Aurelia Calista seorang remaja anak satu-satunya dari keluarga sederhana Bayu dan Lila. Walaupun mereka hidup sederhana tapi Aurelia tidak kurang kasih sayang dari kedua orang tuanya.
Berbeda dengan pria bernama Grayson Balindra seorang anak broken home yang ditinggal bercerai oleh orang tuanya sehingga pemuda itu tidak mendapatkan peran apapun baru saja pindah ke sekolah aurelia. Pertemuan pertamanya dengan gadis itu membuat Grayson tertarik dan terobsesi. Dari situlah hidup Aurelia yang biasa tenang seketika berubah.
Bagaimana kisah selanjutnya, yuk baca. Obsesi gila Grayson.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jumarlin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8
Langkah kaki Grayson menyusuri koridor lantai dua SMA Tunas Bangsa dengan ritme yang tenang namun penuh intimidasi. Setiap pasang mata siswa yang berpapasan dengannya seketika langsung menunduk atau bergeser memberi jalan, seolah insting alami mereka memperingatkan agar tidak mencari masalah dengan pemuda bermata amber tersebut.
Begitu ia mendorong pintu kelas XI-IPS 2, suasana yang tadinya cukup riuh mendadak meredup seketika. Sebagian besar anak-anak kelas langsung kembali ke bangku masing-masing, tidak berani membuat suara.
Grayson melangkah masuk tanpa memedulikan tatapan orang-orang di sekitarnya. Namun, alih-alih langsung duduk di bangku aslinya di barisan tengah dekat jendela, langkah kakinya justru berbelok arah. Ia berjalan lurus menuju sudut paling belakang kelas—tempat di mana Aurelia baru saja duduk setelah sengaja kabur dari sisinya tadi pagi.
Aurelia, yang sedang merapikan buku-buku di atas meja barunya, mendadak merasakan hawa dingin yang mendekat. Bulu kuduk di tengkuknya meremang hebat. Saat ia mendongakkan kepala, bayangan tubuh tinggi Grayson sudah berdiri tepat di samping mejanya, menghalangi cahaya lampu neon kelas dan menaungi tubuh mungilnya.
"Mau apa kamu ke sini?!" desis Aurelia tajam, berusaha mempertahankan ekspresi garang meskipun jantungnya sudah berdegup kencang karena panik. "Tempat duduk kamu di sana, di depan! Jangan mendekat!"
Grayson tidak langsung menjawab. Ia menundukkan sedikit tubuhnya, mensejajarkan wajahnya dengan Aurelia yang sedang duduk, lalu meletakkan sebelah tangan di atas permukaan meja gadis itu, menciptakan kurungan tak kasat mata. Aroma mint dan kayu manis yang khas langsung mendominasi indra penciuman Aurelia.
"Kenapa, Gadis Sepeda?" bisik Grayson dengan suara rendah yang terdengar begitu membuai namun sarat akan ancaman mutlak. "Kamu pikir dengan pindah ke pojok belakang kelas, kamu bisa sembunyi dari aku?"
"Aku nggak lagi sembunyi! Aku cuma mau udara segar, jauh-jauh dari orang aneh kayak kamu!" balas Aurelia sengit, mendengus kesal sambil mencoba memalingkan wajahnya agar tidak beradu pandang dengan bola mata amber yang menghipnotis itu.
Grayson terkekeh pelan. Tawa singkat itu terdengar sangat renyah di telinga anak-anak sekelas yang mencuri pandang dari bangku mereka, namun bagi Aurelia, itu adalah suara tawa seorang predator yang sedang mempermainkan mangsanya.
"Udara di sini pengap, Aurelia," bisik Grayson tepat di samping telinga gadis itu, membuat Aurelia reflek merinding. "Mulai besok... tidak ada lagi istilah pindah-pindah tempat duduk. Kamu tahu persis di mana tempat kamu seharusnya berada."
Sebelum Aurelia sempat melontarkan kata-kata kemarahannya untuk mengusir sang pemuda, bel tanda masuk kelas berdering nyaring di seluruh penjuru sekolah, menyelamatkan gadis itu dari situasi yang semakin menekan mentalnya.
Grayson menegakkan kembali tubuhnya. Ia menyunggingkan senyuman miring yang misterius sebelum akhirnya berbalik badan dan melangkah santai kembali ke bangku aslinya di barisan tengah.
Aurelia menghembuskan napas kasar dengan dada yang naik-turun menahan emosi. Kepalan tangannya mengerat di atas meja. Ia menyadari satu hal dengan sangat jelas: pria itu tidak sedang main-main. Dan hari-hari tenang yang biasa ia miliki di sekolah ini kini telah resmi berubah menjadi medan pertempuran psikologis yang melelahkan.
Bel penutup sekolah berdering nyaring pada pukul tiga sore, menggema ke seluruh penjuru kompleks SMA Tunas Bangsa dan disambut dengan helaan napas lega oleh para siswa. Di bangku pojok belakang kelas XI-IPS 2, Aurelia dengan cepat merapikan buku-buku catatannya ke dalam tas ransel.
Hari ini benar-benar melelahkan secara mental. Sejak insiden kepindahan bangkunya tadi pagi, Grayson sama sekali tidak mencoba menariknya kembali atau mengajaknya berdebat di dalam kelas. Namun, sorot mata amber yang terus mengawasinya dari barisan depan setiap kali jam pelajaran berganti membuat Aurelia merasa seperti seekor kelinci yang dikurung bersama singa. Tatapan itu penuh perhitungan, dingin, dan sangat mengintimidasi.
"Fiuh... akhirnya bebas juga dari teror singa kelaparan itu," gumam Aurelia pelan sambil menghela napas panjang, menyampirkan tali tasnya ke pundak kanan.
"Heh, Aurelia! Mau langsung pulang?" panggil Aluna yang berjalan menghampirinya bersama Aruna.
"Iya, nih. Pengen cepat-cepat sampai rumah, mau ngadem di kamar sambil lupakan hari terburuk minggu ini," jawab Aurelia lesu.
"Yaudah, yuk turun bareng ke parkiran. Takutnya si Grayson tiba-tiba ngejar kamu lagi kayak zombie di film-film," gurau Aruna meringis ngeri.
Ketiga gadis itu berjalan berdampingan keluar dari kelas menuju area parkir. Sesampainya di sana, setelah berpamitan dengan Aluna dan Aruna yang hendak menunggu angkutan umum di depan gerbang, Aurelia segera mengambil sepedanya dari rak khusus.
Namun, sebelum ia sempat menaikinya, sebuah suara ramah menyapa dari samping.
"Lagi siap-siap mau pulang, Calista?"
Aurelia menoleh dan mendapati Galang, sang ketua OSIS berlesung pipi, berdiri di samping sepeda balapnya dengan senyuman hangat yang menenangkan. Kehadiran Galang seketika menjadi penawar rasa cemas di hatinya.
"Eh, Kak Galang... iya nih, mau langsung pulang," sapa Aurelia sopan sambil tersenyum simpul.
"Kebetulan searah. Bagaimana kalau kita pulang bareng lagi kayak kemarin? Biar aman di jalan," tawar Galang ramah.
Aurelia mengangguk antusias tanpa berpikir panjang. "Boleh banget, Kak! Yuk."
Kedua remaja itu akhirnya keluar dari gerbang sekolah secara berdampingan. Di sepanjang perjalanan menyusuri jalanan perumahan yang rindang, obrolan ringan mengalir begitu natural. Galang dengan sabar mendengarkan cerita-cerita kecil Aurelia, membuat gadis itu melupakan sejenak bayang-bayang mengerikan tentang Grayson. Mereka bahkan sempat berhenti sejenak di kedai es krim mini dekat taman kompleks untuk membeli es krim cone, tertawa bersama menikmati sore yang cerah.
Tanpa disadari oleh Aurelia maupun Galang, di seberang jalan raya di balik kemudi mobil sedan hitam bermerek mewah, sepasang bola mata amber terang menatap tajam adegan kebersamaan mereka dengan tatapan yang sangat mematikan.
Grayson mengepal setir mobilnya hingga buku-buku jarinya memutih sempurna. Rahangnya mengeras sedemikian rupa hingga otot-otot di pipinya berkedut hebat. Suhu di dalam kabin mobil yang ber-AC itu mendadak terasa bagaikan di dalam oven yang membara.
Pesan teks dari mata-matanya kemarin sore kembali terngiang di telinganya: ...sepertinya dekat banget sama ketua OSIS.
Dan hari ini, pemuda itu melihatnya dengan mata kepalanya sendiri. Gadis yang sudah ia tandai sebagai miliknya—gadis yang seharusnya hanya menunduk ketakutan atau memandangnya—malah tertawa lepas, tersenyum manis, dan menikmati waktu bersantai bersama pemuda lain di depannya.
"Berani sekali..." desis Grayson pelan dengan suara berat yang terendam amarah luar biasa. Suaranya terdengar begitu serak dan menakutkan di dalam kesunyian mobil. "Anak sialan itu benar-benar mencari mati."
Grayson tidak mengikuti mereka dari dekat. Ia membiarkan mobilnya melaju perlahan dengan jarak aman, mengawasi setiap gerak-gerik Galang saat mengantar Aurelia hingga tepat di depan gerbang rumah sederhana gadis itu di Blok C.
Dari balik kaca mobil yang sedikit diturunkan, Grayson melihat bagaimana Galang tersenyum ramah, melambaikan tangan kepada Aurelia, lalu berpamitan pulang setelah memastikan gadis itu masuk ke dalam halaman rumahnya dengan selamat.
Setelah bayangan Galang menghilang di tikungan jalan kompleks, Grayson meminggirkan mobilnya di bawah pohon rindang yang tidak jauh dari rumah Aurelia. Ia mematikan mesin, membuka pintu mobil, dan melangkah keluar dengan langkah tegap yang memancarkan aura dominan dan berbahaya.
Di dalam rumah, suasana hangat langsung menyambut kepulangan Aurelia. Aroma harum sayur sop buatan Lila mengepul di dapur, bercampur dengan suara obrolan ringan antara Bayu dan istrinya.
"Udah pulang, Sayang? Kok tumben agak sorean?" tanya Lila lembut dari balik meja dapur, menyambut putrinya yang baru saja membuka sepatu.
"Iya, Ma. Tadi sempat mampir sebentar beli es krim di depan sama Kak Galang, tetangga sebelah," jawab Aurelia riang sambil mencuci tangan di wastafel. "Aurelia ke kamar dulu ya, mau ganti baju."
"Iya, jangan lupa cuci muka sekalian, ya," pesan Lila penuh kasih sayang.
Aurelia berjalan menaiki tangga menuju kamarnya di lantai dua dengan hati yang ringan. Ia merasa sore ini begitu menyenangkan, seolah beban sekolah dan ancaman aneh dari Grayson menguap begitu saja.
Namun, ketenangan itu tidak berlangsung lama.
Ting Tok!
Suara bel rumah berbunyi nyaring dari arah lantai bawah, memecah keheningan sore di kediaman keluarga sederhana itu.
Lila yang sedang mengaduk sayur di panci menghentikan gerakannya. Ia melirik ke arah jam dinding yang menunjuk pukul setengah lima sore. "Siapa ya sore-sore begini tamu datang? Coba Papa lihat ke depan, Pa," ujar Lila kepada suaminya.
Bayu yang sedang membaca majalah di ruang tamu mengangguk. Ia bangkit dari sofa, merapikan kaus polo abu-abunya, lalu melangkah menuju pintu utama untuk membukanya.
"Sebentar..." ucap Bayu sambil memutar gagang pintu dan menarik daun pintu hingga terbuka lebar.
Pemandangan di luar membuat Bayu sedikit mengerutkan kening. Berdiri di teras rumahnya bukanlah tetangga biasa atau tukang kurir paket. Seorang pemuda bertubuh tinggi atletis dengan seragam sekolah yang dikeluarkan acak, berwajah tampan namun memancarkan ekspresi dingin yang menusuk tulang, berdiri tegak di hadapannya. Bola mata berwarna amber terang milik pemuda itu menatap lurus ke arah Bayu tanpa rasa segan sedikit pun.
"Permisi... benar ini rumah Aurelia Calista?" tanya Grayson dengan suara baritonnya yang berat, terdengar begitu tenang namun menyimpan intimidasi yang kuat.
Bayu, sebagai pria paruh baya yang bijak dan terbiasa menghadapi berbagai tipe orang, merasa ada hawa aneh yang menguar dari pemuda asing di depannya ini. Namun, ia tetap mempertahankan sikap sopannya.
"Iya, benar. Nak ini temannya Aurelia di sekolah? Masuklah dulu, jangan di luar," sambut Bayu ramah, membukakan pintu lebih lebar.
Grayson tidak langsung menjawab tawaran itu. Ia melangkah masuk melewati Bayu begitu saja, tanpa melepas sepatu ketsnya yang sedikit berdebu—sebuah gestur tidak sopan yang langsung membuat alis Bayu terangkat heran.
Lila yang mendengar suara percakapan di depan keluar dari dapur dengan membawa kain serbet di tangannya. Ia tertegun melihat sosok pemuda asing berambut sedikit berantakan berdiri di ruang tamu rumah mereka.
"Ada apa ya, Pa? Temennya Aurelia?" tanya Lila bingung, mendekati suaminya.
Sebelum Bayu sempat menjawab, dari arah tangga lantai dua, Aurelia yang sudah berganti pakaian santai berupa kaos longgar dan celana kain rumahan turun sambil membawa handuk kecil di lehernya.
"Ma, siapa yang da—"
Kalimat Aurelia terpotong seketika di udara. Langkah kakinya di anak tangga terakhir mendadak terhenti kaku. Jantungnya terasa berhenti berdetak saat melihat siapa tamu tak diundang yang berdiri di tengah ruang tamu rumahnya.
Grayson.
Pemuda itu menoleh perlahan ke arah tangga. Begitu mendapati sosok Aurelia berdiri di sana, sudut bibirnya terangkat membentuk sebuah seringai tipis yang mengerikan. Bola mata amber-nya menyala tajam, seolah baru saja menemukan mangsa yang terpojok di sarangnya sendiri.
"Grayson?!" seru Aurelia histeris, wajahnya memucat pasi. Suaranya bergetar hebat antara rasa terkejut, tidak percaya, dan ketakutan yang mendadak merayap ke seluruh tubuhnya. "B-bagaimana bisa kamu ada di sini?! Dari mana kamu tahu alamat rumah aku?!"
Mendengar kepanikan yang teramat sangat dari suara putrinya, Bayu dan Lila langsung menoleh ke arah Aurelia dengan tatapan penuh kebingungan. Bayu melangkah mendekati putrinya, merangkul pundak Aurelia dengan protektif.
"Kenapa, Nak? Kamu kenal sama pemuda ini? Ada apa?" tanya Bayu tenang namun tegas, menatap Grayson kembali dengan pandangan menyelidik.
Grayson tidak menghiraukan pertanyaan ayah Aurelia. Langkah kaki pemuda itu perlahan maju mendekati area tangga, mengabaikan jarak sopan, membuat Aurelia reflek mencengkeram lengan baju ayahnya dengan erat karena ketakutan.
"Aku tahu segalanya tentang kamu, Aurelia," bisik Grayson dengan suara rendah yang menggema di ruang tamu yang mendadak senyap itu. Tatapan matanya tidak beralih sedikit pun dari gadis di balik perlindungan ayahnya. "Termasuk jalan pulangmu... dan siapa saja orang yang tadi berani jalan berdampingan sama kamu sore ini."
Mendengar kalimat itu, sekujur darah Aurelia terasa mendidih sekaligus membeku. Pemuda itu tidak hanya menyelidiki privasinya, tapi ia benar-benar mengawasinya—menguntitnya hingga ke depan rumahnya sendiri!
"Kamu... kamu benar-benar sudah gila!" teriak Aurelia dengan mata berkaca-kaca karena emosi dan rasa takut yang bercampur aduk. "Pergi dari rumah aku! Keluar!"
Bayu yang mulai menyadari situasi berbahaya dan ancaman tersirat dari pemuda asing itu langsung melangkah maju, berdiri tegap menutupi tubuh putrinya. Wajah paruh baya itu memerah menahan amarah karena harga diri dan keamanan keluarganya diusik.
"Anak muda! Saya tidak tahu siapa kamu dan apa maksud kedatangan kamu ke sini dengan cara tidak sopan seperti ini. Tapi kalau kamu datang untuk membuat kerusuhan atau menakut-nakuti putri saya, silakan pergi sekarang juga sebelum saya usir secara paksa!" bentak Bayu tegas dengan suara baritonnya yang berwibawa.
Grayson berhenti melangkah. Ia menatap Bayu sekilas dengan tatapan dingin tanpa rasa hormat sedikit pun, lalu perlahan beralih kembali menatap Aurelia yang bersembunyi di balik punggung ayahnya.
"Om..." panggil Grayson dengan nada suara yang tenang, begitu kontras dengan ketegangan di ruangan itu. "...saya cuma mau menyampaikan satu hal penting buat putri kesayangan Om ini."
Grayson menyeringai tipis, memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana.
"Mulai hari ini, tidak ada satu pun orang—termasuk ketua OSIS sok pahlawan itu—yang boleh menyentuh, mendekati, atau membuat Aurelia tersenyum selain saya. Kalau ada yang berani melanggar..." Grayson menggantungkan kalimatnya sejenak, lalu melayangkan tatapan penuh ancaman maut ke arah Aurelia. "...maka saya sendiri yang akan pastikan hidup orang itu hancur berkeping-keping."
Suasana di dalam rumah sederhana itu mendadak berubah menjadi dingin dan mencekam. Lila yang mendengarnya menutup mulutnya dengan tangan karena syok, sementara Aurelia merasa dunianya runtuh seketika. Obsesi gila itu kini telah menampakkan wujud aslinya tepat di hadapan kedua orang tuanya, mengubah ketenangan rumah yang selama ini mereka bangun menjadi sebuah mimpi buruk yang nyata.