Dia adalah monster yang dibuang dunia. Tapi matanya menyimpan rahasia yang membuat Langit gemetar.
Liu Xuanyuan — yatim piatu, dijuluki "Monster Bermata Ganda", hidup diabaikan di gerbang Sekte Awan Langit. Tidak ada yang tahu bahwa Pupil Ganda di matanya bukan kutukan, melainkan jendela ke segala kemungkinan yang takdir sembunyikan. Hingga sebuah cincin kuno jatuh ke tangannya, dan kebenaran tentang orang tuanya, tentang langit, dan tentang dirinya mulai terungkap satu per satu.
Dia tidak lahir untuk dipimpin. Dia lahir untuk memburu takdir yang ditulis orang lain.
Perjalanan dari penjaga gerbang yang tidak diinginkan... hingga menjadi satu-satunya yang berani menatap Langit Abadi dan berkata: "Aku tidak menerima takdirmu."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RENDY Marcelius, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PEDANG DAN TULANG DI JALAN DEBU
Matahari terbit di atas atap-atap jerami Kota Awan Merah, membasuh kabut tipis yang menyelimuti jalanan berbatu. Xuanyuan terbangun lebih dulu. Di loteng yang sempit, cahaya pagi menembus celah jendela, jatuh tepat ke wajah Lian Yue yang masih tertidur tenang. Ia menatapnya lama gadis ini telah melepaskan segalanya demi menemaninya, dan ia bahkan belum bisa menjanjikan apa-apa selain bahaya.
Ia bangkit perlahan, tidak membangunkannya. Perutnya masih keroncongan, tapi ia menahannya. Di lantai kayu yang berderit, ia duduk bersila, menutup matanya.
"Kau ingin mencoba menyalurkan Qi, Nak? Tubuhmu belum pernah benar-benar dikultivasi. Kau hanya tahu cara bertahan, bukan tumbuh." suara Lang Wuyan terdengar mendadak.
"Aku tidak tahu caranya," bisik Xuanyuan dalam hati. "Di Sekte Awan Langit, aku hanya melihat orang lain melakukannya dari jauh. Tidak ada yang mau mengajak bicara, apalagi mengajar."
"Kalau begitu dengarkan baik-baik. Qi bukanlah sesuatu yang kau panggil dari luar. Ia sudah ada di dalam dirimu, menunggu dibebaskan. Bayangkan tubuhmu adalah gua yang gelap. Qi adalah air yang terperangkap di dasar gua. Kau tidak memompa air itu keluar kau membuka jalan agar ia mengalir sendiri."
Xuanyuan mengikuti instruksi itu. Ia menarik napas dalam, membiarkan pikirannya tenang. Dan perlahan, ia merasakannya bukan panas, bukan cahaya, tapi denyutan lembut di pusar, seperti jantung kedua yang baru pertama kali berdetak.
"Itu dia. Lautan Qi-mu. Tapi lihatlah... ada sesuatu yang menahannya. Seperti sumbat di mulut gua. Itu bukan karena kau lemah. Itu karena Segel Langit pertama masih utuh. Ia membatasi seberapa banyak yang boleh kau gunakan."
"Berarti aku lemah selamanya?"
"Tidak. Ia membatasi, tapi ia juga melindungi. Tanpa segel itu, tubuhmu yang rapuh akan hancur seketika oleh kekuatan yang tersimpan di dalam. Kau tidak lemah, Xuanyuan. Kau hanya belum siap. Dan kesiapan itu tidak datang dengan sendirinya. Ia datang melalui luka, melalui lapar, melalui keputusasaan yang kau lewati sambil tetap berdiri."
Langkah kaki terdengar di luar pintu, disertai suara ketukan kasar. Xuanyuan membuka mata, Qi di dalam dirinya seketika lenyap seperti tidak pernah ada.
Lian Yue terbangun kaget. "Siapa itu?"
"Jangan keluar dulu," bisik Xuanyuan, berjalan ke pintu dan membukanya sedikit.
Di bawah, di lorong penginapan, berdiri tiga orang dengan jubah hitam berbordir awan putih di dada. Di pinggang mereka tergantung pedang bermata lebar. Salah satu dari mereka menunjuk ke arah loteng.
Di atas sana. Pemilik kedai melihat dua orang lusuh menyewa kamar semalam. Salah satunya luka parah. Pasti mereka.
Xuanyuan menutup pintu perlahan, punggungnya menempel pada kayu. Wajahnya tegang. "Mereka datang. Prajurit Kerajaan Langit Timur. Atau sekutunya."
"Kita kabur lewat jendela," kata Lian Yue cepat, sudah berdiri dan merapikan jubahnya.
"Jalan bawah sudah dijaga. Langit di luar sana juga tidak aman mereka pasti punya pengamat." Xuanyuan menatap sekeliling ruangan. Matanya jatuh pada papan lantai yang longgar di sudut belakang. "Ada ruang di bawah lantai. Tapi sempit. Dan berdebu."
"Cukup."
Mereka mengangkat papan itu, turun ke ruang sempit di antara balok penyangga, lalu menutupnya kembali tepat saat pintu kamar terbuka keras.
Cari! Mereka tidak bisa jauh!
Langkah kaki berat menginjak lantai tepat di atas kepala mereka. Debu jatuh ke wajah Xuanyuan dan Lian Yue. Mereka menahan napas. Jantung Xuanyuan berdebar kencang, bukan karena takut tertangkap tapi karena di dalam kegelapan itu, Pupil Gandanya berdenyut cepat. Ia melihat sesuatu yang tidak dilihat orang lain.
Di lantai, di tempat sepatu prajurit itu berdiri, ada jejak Qi yang samar. Bukan milik Kerajaan Langit Timur. Jejak itu lebih tua, lebih dingin, dan berbau... kematian yang membeku.
"Ini bukan pengejar biasa. Mereka adalah Pemburu Bayangan sekelompok pembunuh yang dijual kepada penawar tertinggi. Dan jejak Qi mereka... berasal dari Domain Lautan Darah. Mereka sudah menunggu di sini sebelum kau tiba, Xuanyuan. Mereka tidak mengejar kau karena pernikahan berdarah itu. Mereka mengejar kau sejak lama."
Xuanyuan menegang. "Mereka tahu aku akan datang ke sini," bisiknya tanpa suara.
Tidak ada di sini! Lanjut cari! Mereka tidak bisa hilang begitu saja!
Langkah kaki menjauh. Pintu ditutup. Tapi Xuanyuan tidak bergerak. Ia menunggu lama, sampai suara di bawah benar-benar lenyap.
Mereka naik kembali ke kamar. Xuanyuan berjalan ke jendela, mengintip dari balik tirai. Di alun-alun kota, di depan menara pengumuman, ada papan gambar. Wajahnya digambar kasar tapi cukup jelas terpampang di sana. Di bawahnya tertulis: DICARI HIDUP ATAU MATI PENCULIK PUTRI KERAJAAN LANGIT TIMUR. HADIAH: SERATUS BATU ROH.
Lian Yue melihatnya dan wajahnya pucat. "Mereka memburumu dengan harga itu... di setiap kota di Benua Tengah. Kita tidak bisa bersembunyi di tempat terbuka lagi."
Xuanyuan tidak menoleh. Ia menatap gambar dirinya yang digambar dengan garis kasar, seakan ia adalah binatang buas. Perlahan, ia mengeluarkan benda yang tersembunyi di dalam jubah gulungan kulit hitam yang ia ambil dari mayat algojo di menara pengantin. Ia belum membukanya sampai sekarang.
Darah yang mengering di ujung gulungan itu masih berwarna merah tua.
"Aku tidak akan bersembunyi," katanya pelan tapi tegas. "Mereka menulis namaku di papan pengumuman. Baiklah. Maka aku akan menulis nama mereka di buku ini. Satu per satu."
Ia meletakkan gulungan itu di meja kayu yang goyang. Jari telunjuknya melukai ujung pedang patahnya sendiri, meneteskan darah ke atas kulit hitam yang tua. Darah itu tidak mengalir ia diserap, seakan kulit itu sendiri yang bernapas.
Dan di atas halaman pertama, terbentuklah tulisan berwarna merah menyala:
XUAN HAO - PANGERAN KERAJAAN LANGIT TIMUR UTANG DARAH: HIDUP INNOCENT YANG TIDAK BERSALAH
Di bawah nama itu, ada ruang kosong yang menunggu diisi.
Lian Yue menatapnya dengan campuran kekaguman dan ketakutan. "Ini... ini apa, Xuanyuan?"
"Buku Catatan Utang Darah. Setiap nama yang tertulis di sini... akan kutagih sampai lunas. Tidak peduli berapa lama. Tidak peduli seberapa jauh mereka lari."
Ia menutup gulungan itu, menyimpannya kembali di dalam jubah, menekannya ke dada seakan itu adalah jantung kedua yang berdetak dengan irama dendam.
"Mereka membuatku menjadi penjahat di mata dunia. Baiklah. Maka aku akan menjadi penjahat yang menghukum mereka. Dan mulai hari ini... tidak ada lagi pelarian."
Xuanyuan berbalik, matanya yang tertutup kain mantra hitam memancarkan tekad yang baru bukan sekadar bertahan hidup, tapi menaklukkan dunia yang telah menginjak-injaknya sejak lahir.
"Kita pergi. Tidak lewat pintu depan. Ada jalan bawah tanah yang digunakan pedagang gelap. Aku melihatnya di mata pria buta yang menyeberangkan kita kemarin. Jejak ingatannya masih tersisa."
"Kau bisa melihat ingatan orang lain?" tanya Lian Yue takjub.
"Tidak selalu. Hanya saat emosi mereka sangat kuat, atau saat darahku menyentuh tanah yang sama dengan mereka. Pupil Ganda... ia banyak melihat hal-hal yang tidak ingin dilihat orang lain."
Mereka turun melalui tangga belakang, menyusuri lorong sempit yang berbau lembap, dan muncul di gang belakang kota yang sepi. Di depan mereka, jalan tanah membentang ke arah pegunungan yang menjulang tajam ke langit tempat di mana sekte-sekte pertapa, keluarga kuno, dan bahaya yang lebih besar menunggu.
Xuanyuan berjalan di depan, langkahnya masih berat tapi tidak lagi ragu. Di pinggangnya tergantung pedang tulang hitam yang patah. Di dadanya tersembunyi gulungan utang darah. Dan di matanya... rahasia tertua di dunia mulai terbuka sedikit demi sedikit.