NovelToon NovelToon
ISTRI RAHASIA SANG MAFIA

ISTRI RAHASIA SANG MAFIA

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / CEO / Nikah Kontrak
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: Jefika Isabell

“Dia menikahiku untuk menyelamatkan kerajaannya. Aku menikahinya untuk menyelamatkan keluargaku. Namun, tak satu pun dari kami menyadari bahwa cinta akan menjadi pengkhianatan paling berbahaya.”

• Dante Alessandro Vieri (32 tahun): Bos mafia Italia yang tampan, gagah, bermata biru safir, dingin, penuh perhitungan, dan tidak pernah memaafkan pengkhianatan. Di balik kekuasaannya, ia menyimpan luka lama yang membuatnya tidak percaya pada cinta.

• Bianca Elena Laurent (24 tahun): Gadis cantik keturunan Spanyol dan Timur Tengah, bermata cokelat keemasan, berambut hitam panjang, cerdas, berani, serta memiliki harga diri yang tidak mudah dihancurkan. Ia tidak pernah membayangkan akan menjadi istri rahasia seorang mafia.

• Luciano Vieri: Adik tiri Dante yang menginginkan takhta keluarga.

• Isabella Moretti: Perempuan dari masa lalu Dante yang menyimpan rahasia tentang kematian ibunya.

• Adrian Laurent: Kakak Bianca yang menghilang setelah membawa sebuah dokumen berbahaya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jefika Isabell, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 30 — Harga Sebuah Kepercayaan

“Orang yang melahirkanku masih hidup?”

Suara Bianca terdengar nyaris seperti bisikan. Ia menatap Rafael dengan mata berkaca-kaca, berharap pria itu segera mengatakan bahwa semua ini hanyalah kesalahpahaman.

Namun Rafael tidak mengalihkan pandangan.

“Ya, Bianca.”

Dante berdiri di samping istrinya dengan pistol masih terarah kepada Rafael.

“Jelaskan semuanya. Sekarang.”

Rafael meletakkan pistolnya di atas meja, kemudian mengangkat kedua tangannya.

“Aku tidak pernah berniat menyakitimu, Bianca. Tetapi ada rahasia yang harus kusimpan agar kau tetap hidup.”

Bianca menggeleng.

“Selama ini aku mengira Elena adalah ibuku. Aku tumbuh dengan mengenang perempuan itu. Aku bahkan mencari tahu siapa pembunuhnya. Sekarang kau mengatakan bahwa dia bukan ibu kandungku?”

“Dia tetap ibumu,” jawab Rafael cepat. “Elena membesarkanmu, mencintaimu, dan mempertaruhkan hidupnya untuk melindungimu. Darah bukan satu-satunya hal yang membuat seseorang menjadi ibu.”

Air mata Bianca akhirnya jatuh.

“Siapa perempuan yang melahirkanku?”

Rafael menarik napas panjang.

“Namanya Sofia.”

Dante mengerutkan kening.

“Sofia siapa?”

“Sofia Laurent. Adik kandung Elena.”

Bianca terdiam.

Ia pernah mendengar nama itu. Dalam beberapa foto keluarga lama, ada seorang perempuan muda yang wajahnya sangat mirip Elena. Namun ayahnya selalu mengatakan bahwa Sofia meninggal sebelum Bianca lahir.

“Dia masih hidup?” tanya Bianca.

Rafael mengangguk.

“Dia disembunyikan setelah melahirkanmu. Vittorio mengetahui bahwa Sofia memiliki hubungan dengan seseorang yang dianggap berbahaya bagi keluarga Vieri. Untuk menyelamatkannya, Elena mengambilmu dan membesarkanmu sebagai anaknya sendiri.”

Bianca menutup wajahnya.

“Jadi seluruh hidupku dibangun di atas kebohongan?”

Dante menurunkan pistolnya, lalu meraih tangan Bianca.

“Kau tidak bersalah atas rahasia mereka.”

Namun Bianca melepaskan tangannya perlahan.

“Aku hanya ingin tahu siapa diriku, Dante.”

Kalimat itu membuat Dante terdiam.

Rafael kemudian membuka sebuah tas kulit yang dibawanya. Ia mengeluarkan beberapa lembar dokumen dan sebuah foto lama.

Foto itu memperlihatkan Elena sedang berdiri di taman bersama seorang perempuan berambut gelap. Di belakang mereka terdapat seorang pria yang wajahnya sengaja dicoret dengan tinta hitam.

“Ini Sofia,” ujar Rafael sambil menunjuk perempuan di sebelah Elena. “Dan pria di belakangnya adalah orang yang menjadi alasan mengapa identitasmu harus disembunyikan.”

Bianca mengambil foto itu.

“Siapa dia?”

Rafael menatap Dante sekilas.

“Alessandro Vieri.”

Dante mengeraskan rahangnya.

“Ayahku?”

“Alessandro pernah mencintai Elena, tetapi sebelum itu dia memiliki hubungan rahasia dengan Sofia. Hubungan mereka menghasilkan seorang anak.”

Bianca membeku.

“Jadi aku anak Alessandro?”

Rafael menggeleng.

“Tidak. Ayah kandungmu adalah aku. Sofia adalah ibu kandungmu. Elena hanya mengambil alih identitasmu untuk melindungimu.”

Dante menatap dokumen di tangannya.

“Lalu apa hubungannya dengan pewaris kedua keluarga Vieri?”

Rafael menunjuk sebuah catatan kelahiran.

“Pada malam yang sama, Elena melahirkan seorang bayi laki-laki dari Alessandro. Bayi itu adalah anak yang dibawa pergi. Tetapi seseorang menukar dokumen kelahirannya agar identitasnya tidak pernah ditemukan.”

Bianca teringat pria yang mengaku bernama Alessandro.

“Jadi pria itu mungkin benar-benar saudara Dante?”

“Bisa jadi,” jawab Rafael. “Namun kita belum memiliki bukti.”

Dante mengambil dokumen tersebut.

“Di mana Sofia sekarang?”

Rafael menatap Bianca dengan sedih.

“Aku tidak tahu lokasi tepatnya. Tetapi aku tahu siapa yang terakhir kali menghubunginya.”

“Siapa?”

Rafael menelan ludah.

“Luciano Vieri.”

Satu jam kemudian, Dante dan Bianca berada di ruang kerja.

Marco baru saja mengirimkan laporan bahwa sinyal ponsel Luciano terdeteksi di sebuah gudang tua dekat pelabuhan.

Namun ada masalah.

Gudang tersebut merupakan tempat Adrian ditahan.

“Kita harus pergi sekarang,” ujar Bianca.

Dante mengangguk, tetapi wajahnya masih menunjukkan kekhawatiran.

“Aku akan mengirim tim lebih dahulu. Kau tetap berada di belakangku.”

“Aku tidak akan menjadi beban, Dante.”

“Aku tahu.” Dante mendekat dan menyentuh pipinya. “Tetapi aku tidak sanggup melihatmu terluka lagi.”

Bianca menatapnya lama.

“Aku juga takut kehilanganmu.”

Dante mengecup keningnya.

“Kalau begitu, jangan lepaskan tanganku.”

Untuk beberapa detik, dunia terasa sunyi bagi mereka berdua.

Namun ketenangan itu segera pecah ketika Marco masuk.

“Don, kita mendapat rekaman baru.”

Ia meletakkan tablet di meja.

Rekaman itu memperlihatkan Luciano sedang berbicara dengan seseorang di dalam gudang. Wajah orang tersebut tertutup tudung hitam.

Namun suara yang terdengar membuat Bianca terkejut.

“Dia masih mengira Elena adalah ibu kandungnya?”

Luciano tertawa.

“Biarkan saja. Selama Bianca sibuk mencari Sofia, dia tidak akan menyadari siapa yang sebenarnya membunuh Elena.”

Orang bertudung itu kemudian menjawab.

“Dan bagaimana dengan Rafael?”

“Dia sudah terlalu banyak bicara.”

Rekaman berhenti.

Dante menatap Marco.

“Siapkan mobil. Kita berangkat.”

Gudang pelabuhan itu tampak sepi ketika rombongan Dante tiba.

Hanya ada suara ombak dan angin malam yang menerpa bangunan tua.

Dante memberi isyarat kepada anak buahnya untuk mengepung tempat tersebut.

Bianca berjalan di belakangnya bersama Marco.

“Adrian berada di dalam?” bisiknya.

Marco mengangguk.

“Kami melihat dua penjaga di pintu samping.”

Dante mengangkat tangannya.

Dalam hitungan detik, para pengawal bergerak menyerbu.

Tembakan terdengar dari dalam gudang.

Dante membalas serangan sambil menarik Bianca berlindung di balik tumpukan peti.

“Jangan keluar!”

Bianca mengangguk, tetapi matanya terus mencari keberadaan Adrian.

Beberapa menit kemudian, Marco memberi isyarat bahwa jalur sudah aman.

Mereka memasuki ruangan utama.

Di sana, Adrian duduk terikat pada sebuah kursi. Wajahnya lebam, tetapi ia masih sadar.

“Bianca!”

Bianca berlari menghampirinya.

“Adrian!”

Ia segera melepaskan ikatan tangan kakaknya.

“Apa mereka menyakitimu?”

Adrian tersenyum lemah.

“Aku masih hidup. Itu sudah cukup.”

Dante memeriksa ruangan.

“Di mana Luciano?”

Adrian menatapnya serius.

“Dia sudah pergi. Tetapi dia meninggalkan sesuatu untuk kalian.”

Adrian menunjuk sebuah meja.

Di atasnya terdapat amplop putih dengan nama Bianca tertulis di bagian depan.

Bianca membukanya.

Di dalamnya ada selembar foto seorang perempuan tua yang sedang duduk di taman. Wajahnya sangat mirip Elena, tetapi matanya memiliki bentuk yang sama dengan mata Bianca.

Di belakang foto tertulis:

Untuk putriku yang selama ini kupikir telah hilang. Jika kau ingin bertemu denganku, datanglah ke rumah di tepi Danau Como. Jangan percaya kepada siapa pun yang membawa lambang delapan kelopak.

Bianca menggenggam foto itu erat.

“Sofia…”

Dante mengambil surat kecil yang terselip di dalam amplop.

Namun sebelum ia sempat membacanya, Adrian tiba-tiba bersuara.

“Dante, ada satu hal yang belum kukatakan.”

Dante menoleh.

“Apa?”

Adrian menatap Bianca, lalu menunduk.

“Aku pernah mendengar percakapan Luciano dengan Vittorio. Mereka tidak hanya ingin membunuh Rafael. Mereka ingin menjadikan Bianca sebagai umpan untuk memancing Sofia keluar.”

Bianca mengerutkan kening.

“Kenapa mereka menginginkan Sofia?”

Adrian menjawab dengan suara berat.

“Karena Sofia mengetahui siapa yang membunuh Elena.”

Dalam perjalanan pulang, Bianca duduk diam di samping Dante.

Foto Sofia berada di tangannya. Ia terus memandangi wajah perempuan itu, mencoba membayangkan bagaimana rasanya bertemu seseorang yang selama ini hanya menjadi bagian dari rahasia keluarganya.

Dante menggenggam tangannya.

“Kita akan menemukannya.”

Bianca mengangguk.

“Aku ingin bertemu dengannya. Aku ingin mendengar semuanya langsung dari mulutnya.”

“Kita akan pergi ke Danau Como besok.”

Bianca menoleh.

“Bersama-sama?”

“Selalu.”

Dante mengecup punggung tangannya.

Namun sesampainya di Villa Vieri, mereka mendapati Rafael sudah menghilang dari ruang medis.

Pengawal yang berjaga ditemukan pingsan. Jendela terbuka, dan di atas meja terdapat sebuah pesan.

Dante mengambil kertas itu.

Tulisan di dalamnya hanya satu kalimat:

Maafkan aku, Bianca. Ada seseorang yang harus kutemui sebelum kau mengetahui seluruh kebenaran.

Di bawah tulisan tersebut terdapat lambang delapan kelopak.

Bianca merasa jantungnya berdegup semakin cepat.

“Dia diculik?”

Dante memeriksa ruangan.

“Belum tentu. Bisa jadi dia pergi dengan sukarela.”

Tiba-tiba ponsel Bianca berdering.

Nomor tak dikenal.

Ia mengangkatnya dengan tangan gemetar.

“Hallo?”

Suara seorang perempuan terdengar dari seberang. Lembut, tetapi penuh kesedihan.

“Bianca…”

Bianca membeku.

“Siapa ini?”

“Aku Sofia. Ibumu.”

Air mata langsung memenuhi mata Bianca.

“Ibu…”

Perempuan itu terisak.

“Dengarkan aku baik-baik, Sayang. Jangan datang ke Danau Como. Tempat itu sudah tidak aman.”

“Kenapa? Aku ingin bertemu denganmu.”

“Karena orang yang membunuh Elena sudah tahu kau sedang mencariku.”

Bianca menahan napas.

“Siapa pembunuhnya?”

Hening beberapa detik.

Lalu Sofia menjawab dengan suara bergetar.

“Orang yang membunuh Elena adalah orang yang selama ini kau panggil ayah.”

Sambungan terputus.

Bianca perlahan menurunkan ponselnya.

Dante menatapnya.

“Apa yang dia katakan?”

Bianca memandang Dante dengan wajah pucat.

“Dia mengatakan Rafael membunuh Elena.”

Dante terdiam.

Namun sebelum ia sempat menjawab, sebuah pesan masuk ke ponselnya.

Pesan itu berasal dari nomor Rafael.

Jangan percaya Sofia. Dia bukan ibu kandung Bianca yang sebenarnya.

1
nnda
ceritanya dipercepat kah kak? kok tiba² udah punya anak si Bianca sama Dante
Isabell: iya kak mohon maaf update hari ini agak amburadul 😖 ada bab yang hilang, nanti aku ubah dulu kak 🙏
total 1 replies
Frida
💪
Yiruma Nitya
Bagus loh kak sumpah, semangat terus, jangan lupa mampirin aku jg ya
Yiruma Nitya
Jadi penasaran
Zendyaa4
aku baca baca ini kak,tapi pelan pelan. semangat kakk💪
jangan lupa mampirr🤭
niaww
semngat trus kak isabelll
Isabell: terima kasih kak 😍semangat juga untuk mu kak 🥰
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!