Dikhianati oleh murid kepercayaannya saat mencoba menerobos batas keabadian, Kaisar Dewa Ye Xuan mati dan jiwanya terlempar melewati sungai waktu. Tiga ribu tahun kemudian, ia terbangun di tubuh seorang pemuda dengan nama yang sama—seorang "sampah" tanpa meridian kultivasi di kota terpencil. Dengan ingatan masa lalunya dan teknik terlarang Seni Sembilan Reinkarnasi Naga, Ye Xuan memulai kembali perjalanannya dari bawah untuk membelah langit, menginjak-injak para jenius sombong, dan menuntut darah dari mereka yang mengkhianatinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bodattt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23
Kabut kelabu yang menyelimuti Puncak Makam Pedang masih berputar ganas, membawa serta bilah-bilah angin elemen logam yang siap merobek siapa pun yang berani melangkah masuk. Namun, bagi Ye Xuan, raungan badai pedang ini terasa seperti alunan musik penyambutan.
Ia berjalan melewati Zona Luar dan kembali duduk bersila di tengah-tengah Zona Tengah, tepat di samping Pedang Besi Bintang yang tertancap kokoh. Tempat ini adalah pusat pusaran energi logam; sangat mematikan bagi orang biasa, namun merupakan perisai alami paling sempurna untuk mencegah siapa pun mengganggu masa pengasingannya.
Tanpa membuang waktu, Ye Xuan mengeluarkan bongkahan hitam berlendir—getah fosil Pohon Bintang Dingin—dari cincin spasialnya. Hawa dingin ekstrem segera menyebar, membekukan embun di bebatuan sekitarnya.
"Meridianku hancur karena memaksakan ledakan energi elemen Yang (panas/keras) dari Qi Naga Primordial tanpa bantalan penyeimbang," gumam Ye Xuan mengevaluasi kondisinya. "Ini seperti menuangkan magma ke dalam pipa kaca. Sekarang, saatnya mengubah kaca itu menjadi baja spiritual."
Ye Xuan menjentikkan jarinya. Api Roh Teratai Merah menyala di telapak tangannya. Berbeda dengan saat ia meracik pil dari Inti Monster yang meleleh dalam sekejap, api merah ini tampak kesulitan saat membakar getah fosil tersebut. Hawa dingin dari getah melawan panasnya api, menciptakan kepulan uap putih yang membutakan pandangan.
Butuh waktu tiga hari tiga malam penuh bagi Api Roh Teratai Merah untuk mencairkan cangkang luar bongkahan tersebut. Dari balik lumpur hitam yang menguap, setetes cairan berwarna biru es yang sangat murni akhirnya menetes keluar. Tetesan itu memancarkan aura Yin (dingin/lembut) yang begitu pekat hingga udara di sekitarnya membentuk serpihan salju.
Ye Xuan mendongak dan menelan tetesan biru es itu langsung ke dalam mulutnya.
KRAAAK!
Dalam hitungan detik, lapisan es setebal satu inci membeku menyelimuti seluruh tubuh telanjang dada Ye Xuan. Matanya, alisnya, dan rambutnya berubah menjadi putih beku. Suhu tubuhnya anjlok hingga nyaris menyentuh titik nol mutlak.
Di dalam tubuhnya, sebuah medan perang yang brutal baru saja dimulai.
Energi Yin yang sangat ekstrem dari Pohon Bintang Dingin melesat masuk ke dalam Dantiannya, layaknya gletser raksasa yang menabrak gunung berapi. Benih Qi Naga Primordial yang awalnya meredup tiba-tiba meraung marah, merasa wilayah kekuasaannya diinvasi. Energi Yang keemasan meledak, bertabrakan langsung dengan energi Yin biru es.
Pfft!
Ye Xuan memuntahkan darah beku dari mulutnya. Rasa sakitnya puluhan kali lipat lebih menyiksa dibandingkan saat ia ditempa oleh badai pedang. Rasanya seperti jutaan jarum es ditusukkan ke dalam tulang sumsumnya, sementara darahnya dididihkan secara bersamaan.
"Tunduklah!" geram jiwa kaisar Ye Xuan dari dalam lautan kesadarannya.
Menggunakan sisa-sisa kekuatan spiritual masa lalunya, Ye Xuan memaksakan kehendaknya yang tiran. Ia tidak membiarkan kedua energi itu saling menghancurkan. Dengan kendali presisi setingkat helai rambut, ia memandu aliran dingin energi Yin dan mengarahkannya menuju retakan-retakan rambut di sembilan meridian utamanya.
Proses ini layaknya menempa sebilah pedang pusaka; memanaskan baja hingga merah menyala, lalu mencelupkannya ke dalam air es untuk mengunci ketangguhannya.
Setiap kali energi Yin menyentuh meridian yang retak, terdengar suara desisan halus di dalam tubuh Ye Xuan. Retakan itu perlahan-lahan menyatu, direkatkan oleh esensi Bintang Dingin, dan disempurnakan oleh Qi Naga Primordial.
Hari berganti minggu. Kepompong es yang menyelimuti tubuh Ye Xuan semakin menebal hingga ia terlihat seperti patung es yang diukir di tengah badai pedang.
Sementara Ye Xuan terkunci dalam pengasingannya, dunia luar tidak diam.
Satu setengah bulan telah berlalu sejak insiden Ujian Sekte Luar. Ketiadaan Ye Xuan yang tiba-tiba dari pandangan publik memicu berbagai spekulasi di Pelataran Luar maupun Pelataran Dalam Sekte Pedang Azure.
Faksi Penatua Zhao Ying diam-diam menyebarkan rumor bahwa pemuda jenius dari Kota Awan Merah itu sebenarnya menderita luka dalam yang fatal setelah sok pahlawan menahan serangan Inti Emas. Mereka mengklaim Ye Xuan telah cacat permanen, atau bahkan mati membusuk di Puncak Makam Pedang tanpa ada yang tahu.
Kabar ini membuat beberapa murid elit mulai melirik Puncak Makam Pedang dengan tatapan serakah. Meskipun puncak itu berbahaya, area luarnya memiliki kepadatan elemen logam yang sangat tinggi, ideal bagi mereka yang berlatih teknik pedang atribut logam. Fakta bahwa gunung itu kini berstatus "Wilayah Pribadi" milik seorang pemuda yang dianggap sudah mati, memicu ketidakpuasan.
Di perbatasan bawah Puncak Makam Pedang, sekelompok murid yang mengenakan jubah putih bersulam pedang perak—seragam murid Pelataran Dalam—berdiri menatap gerbang batu dengan sikap arogan.
Pemimpin mereka adalah seorang pemuda berwajah angkuh dengan bekas luka memanjang di pipi kirinya. Ia adalah Zhao Lei, sepupu jauh dari Zhao Ming, dan seorang jenius Pelataran Dalam yang berada di tingkat setengah langkah Alam Pembentukan Fondasi.
"Kakak Zhao Lei, apakah kita benar-benar akan masuk? Patriark secara pribadi menjadikan gunung ini sebagai wilayah pengecualian," ucap salah satu murid di belakangnya dengan ragu-ragu.
Zhao Lei mendengus dingin, matanya memancarkan keserakahan. "Pengecualian hanya berlaku bagi mereka yang masih hidup dan berguna bagi sekte. Bocah Ye Xuan itu sudah bersembunyi selama satu setengah bulan tanpa mengambil jatah sumber dayanya sama sekali. Kakek Zhao Ying sangat yakin meridian bocah itu sudah hancur lebur."
Ia melangkah melewati gerbang batu yang lapuk. "Teknik Pedang Logam Ilusiku membutuhkan energi badai di Zona Luar untuk menembus Alam Pembentukan Fondasi. Menyerahkan seluruh gunung ini pada orang mati adalah pemborosan. Jika dia masih hidup dan berani protes, aku tinggal mematahkan kakinya dan membuangnya ke jurang. Tanpa bukti, Patriark tidak akan menghukum seorang murid elit demi sampah yang sudah cacat!"
Mendengar pembenaran itu, tiga murid lainnya saling pandang dan akhirnya mengangguk setuju, mengikuti Zhao Lei mendaki gunung.
Tepat pada saat kaki Zhao Lei menginjak batas akhir Zona Luar menuju Zona Tengah, kepompong es raksasa yang berada ratusan meter di atas mereka mulai menunjukkan reaksi.
Kret... Krek!
Jaring-jaring retakan menjalar di permukaan es tersebut.
BOOM!
Lapisan es setebal satu meter itu meledak menjadi bubuk salju yang berkilauan. Gelombang udara dingin menyapu area sekitarnya, menetralkan badai Qi logam selama beberapa detik.
Ye Xuan membuka matanya perlahan.
Sepasang pupilnya tidak lagi memancarkan kilat keemasan yang brutal, melainkan kegelapan yang dalam dan tenang seperti langit malam tanpa bintang. Jika seseorang melihat ke dalam kulitnya, mereka akan melihat sembilan meridian utamanya tidak lagi berkedut menahan kelebihan beban. Meridiannya kini dua kali lipat lebih lebar, berkilau dengan paduan warna emas dan biru es yang harmonis.
Ye Xuan mengepalkan tinjunya. Tidak ada ledakan udara, tidak ada fluktuasi Qi yang menakutkan.
Faktanya, jika seorang kultivator melihat Ye Xuan saat ini, mereka tidak akan merasakan sedikit pun aura spiritual dari tubuhnya. Ia terlihat seratus persen seperti manusia fana tanpa kultivasi. Ini bukanlah tanda kelemahan, melainkan pencapaian tertinggi dari kestabilan fondasi: Keselarasan Yin-Yang.
Batas kultivasinya masih berada di Alam Kondensasi Qi Bintang Enam puncak. Ye Xuan sengaja menahan diri untuk tidak menerobos ke Bintang Tujuh. Ia ingin fondasi tubuh fananya benar-benar mapan mengadaptasi pelebaran meridian ini sebelum menuangkan lebih banyak energi.
"Cangkir retak ini akhirnya tertambal," Ye Xuan tersenyum tipis, menikmati aliran Qi yang kini mengalir lancar tanpa sedikit pun rasa sakit. "Bahkan jika aku harus menahan serangan ahli Inti Emas sekali lagi, setidaknya aku tidak perlu memuntahkan darah."
Insting tempurnya, yang telah sepuluh kali lipat lebih tajam dari sebelumnya, tiba-tiba menangkap fluktuasi asing dari lereng bawah gunung.
Ye Xuan memiringkan kepalanya, menatap menembus kabut kelabu. Matanya langsung menangkap empat siluet berjubah putih yang sedang berusaha menembus batas badai pedang dengan perisai Qi mereka.
"Lalat selalu punya cara untuk mencari bau darah, bahkan di tempat sunyi sekalipun," gumam Ye Xuan pelan. Ia menarik napas dalam-dalam, menghirup udara pegunungan, lalu melangkah santai menuju Pedang Besi Bintangnya.
Ia mencabut pedang raksasa itu dari tanah, memanggulnya dengan santai seolah-olah itu hanya sebatang ranting bambu, dan mulai berjalan turun menyambut para tamunya.
preeeeeetttttttt