NovelToon NovelToon
Simfoni Yang Salah Nada

Simfoni Yang Salah Nada

Status: sedang berlangsung
Genre:Office Romance / Pengganti / Persahabatan
Popularitas:297
Nilai: 5
Nama Author: aleeenaa

Bagi Alee gadis cerdas yang meledak-ledak dan ceplas-ceplos, Rama adalah cowok paling membosankan sekaligus jual mahal di 10 MIPA 1. Namun, hanya butuh satu lagu di panggung sekolah untuk meruntuhkan seluruh gengsi Alee dan mengubah benci menjadi cinta.

Masalahnya, Alee punya satu kelemahan: mulutnya sama sekali tak punya filter. Demi menjaga rahasia hatinya, Alee memilih kabur ke sudut belakang kelas dan mengunci mulut rapat-rapat.

Namun, masa SMA tak pernah berjalan sesuai rencana. Ketika kesalahpahaman, provokasi teman, dan kehadiran Karim mulai menguji arah takdir mereka apakah simfoni cinta Alee akan berakhir indah, atau justru Rama hanya menjadi nada yang salah dalam hidupnya?

Namun, segalanya berubah saat sekolah mengadakan Acara Panggung Unjuk Bakat. Di atas panggung, Rama yang biasanya tenang dan tidak suka menonjolkan diri, tampil membawa gitar dan menyanyikan lagu favorit Alee. Suara Rama yang begitu merdu dan hangat malam itu berhasil menyentuh perasaan Alee yang paling

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon aleeenaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 8: Ejekan Kak Maya dan Rahasia di Balik Senar

Suasana kelas 11 MIPA 1 yang riuh oleh suara obrolan anak-anak di hari pertama sekolah tak sedikit pun menyurutkan fokus Alee dan Rama. Di sudut belakang kelas yang teduh oleh naungan pohon mangga di luar jendela, Rama masih setia duduk berhadapan dengan Alee. Mata serbahu di balik kacamata bertulang hitam itu memantau lekat-lekat jemari Alee yang sedang menari di atas papan tekan gitar cokelat kesayangannya.

Jreng...

Suara petikan gitar terdengar jernih, tanpa ada nada sumbang atau getaran senar yang cacat seperti biasanya.

"Nah, yang itu penekanan kunci F-nya udah bersih banget, Alee," puji Rama lembut seraya mengangguk-angguk kecil. Senyum tipis mengembang di bibirnya.

Alee seketika melepaskan genggamannya dari leher gitar, membusungkan dada dengan raut bangga yang meluap-luap. "Jelas dong! Siapa dulu gurunya? Eh, maksud gue, siapa dulu muridnya! Aleena Putri gitu loh!" serunya penuh percaya diri. Namun detik berikutnya, Alee menatap Rama dengan binar mata yang lebih teduh. "Tapi jujur ya, Ketua... kalau bukan gara-gara lu yang telaten banget ngajarin gue dari kelas 10 kemarin, mungkin jari-jari gue ini udah kapalan tanpa hasil. Gue mana bisa konsisten kalau nggak ditagih perkembangan sama lu."

Rama terkekeh pelan sebuah tawa renyah dan hangat yang rasanya kini makin sering Rama berikan khusus untuk Alee. Bayangan Ketua Kelas yang kaku dan tertutup di awal semester lalu benar-benar telah melumer. "Saya cuma bantu mengarahkan dan meluruskan posisi jari kamu aja, Alee. Selebihnya kan karena kamu sendiri yang rajin latihan di rumah tiap sore."

Mendengar frasa 'latihan di rumah' yang diucapkan Rama dengan nada polos itu, ingatan Alee mendadak melayang lurus pada kejadian kemarin sore sepulang sekolah. Seketika itu juga, ekspresi bangga dan percaya diri di wajah Alee luntur total, berganti dengan ringisan geli sekaligus rasa malu yang membakar hingga ke ujung telinga.

Rama yang menyadari perubahan raut wajah itu menghentikan ketukan jarinya di atas meja. Ia mengaitkan alisnya heran. "Kenapa, Alee? Kok tiba-tiba mukanya berubah gitu? Ada yang salah sama kata-kata saya?"

"Gara-gara latihan di rumah itu tuh..." gumam Alee pelan, memalingkan wajah sambil menutup sebagian pipinya dengan telapak tangan. "Gue jadi teringat kelakuan ajaib Kak Maya kemarin sore."

...----------------...

Hari kemarin adalah hari pengumuman kenaikan kelas. Sore harinya, setelah meletakkan tas sekolah dan menyandarkan gitarnya di sudut kamar, Alee melangkah menuju ruang tamu dengan langkah ringan bak melayang. Hatinya membuncah senang—bukan hanya karena ia berhasil lolos ke kelas 11 MIPA, tetapi juga karena ia dan Rama berada di kelas yang sama lagi.

Di ruang tamu, Kak Maya kakak perempuannya yang sedang libur kuliah tampak santai selonjoran di sofa sambil mengeringkan rambut dengan handuk.

Alee langsung mengambil posisi duduk di sebelah Kak Maya, memeluk bantal sofa, lalu menghela napas panjang sembari tersenyum-tersenyum sendiri menatap langit-langit rumah. Wajahnya merona hangat setiap kali memori tangan Rama yang mengacak rambutnya di depan papan pengumuman berputar di kepala.

Kak Maya yang menyadari tingkah aneh adiknya langsung menurunkan handuk di kepalanya. Ia memicingkan mata, menatap Alee dari atas ke bawah dengan tatapan curiga yang amat tajam.

"Napa lu, Lee? Pulang sekolah bukannya ganti baju malah senyum-senyum kayak orang kurang sajen gitu?" tegur Kak Maya datar.

"Gue lagi bahagia banget, Kak!" sahut Alee cepat tanpa beban, matanya berbinar-binar gembira. "Tadi pas pengumuman, Si ketua maksud gue Rama beneran nungguin gue menerobos kerumunan! Terus ya, kita sekelas lagi di 11 MIPA 1! Pas tau sekelas, dia refleks ngacak rambut gue coba? Manis banget nggak sih?!"

Kak Maya menyandarkan punggungnya ke sofa. Bibirnya perlahan mengukir senyum jahil yang sangat khas senyuman seorang kakak perempuan yang baru saja mendapatkan bahan empuk untuk mengejek adiknya sampai puas.

"Oh... jadi cowok berkacamata yang namanya Rama itu lagi?" ledek Kak Maya semalam dengan nada dibuat-buat manis. "Cowok yang tiap malam lu obrolin di kamar berkedok nanya tugas Biologi sama Fisika, padahal mah cuma pengin denger suara beratnya doang?"

"Dih! Enak aja! Gue beneran nanya tugas ya, Kak Maya!" sergah Alee spontan. Wajahnya seketika merona merah padam, panik karena rahasia kecilnya dibongkar begitu saja.

"Halah, alibi klasik anak SMA!" Kak Maya tertawa keras melampiaskan kegemasannya. "Lagian dari kelas 10 kemarin lu panggil dia 'Ketua, Ketua' mulu. Gue penasaran deh, Lee... dia itu ketua kelas apa sebenarnya ketua suku di hati lu sih? Kasihan amat tuh cowok, pasti telinganya panas tiap hari diladeni cewek modelan mercon banting kayak lu."

"Kak Maya! Berisik banget sih!" Alee yang kepanikan bercampur malu langsung menyambar bantal sofa di pangkuannya dan melemparnya tepat ke wajah Kak Maya.

Dengan sigap Kak Maya menangkap bantal itu sambil tertawa makin menjadi-jadi. "Btw, Lee," goda Kak Maya lagi sambil menaik-turunkan alisnya melintasi bantal. "Tadi lu bilang dia ngacak rambut lu kan? Jangan Ge-Er dulu, Dek! Bisa aja itu tuh bentuk kepasrahan dia karena bingung ngadepin kelakuan lu yang makin ajaib tiap hari!"

"Tau ah! Kak Maya ngeselin parah! Nggak diajak ngobrol lagi!" sungut Alee seraya bangkit berdiri, menghentakkan kakinya keras-keras menuju kamar. Namun begitu pintu kamarnya tertutup rapat, Alee justru menyandarkan tubuhnya di pintu sambil memegangi dadanya yang berdebar kencang. Ejekan Kak Maya bukannya membuat Alee kesal, melainkan makin mempertegas kenyataan bahwa perasaan aneh di dadanya ini memang nyata.

...----------------...

"Alee? Aleena Putri?"

Lambaian tangan Rama yang melintas tepat di depan wajahnya membuyarkan lamunan Alee seketika. Alee tersentak kaget, hampir saja menjatuhkan gitar di pangkuannya jika Rama tidak dengan sigap menahan leher gitar tersebut.

"Eh! Kaget gue!" seru Alee menepuk dadanya. Ia menatap Rama yang kini makin mengaitkan alis bingung di balik kacamatanya.

"Kamu mikirin apa sih sampai melamun jauh gitu? Kak Maya kenapa?" tanya Rama penasaran, menatap Alee hangat.

"E-eh! Nggak ada apa-apa kok, Ketua!" sahut Alee cepat. Suaranya agak meninggi karena tergagap-gagap berusaha menetralkan degup jantungnya. Mana mungkin ia berterus terang kalau Kak Maya di rumah mengejek Rama sebagai 'Ketua Suku di hati Alee'! Bisa jatuh gengsinya ke dasar bumi!

"Masa nggak ada apa-apa? Wajah kamu sampai merah padam begitu," goda Rama tipis. Rama lalu melepaskan pegangannya dari gitar, menyandarkan punggung ke sandaran kursi, dan menatap Alee dengan binar mata jahil sebuah tatapan yang dulu tak pernah terpikirkan akan keluar dari seorang Ramaditya. "Jangan-jangan kamu menceritakan hal yang aneh-aneh tentang saya ke Kak Maya, ya?"

Alee membelalak kaget, mulutnya sedikit terbuka. "Kok lu bisa nebak sih?!"

Rama terkekeh pelan, suara tawanya jernih menyelinap di antara riuh kelas. "Ya kelihatan jelas dari ekspresi kamu yang serba salah gitu. Lagian pas kelas 10 dulu kamu juga suka cerita kan kalau Kak Maya sering nanyain kabar anak-anak kelas atau nanyain siapa yang suka bantuin kamu belajar. Jadi... sekarang kakak kamu bilang apa tentang saya?"

Alee memegangi kedua pipinya yang makin terasa panas membara. Tatapan teduh Rama yang terkunci pada manik matanya membuat benteng pertahanan gengsi Alee bergetar hebat.

"Kak Maya tuh ngeselin banget, Ketua!" gerutu Alee akhirnya, sengaja mengalihkan inti ejekan Kak Maya agar tidak membongkar rahasianya. "Dia mengejek gue mulu dari kemarin sore! Katanya main gitar gue masih kayak kaleng rombeng dipukul, terus dia heran kenapa lu betah banget dan telaten ngajarin cewek rusuh kayak gue!"

Rama mendengarkan aduan Alee dengan senyuman hangat yang melebar di bibirnya. Ia menggeleng pelan, lalu memajukan posisi duduknya sedikit, menatap lurus ke dalam mata Alee dengan raut yang sangat tulus.

"Kamu bilang gitu ke Kak Maya?" tanya Rama pelan.

Alee mengangguk cepat. "Iya! Soalnya dia ngejek gue terus!"

Rama menyunggingkan senyum tipisnya yang paling menenangkan. "Kalau gitu, nanti pas pulang sekolah, kamu bilang sama Kak Maya..." bisik Rama pelan namun setiap katanya terdengar begitu tegas dan jelas di telinga Alee. "...bilang kalau saya betah-betah aja kok ngajarin kamu. Malah kalau di kelas atau pas latihan nggak ada kamu yang rusuh, suasananya rasanya sepi banget."

Blush!

Kata-kata Rama barusan bagaikan kembang api manis yang meledak mendadak tepat di dalam dada Alee. Kalimat sederhana namun sarat makna itu berhasil melumpuhkan daya pikir Alee selama beberapa detik. Tatapan mata Rama di balik kaca bening kacamatanya terasa begitu intim dan dalam, membuat udara di sekitar mereka seolah-olah membeku.

Nara yang sejak tadi memperhatikan interaksi mereka dari bangku sebelah hanya bisa menyenggol siku Alee pelan sambil menahan tawa gembira yang membuncah.

Alee berdeham keras-keras, mencoba menguasai kesadarannya kembali meski seluruh syaraf di dadanya sedang berdesir hebat. Ia menyambar gitarnya cepat-cepat untuk menutupi rasa salah tingkah yang sudah berada di puncaknya.

"U-udah ah! Malah makin ngawur obrolannya! Ayo lanjut latihan lagi, Pak Ketua! Awas ya kalau pendengaran lu rusak gara-gara nada sumbang gue!" seru Alee berusaha galak, walau rona merah di pipinya tidak bisa berbohong.

Rama hanya tertawa kecil melihat kepanikan manis cewek di depannya itu. Ia membetulkan posisi duduknya, kembali mendekat, dan dengan sabar mengarahkan jemari Alee di atas senar.

Di hari pertama kelas 11 yang hangat ini, ejekan dari Kak Maya di rumah justru menjadi cermin yang makin memperjelas satu hal nyata: bahwa di antara petikan senar gitar, obrolan acak di kelas, dan perhatian-perhatian kecil yang tercipta, sosok Ramaditya sang Ketua Kelas kini telah benar-benar menetap dan menguasai seluruh ruang di hati Aleea.

1
aleee
kerenn
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!