NovelToon NovelToon
Istri Kontrak CEO Lumpuh

Istri Kontrak CEO Lumpuh

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO
Popularitas:5.4k
Nilai: 5
Nama Author: Elwa Zetri

​Panti asuhan "Lentera Kasih" akhirnya menjadi satu-satunya tempat yang bersedia menerimanya. Di sana, di antara keterbatasan dan hidangan seadanya, Kirana tumbuh menjadi gadis yang kuat dan sangat cerdas. Buku-buku tua di perpustakaan panti menjadi teman setianya. Kirana belajar dengan giat, menyerap ilmu pengetahuan dengan ketajaman berpikir yang mengagumkan. Ia tahu, hanya dengan pendidikan ia bisa mengubah takdirnya.

​Namun, kecerdasannya saja tidak cukup untuk membayar biaya masuk universitas. Mimpinya untuk berkuliah di jurusan Kedokteran—cita-cita yang terinspirasi dari keinginan menyembuhkan luka dan menyelamatkan nyawa—membentur dinding tebal bernama biaya. Malam ini, dengan sisa-sisa keberanian yang ia kumpulkan selama berminggu-minggu, Kirana memutuskan untuk mendatangi rumah masa kecil ayahnya. Ia tidak meminta warisan atau kemewahan; ia hanya berharap ada sedikit keajaiban dan rasa iba di hati sang nenek agar mau membiayai pendidikannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elwa Zetri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Jalan Panjang di Bawah Langit Jingga

​Matahari mulai bergerak condong ke barat, memancarkan pendar cahaya jingga kemerahan yang melukis langit sore. Kirana berdiri di pinggir jalan raya utama, tak jauh dari halte kampus. Waktu telah menunjukkan pukul lima sore, namun deretan kendaraan yang melintas hanya didominasi oleh kendaraan pribadi dan truk-truk besar.

​Kirana merogoh saku celananya dan mengeluarkan sisa uang koin serta dua lembar uang kertas yang lecek. Ia menghitungnya kembali dengan cermat. Uang yang tersisa di tangannya memang hanya pas-pasan untuk membayar ongkos satu kali naik angkutan umum menuju area panti asuhan. Masalahnya, sejak satu jam lalu ia berdiri menunggu di Halte Kampus, tak satu pun angkutan umum atau bus kota yang melintas ke arah tujuannya.

​Beberapa mahasiswa lain yang tadinya ikut menunggu di halte satu per satu telah pergi, ada yang dijemput oleh kendaraan pribadi, ada pula yang memesan transportasi daring lewat ponsel pintar mereka. Kirana hanya bisa menatap mereka dengan hembusan napas pelan. Ponsel jadul milik Kirana tidak memiliki aplikasi canggih seperti itu; ponselnya hanya bisa digunakan untuk mengirim pesan singkat dan menelpon dalam keadaan darurat.

​"Apa aku pulang jalan kaki saja, ya?" bisik Kirana pada dirinya sendiri, menatap jalan raya yang membentang lurus dan seolah tak berujung di hadapannya.

​Jarak dari area kampus menuju Panti Asuhan "Lentera Kasih" bukanlah jarak yang dekat. Jika menaiki angkutan umum, perjalanan memakan waktu sekitar empat puluh lima menit hingga satu jam. Jika ditempuh dengan berjalan kaki, Kirana memperkirakan ia baru akan sampai di panti saat hari sudah benar-benar gelap gulita, mungkin sekitar dua hingga tiga jam perjalanan.

​Namun, menanti bus yang tak kunjung pasti di halte yang mulai sepi terasa menyia-nyiakan waktu. Apalagi, ia membayangkan Ibu Ratna di panti pasti mulai cemas menunggunya pulang. Uang tersisa di sakunya bisa ia simpan untuk keperluan darurat atau membeli alat tulis esok hari jika ia benar-benar memilih berjalan kaki sore ini.

​Kirana membetulkan posisi tali ransel di bahunya. Ia merapikan kembali kemeja putihnya yang mulai agak kumal setelah beraktivitas seharian, lalu menegakkan tubuhnya. Rasa lelah di kakinya akibat berdiri seharian mengurus berkas tiba-tiba kalah oleh gelora semangat yang masih membara di dadanya. Formulir beasiswa khusus kemitraan yang tersimpan rapi di dalam tasnya menjadi penawar rasa lelah yang paling ampuh.

​"Jalan kaki bukan hal yang buruk. Anggap saja ini latihan fisik," gumam Kirana menguatkan hatinya sendiri, diiringi senyum tipis yang mengulas di bibirnya.

​Dengan langkah mantap, Kirana mulai mengayunkan kakinya menyusuri trotoar jalan raya. Angin sore yang berembus pelan menerpa wajahnya, membelai lembut helai-helai rambutnya yang terikat rapi. Langkah demi langkah ia lewati dengan sabar. Di sepanjang perjalanan, ia menyaksikan hiruk-pikuk kehidupan kota: para pedagang kaki lima yang mulai menggelar lapaknya, riuh kendaraan yang berpacu menembus kemacetan sore, serta deretan keluarga yang melintas dengan tawa gembira.

​Sesekali, Kirana harus berhenti sejenak di bawah rindangnya pohon peneduh jalan untuk mengusap peluh di dahinya dan meminum sisa air putih dari botol bekal yang dibawakan Ibu Ratna tadi pagi. Kaki dan betisnya mulai terasa pegal dan berdenyut nyeri, namun Kirana menolak untuk menyerah. Setiap meter jalan yang ia tapaki adalah bukti bahwasanya ia adalah gadis yang kuat, gadis yang tidak akan mudah tumbang hanya karena jarak dan rasa lelah.

​Ketika garis langit perlahan berubah dari warna jingga menjadi kebiruan gelap ditandai dengan munculnya bintang-bintang pertama, Kirana masih terus melangkah di atas trotoar kota, membendung rasa lelah demi menjemput masa depan yang lebih terang.

1
Ariany Sudjana
ah ga seru, masak orang sekaliber Rian, ga bisa mengungkap keterlibatan Shinta juga?
Iffanaya 😽
kamu jg harus hati² jg sama Shinta ya Rian
Ryuu
baguuus
Ryuu
Semangat nulis nya sayang😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!