Lian Yue terbangun tanpa ingatan dan segera menyadari dirinya bukan manusia biasa. Di sisi lain, Shen Rui adalah pemburu siluman yang sejak kecil diajarkan untuk membunuh Ular Putih.
Namun saat mereka bertemu, keduanya justru merasa seolah pernah saling mengenal.
Sedikit demi sedikit, terungkap bahwa selama seribu tahun mereka selalu dipertemukan, jatuh cinta, lalu dipisahkan oleh kematian.
Kini Lian Yue dan Shen Rui harus memilih: tunduk pada kutukan lama, atau melawan takdir demi satu kehidupan bersama.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aksara Handini, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 21: BURONAN DUA DUNIA
Matahari fajar membiaskan warna merah keemasan di atas langit perbatasan Gurun Selatan, namun kehangatannya sama sekali tak mampu mengikis hawa dingin yang mengepung jalur pegunungan. Sejak Perintah Pembunuhan Tingkat Agung disebarkan melalui suar kertas merah Paviliun Tianjian, seluruh alam manusia dan jaringan pemburu siluman bergerak serentak.
Kini, setiap sudut benua—mulai dari kota benteng, perbatasan lembah, hingga kedai-kedai jalanan—telah ditempeli lembaran buronan berstempel emas. Di atas kertas jerami tebal itu, lukisan wajah Shen Rui dan Lian Yue terpampang jelas, menjanjikan puluhan ribu keping emas perak serta batu spiritual tingkat tinggi bagi siapa saja yang sanggup membawa mereka—hidup atau mati.
Shen Rui dan Lian Yue menyusuri jalur setapak terjal yang mengapit tebing cadas terisolasi.
Shen Rui tidak lagi mengenakan mantel bulu serigala atau jubah tempur abu-abu bersulam garis perunggu yang menjadi kebanggaannya sebagai Murid Utama Paviliun Tianjian. Pria itu menanggalkan seluruh atribut perguruannya, menyisakan jubah kain kasar berwarna serba hitam yang menutupi ketegasan bahunya. Bahkan Pedang Zhaoyang—pusaka perunggu yang selama puluhan tahun tersandar anggun di punggungnya—kini terbungkus rapat oleh kain mantra tebal berikat tali rami, menyamarkan aura spiritual pembasmi iblis yang biasanya memancar kuat dari bilahnya.
Di sampingnya, Lian Yue berjalan dalam balutan jubah abu-abu sederhana berkupluk lebar. Rambut hitam pekatnya yang panjang diikat simpel ke belakang, sementara tudung kain menutupi sepasang mata peraknya yang jernih.
Mereka berdua tak lagi bertindak sebagai murid agung dan makhluk yang diburu secara sembunyi-sembunyi. Hari ini, mereka resmi menjadi Buronan Dua Dunia—dimusuhi oleh alam manusia karena pengkhianatan Shen Rui terhadap perguruan, dan dibenci oleh alam siluman karena status Lian Yue yang mengundang bencana pembantaian.
"Di depan adalah Lembah Bayang Kabut," suara Shen Rui memecah keheningan di antara deru angin tebing. Suaranya rendah dan sarat akan kewaspadaan penuh. Tangannya tak pernah melonggarkan genggaman pada pergelangan tangan kiri Lian Yue, mengalirkan qi perunggunya yang hangat secara berkala untuk menopang kondisi Lian Yue yang masih lemah.
Lian Yue mendongak menatap profil samping wajah Shen Rui. Rahang pria itu mengeras, matanya yang tajam bagai elang tak berhenti menyapu rimbunan pepohonan cadas di sekeliling mereka.
"Shen Rui..." bisik Lian Yue halus. Tangannya yang dingin meremas pelan buku-buku jari pria itu. "Kau tidak perlu terus menyembunyikan pedangmu dan melepaskan seluruh kehormatan perguruanmu demi aku. Jika kita berpisah di sini, kau bisa kembali ke Paviliun Tianjian dan—"
Langkah kaki Shen Rui mendadak terhenti.
Pria itu memutar tubuhnya, menatap lurus ke dalam mata perak Lian Yue. Ada kepedihan, amarah pada takdir, dan keteguhan yang teramat pekat menyala di dalam netranya.
"Kembali ke Paviliun Tianjian?" tanya Shen Rui dengan suara bergetar rendah. Tangannya yang bebas terangkat, menyapu sehelai rambut yang keluar dari balik tudung Lian Yue. "Kehormatan apa yang harus kujaga jika tempat itu dibangun di atas kebohongan seribu tahun dan genangan darahmu?"
Shen Rui mendekatkan wajahnya, membiarkan dahi mereka saling bersentuhan pelan di tengah deru angin perbatasan.
"Aku telah menghabiskan seluruh hidupku mematuhi sumpah perguruan, Lian Yue," lanjut Shen Rui seraya menyusupkan jemarinya ke sela-sela jemari Lian Yue, menggenggamnya rapat-rapat. "Tapi saat ini, sumpahku hanya satu: melindungi jiwa yang terikat padaku ini. Bahkan jika seluruh dunia menjadikan kita musuh, aku akan tetap berdiri di depanmu."
Lian Yue tertegun. Air mata bening berkilat di sudut mata peraknya, sebelum akhirnya ia mengangguk pelan seraya menyandarkan tubuhnya pada dada tegap Shen Rui, merasakan denyutan bekas luka bulan sabit di dada mereka yang berdenyut dalam irama yang sangat harmonis.
Namun, momen kedamaian di celah tebing itu tidak bertahan lama.
Klingg! Klingg!
Suara gemerincing lonceng angin tembaga yang membawa aura qi dingin mendadak bergema dari empat penjuru angin. Kabut tebal berwarna abu-abu pekat mendesak masuk dari dasar lembah, membekukan pepohonan cadas dan menutup seluruh jalur pelarian di depan mereka.
Dari balik gulungan kabut pembendung, delapan sosok prajurit berwajah kaku mengenakan topeng perunggu dan jubah tempur bersurat mantra melompat turun dari ketinggian tebing. Mereka mengelilingi Shen Rui dan Lian Yue dalam formasi lingkaran yang ketat.
Di dada para prajurit itu, terukir lambang Pasukan Pemburu Bayangan—pasukan algojo paling berdarah dingin milik Paviliun Tianjian yang hanya dikirim untuk mengeksekusi pengkhianat perguruan.
"Shen Rui!" suara pemimpin Pasukan Bayangan bergema parau dari balik topeng perunggunya. "Kau telah membuang gelar Murid Utama dan memilih berjalan bersama iblis ular ini. Perintah Guru Xuan He sudah mutlak: bawa kepala kalian berdua kembali ke perguruan!"
Shen Rui tidak membuang waktu dengan bernegosiasi. Wajahnya membeku bagai es. Tangannya yang memegang kain pembungkus Pedang Zhaoyang menyentak keras.
Srrr-bbraakkk!
Kain rami pembungkus pedang meledak berkeping-keping. Bilah baja perunggu Pedang Zhaoyang berkilat tajam di bawah sinar matahari fajar, memancarkan gelombang qi pembasmi iblis yang merekah hebat.
Namun alih-alih mengarahkan hawa membunuh itu pada Lian Yue, Shen Rui mengibaskan pedangnya melingkar, menciptakan perisai gelombang angin pedang yang menghempaskan barisan awal Pasukan Bayangan.
"Pegangi jubahku rapat-rapat, Lian Yue!" seru Shen Rui lantang.
Dengan satu ayunan pedang yang membelah kabut dan satu tangan yang menggenggam erat jemari sang Ular Putih, Shen Rui menerobos masuk ke dalam kepungan Pasukan Bayangan, memulai babak baru pelarian mereka sebagai pasang surut buronan yang menantang hukum dua dunia.