarnya merinding.

​"Mulut lu mending dijaga, Reno," bisik Devan tajam, menatap lurus mata Reno tanpa berkedip. "Atau lu pengen muka lu lebam lagi kayak kemarin?"

​Reno tertegun sejenak, wajahnya sedikit memucat mengingat pukulan keras Devan di kantin, tapi ia tetap berusaha mempertahankan kesombongannya. "Lu... lu ngancam gue di depan umum, hah?!"

​"Udah, Devan! Cukup!" Aura menarik pelan lengan jaket Devan, mencoba meredakan situasi yang makin panas sebelum ada dosen lain yang datang melihat.

​Devan melirik Aura. Kemarahan di matanya perlahan mencair saat melihat kecemasan di wajah gadis itu. Devan menghembuskan napas kasar, lalu menatap Reno sengit.

​"Tempat diskusi kita sore nanti, di perpustakaan kampus jam empat," kata Devan tegas pada Reno. "Jangan telat."

​Setelah mengucapkan kalimat itu, Devan membalikkan badannya dan melangkah keluar kelas begitu saja meninggalkan ruangan yang kembali riuh oleh bisikan mahasiswa.

​Aura berdiri mematung di samping mejanya, menatap punggung Devan yang menjauh di balik pintu. Hatinya merasa cemas luar biasa.

Tugas kelompok acak ini baru saja dibentuk, tapi Aura tahu persis, pertemuan sore nanti di perpustakaan pasti akan memicu badai besar yang tidak bisa dihindari.

​Bersambung...

1
Naelong
mohon maaf yaa siang ini aku belum up, insyaallah malam nanti baru up. nanti aku up dabbel ya🙏. makasi yang sudah mempir. semoga kalian sehat selalu😍. ohh yaa jangan lupa tinggalin jejek ya, comment, likenya
Naelong
terimakasi yang udah mampir😍, semoga sehat sehat slalu🙏
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!