Tiga tahun menikah, Rendy selalu dihina, diperlakukan seperti pembantu, dan dibeda-bedakan oleh ibu mertua serta iparnya karena hanya dianggap seorang sopir miskin tak berpendidikan. Clarissa, sang istri, hanya bisa diam menahan tekanan keluarga besarnya. Puncaknya, saat bisnis keluarga mengalami krisis, Rendy difitnah mencuri, dipaksa menandatangani surat cerai, dan diusir di tengah hujan deras tanpa membawa apa pun.
Namun, keluarga itu tak pernah tahu bahwa Rendy sebenarnya adalah satu-satunya ahli waris Pradipta Group—konglomerat terbesar yang sengaja menyamar demi menguji ketulusan cinta.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dian Mita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8: Hujan dan Pengusiran
Pintu kayu rumah kontrakan itu dibanting keras dari dalam oleh Dion. BRAK! Suara dentuman itu bergema di sepanjang gang sempit, menyisa ketulian dingin di telinga Rendy. Kunci selot diputar kasar, disusul suara gelak tawa berbaur puas dari Ibu Rosma dan Hendra yang terdengar samar-samar dari balik dinding.
Di luar, langit malam seolah ikut menumpahkan kemurkaannya. Angin kencang bertiup meliuk-liuk, menyapu dedaunan kering sebelum akhirnya bulir-bulir air hujan yang lebat turun menghantam bumi tanpa ampun. Dalam hitungan detik, pakaian tipis yang dikenakan Rendy basah kuyup. Air hujan yang dingin menusuk hingga ke pori-pori kulitnya, membasahi wajah dan luka memar di tangannya.
Rendy tidak bergerak. Ia berdiri membelakangi pintu, menatap lurus ke arah jalanan gang yang mulai tergenang air keruh. Ia sama sekali tidak membawa tas, dompet, atau uang sepeser pun. Seluruh barangnya ditinggalkan begitu saja di kamar sempit tempat ia menghabiskan tiga tahun masa penyamarannya.
Dari balik jendela kaca yang buram oleh terpaan air hujan, Rendy melihat siluet Clarissa yang masih terduduk lemas di sofa ruang tamu. Bayangan istrinya—atau kini bekas istrinya—tampak kaku dengan kepala menunduk dalam, diapit oleh keangkuhan ibu dan adiknya.
Rendy merapatkan jaket tipisnya, lalu melangkah pelan menembus derasnya hujan.
Setiap langkah kaki Rendy yang menyusuri genangan air menggelegarkan gema kehampaan di dadanya. Dinginnya air hujan yang mengguyur tubuhnya justru memantik ingatan yang sangat bertolak belakang—sebuah kenangan manis berbalut kehangatan yang pernah terukir indah tiga tahun lalu.
Malam itu, di kamar sempit yang sama, hujan deras juga turun membasahi atap seng kontrakan mereka. Hari itu adalah malam pertama setelah pernikahan sederhana mereka yang ditentang habis-habisan oleh Rosma. Tanpa perayaan mewah, tanpa gaun mahal, hanya ada Rendy dan Clarissa di dalam kamar yang dinaungi remang cahaya lampu minyak.
Clarissa saat itu gemetaran hebat karena dingin dan ketakutan akan masa depan mereka yang tak pasti. Namun Rendy menarik tubuh mungil istrinya ke dalam pelukan hangat di bawah selimut tebal yang melingkupi mereka berdua.
Di balik naungan kain selimut itu, dunia di luar yang dingin dan kejam serasa menghilang. Clarissa menyandarkan kepalanya di dada bidang Rendy, merasakan detak jantung suaminya yang teratur dan menenangkan. Jemari halus Clarissa yang dingin perlahan menyusup ke balik kaos Rendy, mengusap kulit dadanya yang hangat untuk mencari perlindungan.
Sentuhan kepasrahan itu menyulut percikan gairah yang membara di antara mereka. Rendy menunduk, menangkup wajah cantik Clarissa dengan kedua tangannya yang hangat, lalu mendaratkan ciuman dalam yang lembut di bibir istrinya. Ciuman itu membuai Clarissa, mengikis seluruh keraguan dan rasa takut yang bersemayam di dalam hatinya.
Di bawah selimut yang hangat, kebersamaan fisik mereka mengalir begitu intim dan memabukkan. Gesekan lembut antara kulit mereka yang hangat, tautan jemari yang erat di atas bantal, serta helaan napas terengah-engah yang memburu di celah malam menjadi saksi bisu betapa dalamnya rasa cinta yang menyatukan mereka. Clarissa menyerahkan seluruh jiwa dan raganya dengan kepasrahan penuh, membiarkan sentuhan dan dekapan hangat Rendy memanjakan tubuhnya hingga larut malam.
Malam pertama yang dipenuhi gejolak gairah dan janji setia itu terasa begitu nyata, seolah-olah baru kemarin terjadi.
Namun kini, kenangan hangat itu hancur berkeping-keping. Lembaran surat cerai di atas meja tadi malam membuktikan bahwa ketakutan telah menang mengalahkan cinta yang dulu begitu kuat.
Rendy menyapu air hujan yang mengalir menyusuri dahinya. Bibirnya tersenyum tipis, sebuah senyuman getir yang menyembunyikan rasa sakit yang paling dalam. Penyamarannya sebagai pria miskin tanpa harta telah tuntas. Ia telah menguji cinta sejati hingga batas akhirnya, dan malam ini, ujian itu berakhir dengan kepahitan.
Rendy terus melangkah keluar dari gang sempit menuju tepi jalan raya utama yang mulai sepi. Petir menyambar di langit malam, memancarkan kilatan cahaya putih yang menerangi wajah tegap Rendy. Baju dan celananya sudah sepenuhnya basah, menempel ketat di tubuhnya yang atletis.
Di dalam rumah kontrakan, Clarissa tiba-tiba bangkit dari sofanya.
"Clarissa! Mau ke mana kamu?!" teriak Rosma kaget dari meja makan.
Tanpa memedulikan panggil ibunya, Clarissa berlari menuju jendela depan, menempelkan telapak tangannya di atas kaca yang dingin dan basah. Dari celah tirai yang terbuka sedikit, mata Clarissa yang sembap mencari-cari sosok Rendy di tengah lebatnya hujan. Namun lorong gang di luar sudah kosong melompong. Hanya ada suara deburan air hujan yang menghantam tanah.
Clarissa meremas dadanya yang terasa begitu sesak. Air matanya menetes lagi, membasahi pipinya yang pucat. Keheningan kamar dan tiadanya sosok Rendy membuat rasa penyesalan yang luar biasa dahsyat menyergap jiwanya. Ia tahu ia telah bergeming diam, ia tahu ia telah membiarkan pria yang sangat mencintainya pergi membawa luka berat.
Sementara itu, di tepi jalan raya yang tergenang air, Rendy berdiri membisu di bawah deretan lampu jalan yang remang. Air hujan mengalir dari rambut hitamnya, menetes di ujung dagunya. Ia memejamkan mata sejenak, menarik napas panjang mengisi parunya dengan udara malam yang dingin, lalu membuangnya perlahan.
Rendy merogoh saku rahasia di dalam jas hitamnya yang masih ia kenakan di balik jaket. Cek bernilai puluhan miliar rupiah dan surat resmi berlogo Pradipta Group masih ada di sana, terbungkus plastik kedap air yang aman dari terpaan hujan.
"Tiga tahun sudah cukup," gumam Rendy dengan suara berat dan dingin. Wajahnya yang semula diliputi penderitaan kini berubah sepenuhnya. Sorot matanya kembali tajam, memancarkan wibawa dan kekuasaan mutlak dari seorang pimpinan tertinggi konglomerat terbesar di negeri ini.
Dari kejauhan jalan raya yang sepi, cahaya lampu mobil membelah kegelapan malam dan lebatnya hujan.
Suara deru mesin yang sangat halus namun perkasa terdengar mendekat. Cahaya sorot lampu ganda yang sangat terang memantul di atas genangan air jalanan, menembus tirai hujan menuju arah Rendy berdiri.
Sebuah mobil sedan mewah Maybach berwarna hitam legam dengan velg krom berkilau meluncur anggun, lalu perlahan menurunkan kecepatannya. Mobil impian para pengusaha papan atas itu berhenti memotong genangan air, berhenti persis di depan kaki Rendy yang basah kuyup.
Pintu penumpang bagian belakang sedan mewah itu terdorong terbuka dari dalam. Seorang pria paruh baya berseragam jas rapi dengan sarung tangan putih bergegas keluar sambil memegang sebuah payung hitam berukuran besar. Tanpa memedulikan sepatu kulit mahalnya yang terendam air hujan, pria itu berjalan cepat memayungi Rendy, lalu membungkukkan badannya sangat dalam hingga sembilan puluh derajat di hadapan Rendy.
"Selamat datang kembali, Presdir Rendy Pradipta," ucap pria itu dengan suara bergetar penuh hormat. "Armada Pradipta Group telah siap. Seluruh kota sedang menunggu pergerakan Anda."