Alya menjalani pernikahan perjodohan dengan Arga, pria kaya yang tidak pernah benar-benar menerimanya sebagai istri. Saat Alya berusaha mempertahankan rumah tangga mereka, Arga justru masih menjalin hubungan dengan kekasih lamanya dan mengabaikan kesetiaan istrinya.
Diam-diam, Alya menahan penyakit parah dan luka hati yang semakin dalam. Hingga suatu hari, ia memilih pergi tanpa meminta apa pun lagi.
Arga mengira Alya akan kembali. Namun ketika hari berganti dan rumah terasa semakin sunyi, ia mulai menyadari bahwa perempuan yang selalu ia abaikan adalah satu-satunya orang yang tulus mencintainya. Saat Alya akhirnya ditemukan dalam keadaan kritis, penyesalan Arga telah datang terlalu terlambat.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nuna_Pena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
DUA MINGGU SETELAH ATG
ATG 4 hari itu selesai tanpa drama.
Hari ketiga Alya cuma demam 38,2. Hari keempat bahkan tidak menggigil sama sekali. Ia sudah hafal rasanya: dingin di tangan, lalu hangat, lalu tidur.
Yang lama justru setelahnya.
Dokter bilang, ATG itu bukan obat yang langsung bikin sembuh besoknya. ATG itu cuma mematikan tentara yang menyerang pabrik. Setelah tentaranya mati, pabriknya butuh waktu 2-3 minggu untuk mulai produksi lagi. Jadi ada jeda kosong yang paling menyiksa: obat sudah masuk, tapi darah belum naik.
Dua minggu itu Alya di rumah.
Bukan di rumah sakit. Di rumah mereka yang dulu sepi dengan mawar layu.
Rumah itu sekarang beda. Mbok Sari tidak lagi cuma masak untuk Arga. Setiap jam 7 pagi, jam 12 siang, jam 7 malam, ada alarm di HP Arga: minum siklosporin. Pil kuning kecil yang pahit itu.
Alya di kamar, tidak boleh kemana-mana karena imunnya nol. Tidak boleh kena debu, tidak boleh kena orang batuk, tidak boleh pelihara kucing. Satu rumah jadi seperti ruang steril.
Arga WFH total. Laptopnya di meja rias Alya. Rapat Zoom dengan klien sambil lihat Alya tidur. Untuk pertama kalinya dalam 3 tahun pernikahan, ia kerja dari kamar, bukan dari kantor sampai jam 9 malam.
Pagi itu, kontrol pertama setelah ATG.
Di mobil, Alya pakai masker N95, topi, jaket, meski cuaca Makassar panas 33 derajat. Arga yang nyetir, bukan supir.
"Mas, jangan ngebut," kata Alya.
"Nggak. 40 km/jam aja."
Di RS, lab darah. Alya sudah hafal: duduk, lengan disingsingkan, diambil 4 tabung. Dulu ia takut jarum. Sekarang ia lihat jarum masuk tanpa merem.
Hasil keluar jam 11 siang.
Dokter hematologi membuka map, senyumnya beda dari 2 minggu lalu.
"Bu Alya, Pak Arga, ini hasil 14 hari setelah ATG."
Ia putar kertasnya ke arah mereka.
Leukosit: 1,2 → 2,8
Hemoglobin: 7,8 → 8,9
Trombosit: 22.000 → 48.000
Alya menutup mulut. 48 ribu. Dua minggu lalu 22 ribu, sebulan lalu 16 ribu. Untuk pertama kalinya trombositnya hampir 50 ribu tanpa transfusi.
"Ini respon, Bu," kata dokter. "Belum normal, normal trombosit 150 ribu, tapi ini naik sendiri tanpa transfusi. Artinya pabriknya mulai produksi lagi. ATG-nya bekerja."
Arga yang duduk di samping Alya, langsung menggenggam tangan Alya di bawah meja. Erat.
Bu Ratna yang ikut kontrol langsung nangis di pojok ruangan. Bukan nangis sesak seperti di ICU, tapi nangis lega.
"Berarti bisa pulang tanpa transfusi lagi, Dok?" tanya Alya.
"Belum boleh lepas kontrol mingguan. Tapi untuk hari ini, tidak perlu transfusi. Minggu depan kita cek lagi."
Di koridor RS lantai 5, Alya berhenti di jendela yang dulu ia lihat dari HCU. Jendela tempat ia lihat taman bunga kuning.
Taman itu masih ada di bawah. Bunga kuning kecil-kecil yang dulu ia lihat buram dari jauh.
"Mas," panggilnya.
"Iya?"
"Taman yang di bawah itu, yang dulu aku lihat dari HCU."
Arga langsung paham. Janji yang diusahakan di Bab 19 dan Bab 23.
"Kita turun sekarang?" tanya Arga.
Alya pakai masker N95, imun masih rendah, dokter bilang jangan lama-lama di luar, jangan dekat orang banyak. Tapi dokter juga bilang: boleh 15 menit kena matahari pagi, asal pakai masker.
Mereka turun pakai lift, bukan lift yang tertutup di Bab 17 yang macet, tapi lift utama yang ada kaca.
Di taman, jam 11.30, matahari terik, tidak ada orang. Hanya suster yang lewat sesekali.
Alya duduk di kursi taman, bukan kursi roda. Duduk sendiri. Arga berdiri di sampingnya, bawa payung kecil untuk nutupin Alya dari matahari langsung.
Bunga kuning itu ternyata bunga matahari kecil, jenis yang pendek, ditanam melingkar di taman RS.
Alya menyentuh satu bunga dengan ujung jari.
"Mas ingat nggak, di Bab 19 aku bilang aku mau pulang karena mau lihat ini?" tanya Alya pelan.
"Ingat."
"Dulu aku mau pulang karena aku kira aku nggak akan sembuh di rumah sakit. Ternyata pulangnya bukan karena menyerah, tapi karena memang udah waktunya pulang."
Arga jongkok di samping kursi taman, sejajar dengan Alya.
"Al, maaf ya," katanya pelan.
"Untuk apa lagi?"
"Untuk yang dulu, bunga mawar putih di meja makan layu, kamu nunggu makan malam, aku nggak pulang. Rumah kosong."
Alya menatap bunga kuning itu, bukan menatap Arga.
"Rumah yang kemarin kosong, sekarang penuh alarm minum obat ya, Mas?" jawabnya, setengah bercanda.
Arga tertawa kecil. "Iya. Jam 7, jam 12, jam 7."
Alya menoleh ke Arga. Wajahnya masih pucat, masih kurus, masih pakai masker, tapi matanya tidak lagi takut seperti di ICU malam-malam.
"Mas masih di sini?" tanya Alya, pertanyaan yang sama dari Bab 19, Bab 22, Bab 23.
Arga mengangguk. Kali ini tidak bilang "diusahakan". Tidak bilang "aku akan mencoba".
"Di sini. Sampai 48 ribu jadi 150 ribu. Sampai pabrik kamu penuh lagi."
Alya mengangguk. Tidak minta janji yang muluk-muluk.
Di atas mereka, jendela HCU lantai 5 tempat Alya dirawat 2 minggu lalu terlihat. Tirai bunga-bunga yang dulu ia lihat dari dalam, sekarang ia lihat dari luar, dari taman.
15 menit selesai. Suster datang mengingatkan: Bu Alya tidak boleh lama di luar.
Mereka naik lagi ke atas, bukan ke HCU, tapi ke parkiran, pulang ke rumah.
Di mobil, Alya tertidur karena capek jalan ke taman. Masker masih terpasang, tangan masih digenggam Arga di atas tuas persneling.
Dan di dashboard mobil, hasil lab trombosit 48.000 itu terlipat, dibawa pulang seperti rapor kenaikan kelas.
AT G 4 hari yang mengerikan itu selesai. Jeda 2 minggu yang menyiksa itu lewat.
Pabrik yang kosong mulai isi lagi.