Ayana pikir cinta berarti selalu berada di sisi orang yang dicintainya. Ketika Angga kehilangan kekasih dan ibunya dalam waktu berdekatan, Ayana hadir untuk membantunya bangkit. Bahkan tanpa sepengetahuan Angga, Ayana diam-diam menggunakan segala yang dimilikinya untuk membantu pria itu meraih kesuksesan. Hingga mereka bertunangan dan pernikahan tinggal menghitung hari. Namun masa lalu Angga kembali. Rara, mantan kekasihnya, datang membawa luka, air mata, dan seorang bayi dalam kandungan. Perlahan, Angga mulai memilih Rara. Meninggalkan Ayana di hari fitting gaun pengantin Membiarkan Rara duduk di sampingnya sementara Ayana harus duduk di belakang Bahkan meminta Ayana mengalah dalam pencatatan pernikahan demi masa depan anak Rara. Sampai akhirnya Ayana sadar, Ia bukan lagi calon istri yang diprioritaskan. Ia hanya pilihan yang diminta untuk mengerti. Ayana pun pergi. Tanpa dendam. Tanpa membalas. Ia hanya berhenti menyelamatkan pria yang tidak pernah menyadari bahwa selama ini, dialah yang membuat hidupnya begitu mudah. Ketika Ayana kembali ke kota besar dan bertemu Kenan, seorang pewaris yang setara dengannya, hidupnya perlahan berubah. Sementara itu, kehidupan Angga mulai runtuh. Dan saat Angga akhirnya mengetahui siapa sebenarnya Ayana, semuanya sudah terlambat. Karena perempuan yang dulu rela berdiri di belakangnya kini telah menemukan seseorang yang bersedia berdiri di sisinya. Akankah Angga mendapatkan Ayana kembali, atau harus hidup dengan penyesalan karena telah kehilangan perempuan yang seharusnya menjadi istrinya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nittagiu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kencan Pertama?
Sejak kembali ke kota itu, hidup Ayana perlahan terasa lebih tenang. Tidak ada lagi pertengkaran yang harus ia hadapi. Tidak ada keputusan besar yang harus dibuat dalam keadaan terdesak. Kali ini, setelah sekian lama, Ayana bisa menjalani hari tanpa merasa harus memikirkan apa yang akan terjadi besok.
Ayana mematut dirinya di depan cermin. Dress selutut berwarna cerah dengan motif bunga sakura terlihat cantik di tubuh rampingnya. Jadwal shift-nya baru malam nanti. Artinya, pagi ini ia punya cukup banyak waktu untuk bersantai.
Dan yang membuatnya sedikit berdebar, hari ini ia akan bertemu Kenan lagi. Entah mengapa, setelah beberapa kali bertemu laki-laki itu, Ayana jadi lebih memperhatikan penampilannya.
Pagi itu, ia baru saja selesai bersiap ketika ponselnya berbunyi. Dengan penuh semangat, Ayana meraih ponselnya dari atas meja rias. Ia sudah tahu siapa yang mengirimnya pesan pagi ini.
Senyum di wajah Ayana langsung mengembang karena tebakkannya benar.
Aku sudah di depan.
Ayana menyentuh dadanya yang semakin berdebar. Hari ini, mereka bertemu karena keinginan mereka berdua. Bukan karena orang yang ingin mempertemukan mereka. Haru ini, Kenan ingin mengajaknya menghabiskan waktu berdua. Ayana mengambil tasnya lalu berlari turun menuju lantai satu.
Dari ruangan lain, sang ibu berjalan cepat. “Mau ke mana? Bukannya hari ini libur dan baru masuk malam nanti?” Wanita paruh baya itu menatap aneh putri semata wayangnya.
“Keenan sudah menunggu.” Wajah Ayana bersemu, apalagi menatap tatapan menggoda dari sang ibu.
Gadis itu kembali berlari cepat menuju pintu. Begitu sampai di depan rumah, ia melihat Kenan berdiri di samping mobil. Pria itu langsung tersenyum ketika melihatnya.
“Kamu sudah siap?”
Ayana mengangguk. “Sudah.”
Kenan membukakan pintu mobil untuk Ayana tanpa banyak bicara. Hal sederhana seperti itu sebenarnya sudah sering Keenan lakukan. Namun entah mengapa, hari ini Ayana memperhatikannya lebih dari biasanya. Mungkin karena hari ini tidak ada siapa pun di antara mereka. Tidak ada keluarga atau perjodohan.
Kenan tidak langsung membawa Ayana ke tempat yang mewah. Ia justru mengajak gadis itu ke sebuah tempat makan sederhana di pinggir kota yang terkenal dengan suasananya yang nyaman.
“Aku kira kita akan makan di restoran,” kata Ayana ketika melihat tempat itu.
Kenan tertawa kecil. “Aku bisa mengajakmu ke restoran kalau kamu mau. Tapi aku ingin hari ini kita santai saja.”
Ayana melihat sekeliling. Tempat itu memang sederhana. Beberapa meja berada di bawah pepohonan, sementara suara kendaraan dari jalan utama terdengar samar. Tapi anehnya, Ayana merasa nyaman sengan suasana itu.
Mereka memesan makanan, kemudian menghabiskan waktu dengan membicarakan hal-hal kecil. Tentang pekerjaan mereka saat ini, makanan yang mereka sukai serta kebiasaan-kebiasaan kecil yang biasa mereka lakukan. Lalu tertawa karena hal-hal sederhana yang sebenarnya tidak terlalu lucu.
Sesekali Kenan bercerita tentang dirinya dan Ayana hanya mendengarkan. Ayana bahkan tidak menyadari bahwa sejak tadi ia cukup sering tersenyum.
Setelah makan, mereka berjalan ke sebuah taman yang tidak terlalu jauh. Langit sore mulai berubah warna. Udara terasa lebih sejuk dibandingkan siang tadi.
Ayana berjalan di samping Kenan tanpa banyak bicara. Untuk beberapa saat, ia justru menikmati keheningan itu.
“Kamu kelihatan lebih santai hari ini,” ujar Kenan tiba-tiba.
“Mungkin karena hari ini aku tidak perlu memikirkan banyak hal.” Ucap Ayana. Benar, setelah memutuskan kembali ke rumah orang tuanya, Ayana tidak lagi memikirkan banyak hal berat yang beberapa waktu lalu terjadi dalam hidupnya.
“Aku senang melihatmu seperti ini lagi. Benar-benar menjadi Ayana yang dulu.”
Setelah sempat menatap Keenan, Ayana kembali menatap jalan di depannya.mKenan tidak pernah membuatnya merasa harus segera melupakan masa lalu. Laki-laki ini juga tidak pernah memaksanya memberikan jawaban tentang bagaimana perasaannya.
Keenan hanya hadir dan memastikan Ayana tetap nyaman berada di samping nya. Dan mungkin, justru karena itulah Ayana merasa perlahan bisa bernapas lebih lega.
Menjelang malam, Kenan mengantarnya pulang karena Ayana akan ke rumah sakit. Mobil yang dikendarai Keenan berhenti di depan rumah milik orang tua Ayana.
“Terima kasih untuk hari ini.” Ayana membuka sabuk pengaman, sebelum turun dari mobil ia menoleh kepada Kenan.
Keenan menatap Ayana lalu mengangguk.
Ayana kemudian turun dari mobil. Namun sebelum masuk ke rumah, ia sempat menoleh sekali lagi. Kenan masih berada di dalam mobil dan melambaikan tangan kepadanya.
Setelah mobil Kenan menghilang dari pandangan, Ayana berdiri beberapa saat di depan rumah. Hari ini sebenarnya tidak terjadi sesuatu yang luar biasa. Tidak ada kejadian besar, atau kata-kata cinta, apa lagi janji-janji manis. Mereka hanya menghabiskan waktu selayaknya teman. Tetapi untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Ayana pulang dari bertemu seorang pria tanpa merasa takut terhadap apa yang mungkin akan terjadi setelahnya.
Dan malam itu, ketika berbaring di tempat tidur, Ayana menyadari satu hal kecil. Ia ternyata mulai menikmati kehadiran Kenan dalam hidupnya.
Emak akan memberi 5 bintang jika Angga benar-benar hancur
slah sndiri lbh memilih memungut smpah masa lalu....
mna g sadar diri... egois.... maunya sll di mngerti... tpi tak mau mngrti org lain....
harusnya km sadar angga.... perempuan yg dlu mninggalknmu... tk akn mngkin brubah.... dan mau mnemanimu di saat susahmu....
lihatlah skrg.... disaat km butuh suport & butuh ktenangan.... masa lalumu tak prnah mau mngrti keadaanmu... tak peduli dgn smua msalahmu... krna dia maunya sll km yg harus mngerti dia....