NovelToon NovelToon
Pengasuh Manis Sang Direktur

Pengasuh Manis Sang Direktur

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Pengasuh
Popularitas:556
Nilai: 5
Nama Author: Mutiara Putri

Demi kabur dari kawin paksa—dijual ayahnya yang mabuk demi melunasi utang—Sekar, gadis desa yang selalu menahan lapar demi menyembunyikan tubuhnya yang "terlalu menonjol", nekat merantau ke Surabaya dan jadi pengasuh di rumah keluarga konglomerat Adiwijaya.

Di rumah megah itu ada Narendra—orang memanggilnya Nara. Putra bungsu yang dingin, sempurna, dan seolah tak tersentuh. Priyayi, direktur muda, es yang tak pernah mencair. Sekar cuma punya satu rencana: menunduk, jangan menonjol, kumpulkan uang, lalu pergi diam-diam.

Tapi malam itu, saat rahasia tubuhnya nyaris terbongkar, justru Nara yang menemukannya lebih dulu. Dan lelaki yang katanya tak pernah kehilangan kendali itu... malah berbisik pelan:
**"Mulai sekarang, kau hanya boleh kenyang di depanku."**

Sejak itu, semuanya berubah. Ipar yang memfitnahnya mencuri, preman yang terus mengganggu, keluarga sosialita yang memandang rendah "gadis desa yang tak tahu bibit-bebet-bobot"—satu per satu dihadapi. Nara membelanya di depan semua orang; dan Sekar sendiri belajar melawan, bangkit dari nol dengan tangannya sendiri.

Demi Sekar, Nara rela keluar dari perusahaan keluarga, memulai dari titik nol, membalik keadaan sampai jadi orang terkaya—hanya untuk menaruh semua hartanya atas nama perempuannya.

Dari pengasuh yang menahan lapar... jadi nyonya besar yang dimanja seumur hidup.

Waktu wartawan bertanya kenapa ia sekeras itu bekerja, sang konglomerat yang biasanya dingin cuma melirik istrinya, lalu tersenyum tipis:
**"Istriku manja. Ya, harus kumanjakan."**

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mutiara Putri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 7

Bab 7

Botol yang Hilang

Botol kecil itu tidak ada di tempatnya.

Aku membongkar lipatan baju di lemari plastik, memeriksa bawah bantal, lalu merangkak melihat kolong ranjang. Debu menempel di telapak tangan. Tidak ada.

Biasanya botol kusimpan di belakang pot kecil pada ambang jendela. Setelah malam tadi memakainya, aku yakin telah membungkusnya dengan sapu tangan dan mengembalikannya. Pagi ini hanya ada pot kosong dan bekas lingkaran tipis di debu.

Aku mengulang urutan semalam dalam kepala. Menutup pintu setelah mandi. Mengeringkan botol. Membungkusnya. Menaruhnya di ambang. Setelah itu aku mendengar suara di lorong, tetapi tidak membuka pintu. Pagi-pagi sekali aku ke kamar mandi umum untuk wudu. Saat itu kamar terkunci.

Berarti botol diambil sebelum aku menutup pintu, atau seseorang memiliki kunci cadangan.

Aku memeriksa sapu tangan pembungkusnya. Benda itu tergeletak di bawah pot, terlipat terlalu rapi. Bukan jatuh. Seseorang sengaja mengambil botol dan meninggalkan kainnya.

Jantungku menghantam tulang rusuk.

Pintu diketuk.

"Mbak Sekar?" suara Bu Nah terdengar. "Kau belum ke dapur?"

Aku memasukkan pakaian yang berserakan ke lemari. "Sebentar, Bu."

Bu Nah membuka pintu yang memang tidak sempat kukunci. Matanya membesar melihat kamar.

"Astaga, cari apa?"

"Kancing. Kancing blus saya lepas."

"Sampai kasur dibalik?"

Aku memaksa tertawa. "Kancingnya kecil."

Bu Nah membantu melihat lantai. Rasa bersalah menusuk karena dia sungguh-sungguh mencarikan benda yang tidak pernah hilang.

"Kancing warna apa?"

"Putih. Kecil."

Bu Nah mengambil kotak jahit dari rak. "Kalau tidak ketemu, pakai ini. Ada banyak. Baju kerja jangan sampai terbuka, nanti Ratih dapat bahan omelan lagi."

Dia memilih kancing yang hampir sama dan menyerahkannya. Aku menerimanya sambil menunduk, tidak sanggup menatap kebaikan sederhana itu.

"Terima kasih, Bu."

"Lain kali bilang kalau butuh. Jangan kamar dibongkar seperti habis kemalingan."

Kata kemalingan membuat tengkukku semakin dingin.

"Nanti saja dilanjutkan. Bu Retno sudah bangun. Sarapan harus disajikan."

"Iya, Bu."

Aku mengikuti Bu Nah ke dapur dengan kaki lemas. Siapa yang masuk ke kamarku? Pekerja lain? Ratih? Atau Den Nara?

Bayangan terakhir paling membuatku takut. Semalam dia mungkin berada di lorong. Aku tidak melihat siapa pun, hanya mendengar suara kecil di luar pintu.

***

Aku menuang bubur ayam ke mangkuk satu per satu. Tangan kiriku menopang baki, tangan kanan memegang sendok sayur. Pak Suryo dan Bu Retno sudah duduk. Mas Bagas membaca pesan di ponsel. Mbak Ratih menyuapi Arka yang berada di kursi bayi.

Den Nara masuk terakhir.

Dia tampak setenang biasa. Kemeja abu-abu, rambut rapi, wajah tanpa tanda bahwa semalam mungkin berdiri di dekat kamarku. Bayu berjalan di belakangnya, menyerahkan map sebelum berhenti di ambang ruang makan.

Bayu sempat melihatku. Tatapannya profesional, tetapi berlangsung sedikit terlalu lama, seakan dia sedang mencocokkan wajah dengan informasi dalam map. Aku menunduk. Ketakutanku bukan lagi hanya tentang botol. Jika Den Nara menyuruh kepala keamanan menyelidikiku, seluruh cerita tentang Bapak bisa segera tiba di rumah ini.

"Kita bicara di kantor nanti," kata Den Nara.

"Siap," jawab Bayu.

Aku menunduk dan membawa mangkuk ke tempat Den Nara.

Lalu melihat benda di samping cangkir kopinya.

Botol kaca kecilku berdiri tegak di atas meja.

Tutup kayunya, retak berlapis lilin dekat dasar, bahkan simpul benang yang dipasang Mbah Sari. Tidak mungkin salah.

Tanganku berhenti di udara.

"Sekar?" panggil Bu Retno.

Baki miring. Mangkuk bubur meluncur dan jatuh. Suara pecah memekakkan ruangan. Bubur panas memercik ke punggung tanganku dan lantai.

Aku tersentak menahan sakit.

"Ceroboh sekali!" Ratih langsung berseru. "Kerja begitu saja tidak becus. Kalau kena Arka bagaimana?"

Arka terkejut dan mulai merengek. Mas Bagas cepat memindahkan kursi bayi menjauh.

Den Nara berdiri. Dia menangkap pergelangan tanganku sebelum sempat kusembunyikan.

"Kena panas?"

"Sedikit, Den."

"Bu Nah, air mengalir. Bukan es."

Dia membawaku ke wastafel dekat ruang makan dan menahan tanganku di bawah air sejuk. Semua orang melihat. Aku ingin menarik diri, tetapi kulitku masih menyengat.

"Saya bisa sendiri."

"Diam dulu."

Ibu jarinya berada dekat nadiku. Wajahnya tidak menunjukkan apa pun, tetapi matanya bergerak ke botol di meja, memastikan aku tahu dia melihat reaksiku.

Dia yang mengambilnya.

"Nara, biar Bu Nah yang urus," kata Bu Retno.

Den Nara melepaskan tanganku. "Alirkan dua puluh menit. Kalau melepuh, periksa ke klinik."

"Dua puluh menit terlalu lama," gumamku. "Pekerjaan saya..."

"Kulitmu lebih penting daripada satu mangkuk bubur."

Ucapan itu keluar begitu saja. Ruang makan kembali diam. Bahkan Arka yang tadi merengek kini sibuk menggigit mainan karet.

Den Nara tampak sadar semua orang mendengar. Rahangnya mengeras, lalu dia mengambil serbet seolah kalimat tadi tidak berarti apa-apa.

Bu Nah mengambil alih. Ratih masih mengomel sambil mengelap meja.

Air mengalir di atas kulit yang memerah. Bu Nah memeriksa apakah ada cincin atau kain yang menghambat, lalu mengeringkan bagian sekitar luka tanpa mengoleskan odol atau bahan aneh. "Den Nara benar. Kalau melepuh, kita ke klinik. Jangan pakai kecap seperti orang kampung dulu."

Aku hampir tersenyum. "Saya juga orang kampung, Bu."

"Orang kampung boleh, perawatan luka jangan kampungan."

Percakapan kecil itu menurunkan ketegangan, tetapi hanya sebentar. Botol tetap berada beberapa meter di belakangku.

"Baru dipuji sedikit sudah melamun."

"Mbak Ratih," kataku pelan, "saya akan membersihkan semuanya."

"Memang harus. Jangan pikir karena Nara membelamu, kesalahanmu hilang."

Den Nara kembali ke kursinya. Sebelum duduk, tangannya menutup botol kecil dan memasukkannya ke saku celana.

Gerakan itu tidak luput dari mataku.

Sarapan berlanjut dengan udara kaku. Aku membersihkan pecahan setelah tangan selesai dialiri air, lalu menyajikan mangkuk baru. Setiap kali melewati kursi Den Nara, saku tempat botol itu tersimpan seperti menarik seluruh pandanganku.

***

Setelah meja hampir kosong, Den Nara meletakkan sendok.

"Sekar."

"Iya, Den."

"Kamar saya perlu dibersihkan pagi ini."

Bu Nah berhenti membawa piring. Mbak Ratih bahkan tidak menyembunyikan keterkejutannya.

"Bukannya kamar Nara tidak pernah boleh disentuh orang?" tanya Ratih.

"Hari ini boleh."

"Bu Nah bisa."

"Saya meminta Sekar."

Nada Den Nara datar. Justru karena itu, tidak ada ruang untuk membantah. Pak Suryo melirik putranya, lalu kepadaku. Bu Retno memegang cangkir tanpa minum.

Aku meremas ujung celemek. "Sekarang, Den?"

"Setelah tanganmu tidak sakit."

Ratih mendengus. "Jangan-jangan nanti ada barang hilang lagi."

Mas Bagas menatap istrinya tajam. "Ratih."

Den Nara mengabaikannya. Dia berdiri dan berkata kepada Bu Nah, cukup keras agar semua orang mendengar, "Pintunya tetap terbuka. Sekar membersihkan ruang kerja luar. Bu Nah bisa memeriksa setelah selesai."

Keterangan itu membuat tugas tersebut terdengar resmi dan wajar. Namun aku tahu kamar bukan tujuan sebenarnya.

Botolku ada di sakunya.

Dia berjalan menuju tangga. Setelah dua langkah, dia menoleh.

"Ikut."

Aku memandang Bu Nah. Dia mengangguk kecil, seolah menyuruhku tidak membuat majikan menunggu. Aku melepaskan celemek, memeriksa tangan yang mulai memerah, lalu mengikuti.

"Kalau sakit, panggil saya," kata Bu Nah.

"Iya, Bu."

Ratih menyandarkan tubuh ke kursi. "Pintunya terbuka pun belum tentu pikirannya bersih."

Aku berhenti. Sebelum sempat menunduk dan meneruskan langkah, Bu Retno meletakkan cangkir.

"Ratih, jaga ucapanmu di depan meja keluarga. Nara sudah menjelaskan tugasnya."

Wajah Ratih menegang. Teguran itu tidak membuatku lega. Kini dia punya satu alasan tambahan untuk menganggapku sumber hilangnya kedudukannya di rumah sendiri.

Setiap anak tangga terasa lebih tinggi daripada sebelumnya.

Pada anak tangga kelima, tanganku yang terkena bubur berdenyut. Pada anak tangga ketujuh, aku teringat malam Bapak menemukan uang simpananku dan memaksaku berlutut sampai mengaku hendak kabur. Pada anak tangga kesembilan, aku sadar ketakutanku kepada Den Nara memakai bayangan lelaki lain.

Dia belum pernah memukul, mencaci, atau merampas sesuatu tanpa memberiku kesempatan. Namun tubuhku tidak memahami perbedaan itu. Tubuhku hanya tahu rahasia telah berada di tangan orang yang lebih berkuasa.

Den Nara tidak berbicara. Aku berjalan dua langkah di belakangnya, mendengar detak jam dinding bercampur dengan detak jantung sendiri. Di lantai atas, lorong sepi dan terang. Pintu ruangannya berada di ujung.

Dia berhenti di depan pintu dan mengeluarkan botol kecil dari saku.

"Ini yang kau cari sejak pagi?"

Aku tidak bisa lagi berbohong. "Iya."

"Bagus. Berarti kita membicarakan benda yang sama."

Dia membuka pintu. Ruang kerja luar terlihat dari lorong, tirainya terbuka, dan pintu tidak dikunci. Dari bawah terdengar Bu Nah menyuruh orang mengangkat pecahan mangkuk. Semua orang tahu aku berada di sini.

Tetap saja kakiku enggan maju.

Den Nara berdiri di samping pintu, tidak menyentuhku, hanya menunggu.

Aku menoleh sekali ke arah tangga. Bu Nah mungkin masih di bawah. Bu Retno dan yang lain mengetahui tugas ini. Pintu terbuka, lorong terang, dan aku dapat keluar kapan saja. Semua batas yang seharusnya membuatku aman sudah dia sediakan.

Tetapi satu benda di tangannya mampu meruntuhkan seluruh rasa aman itu.

"Masuk, Sekar."

Botol kecil itu berkilat di telapak tangannya.

Retak halus di dasar kaca tampak seperti garis yang sebentar lagi membelah hidupku menjadi dua.

Kali ini, tidak ada tempat tersisa sama sekali untuk melarikan diri, bersembunyi, atau mengarang kebohongan baru di hadapannya lagi.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!