Judul Novel: TUMBAL 1000 NYAWA
Sinopsis:
Sekte ghaib Kala Hitam berniat membangkitkan sosok Penguasa Abadi yang haus darah. Untuk mewujudkannya, sekte ini menebar teror Sumpah Sewu—sebuah ritual kelam yang menuntut seribu tumbal nyawa manusia di tujuh cabang wilayah terisolasi di Pulau Jawa.
Arya, seorang pemuda wewaris kekuatan kuno Minyak Naga Sakti, mendapati takdirnya terikat pada ancaman besar ini. Didampingi oleh Baskara—ayahnya yang merupakan petarung veteran penuh trauma masa lalu, Mbak Sekar—seorang praktisi mystik senior, serta Kirana—putri pakar gaib yang dibekali rajah ular beracun, Arya memulai perjalanan berbahaya untuk memutus rantai sumpah terlarang tersebut.
Satu per satu jangkar ritual harus mereka hancurkan: mulai dari teror ilmu pelet di Desa Alas Mayit, ilusi ingatan Pasang Tuwuh di Hutan Kelabu Gunung Lawu, gending nyanyian kematian Langgam Sukma di Lembah Rawa Bangkai, hingga kekejaman tempaan pusaka jiwa di Kawah Candradimuka. Baca untuk melanjutkan nya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Banjoriuga, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perjanjian Darah di Dasar Celah
Langkah kaki tegap yang berat berdetak mantap di atas batu bata merah kuno, memecah hembusan angin dingin yang merayap keluar dari sudut gua. Sosok kakeknya melangkah masuk dari kegelapan lorong, dipayungi oleh kabut hitam pekat yang bergulung-gulung mengelilingi tubuh tuanya. Keris luk tiga belas di tangannya masih berlumuran darah segar Mbak Sekar, meneteskan cairan merah yang langsung menguap begitu menyentuh tanah batu.
Arya menggenggam erat bilah pisau belati perunggu murni yang diambilnya dari dalam kotak kayu jati, sementara tangan kirinya memeluk rapat kitab lontar kuno di dadanya. Bau kemenyan busuk dan minyak belerang merintangi pernapasan, menyengat hingga membuat matanya perih berair.
"Kau pikir kitab tua itu bisa menyelamatkan jiwamu, Arya?" kekeh sosok itu, suaranya bertumpuk dengan bisikan seribu nyawa yang meratap dari kegelapan belakang lorong. "Kitab itu ditulis oleh leluhurmu sendiri yang penakut! Mereka yang memulai perjanjian ini, dan mereka pula yang menyegel diri mereka sendiri karena ketakutan saat Penguasa Sumur menagih janji!"
"Kakek sudah gila!" teriak Arya dengan suara bergetar, membusungkan dada menahan rasa takut yang merayapi seluruh tubuhnya. "Ini bukan keselamatan untuk desa! Ini cuma pembantaian massal yang dibungkus dengan nama ritual!"
"Manusia di desa ini hanya benih, Arya!" raung sosok kakeknya seraya mengangkat keris tinggi-tinggi. "Tanpa darah mereka, tanah ini hanyalah batu mati! Malam ini, dengan gerhana darah yang menggantung di puncak bukit, angka seribu akan genap saat belati perunggu itu menghujam jantungmu sendiri!"
Sebelum sosok tua itu sempat melompat maju, Arya menumpahkan sisa cairan minyak dari pemantik peraknya ke permukaan kitab lontar dan memercikkan api terakhir dari sumbunya.
BZZZT!
Api oranye melalap gulungan lontar kuno itu seketika, memancarkan cahaya keemasan yang silau dan membakar udara di dalam gua. Raungan melengking penuh kesakitan terpancar dari mulut kakek Arya saat cahaya keemasan dari pembakaran lontar itu menerpa tubuhnya. Kabut hitam yang menyelimutinya terkelupas, memperlihatkan wujud aslinya yang penuh dengan jahitan kasar dan belatung merayap di bawah kulitnya yang pucat.
Arya tak membuang kesempatan tersebut. Ia menggoreskan ujung belati perunggu ke telapak tangan kirinya hingga darah mewarnai bilah logam tua itu, lalu menghantamkan belati bersimbah darahnya ke lantai batu di depan altar.
Getaran dahsyat meletup dari dasar gua. Dinding-dinding batu kapur merekah, dan dari balik rekahan tersebut meluncur keluar rantai-rantai besi raksasa yang membara merah, langsung membelit leher dan kedua tangan sosok kakek Arya dengan cengkeraman mati.
"TIDAAAK!" raung sosok itu sewaktu rantai-rantai gaib menyorongnya mundur secara paksa, menyeretnya kembali ke dalam kegelapan lorong menuju puncak Sumur Bangkai.
Gua batu itu mulai runtuh, bebatuan besar berjatuhan dari langit-langit. Arya mengusap darah di tangannya, menggenggam belati perunggu yang kini berpijar merah, lalu berlari mencari celah terobosan lain menuju bagian dalam tebing sebelum seluruh celah batu hancur menimbunnya hidup-hidup.
Batu-batu kapur berukuran besar berjatuhan dari atap gua, menghantam lantai batu bata merah dengan dentuman keras yang menggetarkan dada. Debu tebal beraroma kalsium dan tanah lapuk membubung tinggi, membatasi jarak pandang Arya hingga hanya tersisa beberapa sentimeter di depan mata. Setiap kali reruntuhan menghantam tanah, jeritan gaib dari rantai-rantai membara yang menyeret sosok kakeknya kian jauh terdengar, tenggelam di balik dinding-dinding batu yang merapat runtuh.
Arya terus berlari menembus kegelapan lorong tebing barat yang kian menyempit. Telapak tangan kirinya yang tergores belati perunggu terus meneteskan darah segar, namun anehnya, setiap kali tetesan darah itu menyentuh lantai batu yang retak, berpijar cahaya keemasan redup yang menuntun jalannya di tengah kegelapan total. Belati perunggu di tangan kanannya terasa hangat, menyalurkan getaran aneh yang menjaga kesadarannya agar tidak tumbang di tengah kepungan debu yang menyesakkan.
Di ujung lorong yang kian menanjak, matanya menangkap titik cahaya remang berkilat. Dengan sisa tenaga yang memburu di paru-parunya, Arya melempar tubuhnya menerobos celah sempit di antara dua bongkahan batu besar tepat sebelum lorong gua di belakangnya ambruk sepenuhnya dengan gemuruh dahsyat.
BUMM!
Awan debu menyembur keluar dari celah tebing sewaktu Arya tersungkur di atas tanah basah. Ia merangkak masuk ke dalam sebuah ruangan batu alami yang berada jauh di dasar tebing—sebuah tempat penyimpanan rahasia yang terbebas dari guncangan. Di tengah ruangan yang hening itu, berdiri sebuah bejana perunggu raksasa yang berisi cairan kehitaman yang memantulkan bayangan langit malam dari celah atap tebing.
Arya mendekati bejana tersebut seraya memegang dadanya yang nyeri. Saat ia menatap permukaan cairan kehitaman itu, bukan bayangan wajahnya sendiri yang muncul, melainkan rentetan gambaran masa lalu yang berputar kilat seperti cermin terkutuk.
Ia melihat Desa Alas Mayit puluhan tahun silam, di mana tiga sosok tetua—termasuk kakeknya dan seorang pria berjubat hitam yang tak dikenal—berdiri memegang kain mori di depan Sumur Bangkai. Namun, yang membuat jantung Arya seolah berhenti berdetak adalah penampakan sosok kedua yang berdiri di samping kakeknya: seorang pria muda dengan ukiran tahi lalat di leher kanan yang sangat familier.
Pria muda dalam bayangan cairan itu adalah ayahnya sendiri—pria yang selama ini diyakini Arya telah meninggal akibat kecelakaan saat ia masih kecil.
Dalam ingatan gaib yang terpancar dari bejana, ayahnya tidak mati karena kecelakaan, melainkan disembunyikan oleh sang kakek setelah menolak menyerahkan Arya kecil sebagai tumbal ke-21. Ayahnya dipenjara di dasar rahim tanah Alas Mayit, diikat dalam kondisi antara hidup dan mati sebagai wadah penahan agar ritual tidak menagih jiwa Arya sebelum usianya genap dewasa.
"Ayah... masih hidup?" bisik Arya dengan suara bergetar, air matanya menetes jatuh tepat menimpa permukaan cairan bejana.
Seketika itu pula, permukaan cairan bergejolak hebat. Dari dasar bejana perunggu, sebuah tangan manusia yang kurus kering dengan gelang rantai besi kehitaman mendadak mencengkeram pinggiran bejana, disusul suara napas tersengal yang muncul dari balik cairan hitam tersebut.
mampir juga diceritaku yah😊