Retna tak pernah menyangka rumah tangga yang mati-matian ia pertahankan akan berakhir dalam satu keputusan kejam: perceraian. Atas desakan suami dan ibu mertuanya, ia diusir dari rumah, seolah seluruh pengorbanan, cinta, dan tahun-tahun yang ia jalani bersama keluarga itu tak pernah berarti.
Dengan hati hancur, Retna bersumpah tak akan lagi percaya kepada laki-laki. Baginya, cinta hanyalah pintu menuju luka yang lebih dalam.
Namun, ketika ia memilih mengunci rapat hatinya, seorang pria asing justru hadir membawa kehangatan yang belum pernah ia rasakan. Pria yang dijulukinya “Mas Bule” itu memperlakukannya dengan tulus, penuh perhatian, dan kasih sayang—perlahan menggoyahkan sumpah yang selama ini ia pegang.
Di antara trauma masa lalu dan harapan yang mulai tumbuh, mampukah Retna kembali membuka hati? Ataukah pria asing itu benar-benar hadir sebagai penyembuh luka sekaligus jodoh yang selama ini diam-diam menunggunya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mitha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8 - Ketika Mas Bule jatuh Sakit
Pagi itu, Retna merasa ada sesuatu yang berbeda.
Biasanya, Nathan sudah terlihat di ruang makan sejak pagi. Kadang sambil membuka laptop, kadang membaca beberapa dokumen pekerjaan, atau sekadar menikmati kopi sambil sesekali mengobrol dengannya.
Namun pagi itu, rumah terasa jauh lebih sepi.
Retna yang sedang menyiapkan sarapan beberapa kali melihat ke arah tangga.
“Mas Nathan belum turun ya?” tanya Retna yang mulai mengganti nama panggilan yang cuma Nathan menjadi mas Nathan.
Ia melihat jam.
Sudah hampir pukul delapan.
Biasanya Nathan sudah sarapan sejak tadi.
Retna kemudian memutuskan untuk mengetuk pintu kamar Nathan.
Tok... tok...
Tidak ada jawaban.
“Mas Nathan?”
Tetap tidak ada suara.
Retna mulai merasa khawatir.
Ia mengetuk sekali lagi.
“Mas Nathan, sudah bangun?”
Dari dalam kamar terdengar suara lemah.
“Retna...?”
Retna langsung membuka pintu sedikit.
“Mas?”
Nathan terlihat duduk di tepi tempat tidur dengan satu tangan menekan bagian perutnya.
Wajahnya pucat.
Retna langsung panik.
“Mas Nathan kenapa?”
“Perut saya sakit.”
Retna segera mendekat.
“Parah?”
Nathan menggeleng pelan.
“Lambungku.”
Retna terdiam.
“Lambung?”
Nathan mengangguk.
Retna baru menyadari bahwa pria yang selama ini terlihat sehat, kuat, dan selalu aktif ternyata memiliki masalah kesehatan yang cukup mengganggu.
“Kenapa tidak bilang?”
“Tidak apa-apa.”
“Ini kelihatannya bukan tidak apa-apa.”
Nathan mencoba berdiri.
Namun baru beberapa langkah, tubuhnya terlihat sedikit kehilangan keseimbangan.
Retna buru-buru memegang lengannya.
“Pelan-pelan!”
Nathan tersenyum tipis.
“Saya baik-baik saja.”
“Masih bisa bilang baik-baik saja?”
Retna mulai kesal karena khawatir.
Ia membantu Nathan kembali duduk.
Kemudian mengambilkan air hangat.
“Minum dulu.”
Nathan menerima gelas itu.
“Terima kasih.”
Retna kemudian bertanya,
“Mas sudah minum obat?”
“Di laci.”
Retna segera mengambil obat yang dimaksud.
Setelah Nathan meminumnya, Retna tetap berdiri di dekatnya.
“Mas memang sering sakit lambung?”
Nathan mengangguk.
“Sudah lama.”
“Terus kenapa saya tidak pernah tahu?”
Nathan tersenyum.
“Karena selama kamu bekerja di sini, saya jarang kambuh.”
Retna mengernyit.
“Memangnya kenapa?”
Nathan memandangnya.
“Kamu selalu memastikan saya makan.”
Retna terdiam.
Ia baru menyadari sesuatu.
Selama bekerja di rumah itu, ia memang selalu menyiapkan sarapan, makan siang, dan makan malam.
Bahkan jika Nathan sibuk, ia akan mengingatkannya untuk berhenti sebentar dan makan.
Retna mengira itu hanya bagian dari pekerjaannya.
Ternyata kebiasaan sederhana itu justru membuat kondisi Nathan jauh lebih baik.
“Berarti sebelum saya datang... Mas sering tidak makan?”
Nathan tersenyum canggung.
“Bukan tidak makan.”
“Lalu?”
“Sering terlambat.”
“Seberapa sering?”
Nathan terdiam.
Retna langsung tahu jawabannya.
“Sering sekali?”
Nathan mengangguk.
“Kadang.”
“Dan kalau tidak sempat?”
“Pesan makanan.”
“Makanan sehat?”
Nathan tidak menjawab.
Retna menatapnya tajam.
“Junk food?”
Nathan tersenyum kecil.
“Kadang-kadang.”
“Mas Nathan!”
Nathan tertawa pelan meskipun wajahnya masih pucat.
“Jangan marah.”
“Saya bukan marah.”
Retna menghela napas.
“Saya khawatir.”
Kalimat itu keluar begitu saja.
Nathan langsung menatapnya.
Retna baru menyadari apa yang baru saja ia katakan.
Wajahnya sedikit memerah.
“Maksud saya... saya khawatir karena Mas adalah majikan saya.”
Nathan tersenyum.
“Begitu?”
“Iya.”
“Bukan karena yang lain?”
Retna langsung menatapnya.
“Mas masih sempat bercanda?”
Nathan tertawa kecil.
“Maaf.”
Retna kemudian keluar dari kamar.
Ia kembali beberapa menit kemudian membawa bubur hangat.
“Makan sedikit.”
“Saya tidak terlalu lapar.”
“Harus.”
Nathan menatap mangkuk di tangannya.
“Kamu membuatnya?”
Retna mengangguk.
“Saya buat bubur yang ringan. Tidak banyak bumbu.”
Nathan tersenyum.
“Terima kasih.”
Retna duduk di kursi dekat tempat tidur.
Ia memastikan Nathan menghabiskan beberapa suap.
Untuk pertama kalinya, Nathan melihat perempuan itu begitu serius memperhatikannya.
Biasanya Retna pemalu dan canggung.
Namun ketika seseorang sakit, sifat lembutnya berubah menjadi perhatian yang membuat Nathan merasa nyaman.
“Aku jadi merepotkan kamu,” kata Nathan.
“Tidak,mas.”
“Kamu seharusnya istirahat.”
“Saya bisa istirahat nanti.”
"Dan kenapa tiba-tiba kamu jadi panggil saya mas?"
"Saya pikir akan lebih sopan daripada saya harus panggil nama saja."
Nathan menatapnya cukup lama.
Ada rasa hangat yang muncul di dalam dirinya.
Selama ini ia terbiasa mengurus semuanya sendiri.
Pekerjaan.
Rumah.
Makanan.
Bahkan ketika sakit.
Tidak banyak orang yang benar-benar memperhatikannya.
Kini ada seseorang yang dengan tulus mengkhawatirkannya.
Dan orang itu adalah Retna.
Hari itu Nathan memutuskan tidak bekerja.
Dokter yang ia hubungi melalui konsultasi menyarankan Nathan beristirahat beberapa hari dan menjaga pola makan.
Retna langsung mengambil alih semua urusan rumah.
Bahkan ia membuat daftar makanan yang menurutnya aman untuk lambung.
Tidak ada kopi berlebihan.
Tidak ada makanan terlalu pedas.
Tidak ada makanan berminyak.
Dan tentu saja tidak ada makanan cepat saji.
Nathan yang melihat daftar itu hanya bisa tersenyum.
“Kamu membuat aturan untuk saya?”
“Iya.”
“Banyak sekali.”
“Kalau Mas tidak mau sakit lagi, harus menurut.”
Nathan mengangkat kedua tangannya.
“Baik, Bu Retna.”
Retna tertawa kecil.
“Jangan panggil saya begitu.”
“Kenapa?”
“Seperti ibu-ibu.”
Nathan tersenyum.
“Kalau begitu, saya panggil kamu apa?”
“Retna saja.”
Nathan mengangguk.
“Baik, Retna.”
Entah kenapa, cara Nathan menyebut namanya membuat dada Retna terasa sedikit berbeda.
Ia segera kembali ke dapur.
Ia tidak ingin Nathan melihat wajahnya yang mulai memerah.
Sementara itu, di kantor, Arman sedang duduk seorang diri saat jam makan siang.
Makanannya masih utuh.
Ia hanya memainkan sendok di tangannya.
Seorang rekan kerjanya, Bima, memperhatikan dari seberang meja.
“Man.”
Arman tidak menjawab.
“Arman.”
“Hm?”
“Kamu kenapa?”
“Tidak apa-apa.”
Bima tertawa kecil.
“Kalau orang tidak apa-apa, biasanya makan.”
Arman melihat makanannya.
“Aku tidak terlalu lapar.”
Bima duduk di depannya.
“Kamu masih kepikiran Retna?”
Pertanyaan itu membuat Arman terdiam.
Bima sudah lama mengenal Arman.
Ia juga mengetahui bagaimana rumah tangga Arman berakhir.
“Aku dengar kamu akan menikah lagi.”
Arman mengangguk.
“Dengan Claudia.”
“Sudah serius?”
“Iya.”
Bima menghela napas.
“Kalau boleh jujur, menurutku kamu membuat keputusan yang salah waktu menceraikan Retna.”
Arman langsung menatapnya.
“Kenapa kamu bilang begitu?”
“Karena aku mengenal Retna.”
Bima menyandarkan tubuhnya.
“Dia memang bukan perempuan dari keluarga kaya. Tapi dia tahu bagaimana menghargai kamu.”
Arman diam.
“Dia juga tidak pernah membuat kamu pusing soal uang, pesta, atau barang-barang mahal.”
Arman mengingat permintaan Claudia.
Pernikahan mewah.
Gaun mahal.
Honeymoon ke Eropa.
Tas bermerek.
Perhiasan.
Bahkan mobil baru.
Semua itu membuat kepalanya semakin berat.
Bima melanjutkan.
“Sekarang lihat pilihanmu.”
Arman mengerutkan kening.
“Claudia bukan perempuan buruk.”
“Aku tidak bilang dia buruk.”
Bima menghela napas.
“Dia hanya berbeda.”
Arman menunduk.
“Dan menurutku, kamu baru akan menyadari perbedaannya setelah menikah.”
Kalimat itu membuat Arman terdiam cukup lama.
Ia teringat percakapannya dengan Claudia beberapa malam lalu.
Aku bukan Retna.
Kalimat itu terus terngiang di kepalanya.
Dulu Arman mengira Retna terlalu penurut.
Terlalu mudah mengalah.
Terlalu sederhana.
Ia merasa Claudia akan membuat hidupnya lebih baik.
Lebih bergengsi.
Lebih menguntungkan.
Tetapi sekarang, ketika Retna sudah benar-benar pergi dari hidupnya, ia justru mulai merindukan hal-hal kecil yang dulu tidak pernah ia hargai.
Rumah yang tenang.
Makanan rumahan.
Istri yang selalu menunggunya pulang.
Dan seseorang yang tidak pernah menuntut apa pun darinya.
“Man.”
Arman tersadar.
“Hm?”
Bima menatapnya serius.
“Kalau memang masih menyesal, jangan sampai semuanya terlambat.”
Arman tidak menjawab.
Ia hanya menatap meja.
Namun jauh di dalam hatinya, sebuah pertanyaan mulai muncul.
Di mana Retna sekarang?
Apa yang sedang dilakukannya?
Apakah dia sudah melupakan dirinya?
Dan yang paling mengganggu pikirannya...
Apakah Retna sudah menemukan pria lain yang jauh lebih baik darinya?
Untuk pertama kalinya sejak perceraian mereka, Arman merasa takut kehilangan sesuatu yang dulu ia anggap tidak akan pernah pergi.
Sementara di Bali, Retna sedang duduk di samping Nathan sambil memastikan pria itu menghabiskan buburnya.
“Sedikit lagi,” kata Retna.
Nathan tersenyum.
“Kamu seperti perawat.”
Retna menggeleng.
“Saya cuma tidak mau Mas sakit lagi.”
Nathan menatapnya.
“Terima kasih sudah khawatir.”
Retna terdiam.
Nathan kemudian tersenyum kecil.
“Mungkin saya memang beruntung kamu datang ke rumah ini.”
Retna tidak tahu harus menjawab apa.
Ia hanya menundukkan wajah.
Namun diam-diam, untuk pertama kalinya sejak meninggalkan masa lalunya, Retna merasa kehadirannya benar-benar dibutuhkan seseorang.
Dan tanpa mereka sadari, rasa nyaman yang awalnya hanya berasal dari hubungan antara majikan dan pekerja perlahan mulai berubah menjadi sesuatu yang lebih dalam.