Jika kau jatuh cinta padaku selama dua tahun ini, kau tidak akan mendapatkan satu sen pun saat bercerai nanti."
Demi membiayai operasi sumsum tulang belakang adiknya, Aura Dania terpaksa menandatangani perjanjian pernikahan kontrak dengan Evan Adijaya seorang CEO dingin dan kejam yang hanya memanfaatkan Aura untuk merebut takhta perusahaan keluarga.
Di atas kertas, mereka hanyalah orang asing. Tanpa cinta, tanpa sentuhan, dan tanpa pesta. Tugas Aura sederhana: berpura-pura menjadi istri yang manis di depan kakek Evan yang sedang sakit.
Namun, ketika mantan kekasih Evan kembali membawa niat jahat dan rahasia besar terungkap, pernikahan rahasia mereka berubah menjadi pusaran rasa sakit dan hasrat. Bisakah Aura bertahan tanpa menyerahkan hatinya pada sang CEO berdarah dingin?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Melania-1623, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 8: Wilayah Sang CEO
Gedung Adijaya Tower berdiri megah setinggi lima puluh lantai di kawasan bisnis paling bergengsi di Jakarta. Dengan dinding kaca kebiruan yang memantulkan sinar matahari pagi, gedung ini merupakan simbol kekuasaan dan kejayaan klan Adijaya.
Sebuah mobil Rolls-Royce hitam berhenti tepat di depan lobi utama. Pak Bimo turun terlebih dahulu untuk membukakan pintu belakang. Evan melangkah keluar lebih dulu dengan setelan jas navy yang sangat rapi, memancarkan aura pemimpin yang kuat dan berwibawa.
Ia kemudian membalikkan badan, mengulurkan tangannya ke dalam mobil untuk menyambut genggaman Aura.
Aura melangkah keluar dengan hati berdebar. Hari ini adalah hari pertamanya bekerja sebagai asisten sekretaris pribadi Evan. Sesuai keputusan Kakek Surya dua hari lalu, daripada Aura terus berdiam diri di penthouse, lebih baik ia mendampingi Evan di kantor agar sang Kakek bisa tenang memantau perkembangan hubungan mereka.
Aura mengenakan kemeja sutra warna krem dipadukan dengan rok pensil hitam di bawah lutut dan sepatu hak tinggi yang simpel. Penampilannya sangat elegan, profesional, namun tetap tidak berlebihan.
"Jangan gugup," bisik Evan pelan saat mereka melangkah masuk menembus pintu kaca otomatis lobi. Jemari Evan menggenggam erat tangan Aura di hadapan puluhan staf yang mulai berbaris rapi memberikan penghormatan.
"Selamat pagi, Tuan Presdir! Selamat pagi, Nyonya!" sapa para karyawan serempak seraya membungkukkan badan.
Bisik-bisik kagum dan rasa penasaran seketika memenuhi area lobi. Ini adalah pertama kalinya para pegawai melihat Presdir mereka yang terkenal berdarah dingin dan alergi wanita, berjalan menggandeng seorang wanita dengan penuh perhatian di depan umum.
Aura memaksakan senyum sopannya, berusaha menjaga langkah kakinya agar tetap stabil di samping Evan hingga mereka memasuki lift khusus eksekutif menuju lantai empat puluh lima.
Begitu pintu lift tertutup rapat, Aura mengebuskan napas lega yang panjang. "Rasanya seperti sedang berjalan di atas karpet merah ajang penghargaan."
Evan terkekeh tipis, melepaskan genggaman tangannya lalu merapikan kancing jasnya. "Kau harus terbiasa. Di gedung ini, setiap gerak-gerikmu akan diperhatikan. Meja kerjamu ada tepat di luar ruangan kerjaku, berhadapan langsung dengan meja Bimo."
Pintu lift terbuka di lantai teratas. Lantai ini khusus digunakan untuk jajaran direksi utama dan ruang kerja Presdir. Suasananya jauh lebih tenang, hening, dan sangat eksklusif.
Namun, ketenangan itu tidak bertahan lama. Saat mereka melangkah menuju lorong ruang kerja Evan, sosok Siska Adijaya (ibu tiri Evan) sudah berdiri di depan pintu dengan melipat kedua tangannya di dada. Wajah wanita paruh baya itu tampak penuh dengan permusuhan.
"Selamat pagi, Evan," sapa Siska dengan suara dingin bersalut kepalsuan. Matanya lalu melirik sinis ke arah Aura. "Dan... selamat datang untuk 'staf baru' kita."
Evan menghentikan langkahnya, menatap ibu tirinya tanpa ekspresi. "Ada urusan apa Anda berada di lantai Presdir pagi-pagi begini, Tante Siska?"
"Tentu saja urusan pekerjaan," jawab Siska seraya tersenyum culas. Ia menyodorkan seberkas dokumen tebal bercetak merah. "Raka, putramu sekaligus adik tirimu, mengajukan draf proyek pembangunan resor mewah di Bali. Sebagai sesama jajaran Komisaris, aku datang untuk memastikan kau menandatangani persetujuan anggarannya hari ini."
Evan menerima berkas tersebut, melirik judulnya sepintas, lalu terkekeh dingin. "Proyek bernilai lima ratus miliar rupiah tanpa analisis risiko yang jelas dari tim auditor? Raka bahkan tidak hadir di rapat evaluasi minggu lalu."
"Raka sedang sibuk mempelajari pasar di lapangan!" potong Siska membela anak kandungnya dengan nada tinggi. "Jangan mencari-cari alasan untuk menjatuhkan adikmu sendiri, Evan! Kau hanya takut Raka membuktikan prestasinya di depan Kakek!"
Aura yang berdiri di belakang Evan bisa merasakan ketegangan yang membakar di antara mereka. Ia memperhatikan berkas di tangan Evan dan teringat akan latar belakang pendidikannya sebagai sarjana akuntansi.
"Maaf, Nyonya Siska," aura memberanikan diri bersuara dengan tenang dan sopan. "Jika proyek ini bernilai di atas dua ratus miliar rupiah, sesuai standar prosedur operasional Adijaya Group, draf anggaran wajib melewati verifikasi internal tim akuntansi independen terlebih dahulu sebelum sampai ke meja Presdir."
Siska tersentak. Matanya membelalak murka menatap Aura. "Tahu apa kau soal prosedur perusahaan kami?! Kau di sini hanya dititipkan Kakek agar tidak keluyuran, jangan coba-coba mencampuri urusan jajaran direksi!"
"Aura benar," potong Evan tegas, suaranya yang berat memotong emosi Siska seketika. Evan mengembalikan berkas tersebut ke dada Siska dengan gerakan kasar. "Istriku adalah lulusan terbaik akuntansi. Dia jauh lebih paham prosedur audit daripada kau atau Raka yang hanya tahu membuang-buang uang perusahaan."
Wajah Siska memerah padam karena malu dan marah. Ia tidak mengira wanita sederhana yang ia anggap remeh itu justru memiliki keberanian dan kecerdasan untuk menyudutkannya di depan para staf.
"Kalian... awas kalian!" ancam Siska dengan suara bergetar menahan malu. Ia meremas berkasnya, berbalik dengan hentakan kaki keras, lalu pergi meninggalkan lantai eksekutif tersebut.
Suasana lorong kembali hening. Bimo yang berdiri di dekat meja kerja menahan senyum puas melihat ibu tiri atasannya berhasil dibungkam.
Evan membalikkan badan, menatap Aura dengan pandangan yang sulit diartikan. Ada rasa bangga yang tak bisa ia sembunyikan dari binar matanya.
"Kau tidak takut padanya?" tanya Evan pelan.
Aura tersenyum tipis seraya merapikan ujung kemejanya. "Saya bekerja menggunakan ilmu dan aturan resmi perusahaan, Evan. Selama saya di jalur yang benar, tidak ada alasan untuk takut pada siapa pun."
Evan menatap wanita di hadapannya selama beberapa detik. Rasa kagum di dalam hatinya kian membesar. Aura Dania bukan sekadar wanita lembut yang pasrah pada keadaan. Di balik kelembutannya, ada kecerdasan dan keberanian yang sangat luar biasa.
"Bagus," kata Evan pelan, bibirnya mengulas senyum tipis yang sangat tampan. "Masuklah ke ruanganmu. Bimo akan menyerahkan laporan keuangan triwulan untuk kau periksa."
"Siap, Tuan Presdir," jawab Aura jahil seraya memberikan salam hormat kecil.
Namun, saat Aura baru saja menduduki kursi kerjanya yang baru, ponsel di dalam tasnya bergetar nyaring. Sebuah pesan singkat dari nomor tidak dikenal masuk ke layarnya:
'Jangan bangga dulu menjadi istri simpanan Evan Adijaya. Aku tahu rahasia besar pernikahan kontrakmu dan uang dua miliar itu. Jika kau tidak ingin kebohonganmu terbongkar di depan Kakek Surya, temui aku di kafe seberang gedung jam satu siang nanti.'
Jantung Aura serasa berhenti berdetak. Darah di tubuhnya mendadak membeku saat membaca setiap kata di layar ponselnya. Kebohongan terbesar mereka... telah diketahui oleh seseorang.
_____
Terima kasih sudah membaca. Jangan lupa tinggalkan Like & Komen...