NovelToon NovelToon
Hati yang Dikhianati, Terjerat Sang Mafia

Hati yang Dikhianati, Terjerat Sang Mafia

Status: tamat
Genre:Romantis / Mafia / Wanita perkasa / Selingkuh / Sekretaris / Office Romance / Tamat
Popularitas:210
Nilai: 5
Nama Author: Beatriz novaes

Malam itu, Pietra pulang membawa kejutan untuk sang suami—dan menemukan suaminya dalam pelukan sahabatnya sendiri. Bukan hanya dikhianati; ia dipukul, direndahkan, dan baru menyadari bahwa pernikahannya selama ini hanyalah kedok untuk menguasai warisannya.

Maka ia memilih menghilang. Sendirian, tanpa tujuan, ia naik pesawat pertama yang membawanya sejauh mungkin: Moskow.

Di kota asing yang dingin itu, Pietra bertekad membangun ulang dirinya dari nol. Tapi takdir justru menempatkannya di jantung dunia yang paling berbahaya—sebagai sekretaris pribadi Marco D'Amato, pengusaha tampan berdarah dingin yang menyimpan satu rahasia mematikan: ia adalah Don dari mafia terkuat di Rusia.

Marco terbiasa mengendalikan segalanya. Namun wanita yang menolak tunduk, yang membalas setiap tatapannya tanpa gentar, yang berani berkata "Aku bukan milikmu"—itu di luar kendalinya. Dan semakin Pietra menolak dilindungi, semakin Marco tak sanggup melepaskannya.

Di antara kontrak yang ditandatangani dengan darah, musuh yang mengintai dari bayang-bayang, dan masa lalu yang menolak mati, satu aturan berlaku mutlak di dunia Marco: pengkhianatan hanya dibayar dengan nyawa.

Pietra datang untuk melarikan diri dari luka. Ia tak pernah menyangka akan terjerat dalam permainan yang jauh lebih berbahaya—permainan di mana hati bisa menjadi senjata paling mematikan.

Ketika cinta dan dendam bertemu di dunia yang tak mengenal ampun, siapa yang akan bertahan sampai akhir?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Beatriz novaes, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 31

MARCO D'AMATO

Pintu tertutup di belakang Juliano, dan keheningan kembali memenuhi kantor seperti sebuah peringatan.

Aku tetap duduk beberapa detik, menatap meja Pietra yang kosong.

Kursinya tertata terlalu rapi. Buku catatannya tertutup.

Segalanya berada di tempatnya, seperti dirinya. Selalu memegang kendali. Selalu tegas.

Namun begitu... terlalu rapuh untuk duniaku.

Kuusap rahangku, merasakan ketegangan yang berdenyut di sana.

"Menjauhlah," suara Juliano bergema di kepalaku.

Aku tersenyum tanpa humor.

Aku tak sanggup mundur...

Aku bangkit perlahan dan berjalan ke jendela. Moskow terus berdenyut di bawah sana, acuh tak acuh pada kenyataan bahwa aku baru saja mendapatkan sebuah titik lemah.

Satu titik lemah yang tak kupilih. Yang begitu saja terjadi.

Pietra bukan pengalih perhatian.

Ia adalah pusat perhatianku.

Dan itu membuatku berbahaya—bagi diriku sendiri, dan baginya.

Aku mengangkat telepon.

"Pengawal," ucapku begitu panggilan diangkat. "Mulai sekarang, segala hal yang keluar-masuk kantorku harus lewat kalian. Tanpa kecuali. Aku mau laporan harian. Diam-diam."

Aku memutus sambungan sebelum sempat mendengar jawaban apa pun selain "Baik, Bos."

Perlindungan berawal dari kesenyapan.

Aku kembali ke meja dan membuka agenda. Rapat, kontrak, angka-angka. Semua hal yang selalu menjaga diriku tetap utuh.

Berhasil selama beberapa menit. Sampai aroma itu kembali muncul dalam ingatan. Manis. Ringan. Membekas dengan cara yang menggelikan.

Aku menutup berkas itu keras-keras.

"Kendalikan dirimu," gumamku.

Ini bukan sekadar soal hasrat.

Ini soal apa yang ia bangkitkan dalam diriku saat ia tidak sedang mencoba membangkitkan apa pun.

Caranya bicara padaku tanpa rasa takut.

Caranya menentangku tanpa meminta izin.

Caranya masuk ke ruangan dan membuat seisi ruang menyesuaikan diri dengan langkahnya.

Ia tak menyadarinya.

Dan aku belum bisa membiarkannya menyadari...

Pintu kantor terbuka dengan sebuah ketukan lembut.

Pietra.

Ia masuk dengan sikap tanpa cela, air muka datar, profesional. Tak ada tanda-tanda dari apa yang terjadi sebelumnya. Tak ada tuntutan penjelasan. Tak ada tudingan.

Itu menghantamku lebih keras daripada konfrontasi apa pun.

"Ada yang Anda butuhkan lagi sebelum aku pergi?" tanyanya, lugas.

Aku mengamati setiap detailnya: rambut tergerai dalam gelombang lembut, gaunnya kini tertutup blazer, tatapannya yang mantap. Ia sedang berusaha mengembalikanku ke tempat yang tadi telah kulewati.

"Tidak," jawabku setelah sesaat. "Kau boleh mengakhiri hari dan pulang."

Ia mengangguk.

Sebelum keluar, ia berhenti.

"Marco."

Aku mengangkat pandangan.

"Yang terjadi tadi..." ia memulai, memilih kata-katanya dengan hati-hati. "Tidak boleh terulang lagi."

Aku mengangguk.

"Tidak akan."

Itu sebuah janji.

Bukan karena aku tak menginginkannya.

Tapi karena, kalau ada yang memutuskan untuk memakai Pietra untuk melawanku, aku butuh memastikan ia berada jauh dari garis tembak.

Sekalipun itu berarti aku harus menjaga jarak.

Sekalipun itu menyakitkan.

Ia keluar.

Aku kembali sendirian.

Dan untuk pertama kalinya dalam sekian tahun, aku menyadari bahwa bukan rasa takut pada mafia saingan yang membuatku tetap waspada.

Melainkan kemungkinan kehilangan dirinya, tanpa ia pernah tahu betapa ia telah menjadi begitu berarti.

Kemungkinan kehilangan dirinya, bahkan sebelum aku sempat menjadikannya milikku.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!