NovelToon NovelToon
Karina Dan Sistem Kehidupan

Karina Dan Sistem Kehidupan

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Sistem / Transmigrasi
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: kirana_euforia

Karina, gadis yatim piatu berusia tujuh belas tahun, kehilangan nyawanya setelah menyelamatkan seluruh penumpang bus yang terjun ke jurang. Namun, kematiannya bukan akhir. Sebuah sistem misterius memberinya kesempatan hidup kembali dengan satu syarat: mengumpulkan 100.000 Poin Kehidupan dengan menyelamatkan para antagonis pria dari takdir tragis mereka.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kirana_euforia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Dunia Pertama — 07

Ancaman ayah Bram ternyata bukan sekedar gertakan kosong.

Empat hari setelah kejadian digerbang sekolah, dua orang pria bertubuh besar mendatangi rumah kecil Bram pada malam harinya, mengetuk pintu rumahnya dengan cara yang jauh dari kata sopan.

"Bapak lo utang sama bos kami." Kata salah satu dari mereka dengan suara berat dan mengancam, begitu Bram membuka pintu.

"Delapan juta. Katanya bisa dilunasin lewat anaknya kalo dia nggak bisa bayar."

Bram berdiri kaku diambang pintu, tubuhnya menghalangi pandangan kedalam rumah tempat neneknya sedang terbaring lemah. "Saya nggak tau apa apa soal utang itu. Itu urusan bapak saya, bukan saya."

"Ya tapi Lo yang tinggal dialamat ini." Sahut salah satunya sambil menunjuk pintu rumah dengan dagu.

"Kalo nggak ada yang bayar dalam dua minggu, jangan salahin kami kalo ada yang nggak enak kejadian disini."

Ancaman itu digantung di udara sebelum kedua pria itu akhirnya pergi, meninggalkan Bram yang berdiri mematung didepan pintu.

Jantungnya berdegup kencang campuran ketakutan dan kemarahan yang tidak tau harus dilampiaskan kemana.

...----------------...

Keesokan harinya disekolah, Karina langsung menyadari ada yang berbeda dari Bram sehak pagi.

Ia lebih pendiam daei biasanya, kantung matanya terlihat seperti tidak tidur semalaman dan sesekali tangannya gemetar tanpa sebab yang jelas saat memegang pulpen.

"Kamu nggak papa?" Tanya Karina khawatir begitu jam istirahat tiba.

"Nggak papa." Jawabnya singkat, terlalu singkat untuk terdengar meyakinkan.

Karina tidak percaya begitu saja, tapi ia juga tau memaksa Bram berbicara saat ini hanya akan membuatnya semakin menutup diri.

Ia memutuskan akan menunggu, meski firasat buruk terus mengganjal didadanya sepanjang hari.

Firasat itu terbukti benar ketika sepulang sekolah, Karina secara tidak sengaja melihat Bram sedang berbicara serius dengab seorang pria asing didekat gerbang belakang sekolah.

Pria itu penampilannya sangat berbeda dari siswa ataupun guru manapun, dengan tato dilengan dan gaya bicara yang keras.

Karina bersembunyi dibalik tembok, mencoba mendengarkan sebagian percakapan itu.

".... jadi lo mau ikut apa nggak? Delapan juta bisa lo dapetin sekali menang doang, asal berani." Kata pria itu.

"Berapa lama tandingnya?" Tanya Bram dengan suara yang tegang tapi tetap terkontrol.

"Tiga ronde, kalo menang duit langsung cair malam itu juga. tapi yaa resikonya lo tau sendiri lah, ini bukan tinju biasa yang ada wasitnya baik baik."

Karina merasa dadanya mencelos. Ia sudah cukup sering mendengar tentang pertarungan ilegal seperti itu, arena gelap tanpa aturan yang jelas, sering diadakan digudang gudang kosong pinggiran kota.

Tempat orang orang bertaruh besar sambil menyaksikan dua orang saling menghajar sampai salah satunya tidak bisa berdiri lagi.

"Bram." Karina keluar dari persembunyiannya, tidak bisa menahan diri lagi.

Bram tersentak, wajahnya berubah pucat begitu melihat karina berdiri disana. "Al....lo ngapain disini?"

"Pertanyaan itu harusnya buat kamu." Jawab Karina tegas, menatap pria asing itu dengan curiga sebelum kembali menatap Bram. "Kamu mau ikut pertarungan ilegal? Serius?"

Pria asing itu merasa situasi mulai tidak nyaman, butu buru berpamitan. "Yaudah lo pikirin dulu, kalo mau dateng aja sabtu malem ketempat biasa." Katanya sebelum pergi.

Karina langsung menghadap Bram begitu pria itu menghilang dari pandangan. "Kamu gila ya? Kamu mau taruhin nyawa kamu cuma buat delapan juta?"

"Trus gue harus gimana?!" Bram membalas dengan suara meninggi, penuh keputusasaan yang selama ini ia tahan sendirian.

"Dua orang preman dateng kerumah gue, ngancem bakal bikin masalah kalo utang bokap gue nggak lunas. Gue nggak punya cara lain Al, nggak ara yang bisa gue pinjemin uang sebanyak itu dalam waktu singkat!"

"Bukan berarti kamu harus taruhin nyawa kamu sendiri!" Karina membalas berteriak, aie matanya mulai menggenang tanpa ia sadari.

"Kamu pikir kalo kamu kenapa kenapa dipertarungan itu, nenek kamu bakal lebih baik? Kami pikir itu solusi?!"

Bram terdiam, ia terkejut melihat Karina yang biasanya tenang kini menangis dihadapannya. "Al...."

"Kamu nggak boleh ikut itu, aku nggak akan biarin kamu." Ucap Karina dengan suara bergetar tapi tegas.

"Trus apa rencana lo?" Tanya Bram frustasi.

"Lo punya delapan juta buat nolongin gue? Lo tau siapa yang bakal dateng lagi kalo utangnya nggak dibayar?"

"Aku nggak tau, tapi pasti ada cara lain. Caranya yang nggk bikin kamu harus kayak bapak kamu, ngerusak diri sendiri demi masalah yang bahkan bukan salah kamu."

Kalimat terakhir itu seperti menampar Bram dengan keras. Ia terdiam lama, dadanya naik turun menauan emosi yang campur aduk, sebelum akhirnya duduk terkulai ditrotoar pinggir jalan, menyembunyikan wajahnya diantara kedua tangan.

"Gue capek Al." Gumamnya dengan suara yang nyaris tidak terdengar.

"Gue capek terus terusan jadi orang yang harus nanggung semua masalah yang bahkan bukan gue yang bikin."

Karina berlutut didepannya, menggenggam kedua tangan Bram dengan lembut. "Aku tau, dan aku nggak akan biarin kamu nanggung semuanya sendirian lagi."

...----------------...

Malam itu Karina duduk termenung dikamar kosnya, memikirkan segala kemungkinan yang bisa ia lakukan.

Delapan juta bukan jumlah kecil dan ia tau betul tidak ada cara instan untuk mendapatkan uang sebanyak itu dalam waktu singkat, setidaknya tidak ada cara yang wajar.

"Sistem, ada cara nggak buat nolongin dia soal ini?" Tanyanya dalam hati mencoba memanggil sistem.

Tidak ada jawaban langsung, hanya layar tembus pandang kecil yang muncul dengan pesan singkat.

[Sistem tidak diperkenankan memberikan bantuan materi secara langsung kepada pengguna maupun subjek.]

[Program ini dirancang untuk menguji dan membentuk karakter melalui usaha nyata, bukan jalan pintas.]

[Namun sistem dapat memberikan satu petunjuk: solusi atas masalah ini mungkin tidak selalu datang dari uang yang sama besarnya dengan masalah itu sendiri, melainkan dari keberanian untuk menghadapi sumber masalah secara langsung.]

Karina mengerutkan keningnya, mencerna setiap kalimat itu berulang kali. "Sumber masalah.....maksudnya bapaknya Bram?"

Ia menghabiskan sisa malam itu memikirkan berbagai kemungkinan, sampai akhirnya sebuah ide muncul terbentuk dikepalanya.

Ide yang beresiko, tapi mungkin satu satunya cara untuk benar benar menyelesaikan masalah ini dari akarnya, bukan sekedar menambal luka sementara.

...----------------...

Keesokan harinya ia menemui Bram sebelum bel masuk berbunyi.

"Bram, aku punya ide, tapi kamu harus percayaa sama aku dan nggak boleh ikut acara pertarungan itu." Ucapnya.

"Ide apa?" Tanya Bram masih terlihat lelah dan skeptis.

"Kita cari bapak kamu."Jawab Karina mantap.

"Kita hadapi dia langsung, sama sama dan cari tau kenapa dia bisa hutang sebanyak itu, trus kita paksa dia buat tanggung jawab sama utangnya sendiri, bukan malah lempar masalah itu kekamu."

Bram menatapnya dengab ekspresi campur aduk antara ragu, takut, tapi juga ada secercah harapan kecil yang mulai tumbuh. "Lo yakin itu bakal berhasil?"

"Aku nggak yakin seratus persen." Jawabnya jujur.

"Tapi aku yakin ini jauh lebih baik daripada kamu masuk arena pertarungan ilegal dan taruhin nyawa kamu buat nutupin kesalahan orang lain."

Bram terdian lama, memandang wajah Karina yang penuh keyakinan meski ia sendiri tau rencana ini penuh resiko. Akhirnya ia hanya mengaguk pelan.

"Oke, kita coba cara lo." Ucap Bram.

...----------------...

Malam itu ketika Karina kembali kekamar kosnya, layar tembus pandang tiba tiba muncul sekali lagi.

[Pembaruan status.]

[Poin Kehidupan: 1.650 / 100.000.]

[Poin diberikan atas upaya mencegah subjek mengambil jalan destruktif yang berpotensi mengulang siklus kekerasan dari generasi sebelumnya.]

[Catatan: Keputusan berikutnya akan menjadi titik krusal dalam menentukan arah akhir bahagia subjek konfrontasi dengan sumber trauma dapat membawa pemulihan mendalam, atau justru resiko luka baru yang lebih besar.]

Karina menatap catatan itu dengan perasaan campur aduk, ia tau langkah yang akan mereka ambil besok bukan tanpa resiko.

Menghadapi seseorang seperti ayah Bram, yang jelas jelas sudah terjerumus dalam lingkaran hutang dan kebiasaan buruk, bisa saja berakhir lebih buruk daripada yang ia bayangkan.

"Tapi kalo nggak dihadapi sekarang, masalah ini bakal terus muncul lagi dan lagi nggak akan pernah selesai." Pikirnya sambil menatap langit kalam dari jendela kamarnya yang sempit.

Dengan tekad itu, ia mencoba memejamkan matanya mempersiapkan diri untuk esok hari yang akan menjadi salah satu momen paling menegangkan dalam perjalannnya didunia ini.

Ntah bagaimana hasilnya nanti, akan menentukan langkah besar berikutnya menuju kebahagiaan sejati yang diperjuangkan untuk Bram.

1
Diana Lely
kirana apa karina thor
kirana_euforia: karina, kalo kirana namaku
total 1 replies
Priska Heriska
bagus semangat!
reaaannaaa
sistem sampah,buat apa ada sistem
buang aja,karina mati lagi aja
Alnilam Mintaka
Bagus!!!
kirana_euforia: tengkyu(⁠≧⁠▽⁠≦⁠)
total 1 replies
Alnilam Mintaka
Semangat Thor!!! 💪
Alnilam Mintaka
jujur janggal . lvl author tinggi tapi karya cuma satu??
Alnilam Mintaka: okey .. good luck thor
total 5 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!