Dengan wajah tenang, Mela tiba-tiba mengajukan perceraian pada suaminya, Rahman. Tentu saja, hal itu membuat Rahman dan ibunya terkejut, karena mereka merasa selama ini semua baik-baik saja.
Tapi, Mela sudah mengetahui semuanya, perselingkuhan Rahman dengan mantan kekasihnya yang sudah berjalan selama sepuluh tahun.
Hati Mela hancur, apalagi, saat ibu mertuanya dan putrinya sendiri justru membela selingkuhan suaminya yang bernama Camila.
"Ingat umur. Kau itu sudah tua, sudah mempunyai anak. Harusnya, kau bisa lebih fleksibel. Camila bisa membantu perkembangan bisnis keluarga. Sedangkan kau? Sudah bagus kami menampungmu."
"Kau bisa apa tanpa kami, hah?"
Ucapan ibu mertua dan suaminya, membuat Mela semakin mantap untuk bercerai.
Baginya, perceraian bukan pelarian, melainkan pintu keluar dari kebohongan panjang yang nyaris mematikan jiwanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mutzaquarius, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18 Mengumumkan Pernikahan
Langit kota malam itu dipenuhi cahaya. Lampu gedung, kilatan kamera, dan sorot lampu dari panggung kecil yang berdiri megah di halaman hotel bintang lima.
Acara itu seharusnya hanya pertemuan bisnis. Namun nyatanya, lebih dari itu.
Rahman berdiri di tengah ruangan. Setelan jasnya rapi, wajahnya tenang dengan sorot matanya penuh perhitungan.
Di sampingnya, Camila berdiri anggun. Gaun yang ia kenakan memikat perhatian dengan senyum yang sempurna.
"Mas!" Suara lembut itu terdengar di sampingnya, membuat Rahman menoleh.
"Ini saat yang tepat," bisik Camila pelan.
Rahman tidak langsung menjawab. Sejak perusahaan mulai stabil kembali, Camila tidak pernah berhenti mendesak untuk menikahinya.
"Sudah cukup lama kita menunggu," lanjut Camila. Nada suaranya lembut, namun ada tekanan di dalamnya.
Di sisi lain, Dyah yang duduk bersama Lina, menatap ke arah panggung dengan penuh harap.
"Nenek sudah bilang dari dulu, Camila itu yang paling cocok untuk menjadi mama kamu," gumam Dyah.
Lina mengangguk kecil. "Iya, nek. Mama Camila baik sama kita. Mama selalu memberikan apa yang Lina mau. Tidak seperti Mama Mela."
"Jangan sebut nama wanita tidak tahu diri itu," geram Dyah. "Dia terlalu kuno dan tidak bisa berbuat apa-apa. Huh... Kenapa dulu Rahman bisa menikah dengannya," gerutu Dyah.
Ia langsung tersenyum saat pandangannya kembali ke arah Rahman dan Camila
Sudah satu tahun berlalu sejak perceraian Rahman dan Mela. Dan selama itu, Camila selalu ada untuk mereka.
Camila merawatnya dengan begitu baik, mendampingi Lina saat belajar, menyenangkan Lina dan sangat perhatian pada Lina.
Dan kini, mereka merasa itu sudah cukup.
"Mas!" Camila kembali memanggil.
Rahman menarik napas pelan lalu, melangkah ke depan. Sorot lampu langsung mengarah padanya.
Para tamu langsung diam. Beberapa wartawan yang hadir mulai bersiap, mengarahkan kamera.
"Saya ucapkan terima kasih, tuan-tuan dan nyonya-nyonya berkenan hadir dalam acara ini. Dan, pada kesempatan kali ini, saya ingin menyampaikan satu hal," ucapnya.
Rahman melirik sekilas ke arah Camila, lalu kembali menatap ke depan. "Dalam waktu dekat, saya akan melangsungkan pernikahan."
Riuh terdengar dari para tamu. Mereka berbisik, sebagian bertepuk tangan. Sementara, Wartawan tidak mengalihkan sorot kamera mereka dari wajah Rahman.
"Ini adalah pernikahan impian saya, dengan wanita yang sangat saya cintai," lanjut Rahman. Ia menoleh ke samping, tangannya terulur ke arah Camila. "Dia adalah Camila."
Suasana langsung pecah. Suara tepuk tangan kembali memenuhi ruangan.
Lampu berkedip, sorakan kecil terdengar saat Camila melangkah mendekat lalu, menggenggam telapak tangan Rahman. Camila tersenyum lebar, penuh kebahagiaan.
Di sisi lain, Dyah tersenyum puas. Lina ikut bertepuk tangan kecil di sisinya.
"Akhirnya, mereka akan segera menikah," gumam Dyah, menatap Rahman dan Camila yang berdiri di sana.
Camila menoleh, menatap Rahman dengan tatapan lembut namun dalam. "Terima kasih, sayang," bisiknya.
Rahman tidak langsung menjawab. Ia hanya membalas dengan tersenyum tipis karena baginya, ini bukan sekedar mengakhiri skandal yang sempat tersebar, melainkan juga sebagai awal dari sesuatu yang lebih besar.
***
Malam sudah larut. Lampu-lampu kota masih menyala terang namun, di lantai atas sebuah hotel, tepatnya di kamar presidential suite, suasana justru terasa sunyi.
Ruangan itu luas. Dinding kaca membentang dari lantai hingga langit-langit, memperlihatkan gemerlap kota di bawah sana.
Di tengah ruangan, seorang pria duduk membelakangi pintu. Tubuhnya tegap, satu tangan bertumpu di sandaran kursi. Tatapannya mengarah keluar dalam diam namun, terasa menekan.
TOK! TOK! TOK!
"Masuk!" Suaranya berat, terdengar tenang, cukup membuat siapa pun bertindak berhati-hati.
Pintu terbuka, seorang pria masuk dengan map hitam di tangan. Dia adalah Arga, Asisten kepercayaan pemilik Atma Group.
"Maaf mengganggu anda malam-malam begini, tuan." Ia membungkuk, sebelum melangkah mendekat. Lalu, meletakkan sebuah amplop mewah di atas meja.
"Ini undangan resmi dari keluarga Wijaya. Tuan Rahman berharap Anda berkenan hadir."
Pria itu tidak langsung menoleh.
Arga menunduk sedikit. "Pernikahan mereka akan digelar dua minggu lagi."
Sunyi, hanya suara pendingin ruangan yang terdengar samar.
Beberapa detik kemudian, pria itu akhirnya menoleh sedikit. Tatapannya tertuju pada amplop berwarna emas di meja.
Nama yang tertulis jelas, Rahman Wijaya & Camila Agatha
Sudut bibir pria itu perlahan terangkat, membentuk senyum tipis yang dingin.
"Pernikahan, ya," gumamnya pelan.
Arga diam. Sudah lama bekerja di sisi pria itu membuatnya tahu, diam seperti itu justru lebih berbahaya.
"Baru kemarin dia mengumumkan ke media, tapi undangan sudah di sebar. Sepertinya, mereka memang sudah menyiapkannya sejak lama," ujar pria itu.
"Perusahaan Wijaya cukup percaya diri sekarang," sahut Arga hati-hati. "Apalagi, setelah mendapat investor baru, kondisi mereka mulai membaik akhir-akhir ini."
Pria itu mengangkat gelas di tangannya. Memutar cairan amber di dalamnya perlahan. "Ya, mereka memang mulai naik lagi."
Arga mengangguk. "Karena itu, mereka ingin menjadikan pernikahan ini sebagai bukti jika tidak ada perselingkuhan sebelumnya dan... Publik mulai memuji nona Camila karena selalu di sisi tuan Rahman melewati masa sulit itu bersama."
Pria itu akhirnya mengambil undangan tersebut lalu, membukanya perlahan dan membaca isinya. Tapi, detik berikutnya tawa kecil terdengar, membuat Arga menahan napas.
"Menarik!"
Arga menatap pria itu. "Apakah Anda akan hadir?"
"Tidak!" jawabnya singkat.
Pria itu berdiri, melangkah mendekati jendela besar, memandang kota dari ketinggian.
"Aku tidak suka pesta."
Arga terdiam. Ia tahu, ada alasan lain yang membuat pria itu enggan bertemu dengan Rahman dan Camila.
"Tapi, kita harus menghargai undangan mereka," lanjut pria itu dengan tatapan yang berubah tajam. "Jadi, kirim hadiah sebagai ucapan selamat untuk mereka dan... Biarkan mereka menikmatinya dulu."
Senyum tipis kembali muncul lebih dingin dan dalam. "Karena kebahagiaan yang di dapat dari cara kotor, tidak akan bertahan lama."
Arga menunduk. "Baik, Tuan." Ia tidak bertanya lagi dan langsung keluar dari ruangan.
Pria itu tetap berdiri di depan jendela, memandang lampu kota. Tangannya menggenggam undangan itu sedikit lebih erat dengan tatapan tenang.
Namun, di balik ketenangan itu, ada sesuatu yang sudah lama terkubur. Sesuatu yang kini mulai bangkit kembali.
Dan, tanpa diketahui siapa pun pernikahan yang dianggap sebagai awal bahagia itu mungkin justru akan menjadi awal kehancuran.
atau ada yg lain mau mau jadi super Hiro nya mbak mela ??