Setan adalah musuh yang nyata bagi manusia. Maka jadikanlah mereka sebagai musuh mu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon David Purnama, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Siap Tarung
Mereka tidak perlu kebingungan mencari dimana tempat yang harus mereka temukan.
Sabdo pernah ke sana.
Tempat persembunyian sekaligus rumah bagi orang-orang yang menekuni ilmu hitam itu adalah di dalam sebuah gua yang diselimuti kegelapan hutan.
Di sanalah para sandera dikurung.
Di dalam tempat itu pula ritual kematian akan diupacarakan.
Di tempat itulah sekarang James dan Sintia ditawan. Anak dan istri Alex.
Hanya panca indera keturunan darah para penjaga yang mampu menembus pengelihatan malam yang diselimuti oleh mantra-mantra hitam.
Belum lagi gangguan yang akan menyambut mereka sesudah memasuki lingkungan hutan terlarang.
"Sebentar lagi surup",
"Kita istirahat dulu",
Sebagai teman gelap, mereka menyalakan api unggun dari ranting-ranting kayu yang disusun.
Mereka memakan bekal yang mereka siapkan.
"Makanlah yang kenyang",
"Sesudah ini kita butuh banyak tenaga",
"Pergilah ke balik pohon besar itu",
Gombloh dan Bokir sama-sama mau buang hajat.
Sabdo menyuruh mereka untuk mengambil tempat di belakang pohon besar supaya tidak kelihatan.
Setelah sama-sama selesai urusan menguras usus besar.
Harusnya Gombloh dan Bokir langsung kembali kepada teman-teman yang lain.
Namun mereka terhalang.
Ada seorang perempuan cantik yang menegur dua laki-laki muda yang tampangnya pas-pasan.
"Mas-mas ini ada keperluan apa malam-malam masih di hutan?",
Penampakan wanita ayu itu membius dua-duanya.
"Kami berdua sedang berburu cinta",
"Maksud kami berburu",
"Berburu apa malam-malam begini?",
"Kami berburu kijang kalau ada",
"Kalau nona ayu ini kenapa malam-malam begini tidak di rumah?",
"Rumah saya dekat sini mas",
"Masnya mau mampir?",
"Kebetulan sekali di rumah sedang masak banyak",
"Ayo... Ayo... ",
Dengan sangat antusias Gombloh dan Bokir mau diajak ke rumah perempuan yang bahenol itu.
"Bagaimana kalau sekalian mengajak teman-teman kami?",
"Kalau nona ayu tidak keberatan",
"Tentu saja boleh mas",
"Lebih banyak teman-teman, lebih baik",
Gombloh dan Bokir mengajak perempuan itu terlebih dahulu menghampiri Sabdo dan yang lain.
Gombloh dengan penuh keceriaan bilang,
"Do, Sabdo... ",
"Ada yang mengajak kita mampir ke rumahnya",
"Kita mau dijamu makan enak", tambah Bokir.
"Kenapa kalian berdua lama sekali?",
"Jangan asal bicara",
"Mana orangnya?",
"Perempuan cantik, sip",
"Itu",
Perempuan yang tinggal di dalam hutan terlarang itu tidak melanjutkan langkahnya lebih maju setelah melihat rombongan teman-teman Gombloh dan Bokir yang lain.
"Sini... ",
Kata Karyo yang maju mendekat ke perempuan yang sekarang hanya tinggal diam.
Perempuan itu tidak beranjak dari tempatnya berdiri ketika Karyo datang.
Tapi ia terbang dengan separuh badan.
Terlihat warna merah darah dari organ tubuh bagian dalam yang menggantung dibawa melayang kepala berambut panjang.
"Astaghfirullah... ",
"Baru kali ini aku melihatnya secara langsung",
"Itu yang namanya Kuyang",
"Sebentar lagi kita akan bertemu dengan mereka dalam jumlah yang lebih banyak lagi",
"Persiapkan diri kalian masing-masing",
Kuyang itu takut kepada Karyo.
Ia merelakan wadahnya dari pada harus mati.
Karyo menusuk-nusuk tubuh manusia kuyang yang tertinggal.
Sampai tidak berbentuk.
Sesudah menunaikan kewajiban malam.
Unang, Sabdo, Alex, Gombloh, Bokir dan Karyo melanjutkan perjalanan.
"Mari kita mulai... ",
"Sehabis ini sudah tidak ada kata mundur... ",
Malam adalah waktu yang tepat untuk membuat perhitungan kepada mereka (para setan).
Akan jauh lebih mudah dan aman melawan mereka ketika sedang berwujud setengah setan setengah manusia.
"Berhenti... ",
Sabdo yang berada di paling depan memberikan aba-aba peringatan.
Seekor macan kumbang yang berukuran besar lewat berpapasan dengan rombongan para pemburu.
Untungnya perbekalan mereka komplit.
Sabdo memberikan sepotong paha ayam jumbo yang masih segar kepada sang penguasa malam hutan belantara.
"Kita jalan lagi... ",
Dengan begitu mereka bisa meneruskan perburuan tanpa harus ribut.