Di kota London yang basah dan dingin, Hans Lorte bertahan hidup dari ketajaman otaknya. Baginya, kegaiban hanyalah alasan bagi orang bodoh yang malas berpikir.
Namun, sebuah kasus misterius memaksa Hans berhadapan dengan teka-teki paling berbahaya dalam kariernya. Tanpa saksi, tanpa tanda-tanda pembobolan, dan bukti fisik yang janggal, Hans harus berpacu dengan waktu sebelum sang pelaku menghilangkan jejaknya secara permanen.
Sebuah kisah investigasi gelap tentang obsesi, konspirasi, dan batas akhir dari akal sehat manusia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ashciel, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
17. Konduktor Retakan Dimensi
Suhu di ruang pompa bawah tanah anjlok drastis. Napas Hans Lorte menebal menjadi gumpalan uap putih di udara dingin.
Lord Sterling melangkah maju. Sepatu kulit mahalnya menginjak kisi-kisi besi basah, namun air di lantai tidak terciprat.
Air itu justru merayap naik, melilit pergelangan kaki Sterling bagaikan tentakel hidup yang kehilangan gravitasi.
"Cairan spesimen di tabung itu hanyalah pemicu massal, Lorte," gema suara Sterling menggetarkan dinding baja. "Pusat sesungguhnya selalu ada di tanganku."
Sterling mengangkat kompas kuningan kuno di tangan kanannya. Mata kirinya berpendar biru terang, menyamai cahaya gaib dari cairan Palung Atlantik.
WUSSSHHH...
Gelombang kejut tanpa suara meledak dari tubuh bangsawan itu.
Mur, baut, perkakas mesin, dan pecahan kaca serentak terangkat dari lantai. Semuanya melayang dan mengorbit mengelilingi tubuh Sterling layaknya cincin planet.
Hans tidak mundur sejengkal pun. Mata kelabunya memindai urat-urat kebiruan yang mulai menjalar di leher dan rahang Sterling.
Kalkulasi: Tubuh biologis manusia tidak dirancang menjadi konduktor energi absolut. Sel-selnya sedang membeku dari dalam menuju nekrosis. Hans membedah fenomena itu dalam keheningan otaknya.
"Kau tidak sedang mengendalikan retakan dimensi itu, Tuan Sterling," sahut Hans datar, suaranya menusuk bagai es. "Kau sedang dimakan hidup-hidup olehnya."
Sterling mendengkus arogan. Ia mengarahkan kompas kuningan itu lurus ke arah dada Hans.
"Omong kosong rasionalitasmu berakhir di sini!"
BAM!
Gaya gravitasi horizontal menghantam dada Hans layaknya peluru meriam tak kasat mata.
Tubuh detektif itu terdorong mundur dengan keras. Sepatu boot-nya terseret berderit di atas lantai baja.
SRETTT!
Percikan api menyala saat Hans menancapkan tongkat jalan berkepala besinya ke celah kisi-kisi lantai. Otot lengannya menegang keras, menjadikannya jangkar fisik untuk menahan tolakan dimensi.
Di atas panggung kemudi, Lady Evelyn memekik. Ia harus memeluk erat pagar pelindung yang kini mulai melengkung tertarik gravitasi Sterling.
"Tuan Lorte!" jerit Pip panik.
Tubuh kecil anak jalanan itu terangkat satu meter ke udara. Pip menendang-nendang liar, berpegangan mati-matian pada pipa uap berkarat agar tidak tersedot ke arah Sterling.
Hans memutar otaknya di kecepatan maksimal. Pemicu utamanya ada pada kompas.
Semakin besar gaya tarik yang dikeluarkan Sterling, semakin cepat lapisan es membungkus kerah mantel bulunya. Hukum pertukaran suhu (termodinamika) tetap berlaku. Artefak itu menuntut penyerapan kalor tubuh dalam jumlah gila.
"Lady Finch!" teriak Hans membelah deru badai pusaran gravitasi. "Katup tungku pembakaran sekunder! Arahkan corong buangnya ke titik nol ruangan ini!"
Evelyn tidak membuang waktu memproses rasa takut. Otak mekanisnya langsung menerjemahkan kalkulasi termal Hans.
"Diterima!" sahut Evelyn.
Wanita itu merangkak susah payah menahan gaya tarik spasial. Jemarinya yang lecet mencengkeram paksa tuas merah berkarat di ujung panggung baja.
Sterling menyadari manuver itu. Ia menggerakkan kompasnya ke arah panggung Evelyn.
"Jangan harap, wanita jalang!" geram Sterling.
Namun, sebelum gelombang gravitasi berpindah arah, Hans menendang ujung revolver laras ganda yang tergeletak di dekat kakinya ke udara, lalu menangkapnya dengan tangan kiri.
DOR! DOR!
Dua peluru timah melesat beruntun.
Proyektil itu tidak diarahkan ke tubuh kebal Sterling, melainkan lurus menghantam tabung spesimen raksasa di belakang sang bangsawan.
PRANGGG!
Kaca tebal itu hancur berantakan!
Cairan spesimen bersuhu nol mutlak tumpah ruah membanjiri lantai, memancarkan hawa beku yang membekukan logam baja dalam sepersekian detik.
Fokus Sterling pecah. Ia terpaksa membalikkan kompasnya ke bawah, menciptakan perisai spasial menahan cairan mematikan itu agar tidak menyentuh sepatunya.
KLEK! KRAAAK!
Di saat yang bersamaan, Evelyn berhasil menarik tuas uap sekunder hingga mentok ke bawah!
WUUUSSSHHH!!
Semburan uap panas bersuhu titik didih maksimal menyembur ganas dari pipa atas. Uap mendidih itu menghantam genangan cairan beku spesimen di lantai!
Pertemuan dua suhu ekstrem seketika memicu reaksi termal yang meledak hebat.
BLAAARRR!
Ledakan kabut putih pekat seketika membutakan pandangan. Gelombang kejut fisik menghantam mundur sisa gaya gravitasi anomali di ruangan itu.
BRUK! Pip jatuh terjerembap ke lantai baja sambil terbatuk-batuk.
Hans menggunakan momentum kebutaan itu. Ia melesat bak hantu menerobos kabut uap mendidih.
Topi petnya terlempar entah ke mana, namun mata kelabu Hans terkunci pada satu-satunya sumber cahaya: pendaran biru di tangan Sterling.
Jarak dua meter. Satu meter.
Sterling mengayunkan tangan kirinya membabi buta dari balik kabut uap.
Hans merunduk presisi, meluncur di atas kisi-kisi basah. Ia mengayunkan tongkat jalannya dari bawah dengan kekuatan penuh!
KRAK!
Bunyi tulang patah bergema keras. Sterling melolong kesakitan.
Hantaman tongkat Hans meremukkan pergelangan tangan kanan bangsawan itu. Kompas kuningan berukir gelombang laut terlepas dan melayang lambat di udara.
Hans melompat sigap. Tangan kirinya menangkap artefak itu sebelum jatuh menyentuh lantai cair.
Namun, kejutan fisik seketika membekukan darah Hans.
Begitu kulit tangannya bersentuhan dengan kuningan itu, rasa dingin ekstrem menusuk langsung ke pembuluh jantung. Pendaran biru kompas tidak mereda, melainkan menyala berkali-kali lipat lebih terang, nyaris membutakan mata!
Dari balik kabut uap, Sterling jatuh berlutut memeluk lengannya yang patah. Ia tertawa terbahak-bahak. Tawa yang parau, serak, dan penuh darah.
"Kalkulasimu keliru besar, Detektif sombong!" raung Sterling gila.
Jarum kompas di telapak tangan Hans bergetar hebat. Kacanya retak membelah diri.
"Benda itu tidak butuh dikuasai manusia!" jerit Sterling diiringi batuk darah kebiruan. "Ia hanya mencari inang baru dengan tingkat rasionalitas tertinggi untuk dijadikan tumbal pembuka gerbang!"
TRRRRRZZZZZT!
Ruang udara di belakang punggung Hans bergetar hebat lalu robek terbuka layaknya kain usang.
Sebuah celah dimensi hitam pekat berukuran raksasa menganga di tengah ruang pompa. Celah itu menyerupai pupil mata vertikal tanpa dasar, menyedot seluruh cahaya dan suara ke dalam keheningan mutlak.
Gaya hisap kosmik yang tak tertahankan langsung mencengkeram tubuh Hans, menyeret sang detektif tanpa ampun ke arah tepi retakan maut itu!