NovelToon NovelToon
Ma Huang, Bencana Keluarga Jian

Ma Huang, Bencana Keluarga Jian

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Epik Petualangan / Action
Popularitas:360
Nilai: 5
Nama Author: Restu Agung Nirwana

Malam pembantaian Keluarga Ma menyisakan darah, puing, dan dendam mendalam di dada Ma Huang. Sebagai satu-satunya yang masih bertahan, ia mengambil keputusan gila: menempuh Jalur Darah Pemakan Bencana, sebuah kultivasi terlarang yang menggerogoti organ fisiknya demi menggenggam kekuatan membunuh tiada tanding.

Berbekal Pedang Tulang Hitam dan tubuh yang dialiri racun pekat, Ma Huang melangkah menembus lautan darah untuk membantai satu per satu siapaun yang telibat dalam tragedi tersebut. Dari pelataran tempa Kota Yunjiang hingga kegelapan Lembah Tengkorak yang dipenuhi racun alam, ia bertaruh nyawa demi merebut kembali Segel Besi Hitam, pusaka komando tiga ribu prajurit Serigala Hitam, serta kunci rahasia Makam Leluhur.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Restu Agung Nirwana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 25 - Penguasa Gerbang Utara

Derap teracak ratusan sepatu kuda melintasi alur dangkal Sungai Belerang tanpa nyala obor. Udara subuh di luar batas lembah membeku kaku. Kabut tipis berwarna kelabu menyelimuti punggung-punggung tebing basal, mengaburkan pergerakan kilat seribu lima ratus penunggang kuda Pasukan Serigala Hitam yang melaju rapat dalam kegelapan.

Ma Huang menunggangi kuda jantan hitam di barisan terdepan. Jubah birunya yang robek berkibar kaku menahan terpaan angin malam perbatasan. Tangan kirinya mengencangkan pegangan pada kekang kulit basah. Pedang Tulang Hitam tersandar kaku di sisi pelana, terbungkus kain kelabu yang masih menyerap sisa darah kental milik Jian Yue.

Di belakangnya, Tie Shan dan Feng Ni memimpin pasukan tanpa mengeluarkan suara sedikit pun. Tidak ada gelinting rantai besi yang beradu. Seluruh zirah besi dan sarung senjata perunggu prajurit telah dilapisi kain perca tebal untuk meredam bunyi gesekan di atas permukaan tanah basah.

"Dua mil di depan adalah Tembok Utara Kota Yunjiang," kata Feng Ni setengah berbisik. Kuda hitamnya merapat tiga jengkal di samping pelana Ma Huang. "Menara pengawas utama dijaga dua puluh prajurit panah mesin. Pintu gerbang kayu dilapisi plat tembaga tebal empat jari."

Ma Huang menatap lurus menembus gulungan kabut subuh yang kian memudar. Di kejauhan, siluet benteng batu Kota Yunjiang menjulang tinggi bagaikan raksasa hitam yang tertidur lelap. Hanya dua lampion minyak redup yang menyala remang di puncak Gerbang Gelam.

"Tuan Kota Yunjiang diduga membawa dua ribu prajurit inti ke Desa Qingshan," ujar Ma Huang kaku. Suaranya dingin memotong desir angin subuh. "Penjaga gerbang ini tidak memprediksi ada pasukan musuh yang datang langsung dari arah Celah Serigala."

Tie Shan menepuk dada zirahnya yang penuh torehan tebasan kampak. Kampak kembar baja hitam di punggungnya bergetar tipis oleh luapan tenaga dalam. "Sembilan belas hembusan napas. Beri aku waktu sembilan belas hembusan napas untuk mendobrak palang perunggu itu, Tuan Muda."

"Kau tidak perlu menggunakan kampak," balas Ma Huang datar. "Gunakan kegelapan."

Ma Huang mengangkat tangan kirinya yang terbungkus hawa dingin ke udara. Seluruh barisan kuda di belakangnya berhenti seketika di atas padang rumput basah. Gerakan seribu lima ratus penunggang kuda itu terhenti serempak tanpa satu pun ringkikan nyaring kuda perang.

Feng Ni melompat turun dari pelananya tanpa menimbulkan suara sedikit pun. Jemari tangannya menyambar busur baja pendek di punggung. Delapan prajurit pengintai terbaiknya mengekor di belakang, merayap cepat menembus semak duri menuju parit kering di bawah tebing benteng batu.

Dua prajurit penjaga menara tampak menguap lelah di balik selasar batu benteng. Mereka memegang tombak pendek dengan posisi tubuh bersandar pada pilar kayu kuno. Senjata mesin penembak panah otomatis di samping mereka masih tertutup kain terpal kusam.

Srettt!

Delapan anak panah hitam berujung bulu burung hantu meluncur serentak dari balik semak-semak. Suara desisannya begitu tipis di udara, kalah oleh desir angin subuh yang menerpa celah-celah dinding batu benteng.

Tiga anak panah menembus leher dua penjaga menara secara bersamaan. Darah segar menyembur basah membasahi pilar kayu, namun tubuh kedua prajurit itu ditangkap oleh pengintai Feng Ni sebelum sempat menghantam lantai selasar batu.

Empat penjaga tersisa di bagian tangga bawah roboh dalam hitungan dua detik. Leher mereka terjerat benang baja belati tali sutra milik Feng Ni yang berputar tajam di udara.

Feng Ni mengibaskan kain hitam dari puncak menara pengawas. Isyarat keamanan telah diberikan secara bersih.

Ma Huang menjejakkan tumitnya kencang ke perut kuda. Kuda jantan hitam itu melesat deras bagaikan anak panah melintasi padang rumput basah, diikuti oleh lima puluh prajurit penembus barisan terdepan.

Lantai papan jembatan gantung bergetar keras saat Ma Huang melompat turun dari pelananya tepat di ambang gerbang utama. Pedang Tulang Hitam dicabutnya dari sarung kain dalam satu kali tarikan kencang yang memotong udara dingin.

Bilah pedang hitam beracun itu memancarkan uap korosif kehitaman yang membakar embun subuh di sekitarnya. Ma Huang memajukan langkah kakinya, menghantamkan bilah pedang hitamnya lurus ke dalam celah engsel rantai besi penarik jembatan gantung.

Srettt! Krak!

Hawa asam pekat dari racun Ular Hijau melahap rantai baja tua itu dalam hitungan sekejap. Celah engsel melunak kaku, meremukkan pasak besi raksasa hingga terputus berhamburan ke atas tanah berlumpur.

Rantai besi pelindung gerbang putus berkeping-keping. Pintu kayu berlapis tembaga setinggi lima tombak itu bergetar hebat saat palang penahan di dalamnya mulai retak oleh gesekan asam racun yang menjalar cepat.

Seorang perwira penjaga gerbang dari dalam lorong tersentak kaget. Matanya membelalak lebar melihat cairan hitam mendidih menembus sela-sela kayu tebal gerbang utama.

"Musuh! Musuh menyerbu gerbang utara!" teriak perwira itu histeris seraya menarik pedang pendeknya dari sarung pinggang.

Ma Huang menyalurkan gelombang tenaga dalam Inti Bencana Hitam-Keemasan lurus ke telapak tangan kirinya. Ia menghantamkan telapak tangannya kencang-kencang ke bagian tengah pintu kayu yang mulai melunak oleh dampak asam racun.

Bummm!

Dentuman keras meledakkan dua daun pintu kayu berlapis tembaga secara bersamaan. Serpihan kayu tebal dan pecahan tembaga panas melayang jatuh menimpa dua puluh prajurit penjaga di dalam lorong benteng.

Ma Huang melangkah kaku menembus kepulan asap hitam dan serpihan kayu yang terbakar. Tangannya memegang rapat Pedang Tulang Hitam yang meneteskan racun asam kental ke atas lantai pualam.

Perwira penjaga gerbang mencoba melancarkan tusukan pedang pendeknya ke arah dada Ma Huang. Langkah kakinya gemetar hebat menatap sepasang mata merah Ma Huang yang menyala dingin di balik kepulan asap tebal.

Ma Huang menggeser tumpuan kakinya setengah jengkal ke kiri. Tebasan pedang perwira itu melintas tipis di udara kosong tanpa mengenai sasaran.

Ma Huang memutar Pedang Tulang Hitam dari bawah ke atas dalam satu tebasan cepat. Bilah pedang hitam memotong pergelangan tangan perwira itu secara bersih tanpa hambatan.

Jeritan histeris memecah keheningan lorong gerbang. Perwira itu terhuyung mundur seraya memegang pangkal tangannya yang putus. Racun Ular Hijau merambat cepat menelusuri lengan kanannya, menghitamkan pembuluh darah hingga ke leher dalam lima hitungan napas.

"Siapa... siapa kalian?" desis perwira itu parau sebelum matanya melotot kaku dan tubuhnya roboh tak bernyawa di atas ubin batu lorong.

Prajurit penjaga tersisa melempar senjata perunggu mereka ke tanah basah. Mereka merangkak mundur ketakutan, berlutut menghadap dinding batu lorong saat melihat sosok Ma Huang berdiri kaku di tengah tumpukan serpihan kayu gerbang.

Dari luar gerbang, gelombang lima ratus penunggang kuda zirah berat Pasukan Serigala Hitam yang dipimpin Tie Shan meluncur deras memasuki lorong. Suara derap paku sepatu kuda membahana keras, menggetarkan dinding batu Kota Yunjiang.

Tie Shan melompat turun dari kudanya dengan hembusan napas kasar. Kampak kembar baja hitam di tangannya terangkat tinggi. "Gerbang Utama telah kita kuasai total, Tuan Muda!"

"Amankan seluruh jalan protokol menuju kediaman Tuan Kota!" perintah Ma Huang dingin. "Tutup tiga gerbang kota lainnya! Siapa pun yang mencoba meloloskan diri keluar kota, bantai di tempat tanpa ampun!"

"Hamba mengerti!" raung Tie Shan kencang. Ia memutar badannya, menginstruksikan tiga ratus prajurit zirah berat untuk menyebar menembus lorong-lorong utama kota.

Feng Ni melangkah menaiki anak tangga batu menuju puncak benteng gerbang. Tangannya mengibarkan panji kain hitam berukirkan kepala serigala menggigit pedang silang di atas menara pengawas utama.

Panji hitam Pasukan Serigala Hitam berkibar kencang ditiup angin subuh, menggantikan bendera kebanggaan Tuan Kota Yunjiang yang dilempar jatuh ke dalam parit kering.

Kota Yunjiang yang lelap dalam kedamaian palsu mendadak bergejolak. Suara jeritan warga dan kepulan asap obor penyerbuan mulai membakar sudut-sudut jalan utama kota.

Ma Huang menaiki tangga batu benteng gerbang satu per satu. Langkah kakinya terdengar berat di atas lantai batu granit yang basah oleh darah perwira musuh.

Dari puncak menara gerbang, Ma Huang menatap ke arah pelataran utama dan kediaman Tuan Kota yang megah di kejauhan. Pintu utama kediaman Tuan Kota tampak tertutup rapat, dikawal oleh lima puluh prajurit pengawal pribadi bersenjata tombak panjang.

Namun, sebelum Ma Huang sempat menginstruksikan penyerbuan ke kediaman Tuan Kota, sebuah dentuman meriam besi yang sangat keras meledak dari arah sudut timur pelataran utama.

Bummm!

Api membara menyembur tinggi ke udara malam, membakar kediaman keluarga pejabat kota. Dari balik lorong jalan timur, sesosok pria berpenampilan mewah dengan jubah keemasan melangkah keluar dikawal oleh ratusan prajurit zirah baja.

Tuan Kota Yunjiang ternyata tidak pernah meninggalkan kota. Keberangkatan pasukan dua ribu prajurit ke Desa Qingshan hanyalah gertakan palsu untuk memancing Ma Huang keluar dari persembunyiannya di perbatasan.

Tuan Kota Yunjiang mengangkat pedang intan di tangan kanannya, menunjuk lurus ke arah Ma Huang yang berdiri di puncak menara gerbang.

"Kau masuk ke dalam perangkapku, Bocah Ma!" jerit Tuan Kota Yunjiang dengan tawa membahana yang memecahkan keheningan subuh.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!