NovelToon NovelToon
Jejak Kelima : Gerbang Rimba

Jejak Kelima : Gerbang Rimba

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Misteri / Petualangan
Popularitas:304
Nilai: 5
Nama Author: Narishea

Lima sahabat Pramuka Penegak — Bima, Arga, Gilang, Maira, dan Elina— masuk ke Rimba Larangan hanya untuk mencari jejak yang hilang.

Satu langkah salah, mereka terperosok ke dimensi lain yang tak terlihat.

Saat Elina tiba-tiba hilang tanpa jejak, Maira panik dan berteriak memanggil namanya sekeras-kerasnya.

Itulah kesalahan fatal mereka.

Teriakan itu membangunkannya.
BHAYAVEDIN — makhluk buta Sang Perasa Takut yang memburu setiap suara. Semakin keras mereka berteriak, semakin dekat ia datang.

Kini mereka terjebak dalam aturan mengerikan: dilarang bersuara.

Dengan satu teman hilang di dalam kabut dan makhluk itu yang terus memburu, satu-satunya cara pulang adalah memecahkan kode rumit di Gerbang Kelima.

Tapi bagaimana memecahkan kode saat kau bahkan dilarang untuk berteriak meminta tolong?

Berhasilkah mereka keluar??

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Narishea, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Part 19 : Rambut Air

Gilang pecah di detik ke-67.

HAAAH!!

Bukan napas biasa. Itu napas orang yang baru selamat dari tenggelam. Keras, sobek, putus asa. Suaranya mantul di dinding akar hutan yang hening.

Lima kepala yang cuma nongol mata sampai dahi di sungai hitam itu langsung kaku.

Lima Bhayavedin di bibir sungai berhenti ngaduk air.

Hening satu detik. Lalu tiga leher panjang itu miring barengan.

 Krek... krek... krek.

Bunyi tulang patah yang disengaja. Kepala mereka langsung ngunci ke satu titik. Ke Gilang.

Maira yang di belakang Gilang langsung merem, air matanya netes kecampur air hitam. Dia nahan jeritan pakai tangan sendiri yang udah gemeteran di bawah air.

Arga yang berada di samping Bima sontak berucap pelan dengan bibirnya, "Jangan naik... jangan naik, Lang."

Tapi Gilang udah di atas. Dadanya naik turun kayak pompa rusak. Dia gak bisa turun lagi. Paru-parunya udah teriak minta oksigen.

Dan di saat itulah Bima hilang.

Maira yang di sebelah Bima ngeliat paling jelas. Gak ada tanda-tanda. Ia panik luar biasa tapi berusaha untuk tidak bersuara.

Tadi Bima masih di sampingnya, bahunya nempel bahu Maira. Dingin. Kaku nahan napas. Lalu di bawah permukaan, sesuatu mengencangkan lilitannya.

Rambut itu.

Segepok rambut hitam, panjangnya gak masuk akal, mungkin lebih dari dua meter, melayang di dalam air hitam seperti ubur-ubur mati. Tadi cuma di pergelangan kaki Bima. Sekarang Maira melihat udah naik sampai pinggang, sampai dada. Melilit kenceng, masuk ke sela baju Bima.

Bima berontak di bawah air. Maira merasakan tendangan panik Bima di kaki dia. Tapi tendangan di bawah air ini gak ada tenaganya. Malah bikin Bima makin tenggelam.

Bima mencoba meraih tangan Maira. Jari-jarinya yang pucat berhasil nongol 3 senti di atas permukaan, menggapai.

Maira mau meraih. Jarinya udah nyentuh ujung kuku Bima.

Blup..

Bukan bunyi tenggelam. Itu bunyi seperti sumbat wastafel dicabut. Air hitam itu membuka mulutnya dan menelan Bima bulat-bulat.

Gak ada riak. Gak ada gelembung. Permukaan air tempat Bima tadi ada, mulus lagi dalam setengah detik, hitam mengkilat seperti kaca.

Arga yang tadinya fokus ke Gilang sekarang beralih ke Bima yang sudah menghilang.

" BIMA!!"

Ia tersadar dan langsung masuk kedalam air hitam mencari Bima.

Lima jadi tiga di permukaan.

"BIMA! ASTAGA BIMA!" Gilang yang masih setengah di atas permukaan langsung mau nyelam, tapi Elina narik kerah bajunya dari belakang.

"Jangan! Jangan Gilang! Di bawah ada sesuatu!" Elina, suaranya pecah. Dia yang paling sensitif. Dari tadi di bawah air, kakinya ngerasa ada yang lewat-lewat, bukan rambut, tapi kayak jari-jari kecil nyentuh pergelangan dia.

Gilang nggak dengerin Elina. Dia udah ambil napas gede dan langsung nyebur ke bawah, ngikutin arah Bima hilang. "BIMA! GUA NYUSUL!"

Tinggal Elina dan Maira di permukaan, dengan lima Bhayavedin yang sekarang udah jongkok semua di bibir sungai. Lutut mereka bunyinya _krek krek krek_ kayak kayu lapuk diinjak. Sepuluh tangan berbentuk akar pohon itu bergerak di dalamnya, sekarang udah masuk semua ke dalam air hitam. Ngaduk. Nyari.

Jarak tangan itu sama ubun-ubun Elina cuma 15 senti lagi.

Maira berenang diam-diam dengan susah payah kearah Elina. Matanya awas melihat pergerakan lima makhluk pohon yang sedang sibuk mengobrak-abrik air sungai hitam.

Elina sudah nangis beneran sekarang saat Maira sampai disisinya.

"Mai..kita mati di sini Mai." ucapnya pelan.

Elina melihat makhluk pohon itu, lalu ke Maira, melihat air hitam di bawah yang udah nelan Bima, Gilang, dan Arga. Ia putus asa.

" Sssttt, kita nggak bakalan mati disini."tegas Maira, matanya melihat sekeliling mencari tempat aman.

Ketemu...

Diseberang sungai hitam.

"Pegangan sama gue, El. Jangan lepas. Kalau di bawah ada sesuatu, jangan buka mulut."

Elina ngangguk, tangannya ngeremas tangan Maira sampai kukunya nancap.

Mereka berdua ambil napas terakhir, napas yang dingin lalu bersamaan membenamkan diri.

Dunia langsung mati.

Maira membawa Elina berenang didalam air menuju seberang sungai. Meski didalam air hitam pekat, tapi Maira mencoba mengikuti instingnya, berenang lurus kedepan.

Sementara dibawah air, Arga dan Gilang berusaha menyelamatkan Bima dari jeratan makhluk rambut yang melilitnya.

Ditarik kebawah tak membuat Bima pasrah. Ia melawan sebisanya dengan tendangan, pisau yang sempat ia keluarkan tadi, Bima gunakan untuk memutus lilitan di tubuhnya.

Di tengah pekatnya air hitam, hanya insting yang bisa mereka gunakan untuk menemukan teman mereka. Beruntung, gerakan berontak yang Bima lakukan berhasil membuatnya ditemukan oleh Arga dan Gilang.

Di sisi lain, Maira dan Elina berhasil sampai di seberang sungai dan keluar dari sungai hitam.

Keduanya langsung batuk-batuk sesaat keluar dari tempat itu. Napas mereka ngos-ngosan seperti habis lari 5 kilo. Elina dan Maira langsung menghirup udara banyak-banyak demi mengisi oksigen di dada yang rasanya sudah hampir habis.

" Mai... Kita.. Kita selamat."seru Elina beberapa menit setelahnya. Maira hanya tersenyum tipis penuh kelegaan.

Tapi rasa lega itu hanya sebentar. Didalam air ketiga teman mereka masih berjuang.

Maira sadar lalu meraih senter di tas kecilnya dan menyorot kedalam air.

" Kalian, bertahanlah."ucapnya penuh harap menatap nanar kedalam air yang hitam pekat.

***

***

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!