"Halo! Makasih udah mampir ke [Hasrat Cinta Sang Pendosa]. Update tiap Hari. Jangan lupa save dan ramaikan kolom komentar ya. Happy reading!"
_________________
Berstatus sebagai istri kontrak dari Oscar—sang penguasa malam yang bengis—seharusnya membuat Anisa aman dari masa lalu.
Namun, An Liu Li datang membawa obsesi buta yang menjungkirbalikkan segalanya.Niat hati ingin menjauh dari konflik, Anisa justru terseret dalam permainan ego dua pria berkuasa yang menolak melepas kepemilikan mereka atas dirinya.
Terjebak dalam pusaran kegilaan ini, siapakah yang akan memenangkan hati Anisa?An Liu Li yang mengejarnya dengan cinta pertama yang destruktif, atau Oscar yang mulai luluh oleh kehadiran sang istri sewaan?
꧁ঔৣ☬HCSP☬ঔৣ꧂
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon A_ntalus, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
꧁ঔৣ [Chapter 8] ঔৣ꧂
...⊹₊˚‧︵‿₊୨ᰔ୧₊‿︵‧˚₊⊹...
...****************...
Cahaya matahari pagi menyusup pelan melalui celah tirai kamar utama.
Anisa perlahan membuka matanya. Rasa pening sisa pingsan semalam masih menyiksa sedikit di pelipisnya, namun tubuhnya terasa jauh lebih hangat.
Saat ia berusaha menggerakkan tubuhnya, pandangannya seketika tertuju pada sosok pria yang kini sudah berpindah terlihat terbaring di kursi kayu tak jauh dari ranjangnya.
Oscar tertidur di sana dengan posisi bersandarkan punggung kursi. Dan yang membuat dada Anisa mendadak berdesir hebat—dasi hitam itu masih terikat rapi menutupi kedua mata Oscar.
Pria itu benar-benar tidak melepasnya semalaman. Ia memegang janjinya untuk tidak melihat Anisa tanpa cadar dalam keadaan tidak berdaya.
Anisa bergeming untuk beberapa detik. Rasa haru yang asing perlahan menjalar di hatinya.
Di rumah keluarga Lezman, keberadaannya selalu dianggap beban. Namun di sini, oleh seorang pria yang baru dikenalnya dalam hitungan hari dan berniat menikahinya hanya karena kontrak, ia justru dihormati sedemikian rupa.
Dengan gerakan sangat pelan agar tidak menimbulkan suara, kembali ia mengenakan cadar nya,Anisa mengambil selimut tipis di ujung ranjang, lalu menyampirkannya ke bahu Oscar.
Begitu Anisa melangkah mundur, kelopak mata Oscar bergerak. Pria itu mengusap dasi di matanya dan menariknya turun. Sorot mata kelamnya yang tajam seketika mendapati Anisa yang sudah mengenakan kembali pakaian rapi dan cadarnya.
"Sudah bangun?" suara bariton Oscar terdengar agak serak khas baru bangun tidur.
Anisa menundukkan kepalanya canggung. "S-sudah, Tuan Oscar. Maaf... saya membuat Anda harus tidur seperti ini."
Oscar berdiri, meregangkan otot lehernya yang agak kaku tanpa mengeluh sedikit pun. "Hah?~ ohh tidak masalah. Yang penting kau tidak pingsan lagi.Huuam!"
Mendapati Oscar yang kembali tertidur Anisa memilih untuk tidak menggangu nya.
kemudian setelahnya ia memilih pergi seraya melangkah turun menuju area dapur.
Ia sudah bersiap membayangkan aroma amis daging atau deretan botol yang sempat membuatnya panik kemarin. Namun, langkahnya mendadak terhenti
Di Dapur terlihat beberapa pelayan membuang banyaknya minuman beralkohol milik Oscar masuk kedalam kardus dan bahkan melirik kearah gudang tengah sudah berubah total.
Tidak ada lagi sisa-sisa daging buruan. Dinding dan lantai yang kemarin tercemar bercak darah kini sudah dibersihkan hingga mengilap.
Lemari yang kemarin penuh dengan botol-botol minuman beralkohol kini telah dikosongkan sepenuhnya, diganti dengan tumpukan bahan makanan segar dan kotak-kotak teh herbal.
Bibi Martha yang sedang merapikan meja tersenyum hangat saat melihat Anisa.
"Selamat pagi, Nyonya. Tuan Oscar sejak subuh tadi sudah memerintahkan kami membersihkan seluruh area ini."
"Seluruh area ini?"Anisa terpaku. Ia melirik ke arah ruang makan
Hingga akhirnya ia menemukan Oscar yang sedang berjalan mendekat seraya mengucek matanya pelan.
Anisa memberanikan diri mendekat. "Tuan Oscar... soal dapur dan isi lemari..."
Oscar menundukkan kepalanya, menatap Anisa datar. "Kenapa? Ada yang kurang?"
"Bukan," bisik Anisa pelan. "Maksud saya... Anda tidak perlu sampai membuang dan membersihkan semuanya seperti ini. Saya yang seharusnya menyesuaikan diri."
"tidak di buang tapi di pindahkan saja"Oscar berkata santai seolah-olah mengisyaratkan semuanya baik baik saja "lagi pula,Aku cuma tidak suka rumahku berantakan karena ada orang yang pingsan lagi. Kalau kau sakit, pekerjaan di mansion ini makin kacau. Jadi anggap saja ini demi kenyamananku sendiri."
Anisa tersenyum tipis di balik cadarnya. Ia tahu betul pria ini hanya menggunakan gengsinya untuk menutupi perhatiannya.
ehkk?! Apa yang dia pikirkan?,mana mungkin Oscar berbuat demikian- ahh ya... ampun pikiran nya jadi kacau bahkan paras wajahnya memerah sekarang ini
tapi untunglah cadarnya berwarna hitam.cukup untuk menyamarkan merona pada pipinya.
"Te- terima kasih," ujar Anisa tulus. "Untuk semuanya... dan untuk semalam. Anda benar-benar memegang janji Anda."
Oscar bersandar di tepi dinding, menatap mata Anisa yang jernih. "Aku memang bukan pria yang baik, Anisa. Tapi aku menghormati kesepakatan. Selama kau berada di sini sebagai istriku, tidak ada satu orang pun yang boleh membuatmu merasa terancam—termasuk aku sendiri."
Kalimat itu begitu singkat, namun sanggup meruntuhkan dinding pertahanan yang selama ini dibangun Anisa terhadap dunia luar.
"Ohh iya hampir lupa ,ayo ikut aku sebentar," ujar Oscar seraya merapikan jasnya.
Anisa mengangguk patuh dan mengikuti langkah kaki Oscar menuju koridor lantai dua. Pria itu berhenti di depan sebuah pintu kayu jati yang terpisah agak jauh dari kamar utama.
Oscar mendorong pintu itu hingga terbuka lebar.
Anisa menahan napasnya. Ruangan di hadapannya begitu bersih dan tenang. Pencahayaannya hangat dari jendela besar yang menghadap langsung ke arah pepohonan hijau. Di tengah ruangan, terhampar sebuah karpet tebal yang bersih. Di sudut dinding, sebuah penanda arah kiblat yang terbuat dari ukiran kayu terpasang dengan sangat presisi.Bahkan mukena dan sajadah milik Anisa yang kemarin ada di dalam koper sudah tertata rapi di atas meja kecil di sampingnya.
"Ini..." Anisa menatap ruangan itu dengan mata membesar.
"Kemarin ruangan ini dipakai tempat istirahat oleh salah satu anak buahku," terang Oscar santai, seolah hal itu bukan masalah besar. "Subuh tadi aku sudah mengus-. Ahh~ maksud ku aku meminta nya memindahkan semua barangnya ke apartemen yang sudah di siapkan di pusat kota. Mulai sekarang ruangan ini kosong."
Oscar menunjuk sudut ruangan. "Aku tahu kau butuh tempat khusus untuk beribadah kan? Dan tanpa terganggu siapa pun. jadi aku memilih tempat ini yang memang punya privasi terbaik di mansion ini setelah kamar ku sendiri"
Anisa memandangi ruangan itu, lalu beralih menatap Oscar. Tenggorokannya mendadak terasa menyempit oleh rasa haru yang meluap. "Tapi Tuan... ini terlalu melebih-lebihkan. Anda tidak perlu menyuruh anak buah Anda pindah hanya demi—"
"Aku tidak merasa kerepotan," potong Oscar pelan namun tegas. "Ruangan ini cuma diisi karpet dan penanda arah. Lagipula ini cuma tawaran dariku. Kalau kau mau pakai untuk salat dan menenangkan diri, gunakan saja. Kalau tidak mau, tinggal kunci pintunya dari luar."
Ya, cukup hanya itu saja setidaknya Anisa tidak perlu tahu tentang kejadian semalam tadi,atau tentang bagaimana Oscar susah payah menghilang benda benda aneh yang sebelumnya ada di sana milik bawahan nya itu.
Sementara itu Anisa menundukkan kepalanya dalam-dalam. "Saya... saya sangat berterima kasih, Tuan Oscar. Saya akan menggunakannya dengan baik."
Oscar menatap puncak kepala Anisa yang tertutup kain hijab beberapa saat, sebelum sebuah senyum samar yang tak terlihat oleh Anisa muncul di sudut bibirnya.
Namun, sebelum suasana hangat itu berlanjut lebih jauh—
Langkah kaki yang terburu-buru terdengar memecah keheningan koridor. Ezekiel muncul dari ujung tangga dengan ekspresi wajah yang mendadak berubah sangat serius.
"Tuan," panggil Ezekiel dengan nada rendah. "Ada tamu di bawah."
Oscar memiringkan kepalanya, alisnya bertaut. "Tamu? Sunguh?. seingat ku tidak ada yang datang sepagi ini, kerumah ini?"
Ezekiel melirik Anisa sekilas sebelum kembali menatap Oscar. "Tuan Tua Azriel Lezman... Bersama Tuan Muda dari keluarga Li. Mereka baru saja datang"
Atmosfer di sekitar Oscar seketika berubah. Senyum samar dan kehangatan yang baru saja tercipta mendadak lenyap tanpa bekas, berganti dengan aura dingin dan berbahaya dari seorang pemimpin yang merasa wilayahnya diusik.
Oscar melirik Anisa yang mendadak menegang begitu mendengar nama-nama tersebut.
...⊹₊˚‧︵‿₊୨ᰔ୧₊‿︵‧˚₊⊹...
...****************...