Raisa Adiratna akhirnya menyerah akan pernikahannya, karena selalu mendapatkan KDRT dari sang suami---Dion Raharja. Dion seorang Pengacara kondang terkenal, di jodohkan atas desakan orangtuanya. Ada satu alasan kuat kenapa Dion membenci istrinya, sampai Dion mengancam jika sampai Raisa hamil maka tak segan Dion akan mengaborsi kandungan itu. Raisa yang mendengar itu ketakutan, wanita yang sudah menjadi yatim piatu itu terpaksa meminta cerai dari Dion karena dirinya hanya memiliki anak di kandungannya, tanpa di ketahui oleh Dion jika Raisa sedang hamil muda. Setelah bertahan di bawah hinaan Dion dan teman-temannya termasuk gundik suaminya---Chelsea. Chelsea seorang wanita yang bekerja sebagai LC di sebuah club. Setelah berhasil menceraikan Raisa, Pria itu menikahi gundiknya. Namun Karma dibayar konstan Dion mengalami kecelakaan yang membuatnya mandul hingga Chelsea meninggalkannya. Dion berusaha mencari mantan istrinya demi mendapatkan maaf, lalu apakah Dion sadar sudah punya anak.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Putri Sabina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 34
Di rumah peninggalan orangtuanya---Raisa Adiratna kembali dengan tenang.
Di ruang tamu sudah di penuhi beberapa kardus besar yang terbuka, berisi barang-barang peninggalan masa kecilnya.
Tangannya sibuk memasukan semua barang-barang ini ke dalam kardus, termasuk radio kuno dan beberapa bingkai foto yang penuh akan kenangan di turunkan dari dinding.
Raisa berdiri di dekat sofa panjang, dengan penampilannya yang baru pulang dari pengadilan agama.
Tubuhnya masih terbalut gaun warna mint, dengan coat hijau masih tersampir di bahunya dengan rambut yang masih di cepol.
"Aku akan memulai semuanya dari nol lagi," kata Raisa memasukan barang-barangnya ke dalam kardus.
Tak lama ponsel dalam tas cluctnya bergetar, membuat aktivitasnya terhenti.
Seketika Raisa mengeluarkan ponselnya dari dalam tas cluctnya, layar ponselnya menampilkan nama sang paman---Om Hardi.
"Panjang umur, Om Hardi nelepon nih!" ucapnya dengan sangat antusias.
Raisa tersenyum tipis menghapus air matanya, lalu segera menggeser tombol hijau dan menempelkan ponsel itu ke telinganya.
"Hallo Om, Assalamualaikum," sapa Raisa lembut.
Tangan kirinya secara refleks mengusap pelan perutnya yang masih rata di balik gaunnya, di dalam rahimnya ada kehidupan yang akan di perjuangkannya.
"Waalaikumussalam, Raisa. Bagaimana persidanganmu hari ini? Semuanya lancar, 'kan?" tanya Om Hardi dengan suara berat di seberang telepon.
"Alhamdulillah semuanya lancar, Om. Hari ini Raisa resmi bercerai," jawab Raisa dengan helaan napas lega yang teramat dalam.
"Alhamdulillah. Raisa... Om sebenarnya ingin mengucapkan terima kasih banyak kepadamu, dan juga kepada mendiang ayahmu."
Raisa sedikit mengerutkan keningnya dengan heran, seolah tak mengerti kenapa sang paman mengatakan demikian.
"Loh berterimakasih untuk apa Om?" tanya Raisa bingung.
"Yah, dulu mendiang ayahmu sudah banyak bantu Om. Merintis usaha Om dari nol, sekarang giliran Om yang jagain kamu," ucap Hardi dengan nada tulus.
Mendengar itu, Raisa matanya kembali berkaca-kaca---tak menyangka masih ada yang menghargai ketulusannya.
"Om jangan ngomong gitu ah, Om itu keluarga Raisa yang masih Raisa punya. Raisa yang justru sangat berterima kasih, karena Om mau membeli rumah ini sehingga Raisa punya modal untuk memulai karir desainer di Bandung."
Raisa bicara sambil memasukan barang-barangnya ke dalam kardus, menunggu truk pengangkut yang dirinya sewa.
Agar barang-barang ini bisa di bawa ke Bandung, dan sang paman tentu dengan senang hati memasukan barang-barang itu ke dalam rumah----jika sudah sampai Bandung.
"Raisa, pamanmu ini punya beberapa toko kue yang cukup sukses di Bandung dan Jakarta. Jadi, jika kamu membutuhkan apa pun di Bandung nanti, jangan pernah sungkan untuk meminta bantuan pada Om, ya?" pesan Hardi dengan lembut.
"Iya, Om Hardi. Terima kasih banyak," sahut Raisa penuh rasa syukur.
"Ya sudah, kalau begitu Om mau lanjut beres-beres rumah di sini untuk persiapan kedatanganmu besok. Kamu juga harus istirahat."
"Iya, Om. Besok di jalan hati-hati ya," kata Raisa.
"Iya, kamu juga besok di jalan harus sangat hati-hati. Ingat, kamu sekarang tidak sendirian lagi. Kamu sedang mengandung cucu Om."
Hardi Adiratna menghela napas, untuk melanjutkan kalimatnya.
"Jaga kesehatanmu baik-baik, jangan sampai terlalu lelah berkemas," nasihat Hardi penuh perhatian sebelum menutup telepon.
"Iya, Om Hardi. Assalamualaikum," ucap Raisa dengan tersenyum.
"Waalaikumussalam," sahut Om Hardi.
Setelah sambungan telepon terputus, Raisa menggenggam ponselnya erat-erat di dadanya.
Matanya langsung melirik sisa-sisa barang yang harus di kemas ke dalam koper besar, baju-bajunya dan barang-barang peninggalannya saat kuliah dulu.
Benang dan jarum, juga kain-kain sisa.
"Ya ampun perlengkapan bayi belum aku beli lagi," ucap Raisa menepuk keningnya.
Raisa segera mengecek ponselnya menuju toko online, dan melihat toko online.
"Nanti di Bandung coba beli secara online aja deh," lanjut Raisa, agar alamatnya di cocokan dengan rumahnya yang ada di Bandung nanti.
Raisa kembali berkemas, dan tiba-tiba mobil pick up sudah datang untuk membawa kardus yang berisi barang-barang miliknya.
"Mbak ini mau di bawa semua?" tanya sang supir.
"Iya semuanya," jawabnya dengan singkat.
Raisa hanya menghela napas, saat barang-barangnya satu persatu di bawa---kardus demi kardus di bawa masuk ke mobil pick up.
Sementara itu, susana di kediaman rumah mewah Keluarga Raharja.
Di kamar utama yang sudah di tempati Chelsea, terasa begitu penuh ketengangan---karena Chelsea sepertinya sangat sibuk.
Wanita yang mengenakan gaun warna ungu muda tanpa lengan itu, juga baru pulang dari pengadilan agama.
Nampak tangannya membongkar seisi kamar, dengan penuh kebencian---menyingkirkan semua foto-foto pernikahan Raisa dan Dion.
Dari yang terpasang di dinding sampai yang di pajang di meja rias.
Seorang asisten rumah tangga----Bi Lis berdiri di dekat pintu kamar, memegang sebuah wadah plastik berbentuk kotak yang di minta Chelsea.
Wadah plastik yang digunakan untuk menyingkirkan foto-foto itu.
"Kamu mau apakan semua foto itu?" tanya Dion yang tiba-tiba masuk ke dalam kamar.
Pria itu masih mengenakan kemeja biru toska, dan dasi merah yang terikat sedikit longgar di lehernya, dengan jas hitam yang tersampir di lengannya.
"Ya mau aku buang dong, Mas! Atau sekalian aja aku bakar karena kamar ini sekarang sepenuhnya milik kita, jadi aku nggak mau ada sisa-sisa barang atau wajah perempuan sampah itu di sini!" jawab Chelsea.
Dion melangkah maju menarik pergelangan tangan Chelsea dengan cepat, tatapan mata Dion menajam membuat Chelsea terkesiap.
"Taruh semua foto itu di gudang saja. Jangan dibuang, apalagi dibakar," perintah Dion dengan nada tegas yang tidak menerima bantahan.
Chelsea mendengus kesal, matanya seperti terlihat menyimpan kecemburuan---namun tak bisa berbuat apapun karena posisinya belum resmi menjadi istri Dion.
"Kenapa sih, Mas? Kamu masih belum bisa melupakan mantan istri kamu? Kamu masih sayang sama si Raisa itu sampai foto pernikahannya pun tidak boleh aku bakar?!" cecar Chelsea dengan nada tinggi, mulai merasa posisinya terancam.
Dion menatap Chelsea dengan nada dingin.
"Di foto-foto itu ada mendiang mama saya, Chelsea," ucapnya.
"Jangan sekali-kali membakar foto yang ada wajah mama saya. Durhaka kita kalau membakar foto orang tua yang sudah tiada!" ujar Dion.
Lalu Dion berbalik badan dan menyuruh ART rumahnya membawa bingkai-bingkai foto itu ke gudang.
"Bi Lis, ambil wadah itu dan bawa semua bingkai foto ini ke gudang di lantai bawah!" titahnya.
"Ba-baik Tuan," patuh Bi Lis.
Mendengar Dion membawa nama mendiang ibu Raharja, Chelsea langsung terdiam.
Chelsea melempar bingkai-bingkai foto itu ke dalam wadah plastik yang di pegang Bi Lis, lalu melipat tangannya di dada sambil memalingkan wajahnya dengan rasa cemburu.
*
*
*
Sukses selalu Raisa,semoga baby membawa hoky setiap langkah usamu
Di tempat kita kalau menghadiri persidangan nikah cerai di pejabat agama pakaian mesti sopan menutup aurat,bertudung .Ah lain negara lain peraturannya.