Pertemanan medsos membuat wanita yang sudah berusia senja jatuh cinta pada seorang pria muda yang pantas menjadi anaknya.
Dia tidak bertepuk sebelah tangan keduanya saling jatuh cinta, saling sayang, saling memberi dan merima.
" umi gak mau melanjutkan hubungan ini, kalau umi tahu Abi punya istri."
" gak Abi sudah sepuluh tahun menduda.."
Ketika akhirnya dia tahu bahwa si pria punya istri, dia ingin mundur tapi ...
"'Umi, kita jalani aja hubungan ini, apa umi mau, Abi sayang umi.."
Dia menyerah, cinta terlarang itu berlanjut..
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eritasyofia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Logika dan Jerat Asmara
Seminggu sudah berlalu sejak percakapan Winta dengan Sri, sepupu Rangga. Namun, status WhatsApp pria itu masih setia bercentang satu.
“Gak bisa gini. Aku harus melupakan dia. Aku gak boleh begini terus, dia jelas-jelas sudah membohongiku,”
bisik Winta dalam hati, berusaha menguatkan diri.
Di hari-hari sepinya, Winta lebih banyak menghabiskan waktu di TikTok. Sampai suatu hari, ia membagikan nomor WhatsApp-nya kepada seorang pria yang sangat ingin berkenalan dengannya. Ini adalah orang kedua yang mendapatkan nomor pribadinya setelah Rangga.
Awalnya, obrolan mereka mengalir wajar. Namun, perlahan pria itu mulai mengarahkan pembicaraan ke urusan bisnis.
Winta sendiri bukan orang sembarangan. Sebelum pensiun, ia adalah seorang Manajer Pemasaran dengan jam terbang tinggi.
Suatu siang saat sedang bersantai di rumah, seorang kawan menghubungi Winta, meminta bantuan untuk menjualkan mobil pribadinya karena sedang butuh uang mendesak.
Dengan lincah, jemari Winta bertindak. Ia menghubungkan pihak penjual dan pembeli. Hanya dalam hitungan jam setelah kedua pihak bertemu dan sepakat, Sherly meminta nomor rekening Winta. Komisi sebesar Rp3.000.000 pun langsung cair ke rekeningnya.
Cerita keberhasilan kecil itu sempat Winta bagikan kepada teman barunya di WhatsApp.
Rupanya, hal itu dijadikan celah. Pria itu langsung gencar membujuk Winta untuk berinvestasi di bisnisnya.
Mengendus penawaran yang janggal, Winta menolak halus dengan alasan keluarga.
"Maaf, saya gak bisa, Mas. Semua urusan keuangan saya diatur sama anak-anak. Nanti saya izin dulu ke mereka."
"Aduh, kenapa harus pakai izin segala, sih? Uangnya cuma dipakai 20 menit kok. Begitu dapat keuntungan, baru kasih tahu anak-anak. Pasti mereka malah senang."
Winta tersenyum sinis membaca pesan itu. "Gak bisa gitu, Mas. Kita ini baru seminggu kenal, itu pun cuma lewat online. Saya belum tahu latar belakang Mas..."
Belum selesai Winta mengetik, balasan panjang lebar sudah masuk. Intinya, pria itu menuduh Winta berprasangka buruk dan tidak menghargai niat baiknya.
Seketika, naluri mantan manajer pemasaran dalam diri Winta menyala. Ia mengetik balasan dengan dingin dan menohok.
"Loh, kok Mas malah menyudutkan saya? Saya cuma bilang mau izin anak, bukan menolak. Tapi cara Mas memburu-buru dan memanipulasi obrolan begini malah bikin kelihatan jelas niat aslinya. Terima kasih, tapi saya tidak tertarik. Keterlaluan kalau Mas pikir bisa membodohi saya cuma pakai modal obrolan manis seminggu. Jangan kontak saya lagi."
Tanpa menunggu balasan, Winta langsung memblokir nomor tersebut.
"Uuhhh... untung reflex-ku cepat. Dia pikir orang tua bisa gampang ditipu pakai modus klasik begitu? Dia belum tahu saja, orang tua jaman sekarang makin kritis!"
gumam Winta sambil mengembuskan napas lega.
Winta baru saja berniat untuk rebahan ketika nada notifikasi ponselnya berbunyi.
Degh!
Nama "Abi" muncul di layar ponselnya.
"Assalamualaikum, Umi."
Winta terpaku. Jantungnya berdetak liar. Ada benci, rindu, dan cinta yang berkecamuk menjadi satu.
"Waalaikumsalam, Abi. Kemana saja? Kenapa WhatsApp-nya gak aktif² ?"
"Abi sibuk, Umi. Umi apa kabar?"
Seketika, rasa benci yang sempat ia susun rapi runtuh diterjang rindu.
"Umi gak mikirin Abi, ya?"
"Selalu mikirin Abi. Abi saja yang lupa sama Umi."
"Abi gak pernah bisa lupa sama Umi. Kok Umi ngomongnya gitu? Emang Umi sudah gak cinta lagi sama Abi?"
"Umi cinta sama Abi. Cinta mati,"
ketik Winta, jujur pada perasaannya.
"Benar? Serius? Alhamdulillah... aamiin."
"Abi..."
"Iya, sayang?"
"Kenapa Abi bohong?"
Air mata Winta mulai menetes. Ia mengirimkan stiker menangis.
"Kenapa Umi menangis? Jangan bikin Abi sedih."
"Kenapa Abi ngaku duda? Padahal Abi masih punya istri dan rumah tangga Abi baik-baik saja."
Pesan itu sempat tertahan sejenak sebelum Rangga membalas.
"Umi sudah tahu?"
"Sudah."
"Dari siapa?"
"Dari orang dekat Abi."
"Terus, salah kalau Abi jatuh cinta sama Umi?"
"Salah, Bi. Umi gak mau menyakiti hati perempuan lain. Umi juga seorang perempuan."
"Tapi Umi cinta Abi, kan?"
"Iya..."
"Serius? Beneran?"
"Iya, benar."
"Abi juga cinta Umi. Kalau Abi gak cinta, Abi gak bakal hubungi Umi lagi. Mau ya Umi, kita jalani saja semua ini?"
"Terus Umi harus tega menyakiti hati orang lain?"
"Jangan bohongi hati Umi. Umi cinta Abi dan Abi cinta Umi. Mau ya kita jalani saja? Kita nikah siri, Umi."
"Umi gak mau..."
"Umi mau lepasin Abi? Umi mau putus dari Abi? Coba tanya hati Umi dulu, apa Umi kuat?"
Jari Winta gemetar.
"Umi gak kuat, Abi..."
"Ya sudah, kita jalani saja. Umi rindu Abi, kan? Umi mau ketemu? Biar Abi jemput."
"Gak usah, Bi."
"Yaudah, Umi istirahat dulu. Abi lagi kerja. Jangan sedih lagi ya. Kita gak pernah tahu jodoh, Umi. Semoga cinta kita bisa disatukan Allah. Abi matikan HP dulu ya, mau lanjut kerja."
"Iya, Abi."
"Mana ciumnya buat Abi?"
Tenggelam dalam perasaan, jemari Winta mengetik stiker bibir beruntun dan mengirimnya.
"Muuaaachhh,"
balas Rangga.
"Assalamualaikum Umi sayang, jangan sedih lagi ya."
"Iya, Bi."
Percakapan terputus. Winta terduduk di tepi ranjang, menatap layar ponsel yang perlahan memadam. Kesadarannya perlahan kembali, membawa rasa penyesalan yang membakar dada.
Apakah wanita seusianya benar-benar akan melangkah sejauh ini dan menjadi seorang perusak rumah tangga orang? Bagaimana jika istri Rangga sampai tahu?
Bersambung