Jessica yang masih umurnya 21 tahun terpaksa menikah karena sebuah perjodohan dengan seorang CEO tampan kaya raya, laki-laki itu bernama Reyhan Dhalvin Wijaya.
Bagaimana jadinya jika di umur 21 tahun Jessica sudah menjadi seorang istri. mampukah ia melewati semua hal yang terjadi dalam hidupnya? Dan rahasia apakah yang Jessica sembunyikan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fuji Lisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8 Jessica pergi
Entah bagaimana bisa, Jessica saat ini sedang duduk di motor besar Bagas. Niatnya akan mengerjakan kerja kelompok di salah satu rumah temannya, namun laki-laki ini datang dan menawarkan tumpangan. Dibelakangnya ada mobil Amel yang berisi Anggun dan Viola. Awalnya Jessica akan bareng sama Amel, tetapi Bagas terus memaksanya dan akhirnya ia pun berangkat sama Bagas.
Bagas sebenarnya sudah jatuh cinta sama Jessica dari awal kelas 10 SMA sampai sekarang.
Motor itu melaju cukup lambat. Mungkin Bagas memang sengaja melambatkan laju motornya agar bisa berlama-lama dengan Jessica.
Menikmati anginnya sore di atas motor, sepertinya Jessica lupa akan satu hal. Ah, dia lupa mengabari suaminya. Dengan cepat ia mengambil ponselnya di saku seragam sekolah. Menyadari akan hal itu, Rey melirik Jessica lewat kaca spion.
"Jangan main ponsel, bahaya," tegur Bagas dengan halus. Bukannya apa-apa, ia hanya takut terjadi yang tidak-tidak dengan gadis itu. Bisa saja kan ada jambret yang mengambil ponselnya secara tiba-tiba.
"Ah, iya." Jessica memasukan kembali ponselnya. Niatnya ingin menghubungi suaminya setelah sampai di rumah temannya. Lagi pula memang bahaya jika bermain ponsel di jalan.
Hanya butuh waktu lima belas menit, mereka berhenti tepat di depan rumah yang cukup ramai. Sepertinya teman-teman yang menjadi anggota kelompoknya sudah sampai terlebih dahulu. Jessica turun dari motor itu diikuti Amel, Anggun dan Viola yang turun dari mobil milik Amel.
"Makasih ya Gas," Ucap Jessica.
"Iya sama-sama." Bagas menuruni motornya membuat Jessica terheran. Peka akan hal itu, Bagas mengulas senyum dan mengusap pucuk kepala Jessica."Gua tungguin sampe pulang."
Jessica membulatkan matanya."Eh, gak usah Gas. Nanti ngerepot--"
"Ssstt... Siapa sih yang ngerasa direpotin." Bagas memotong ucapan Jessica."Pokonya gua tunggu sampe pulang." Katanya tak terbantahkan.
Bagas sebenarnya sekelas sama Jessica, cuman kelompok Bagas sudah hari besok kerja kelompoknya.
Jessica gelisah sendiri. Bukannya apa-apa, masalahnya ia sekarang tinggal di mansion bersama suaminya, dan pasti Bagas akan menanyakan soal tempat tinggalnya itu. Bisa saja Jessica menjawab jika tinggal dengan saudaranya di sana, namun bagaimana jika suaminya itu melihat ia pulang dengan seorang laki-laki? Apakah pria itu akan marah?
Ya walaupun ia tidak tau apakah suaminya itu perduli atau tidak jika dirinya pulang dengan laki-laki lain, namun yang jelas sekarang ia sudah menjadi seorang istri. Ia hanya tidak mau Rey berpikir yang tidak-tidak tentangnya, dan.... tak ada salahnya kan jika ia menjaga perasaan suaminya.
Menyadari kegelisahan di wajah Jessica, Bagas menaikan sebelah alisnya bingung."Kenapa?" Tak biasanya Jessica seperti ini. Jika ia mengajak gadis itu pulang, Jessica akan menerima tawarannya walaupun tak enak hati. Tapi kenapa sekarang Bagas melihat kegelisahan di wajah Jessica.
"Eh, E-enggak kok. Yaudah gua kesana dulu," jawab Jessica gugup. Gadis itu melangkah kakinya menuju rumah minimalis dengan Anggun, Viola dan Amel yang mengikutinya.
***
Bagas mengerutkan dahinya heran melihat mansion yang sangat megah yang ada dihadapannya saat ini."Jadi sekarang Lo tinggal di Mansion mewah ini?"
Dengan ragu Jessica mengangguk."Iya Gas, makasih atas tumpangannya. Kalo gitu gua masuk dulu." Sumpah, Jessica merasa seperti seorang perempuan yang tengah berselingkuh di belakang suaminya saat ini.
"Bentar Jes." Bagas mencekal pergelangan tangannya."Jadi Lo gelisah dari tadi karena ini? Santai aja kali Jes, emangnya kenapa coba kalo Lo tinggal di mansion? Gua gak akan berpikir yang aneh-aneh kok." Jessica hanya tersenyum canggung. Semoga Rey tidak melihatnya saat ini, bisa-bisa ia salah paham.
"Eh, tapi Lo tinggal di mansion semewah ini sendirian?"
"I-itu... Aku tinggal sama--"
"Sama saya." Tiba-tiba Rey muncul di belakangnya, membuat Jessica membulatkan matanya terkejut. Dengan pakaian kantor, pria itu berdiri di samping Jessica, tak lupa menunjukkan wajah dingin plus datar. Sepertinya pria itu baru saja pulang dari kantor.
Bagas pun terkejut sata melihat gurunya."Eh pak Rey, kenapa Bapak ada disini. Atau jangan-jangan pak Rey kakanya Jessica ya?" Tanya Bagas, ia memang tidak tau kalau Jessica mempunyai seorang Abang.
"S-sebenarnya..." Jessica menunduk bingung harus menjawab apa.
"Saya om nya," potong Rey cepat. Bisa saja ia menyebut dirinya sebagai suaminya. Namun saat melihat wajah Jessica yang ketakutan, ia peka akan hal itu. Mungkin gadisnya takut jika pernikahan ini di ketahui teman-temannya.
Gadisnya? Yap, Rey sudah sangat nyaman bersama Jessica dan ia juga sudah cinta sama istri kecilnya itu, dan ia sudah mengklaim Jessica gadisnya, Jessica hanya miliknya. Tidak boleh ada yang mengambil gadisnya.
Refleks Jessica menatap wajah Rey yang tengah menatapnya dengan tatapan menuntut. Seolah berbicara Saya tunggu penjelasannya! membuat Jessica langsung menunduk kembali. Namun setidaknya ia merasa lega karna Rey yang mengaku sebagai om nya, tapi... Sekarang ia merasa seperti sugar baby yang memiliki om-om. Geli sendiri ia memikirkannya.
"Oh jadi pak Rey om nya. Yaudah kalo gitu gua duluan ya Jes." Pamitnya kemudian beralih menatap Rey."Pak." Bagas menyalami Rey yang menjadi gurunya.
"Cih bahkan kamu seolah meminta ijin sama gua untuk merebut istri gua bocah ingus," batin Rey.
***
"Mau kemana kamu!" Tanya Rey dingin saat Jessica akan masuk ke kamar.
"Emm, aku mau mandi Mas," jawab Jessica ragu.
"Kenapa Mas Rey jadi serem gini sih, gua kan jadi takut," gumam Jessica dalam hati.
"Duduk!" Rey menunjuk sofa dengan dagunya. Dengan rasa takut, Jessica pun berjalan mendekati sofa.
"Siapa." Rey menatap wajah gadis itu tajam."Siapa pria tadi!"
"Teman Jessica." Jessica menunduk tak berani menatap wajah Rey yang terlihat menyeramkan dimatanya.
"Bukan itu Jessica! Bagas siapnya kamu?!"
"Iya Mas, Bagas cuman teman aku," jawab Jessica dengan masih menunduk.
Pria itu tersenyum mengejek."Temen? Kamu bilang dia teman?" Rey menganggukan kepalanya seolah percaya, namun."JAWAB!" sentaknya lebih keras.
"I-iya Mas," jawab Jessica takut bukan main.
"TATAP MATA SAYA JIKA SEDANG BERBICARA!" Rey mencengkram kuat kedua pipi putih nan mulus Jessica, membuat wajah gadis itu spontan menghadap kearahnya."KENAPA KAMU MALAH MENANGIS HAH!" Tak ada jawaban, hanya terdengar isakan kecil yang keluar dari bibir gadis itu.
Badan Jessica bergetar saking takutnya, ini pertama kalinya ia melihat Rey marah. Rahang pria itu mengeras saking emosinya, belum lagi tatapan tajam yang tertuju padanya, dan jangan lupa dengan kuku-kuku tangan yang sudah menancap di pipinya.
Apa yang harus ia lakukan? Kenapa sekarang ia gak bisa melawan pria itu? Apa ia akan habis malam ini? Ia berharap semoga ada seseorang yang menolongnya saat ini.
"KENAPA KAMU MALAH DIAM!" Rey menguatkan cengkraman di pipi Jessica, membuat pipi gadis itu mengeluarkan sedikit dar*h.
Rey memang pria tempramental, ia tak bisa menahan emosinya sejak dulu. Seperti ada jiwa lain yang muncul dalam dirinya jika sedang marah, makannya ia tak bisa mengendalikan tubuhnya saat ini. Dan tanpa sadar, ia sudah berlaku kasar kepada istrinya.
"S-sakit Mas," rintih Jessica di dalam isakannya.
"Kamu bahkan seperti jalang diluar sana! Apa dia sudah memakai kamu hah!" Jessica tak habis pikir dengan suaminya, bisa-bisanya dia berbicara seperti itu.
"Kenapa kamu malam diam! Jawab! Sudah berapa kali dia memakai kamu!" Jessica hanya mampu menggeleng dengan air mata yang sudah membanjiri wajahnya.
"KAU HANYA WANITA MURAHAN YANG TERPAKSA SAYA MENIKAH SAMA KAMU KARENA PERJODOHAN! KAMU TAU ITU HAH!" Sentak Rey, melepas cengkraman tangannya di pipi Jessica dengan kasar. Gadis itu lantas memegang kedua pipinya yang terasa sangat perih.
"Saya akan memakai kamu malam ini juga bitch!" Rey mencengkram kedua tangan Jessica dengan satu tangan kekarnya, membuat Jessica memberontak di bawah tubuhnya.
"Jangan Mas.." mohon Jessica dengan nada lirih.
"Diam kamu pelacur kecil!" Rey mendekatkan bibirnya pada bibir mungil Jessica, namun gadis itu terus menggelengkan kepala membuat Rey Kesulitan.
"Diam!" Tangan Rey terangkat ke udara, hendak melayangkan satu tamparan. Namun seseorang menghentikan aksinya. Vero asisten pribadinya Rey, dan Jessica pun sudah tau Vero. Vero dengan cepat menahan Rey dengan mengerahkan semua tenaganya.
"Tenang tuan, tuan tidak boleh seperti ini. Tahan emosi tuan."
"Diam kau Vero!" Bentak Rey memberontak.
"Nyonya, cepatlah pergi."
Masih dalam tangisnya, cepat-cepat Jessica keluar dari mansion. Yah walaupun sebenarnya maksud Vero bukan pergi dari mansion juga. Namun karna rasa takutnya, Jessica jadi tak bisa berpikir panjang dan berlari begitu saja keluar.
Gadis itu berjalan di gelapnya malam dengan air mata yang terus menetes. Ia tak menyangka dengan perlakukan Rey yang tadi hendak menamparnya. Apalagi ucapan yang keluar dari mulut pria itu, membuat dada Jessica terasa sangat sesak.
Entah kakinya ini akan membawanya kemana. Ia sudah tau lagi harus mengambil arah kemana. Jika pulang ke rumah orang tuanya, pasti orang tuanya akan marah besar kepada Rey. Dan kalau ia ke rumah mertuanya ia tak enak hati.
Sedangkan di mansion.
"Tuan tenang, jangan kasar sama Nyonya, tuan." Rey terus menenangkan tuanya itu.
Beberapa menit kemudian Rey sudah mulai tenang, dan saat ia sudah tenang. Sedetik kemudian ia menjambak rambutnya kasar, tidak seharusnya dia membentak gadis itu tadi dan kasar kepada istrinya.
Rey ikut berlari mengejar Jessica, seraya berteriak kesetanan.
"JESSICA!!! SAYANG!! JANGAN PERGI!! hiks..."
"AKU MINTA MAAF!! JANGAN PERGI!! SAYANG!!!"
Teriakan Rey dianggap angin lalu oleh Jessica.
Di bawah langit malam yang gelap gulita gadis itu mempercepat langkahnya. Namun, sialnya ditengah jalan ia tersandung batu hingga tersungkur dengan keadaan yang mengenaskan.
Rambut lepek karena guyuran gerimis, ditambah lagi pipinya yang sakit, dan lagi dengkul sama pergelangan kakinya yang terluka membuat kondisi Jessica semakin memprihatinkan. Bahkan kepalanya pun ikut berdenyut sakit.
Grep!
Seseorang mendekapnya erat.
"Jangan pergi..." bisik Rey parau.