Alessia Francesca Zorzi,Sang ratu jalanan yang liar dan kerasa kepala tiba-tiba saja harus menikah dengan CEO perusahaan besar yang tegas dan berwibawa,Vellano Federico Luca.
Bahkan sebelum menikah,Vellano mempunyai kekasih cantik yang ia sembunyikan selama 3 tahun.Yaitu seorang bintang musisi yang bernama Ansley Flavia.
Tentu saja pernikahan mereka hanya di atas kertas dan sebatas saling menguntungkan.Namun batasan itu hancur ketika salah satu diantara mereka dengan suka rela menghapus garis pembatas.
Akankah Vellano berhasil menaklukkan Alessia?atau justru malah keliaran Alessia yang membuatnya menyerah?
Yuk,mari kita baca sama-sama dan terus nantikan update episode terbarunya!
Author up lebih dari 1 part/hari!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fio Purple, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PART 24.Kunjungan Adik part 2
Pagi yang baru saja terasa hangat itu ternyata tidak berlangsung lama.
Ting-tong!
Bel mansion berbunyi nyaring.
Alessia yang sedang menikmati sarapannya langsung menoleh. Vellano bahkan baru saja hendak mengambil kopi ketika bunyi bel kedua terdengar.
Ting-tong! Ting-tong!
“Siapa pagi-pagi begini?” gumam Alessia.
Seorang maid segera membuka pintu.
Beberapa detik kemudian terdengar suara yang sangat familiar.
“Pagi! Alessia ada?”
Alessia langsung membeku.
Vellano menatapnya.
“Siapa?”
Alessia menghela napas panjang.
“Adikku.”
Pintu terbuka lebih lebar dan muncullah Nicholas Zorzi dengan koper kecil di tangan. Gayanya begitu percaya diri, ekspresinya cerah, dan cara bicaranya yang penuh energi benar-benar mengingatkan Alessia pada Mama Fabiola.
“Selamat pagi!”
Nicholas melangkah masuk seolah mansion itu rumah keduanya.
“Aku menginap beberapa hari. Sekolah libur.”
Alessia menatap koper itu.
“Berapa lama?”
“Belum tahu.”
“Belum tahu?”
Nicholas tersenyum.
“Pokoknya sampai bosan.”
Vellano yang sedang minum kopi hampir tersedak.
“Ini rumahku.”
Nicholas menoleh kepadanya.
“Oh, iya. Halo, Kak Vellano.”
“Halo.”
Nicholas kemudian memandang Alessia dan menyipitkan mata.
“Kak, kenapa wajahmu merah?”
Alessia langsung panik.
“Panas!”
Nicholas melihat sekeliling.
“AC-nya dingin.”
Vellano menunduk, jelas menahan tawa.
Alessia menendang kakinya diam-diam di bawah meja.
“Aduh!”
Nicholas langsung menoleh.
“Kalian kenapa?”
“Tidak ada apa-apa,” jawab keduanya bersamaan.
Nicholas semakin curiga.
“Hmm…”
Ia kemudian menarik koper menuju tangga.
“Oh iya, kamarku yang dulu masih ada, kan?”
Alessia memejamkan mata.
“Kenapa aku merasa kedatanganmu akan membuat rumah ini kacau?”
Nicholas menoleh sambil tersenyum lebar.
“Karena biasanya firasat Kakak benar.”
Vellano menatap Alessia.
“Sepertinya ketenangan kita berakhir.”
Alessia menghela napas.
“Baru sehari damai.”
Dari tangga, Nicholas berteriak, “AKU DENGAR!”
Alessia langsung menutup wajah.
Vellano tertawa.
Pagi yang romantis itu resmi berakhir.
Nicholas baru saja kembali turun ke ruang makan ketika matanya menangkap sesuatu di leher Alessia.
Ia berhenti.
Menyipitkan mata.
Lalu mendekat.
“Kak…”
Alessia langsung merasa tidak enak.
“Apa?”
Nicholas menunjuk lehernya.
“Itu apa?”
Alessia refleks menutup leher dengan tangan.
Vellano yang sedang minum kopi langsung tersedak.
Nicholas membelalakkan mata.
“Jangan bilang…”
“Bukan apa-apa!” jawab Alessia terlalu cepat.
Nicholas semakin heboh.
“KAKAK!”
“Diam!”
“Kalian benar-benar melakukan sesuatu?!”
Wajah Alessia langsung merah padam.
Vellano berdeham dan pura-pura sibuk membaca berita di ponselnya.
Nicholas menatap mereka bergantian dengan ekspresi seperti detektif yang baru menemukan bukti utama.
“Belum bulan madu ke Maladewa saja sudah begini!”
Alessia hampir melempar sendok.
“Jangan bicara sembarangan!”
“Aku cuma menyimpulkan!”
“Kau masih SMA. Jangan terlalu banyak menyimpulkan!”
Nicholas mengangkat kedua tangan.
“Oke, oke. Aku tidak melihat apa-apa.”
Namun senyum jahilnya membuat Alessia semakin kesal.
Vellano akhirnya tidak tahan dan tertawa kecil.
Alessia langsung menoleh tajam.
“Kau juga jangan tertawa!”
“Aku tidak tertawa.”
“Jelas-jelas tertawa!”
Nicholas menatap mereka sambil menggeleng.
“Dua orang ini benar-benar aneh.”
Ia lalu mengambil roti dari meja.
“Tenang saja, Kak. Rahasiamu aman.”
Alessia menghela napas lega.
Satu detik kemudian Nicholas menambahkan, “Tapi nanti aku ceritakan ke Mama.”
“NICHOLAS!”
Teriakan Alessia menggema di seluruh mansion.
Vellano hanya bisa tertawa melihat adik iparnya berlari menghindari kejaran Alessia.
Pagi itu, ketenangan mansion resmi berakhir untuk kedua kalinya.
......................
Setelah sarapan yang dipenuhi keributan, Vellano akhirnya bersiap berangkat ke kantor. Sebelum pergi, ia sempat menatap Alessia dengan tatapan geli.
“Jaga dirimu.”
Alessia mengangguk. “Kau juga.”
Nicholas yang berdiri di belakang mereka langsung berseru, “Jangan lupa pulang sebelum makan malam, Kak Vellano!”
Vellano menoleh. “Kenapa?”
Nicholas tersenyum polos. “Biar Kak Alessia tidak kesepian.”
Alessia langsung mengambil bantal sofa dan melemparkannya.
Nicholas tertawa puas.
Tak lama kemudian mobil Vellano meninggalkan mansion. Tinggallah Alessia bersama adiknya yang sejak pagi sudah membuat kepalanya berdenyut.
Mereka akhirnya duduk di gazebo halaman belakang. Tempat itu dikelilingi pepohonan hijau, bunga-bunga yang tertata rapi, serta kolam kecil yang membuat suasana terasa sejuk dan damai.
Setidaknya sampai Nicholas membuka mulut.
“Kak.”
“Hm?”
“Jadi…”
Alessia langsung curiga.
“Jangan mulai.”
Nicholas tertawa. “Aku belum bilang apa-apa.”
“Tapi wajahmu sudah menyebalkan.”
“Berarti Kakak mengenalku dengan baik.”
Alessia memutar mata.
Nicholas mengambil sepotong buah dari piring mereka.
“Menurutku Kak Vellano sekarang berbeda.”
Alessia terdiam sebentar.
“Berbeda bagaimana?”
“Dulu kelihatannya dingin. Sekarang kalau melihat Kakak, matanya seperti orang yang baru menemukan harta karun.”
Alessia langsung salah tingkah.
“Omong kosong.”
Nicholas mengangguk sok serius.
“Baiklah.”
Ia berhenti sejenak.
“Berarti harta karunnya memang mahal.”
Alessia menatapnya tajam.
“Nicholas.”
“Ya?”
“Pergi.”
Nicholas tertawa keras.
Gazebo yang seharusnya tenang kembali dipenuhi suara tawa dan pertengkaran kakak-adik.
Dan entah mengapa, setelah semua kekacauan yang mereka lalui, suasana sederhana seperti itu terasa sangat berharga bagi Alessia.
......................
Suasana di gazebo yang sebelumnya dipenuhi tawa perlahan berubah lebih tenang. Alessia memandang Nicholas yang sedang memainkan sedotan di gelasnya.
“Nicholas.”
“Hm?”
“Kau harus belajar yang rajin.”
Nicholas langsung menghela napas panjang.
“Nah, ini dia.”
Alessia mengerutkan kening. “Apa?”
“Nasihat kakak yang biasanya berlangsung sampai matahari terbenam.”
Alessia menahan tawa.
“Aku serius.”
Nicholas akhirnya duduk lebih tegak.
Alessia menatapnya lembut.
“Suatu hari nanti Papa mungkin akan menyerahkan perusahaan keluarga kepadamu. Jadi kau harus mempersiapkan diri.”
Nicholas langsung mengeluh.
“Kenapa harus aku?”
“Karena kau anak laki-laki keluarga Zorzi.”
Nicholas menunjuk dirinya sendiri dengan ekspresi tidak percaya.
“Jadi cuma karena aku laki-laki, aku otomatis dapat tugas mengurus perusahaan?”
Alessia mengangkat bahu.
“Kurang lebih.”
“Tidak adil.”
“Kehidupan memang tidak selalu adil.”
Nicholas mendengus.
“Kalau begitu Kakak saja yang ambil.”
Alessia langsung menggeleng.
“Tidak mau.”
“Kenapa?”
“Aku lebih suka balapan.”
Nicholas menatap kakaknya beberapa detik.
“Benar juga.”
Ia kemudian menghela napas dramatis.
“Baiklah. Aku akan belajar.”
Alessia tersenyum lega.
“Bagus.”
“Tapi ada syarat.”
“Apa?”
“Kalau suatu hari aku jadi CEO, Kakak harus tetap datang ke kantor sesekali.”
Alessia tertawa.
“Untuk apa?”
“Supaya aku punya alasan untuk kabur kalau rapat terlalu membosankan.”
Alessia langsung memukul bahunya.
“Dasar malas!”
Nicholas tertawa sambil menghindar.
“Tapi serius, Kak. Aku akan mencoba.”
Alessia mengangguk.
Ia tahu adiknya mungkin masih mengeluh dan sering bertingkah kekanak-kanakan, tetapi suatu hari tanggung jawab besar akan berada di pundaknya.
Dan meskipun ia sendiri tidak tertarik memimpin perusahaan, Alessia akan selalu menjadi orang pertama yang mendukung Nicholas.
“Belajar yang benar,” katanya.
Nicholas menghela napas.
“Baik, Bu Guru.”
“Panggil aku Kakak.”
“Baik, Bu Direktur Balapan.”
Alessia langsung mengejarnya mengelilingi gazebo.
Tawa mereka kembali memenuhi halaman belakang mansion.
......................
Sore perlahan berubah menjadi malam. Alessia sudah berada di kamar utama sejak tadi, duduk di tepi ranjang sambil menunggu suaminya pulang.
Di kamar tamu, Nicholas sudah bersiap tidur. Setelah seharian membuat mansion ribut, akhirnya adiknya itu cukup lelah untuk diam.
Tiba-tiba terdengar suara keypad pintu.
Bip.
Alessia langsung tersenyum.
“Itu pasti Vellano.”
Pintu terbuka.
Namun senyumnya seketika menghilang....
...****************...
Apa yang terjadi? Selajutnya 😑
Ikuti terus kisah keseruan mereka ya!
Sehat selalu,salam damai 🥰