Setelah kehilangan ayah dan melihat ibunya terbaring koma, Karissa justru dikhianati oleh Louis, kekasihnya sendiri, yang berselingkuh dengan sahabatnya.
Dalam amarah dan rasa kecewa, Karissa mengambil keputusan nekat—menikahi ayah Louis.
Kini Karissa bukan lagi kekasih Louis, melainkan ibu tirinya.
Namun tinggal serumah dengan pria yang pernah dicintainya ternyata jauh lebih sulit dari yang ia bayangkan. Louis membencinya, tetapi di saat yang sama, ia juga tidak rela kehilangan Karissa.
Karissa ingin membalas dendam. Tapi tanpa sadar, ia justru terjebak dalam permainan cinta yang ia mulai sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tusya Ryma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8 Istri Muda yang Cantik
Di aula hotel yang sangat luas, sudah tersedia hidangan di atas meja, dan beberapa botol anggur sebagai teman makan mereka.
Tuan Lee, sebagai tuan rumah di acara kali ini, segera mempersilakan mereka untuk menyantap makanannya.
"Silakan dicicipi!"
"Wah, ini terlalu mewah untuk sebuah jamuan makan malam," canda Romi, rekan bisnis sekaligus teman baiknya, saat melihat banyak hidangan di atas meja.
"Haha ... kau berlebihan! Ini hanya hidangan biasa saja!" Tuan Lee menjawab dengan tangan yang sibuk mengambil beberapa makanan ke piring Karissa.
"Makanlah!" ucapnya pada Karissa.
Membuat semua orang yang ada di sana terkejut.
Wanita itu hanya mengangguk sambil tersenyum. Menarik piringnya dan bersiap untuk memakannya.
"Oh, iya! Bukankah ini putramu?" tanya Romi sambil menunjuk Louis yang duduk di samping Karissa.
Romi memperhatikan ekspresi Louis yang terlihat sinis dari awal datang sampai sekarang.
Tuan Lee mengangguk.
"Benar ... ini Louis, putraku! Dia yang akan menjadi penerus perusahaan di masa depan!"
"Wah baguslah! Semoga, kita bisa menjadi rekan bisnis yang solid!"
Melihat ekspresi tidak bersahabat dari Louis, Romi tidak yakin mereka akan menjadi rekan bisnis yang solid seperti Tuan Lee.
"Tentu saja!" Tuan Lee mengangguk. "Sekarang, makanlah!"
Semuanya mulai makan.
Ketika mereka sedang makan, Karissa meletakkan alat makannya di atas piring. Ia mendorong kursi, lalu pamit ke belakang.
Setelah kepergian wanita itu, terdengar Romi berkata dengan sedikit bercanda,
"Mentang-mentang punya istri muda dan cantik, sudah tidak sungkan lagi memperkenalkannya pada kita!"
"Seleranya cukup bagus! Bisa mendapatkan wanita muda yang sangat cantik di usia kita yang hampir menginjak kepala lima!"
"Ya, benar! Selama lima tahun ini, kami belum pernah melihatmu menggandeng seorang wanita setelah kepergian istrimu! Baru ini yang pertama," timpal yang lain.
"Eh, ngomong-ngomong, dari mana kau mendapatkan wanita muda seperti dia?" bisik seseorang yang duduk di kursi paling ujung.
"Kalau secantik dan semuda itu, aku juga mau!"
"Hei! Kalau kau sudah sekaya Tuan Lee, dalam satu kedipan mata saja kau bisa mendapatkan wanita muda dan cantik seperti istri barunya. Benar tidak? Haha!" ejek yang lain.
Mereka para pria paruh baya, terus berbicara seolah masih sangat muda.
"Kalau begitu, mengapa tidak dari dulu saja kau menikah? Kenapa baru sekarang, setelah lima tahun kepergian istrimu?" tanya Romi pada Tuan Lee.
Ya, itu memang benar. Tuan Lee memang tidak pernah dekat dengan wanita manapun selama lima tahun setelah kepergian istrinya. Semua orang tahu, Tuan Lee sangat mencintai mendiang istrinya, dan tidak berniat mencari wanita lain untuk menggantikan posisi spesial di hatinya.
Tapi sekarang ... untuk pertama kalinya Tuan Lee memperkenalkan seorang istri yang masih sangat muda kepada mereka semua. Membuat semua orang cukup terkejut.
Mendengar mereka semua berbicara, Louis hanya menyimak sambil terus meneguk red wine yang ada di atas meja. Tangan yang memegang gelas terlihat merah dengan urat biru yang samar terlihat.
Terdengar Tuan Lee menjawab,
"Tentu saja itu karena istri baruku masih sangat muda dan cantik! Pria mana yang akan menolak dihadapkan dengan gadis secantik Karissa? Mungkin pria muda seperti putraku juga tidak akan menolak! Kita ... para pria tua juga tidak ingin kalah! Benar, kan?"
"Hahaha! Kau bisa saja!"
"Tapi, benar juga!"
Takkkk!
Louis meletakkan gelas anggur dengan keras, membuat semua orang yang ada di sana terkejut dan segera menoleh ke arahnya.
"Aku permisi dulu," ucapnya sinis.
Lalu bangkit berdiri, beranjak pergi meninggalkan meja itu dengan penuh kekesalan.
"Ada apa dengan putramu?" tanya Romi dengan mata menatap punggung Louis yang mulai menghilang di balik pintu belakang.
"Tidak apa-apa! Dia memang seperti itu." Tuan Lee hanya menoleh sekilas, lalu melanjutkan makannya. "Ayo, makan!"
Mereka pun tidak ada yang berani membahas putranya lagi. Mereka kembali menyantap makanannya. Sesekali para bapak-bapak tua itu bercanda sambil tertawa, membuat suasana menjadi ramai.
***
Di dalam toilet wanita, Karissa mencuci tangan di wastafel setelah selesai membuang air. Ia membenarkan rambutnya yang sedikit berantakan sebelum kembali ke meja makan.
Setelah dirasa cukup rapi, ia berbalik badan dan berjalan menuju pintu keluar.
Ketika baru satu langkah keluar dari toilet wanita, tiba-tiba tangannya ada yang menarik.
Ia ditarik tanpa aba-aba hingga terpaksa harus mengikuti langkah orang tersebut.
"Ah, lepaskan!" ringis Karissa sambil terus berjalan menuju pintu keluar.
Mereka keluar dari dalam hotel itu lewat pintu belakang.
"Lo-Louis?" Karissa mendongak, menyadari orang yang membawanya adalah Louis.
Ia menatap pria beraura dingin itu dengan heran.
"Sedang apa kau di sini? Lepaskan aku!"
Karissa menepis tangan besar Louis, ingin melepaskan diri dari genggaman pria itu.
"Kita pulang!" ucap Louis dengan tajam. Sama sekali tidak melepaskan tangan wanita itu.
Louis membawa Karissa sampai ke pinggir jalan.
"Apa? Pulang? Aku tidak mau!" tolak Karissa.
Ia menghentikan langkah kakinya. "Suamiku masih ada di dalam!"
"Hah ... suami?"
Louis menyeretnya dan mendorong wanita itu ke tiang lampu jalan.
"Suami macam apa yang membiarkan orang lain mengejek istrinya sendiri?"
"Siapa yang mengejek?" tanya Karissa dengan polos. Sama sekali tidak mengerti dengan ucapannya.
Ia menatap wajah tampan Louis yang tersorot oleh lampu berwarna oranye. Aura dinginnya semakin terlihat.
"Kau ... hanya dijadikan bahan ejekan oleh Ayah dan teman-temannya! Apa kau masih tidak mengerti?" jawab Louis, berusaha menahan emosinya.
Ia memegang pundak Karissa, menekannya cukup kuat.
"Biarkan saja kalau hal itu membuat suamiku senang!" jawab Karissa dengan acuh.
Ia tidak peduli orang lain mau berbicara apa tentang dirinya. Yang terpenting ... pria di depannya ini marah dan marah setiap waktunya.
Karena rasa marah Louis merupakan keberhasilan dalam sandiwara ini.
"Karissa!" sergah Louis. "Hanya demi uang, kau rela menjadi bahan ejekan orang lain!"
"Jika 'iya', memangnya kenapa?" tantang Karissa, semakin suka melihat Louis marah.
"Kau!!!"
Pria itu mengeratkan gigi, mendekatkan wajahnya ke wajah cantik Marissa.
Sebelum ia melakukan sesuatu, terdengar suara klakson mobil diiringi suara panggilan,
"Louis!"
Karissa dan Louis terkejut. Mereka segera menoleh ke samping untuk melihat.
"Marine!"
"Marine!"
Louis segera melepaskan tangannya dari bahu Karissa, mundur satu langkah untuk menjaga jarak dengannya.
"Ternyata kau di sini?" tanya Marine dengan suara lembut.
Lalu membuka pintu mobil, turun dan berjalan menghampiri mereka berdua.
"Kariss ... kau juga ada di sini? Bagaimana dengan kondisi ibumu?" tanyanya seolah menunjukkan rasa peduli.
"Baik!" Karissa memalingkan muka, tidak suka melihat mantan sahabatnya ada di sana.
"Oh, syukurlah!"
"Sayang, sedang apa kau di tempat ini? Mana mobilmu?" tanyanya pada Louis.
Wanita yang berpakaian sangat seksi itu segera menggandeng tangan Louis.
"Apa kau tidak membawa mobil?"
"Tidak!" jawab Louis.
Ia tidak menolak sikap manja Marine kepada dirinya.
"Aku datang bersama Ayah! Sekarang, Ayah masih ada di dalam!"
"Oh, baguslah kalau begitu! Aku antar kau pulang, ya? Ayo!" ajak Marine sambil menarik tangan Louis menuju mobilnya.
"Louis ... kita pulang ke rumah, sekarang!" Tiba-tiba Karissa berteriak dengan susah payah.
Ia menebalkan muka untuk mengatakannya.
Karissa hanya ingin tahu, pria itu akan memilih siapa, dirinya atau Marine?
Marine membuka pintu mobil untuk Louis.
"Sayang, kau yang bawa mobilnya, ya!" ucapnya, pura-pura tidak mendengar teriakan Karissa.
"Sayang ... ayo!"
Marine memanggil pria itu lagi. Lalu masuk ke dalam mobil dan duduk di kursi penumpang.
Louis ragu sejenak, menatap Karissa sebentar.
"Kau pulanglah duluan! Nanti aku menyusul!"
Lalu masuk ke dalam mobil dan duduk di kursi pengemudi. Ia mulai membawa mobilnya pergi meninggalkan tempat itu.
Karissa masih berdiri di bawah lampu jalan.
Ia menatap kepergian mobil berwarna hitam itu dengan perasaan terluka.
Tubuhnya bergetar, hatinya terasa sakit dan jantungnya berdetak sangat kencang. Walau dari awal ia tahu bahwa mereka sudah bersama, tetap saja hatinya terasa sakit.
Masih terhanyut di dalam kesedihan, tiba-tiba ponselnya berbunyi. Karissa segera tersadar.
Ia mengambil ponsel dari dalam tas kecilnya, lalu melihat orang yang menghubunginya.
"Tuan Lee!" gumamnya.
Lalu menekan tombol hijau.
Karissa segera membenarkan emosinya.
"Halo!"
"Kau di mana?"
"Ak-aku ... aku ada di luar, sedang menunggu taksi!"
Ia menjawab dengan berbohong.
"Barusan kakakku menelepon, katanya kondisi ibu memburuk. Jadi, aku harus segera pergi ke rumah sakit!"
"Mau aku antar?"
"Ah, tidak perlu! Aku bisa sendiri! Sampaikan saja maafku pada yang lain. Aku pulang duluan, ya! Maaf juga aku tidak bisa menemanimu sampai acara selesai!" jawab Karissa, penuh permintaan maaf.
Ia menyesal tidak bisa menemani Tuan Lee dan berakting dengan baik di depan teman-temannya.
Sekarang, suasana hatinya sedang buruk. Tidak ada kekuatan untuk kembali ke dalam dan ikut bergabung bersama mereka.
"Baiklah, tidak masalah! Pergilah! Kalau ada apa-apa, jangan lupa untuk menghubungiku!"
"Baik!"
Klik!
Karissa menutup teleponnya, menyimpan ponselnya kembali ke dalam tas, lalu berjalan di trotoar jalan tanpa arah dan tujuan.
Ia tidak ingin pulang ke rumah, tidak pula kembali ke rumah sakit. Dirinya hanya ingin menyendiri.
Karissa cukup lelah dengan permainan yang ia mulai sendiri. Terus terjebak di dalam kesedihan. Bukan rasa bahagia yang ia dapat dari balas dendam ini, melainkan... selalu rasa kecewa.