Terlahir kembali usai tewas disiksa, Aira bertekad membalas dendam pada Azka dan keluarganya. Ia bangkit merebut tahta, menggagalkan pengkhianatan, dan membuka hati untuk paman Azka, Rizky.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja_Puan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 8. DEKAPAN PERTAMA
Melihat situasi di dalam ballroom utama yang kian memanas, kacau, dan melenceng jauh dari martabat keluarga besar, Nenek Dina memutuskan untuk mengambil kendali mutlak. Dengan raut wajah yang menggelap oleh amarah terpendam, matriarch tertinggi klan Gunawan itu melangkah satu pijakan ke depan lalu mengetukkan ujung tongkat kayu kayunya yang berukir ke atas lantai marmer dengan sangat keras.
TAK!
Suara dentuman nyaring itu memantul di langit-langit ballroom, seketika membekukan seluruh perdebatan dan jeritan histeris yang berkecamuk.
"Cukup!" suara Nenek Dina menggelegar penuh wibawa yang tak tertandingi, menghentikan kalimat makian Tante Mia dan bentakan ayah Aira di udara. "Acara pertunangan malam ini resmi saya tunda! Saya tidak sudi melihat acara yang seharusnya sakral bagi klan Gunawan justru dihiasi oleh drama murahan, kekanakan, dan tak berkelas seperti ini!"
Keputusan mutlak sang pimpinan tertinggi tidak bisa disanggah oleh siapa pun. Dengan rasa kesal yang mendidih, malu yang menampar muka, serta raut wajah merah padam, Tante Mia, Azka, Sinta, Rani, serta ayah dan ibu tiri Aira terpaksa angkat kaki dari gedung pertunjukan. Mereka melangkah pergi begitu saja dengan menghentakkan kaki, sama sekali tidak memedulikan Aira yang ditinggalkan sendirian di tengah kemegahan ballroom yang mendadak hampa.
Kini, ruangan luas yang tadinya bising oleh ratusan tamu undangan mendadak menjadi sangat lengang dan sunyi. Hanya tersisa tiga orang di sana: Nenek Dina yang berdiri tegak mengamati dari panggung VIP, Aira, dan Rizky.
Aira perlahan melepaskan perlindungan di balik tubuh tegap Rizky. Ia berbalik dan mendongakkan kepalanya, menatap pria jangkung di sampingnya itu dengan binar mata jernih yang mendadak berubah menjadi amat lembut dan jernih.
"Paman Rizky... terima kasih banyak ya untuk yang tadi," tutur Aira. Nada suaranya terdengar sedikit mengayun manis, halus, dan memiliki intonasi manja yang begitu alami—sangat berbanding terbalik seratus delapan puluh derajat dengan intonasi pedas, tajam, dan dingin yang baru saja ia lontarkan saat meremukkan mental Tante Mia dan Sinta.
Anehnya, perubahan sikap Aira yang drastis dan nada suaranya yang manja itu sama sekali tidak membuat Rizky maupun Nenek Dina merasa risih atau terganggu. Justru, ada kehangatan alami dan kejujuran emosi yang terasa sangat menyenangkan dari cara Aira berinteraksi saat ini.
Namun bagi Rizky pribadi, jarak mereka yang begitu rapat memberikan dampak fisiologis yang jauh lebih dahsyat dari yang diperkirakan. Dada bidang pria itu mendadak bergemuruh hebat bagaikan dihantam ombak. Detak jantungnya di balik setelan jas eksklusif berpacu dua kali lebih cepat dari irama normalnya.
Rizky berdeham pelan dengan suara beratnya, berusaha sekuat tenaga mentralisir gejolak emosi aneh yang menyergap dadanya. Otak rasionalnya terus-menerus mengingatkan satu fakta hukum: wanita cantik di depannya ini memiliki status resmi sebagai calon tunangan dari keponakannya sendiri, Azka.
"Aku hanya melakukan apa yang seharusnya dilakukan oleh seorang pengampu keluarga," sahut Rizky dengan intonasi datar dan dingin, berusaha keras menjaga jarak profesional serta wibawanya sebagai pimpinan tertinggi. "Aku paling tidak suka melihat ada tindakan penindasan di dalam klan Gunawan. Hal seperti itu sangat merendahkan martabat dan mengotori nama baik keluarga."
Aira menyunggingkan senyum tipis yang sarat akan muslihat manis di sudut bibirnya. Ia sama sekali tidak memedulikan alasan formal dan kaku yang diucapkan Rizky. Pengalamannya dari kehidupan masa lalu serta insting kewanitaannya menyuarakan satu hal yang amat pasti: pria gagah yang ditakuti banyak orang ini sudah mulai tersentuh dan menyukainya.
Dengan keberanian gila yang terencana anggun, Aira kembali memajukan langkah kakinya satu senti. Tanpa ragu, ia mengulurkan kedua tangannya dan merengkuh tubuh tegap Rizky untuk kedua kalinya malam ini.
Saat Aira membenamkan wajah cantiknya di dada bidang Rizky, pipinya menempel pada kain jas halus pria itu. Dari jarak setertutup ini, Aira dapat merasakan dengan sangat jelas dentuman detak jantung Rizky yang berpacu kencang, tidak beraturan, dan amat bergemuruh. Sensasi detak jantung itu memberikan rasa tenang, aman, sekaligus kepuasan tersendiri yang membakar dada Aira. Di dalam dekapan pria ini, Aira tahu ia telah menemukan tempat berlindung yang paling kokoh.
"Ehem!"
Sebuah deheman nyaring dan sengaja dari arah depan memecah atmosfer intim yang tercipta di antara mereka. Nenek Dina menatap kedua anak muda itu dengan sepasang alis terangkat tinggi dan binar jenaka yang tersembunyi di mata tuanya.
Teguran halus itu seketika membuat Rizky salah tingkah yang amat sangat. Pria eksekutif yang biasanya dikenal berdarah dingin, keras kepala, dan tak tersentuh oleh wanita mana pun itu mendadak melepas rangkulannya secara canggung. Dengan jemari yang sedikit gemetar, Rizky merapikan kancing setelan jasnya dan mengalihkan pandangannya ke arah lain untuk menyembunyikan rona tipis di rahangnya.
Namun, reaksi berbeda ditunjukkan oleh Aira. Wanita muda itu tetap tenang tanpa ada raut canggung sedikit pun. Ia justru memutar tubuhnya dengan raut wajah polos dan menggemaskan, sengaja mengarahkan seluruh perhatiannya pada sang matriarch klan.
"Ah... Selamat malam, Nenek Dina," tutur Aira dengan sangat anggun sambil menundukkan kepala dan membungkukkan badannya memberi hormat yang sempurna. "Saya mewakili keluarga besar memohon maaf yang sebesar-besarnya karena telah membuat kekacauan di hari yang seharusnya besar ini. Dan... mohon maaf saya baru bisa menyapa Nenek secara langsung."
Nenek Dina melangkah turun dari panggung VIP, berjalan mendekati Aira dengan bantuan tongkat kayunya. Sorot mata tua yang biasanya memancarkan ketegasan tanpa ampun itu kini tak lagi dingin, melainkan dipenuhi kehangatan dan rasa kasihan seorang ibu yang begitu dalam.
Tanpa diduga oleh Aira, Nenek Dina mengulurkan kedua tangannya yang renta lalu menarik tubuh Aira ke dalam pelukan hangat dan protektifnya.
"Anak malang... kasihan sekali kamu, Sayang..." bisik Nenek Dina dengan suara parau yang lembut sambil mengelus punggung Aira dengan kasih sayang yang tulus. "Apakah orang-orang di rumahmu dan keluarga cabang memang sering melakukan hal jahat serta tidak adil seperti ini kepadamu?"
Mendapatkan kelembutan, pengakuan, dan pelukan yang amat tulus dari seorang sesepuh klan—setelah sekian lama hidup dalam kepungan kejahatan, penindasan fisik, dan dinginnya penolakan keluarga di kehidupan lalu—pertahanan emosional Aira akhirnya runtuh total.
Tanpa sanggup ia tahan lagi, lelehan air mata hangat menetes deras membasahi pipinya. Untuk pertama kalinya sejak ia terbangun kembali di masa lalu, Aira menangis bukan karena rasa sakit fisik atau kemarahan dendam, melainkan karena ia merasa akhirnya ada sosok pelindung yang berpihak padanya secara tulus.
Nenek Dina perlahan melerai pelukan mereka. Jemarinya yang keriput namun terasa amat hangat terangkat, menyapu jejak air mata di pipi Aira dengan penuh kelembutan.
"Mulai detik ini, kamu tidak perlu merasa takut atau sendirian lagi," tegas Nenek Dina dengan senyuman hangat yang menguatkan. "Ada Nenek dan Rizky yang akan berdiri di depanmu untuk menjaga, membela, dan melindungimu dari orang-orang jahat yang ingin memanfaatkanmu. Benarkan, Rizky?"
Nenek Dina memutar pandangannya, melirik tajam ke arah keponakan kesayangannya itu. Rizky, yang mendadak disudutkan oleh pertanyaan mendadak dari sang nenek, membeku sejenak. Pria itu hanya mampu menganggukkan kepalanya dengan raut wajah yang sedikit kaku, salah tingkah, namun menyimpang rasa tekad yang kuat di balik matanya.