Clara Adelin Dewangga, seorang siswi SMA berusia 18 tahun yang ceria namun sering terlibat masalah, tidak pernah membayangkan bahwa kehidupan remajanya akan berubah drastis dalam semalam. Karena perjodohan keluarga yang terikat janji masa lalu, Clara terpaksa menikah muda di usianya yang masih duduk di bangku sekolah.
Pria yang dijodohkan dengannya adalah Arka Samudra, seorang dokter muda berparas tampan, cerdas, namun terkenal sangat dingin, kaku, dan penuh aturan. Di depan publik dan di rumah sakit, Arka adalah sosok dokter profesional yang disegani. Namun di rumah, ia menjadi sosok suami super protektif yang menyebalkan bagi Clara.
Kehidupan pernikahan rahasia mereka penuh dengan pertengkaran kecil yang menggelitik:
Clara sangat membenci Arka, karena dia menerima perjodohan tersebut, tanpa syarat.
Di balik sikap Arka yang dingin dan membuat kesal, perlahan terkuak perhatian-perhatian kecil yang membuat jantung Clara berdebar tak menentu. Hal itu yang membuat Clara tersentuh.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Intan Wiwi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Balap liar
Langkah kaki Clara yang berderak keras di atas tangga kayu lantai dua menjadi satu-satunya irama yang memecah keheningan rumah besar itu. Pintu kamar utama ditutupnya dengan dentuman keras sebuah pernyataan perang terbuka yang sengaja ia tujukan untuk Arka yang masih berada di ruang kerjanya di bawah.
Di dalam kamar, Clara melempar tubuhnya ke atas tempat tidur yang empuk. Matanya menatap langit-langit kamar yang dihiasi pencahayaan warm light elegan. Napasnya masih tersengal menahan amarah yang mendidih.
"Kesehatan lebih penting daripada gengsi sosial? Pria itu benar-benar menganggapku seperti pasien rawat inap!" sungut Clara dengan nada berbisik, mengepalkan jemarinya di atas sprei.
Ia berguling ke samping, meraih ponsel yang tergeletak di atas nakas. Layarnya menyala, menampilkan puluhan notifikasi dari grup obrolan geng balapnya, Apex Runners. Pesan dari Rio ketua tim sekaligus mekanik andalannya berada di tumpukan paling atas.
Rio: Ra, arena Sabtu malam fix di sirkuit non-aktif Jalan Lingkar Luar. Hadiah taruhannya lumayan gede, anak-anak kubu Red Line udah pada panas. Elo dipastikan turun, kan? Motor Kawasaki Ninja merah kamu udah beres di-tune up, Setting-an Super KIPS, karbu, sama rasio gigi udah pas banget.
Clara menatap layar itu selama beberapa detik. Bayangan wajah dingin Arka dan larangan mutlaknya berkelebat di benaknya. Namun, justru benteng larangan itulah yang memicu adrenalin Clara. Bagi seorang Clara, semakin ia dilarang, semakin besar dorongan untuk membuktikan bahwa tidak ada seorang pun bahkan suami sahnya yang bergelar dokter spesialis sekalipun nggak bisa mengontrol jalurnya.
Jemarinya menyapu layar, mengetik balasan dengan penuh tekad.
Clara: Gua pasti datang. Jam 11 malam gua udah sampai lokasi. Siapin motornya.
Sabtu malam tiba. Rumah Arka tenggelam dalam kesunyian yang mencekam sejak pukul sembilan. Arka sendiri baru kembali dari rumah sakit pukul delapan malam setelah memimpin operasi darurat selama empat jam. Pria itu tampak sangat lelah, garis-garis keletihan tercetak jelas di bawah matanya. Setelah makan malam singkat tanpa banyak bicara, Arka kembali mengurung diri di ruang kerjanya untuk menyelesaikan laporan medis harian.
Di kamar atas, Clara menyusun rencananya dengan sangat rapi. Ia menumpuk beberapa bantal di bawah selimut untuk membentuk siluet tubuh yang sedang tidur nyenyak. Lampu kamar diset pada mode dim terredup.
Gadis itu mengenakan kaus hitam polos, celana kargo khusus balap senada, serta jaket kulit kesayangannya yang selama seminggu ini ia sembunyikan di bagian paling belakang walk-in closet. Sepatu boots balapnya sudah melingkar rapi di kakinya.
Menjelang pukul setengah sebelas malam, Clara berjalan berjinjit menuruni tangga service di bagian belakang rumah jalur yang biasa digunakan untuk akses asisten rumah tangga harian. Sensor keamanan gerbang belakang yang sempat diperingatkan Arka memang aktif, namun Clara bukan anak kemarin sore. Lewat bantuan informasi yang dia cari sendiri mengenai sistem pintar rumah Arka saat berkunjung dua hari lalu, Clara berhasil menemukan celah bypass manual pada panel kontrol cadangan di area ruang cuci.
Dengan gerakan lincah dan hati-hati, Clara melompati pagar samping tanpa membunyikan alarm. Di ujung lorong komplek yang remang-remang, sebuah taksi online yang sudah ia pesan sejak tadi telah menunggu dengan mesin menyala.
"Jalan Lingkar Luar, Pak. Buruan ya," bisik Clara penuh kemenangan saat masuk ke dalam kabin mobil. Senyum puas terukir di wajahnya. "Dua poin untuk Clara, nol untuk Dokter Arka."
Sirkuit non-aktif Jalan Lingkar Luar malam itu bergemuruh oleh deru mesin raungan knalpot racing 2-tak yang memekakkan telinga, lampu-lampu sorot portabel, dan musik berdentum keras dari pengeras suara rakitan. Bau gesekan karet ban balap (soft compound) yang terbakar di atas aspal dingin bercampur aroma oli samping berbahan bakar oktan tinggi memicu gairah Clara seketika.
"Luar biasa! Sang Ratu kembali!" teriak Rio riuh begitu melihat Clara berjalan santai memasuki area pit tim mereka. Rio melemparkan helm full-face balap ke arah Clara, yang ditangkap gadis itu dengan satu gerakan lincah.
"Kondisi Ninja gimana?" tanya Clara sambil berjalan mengitari motor balap kesayangannya, sebuah Kawasaki Ninja 2-Tak berwarna merah menyala yang berkilau di bawah sorotan lampu.
"Mesin udah ganti membran racing, pengapian diset fokus putaran atas, katup Super KIPS-nya makin responsif, dan suspensi belakang disetel ulang buat selip minimal di tikungan tajam. Tapi... raut mukamu kok agak pucat, Ra? Lututmu beneran udah sembuh?" Rio menunjuk ragu ke arah kaki kanan Clara yang terbalut protektor.
Clara mengibaskan tangannya, mengabaikan rasa nyeri samar yang mendenyut di tempurung lututnya. "Kaki gue aman. Mana musuh gue malam ini?"
"Reno. Dia bawa Mazda RX-7 atau modifan balap lainnya, tapi malam ini dia sengaja nantangin elo buat adu mekanik. Katanya dia mau balas dendam atas kekalahannya dua bulan lalu," sahut Rio sambil menunjuk ke garis start.
Clara menyeringai tipis, memasang helm full-face-nya dan mengunci tali pengamannya. "Dia bakal kalah lagi malam ini."
Gadis itu menaiki Ninja merahnya, menekan tuas selahan (kick starter) dengan kaki kirinya. Brem! Teng-teng-teng! Suara knalpot kustom 2-tak meraung nyaring membelah udara, menggetarkan setang dan terasa bergetar hingga ke tulang punggungnya. Untuk sejenak, Clara merasa benar-benar bebas. Tidak ada bayang-bayang status pernikahan, tidak ada batasan Arka, dan tidak ada tuntutan keluarga. Hanya ada dia, Ninja merahnya, jalanan, dan kecepatan.
Dua kendaraan sudah berjajar rapat di garis start. Seorang gadis pembawa bendera melangkah ke tengah jalan, mengangkat kedua tangannya tinggi-tinggi.
Mesin meraung tinggi. Clara menekan tuas kopling mendalam, mengocok gas hingga jarum RPM melompat di angka 8000 dan sistem KIPS siap terbuka.
Bendera dihempaskan ke bawah!
BAM!
Ninja merah milik Clara melejit seketika, melintasi garis start dengan ban belakang yang meraung dan menyisakan sedikit asap oli samping. Clara memindah gigi dengan presisi yang hampir sempurna, menundukkan badannya rapat ke tangki motor (tuck-in), melaju membelah kegelapan malam dengan kecepatan di atas 150 km/jam.
Tikungan pertama mendekat dengan sangat cepat. Clara melakukan posisi hang-off, memiringkan badan dan motor Ninja merahnya dengan gaya eksotis untuk melibas tikungan lintasan.
Namun, saat ia harus menginjak pedal rem belakang keras-keras serta menahan beban tubuhnya menggunakan lutut kanan untuk membalikkan tumpuan di tikungan sirkuit kedua, rasa sakit menusuk yang amat sangat mendadak menghantam lutut kakinya.
"Argh!" meringis Clara di balik kaca helm, matanya membelalak. Pijakan kakinya pada pasak footstep mendadak lepas akibat kejang otot spontan.
Keseimbangannya hancur seketika. Ban belakang Ninja merahnya kehilangan cengkeraman (lowside), membuat motor meluncur deras menggerus aspal memercikkan bunga api, sementara tubuh Clara terlempar beberapa meter hingga berguling keras dan terhenti menabrak tumpukan ban pembatas di pinggir sirkuit. Benturan itu menyisakan rasa sakit luar biasa di bagian kakinya yang memang belum pulih total.
Sorak-sorai penonton mendadak berubah menjadi jeritan riuh panik. Rio dan beberapa anggota tim langsung berlari mendekati Clara yang tergeletak di samping Ninja merahnya yang masih berasap.
"Ra! Clara! Elo gak apa-apa?!" teriak Rio panik sambil berusaha membantu Clara berbaring lurus.
Clara merintih, memegang lutut kanannya yang kini gemetaran hebat. Keringat dingin membasahi dahinya di dalam helm. "Kaki... kaki gue..."
Tepat pada momen kepanikan itu, sebuah raungan suara mesin range Rover mewah mendadak memotong kerumunan massa dengan kecepatan tinggi. Sorot lampu utamanya yang sangat terang menyilaukan semua orang di lokasi tersebut. Range Rover hitam itu berhenti dengan pengereman mendadak persis di samping kerumunan, menyisakan jejak ban tebal di atas tanah pasir.
Pintu pengemudi Range Rover terbuka, dan sesosok pria berjangkit keluar.
Atmosfer di sekitar sirkuit yang tadinya bising mendadak berubah menjadi sunyi mencekam. Pria itu tidak memakai pakaian balap ia masih mengenakan kemeja formal hitam yang lengan bajunya digulung hingga siku, dengan wajah yang begitu dingin hingga mampu membekukan udara di sekitarnya.
Arka Samudra.
Aura intimidasi yang dipancarkan Arka begitu pekat sampai-sampai Rio dan anak-anak geng balap yang terkenal garang spontan melangkah mundur beberapa tindak tanpa sadar. Matanya yang tajam bak sembilu mengunci pandangan langsung ke arah Clara yang tergeletak lemah.
Arka melangkah mendekat. Langkah kakinya tenang, teratur, namun menyimpan amarah yang teramat sangat tebal di balik ketenangan tersebut. Pria itu tidak mengucapkan sepatah kata pun saat mendorong pelan Rio yang berdiri mematung.
Arka membungkuk, dengan terampil dan cekatan mencabut helm dari kepala Clara dengan gerakan yang tegas namun berhati-hati agar tidak mencederai lehernya.
"A-Arka..." bisik Clara tercekat. Suaranya bergetar, bukan hanya karena rasa sakit di kakinya, tapi karena ia bisa melihat dengan jelas bagaimana otot rahang Arka mengeras menahan ledakan emosi. Matanya yang biasa tenang kini memancarkan amarah yang luar biasa pekat.
"Bisa berdiri?" suara Arka terdengar begitu dalam dan rendah, penuh dengan nada penekanan yang menakutkan.