Hanis memiliki empat orang anak Yang masih kecil, namun suaminya sedang menganggur. Demi anak anaknya bisa makan dan bersekolah maka Hanis rela menjadi ibu pengganti. Ia menyewakan rahimnya pada Sean, seorang pria kaya yang istrinya divonis mandul. Namun, keajaiban terjadi, saat Hanis sudah positif mengandung anak Sean, sang istri sah juga dinyatakan hamil
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Quoari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Penolakan Dokter
Hanis diberikan kamar di lantai dua. Bersebelahan dengan kamar Sean dan Jinny. Sebuah kamar tamu yang cukup luas, bersih, nyaman dan dilengkapi pendingin ruangan.
Membuka lemari pakaian yang didominasi warna biru. Di dalamnya ada beberapa pakaian tertata rapi. Rupanya ini pakaian yang Jinny siapkan untuknya.
Haniyah mengambil satu lalu diletakkan di pinggir ranjang. Ia kemudian masuk ke kamar mandi di dalam kamar. Hendak membersihkan diri dan berganti pakaian terlebih dahulu sebelum nanti merebahkan diri di atas ranjang. Barangkali dirinya yang dari luar dianggap kurang bersih.
Sean baru akan pulang besok, jadi Hanis akan beristirahat dulu hari ini. Mengistirahatkan tubuh. Bersiap untuk bertemu pria yang akan menyewa rahimnya itu besok.
🦄🦄🦄
Tok… tok… tok…
Suara ketukan pada pintu kamar mengagetkan Hanis yang tengah duduk melamun di tepi ranjang.
“Hanis,” panggil Sean dari luar pintu.
Hanis segera bangkit menuju ke pintu, membukanya perlahan.
Sean berdiri disana. Masih memakai kemeja rapi.
Wajahnya terlihat lelah namun bersemangat.
“Ayo, Han, bersiap, kita ke dokter sekarang. Aku tunggu di bawah,” ucap Sean lalu langsung berbalik menuju tangga yang kebetulan ada di depan kamarnya.
Sepeninggal Sean, Haniyah berbegas cuci muka dan berganti pakaian mengenakan blouse hitam yang ada di lemari. Rambutnya disisir seadanya dan is memakai sandal jepit lamanya yang kemarin dilepas di depan pintu.
“Sudah?” tanya Sean yang rupanya menunggu di bangku teras sambil memainkan ponsel.
“Sudah…”
Sean mengembalikan ponselnya ke saku dan mengamati penampilan Hanis dari kepala hingga ujung kaki. “Ganti sandal, Han.”
“Saya cuma bawa ini…”
“Jinny, kamu ada sandal?” Sean melongok ke dalam rumah, berbicara pada istrinya.
Yang dipanggil keluar, menunjuk sebuah sandal berwarna putih-biru di rak depan. “Pakai itu aja kalau ukurannya sama.”
“Sana ganti itu,” perintah Sean yang langsung dituruti oleh Hanis.
Beruntung ukuran tubuh dan kaki keduanya sama, hanya saja Jinny lebih tinggi. Hanis bisa memakai semua barang pinjaman, atau mungkin pemberian, dari Jinny.
🦄🦄🦄
Begitu sampai di rumah sakit, seorang perawat langsung mengarahkan mereka masuk ke ruang konsultasi dokter. Sean tentu sudah melakukan reservasi sebelumnya untuk memastikan efisiensi waktu.
“Selamat pagi, Pak Sean,” sapa dokter paruh baya yang sepertinya sudah mengenal Sean dengan baik.
“Pagi, Dok.”
Dokter tersebut mengalihkan pandangannya pada wanita di samping Sean. Alisnya sedikit berkerut, jelas menyadari bahwa yang bersama Sean bukanlah Jinny yang sudah sering menjadi pasiennya.
Sean duduk tegak, tubuhnya tampak begitu tegang. Ia memberi isyarat agar Hanis ikut duduk di kursi sebelahnya.
“Saya ingin langsung memproses soal rencana prosedur IVF yang sempat saya tanyakan via telepon kemarin,” buka Sean.
Dokter tersebut menutup rekam medis di depannya. Beliau menatap Sean dengan raut wajah yang mendadak serius. “Pak Sean, mengenai permintaan Anda kemarin tentang prosedur IVF menggunakan donor sel telur dan surrogate mother atau ibu pengganti, saya sudah membahasnya dengan komite etik rumah sakit pagi ini.”
“Lalu, kapan kita bisa mulai prosedurnya?” potong Sean cepat, menunjuk Hanis dengan dagunya. Tampak begitu antusias dan tidak sabar.
Dokter tersebut menarik napas panjang. Menautkan jarinya di atas meja. Raut wajahnya menunjukkan kesungkanan yang berusaha ia tutupi. “Mohon maaf, Pak Sean. Saya paham akan keinginan Anda untuk segera memiliki keturunan, tapi kami terikat pada aturan hukum dan perundang-undangan.”
Kening Sean mengerut. “Maksudnya?”
“Sesuai dengan peraturan yang ada, prosedur hanya bisa dilakukan pada pasangan suami istri sah. Tidak boleh dilakukan pada orang lain yang bukan pasangan sah. Maka dari itu, dengan berat hati, saya harus mengatakan bahwa prosedur tidak bisa dilakukan jika bukan pada Bu Jinny.”
Hanis hanya menyimak, ikut mendengarkan. Ia merasakan sebuah firasat buruk.
“Tapi, Dok, Jinny tidak bisa, kan?” bantah Sean, nadanya mulai meninggi.
“Betul, sesuai hasil rangkaian pemeriksaan sebelumnya, kemungkinan Bu Jinny bisa mengandung nyaris nol persen.”
Sean menunjuk Hanis dengan dagunya. “Saya dan dia sudah sepakat. Wanita ini bersedia untuk mengandung dan melahirkan anak saya. Soal biaya, saya bersedia membayar lebih, berapapun yang diminta.”
“Ini bukan masalah uang, Pak Sean” dokter itu membalas dengan tegas namun tetap tenang.
“Tapi jika saya melakukannya, tindakan itu menjadi prosedur ilegal. Izin praktik saya dan rumah sakit ini bisa dicabut. Saya biea mendapat sanksi yang serius.”
🦄🦄🦄
Sean membanting pintu mobil dengan keras, membuat Hanis sedikit terlonjak. Kaget sekaligus takut. Namun Hanis hanya terdiam. Ia tahu, Sean marah karena penolakan dari dokter tadi.
Hanis sendiri sebenarnya juga khawatir. Jika prosedur tidak bisa dilakukan, maka penawaran berarti batal. Yang juga berakibat transaksi tercancel sepenuhnya. Bayaran yang dijanjikan tidak akan berhasil diterima.
Sepanjang perjalanan, Hanis berpikir. Jika ini harus gagal, dimana lagi ia bisa mendapatkan pekerjaan yang semenjanjikan ini?
...****************...