Satu foto. Terkirim ke orang yang salah. Dengan sengaja.
Kirana Adiwijaya punya satu rahasia yang ia jaga rapat-rapat: ia berpacaran dengan Bram Kusuma, dan tak seorang pun di keluarganya boleh tahu. Tapi malam itu, sebuah pesan panas yang ia niatkan untuk sang kekasih justru mendarat di layar ponsel pria yang paling tak boleh ia sentuh—Krisna Kusuma. Kakak Bram. Tunangan kakaknya sendiri.
Krisna tak membalas. Ia hanya menyimpannya. Dan sejak saat itu, garis antara "terlarang" dan "menginginkan" mulai kabur.
Krisna dingin, penuh perhitungan, terbiasa memiliki apa pun yang ia mau. Kirana pandai berpura-pura polos, padahal setiap langkahnya sudah ia rencanakan. Di antara pesta keluarga, ruang kerja bertirai kaca, dan perjalanan mewah yang jauh dari mata orang, keduanya memainkan permainan berbahaya yang tak boleh ketahuan siapa pun—terutama oleh dua orang yang paling mereka khianati.
Tapi rahasia punya harga. Dan ketika kebenaran mulai retak satu per satu—tentang masa lalu Kirana yang ia kubur dalam-dalam, tentang alasan sesungguhnya semua ini bermula—pertanyaannya bukan lagi apakah mereka akan tertangkap.
Melainkan: seberapa jauh keduanya rela jatuh, saat menyadari bahwa yang paling terlarang justru adalah yang paling mereka inginkan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ophelia Blaire, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
chapter-012
Bab 12: Sebelum Tengah Malam
Suara Bram masih terdengar dari lantai.
"Kirana? Halo? Sayang, kamu jatuhin aku?"
Kirana menatap Krisna. Kemeja pria itu terbuka di bagian leher, dan ia sudah menuang segelas anggur untuk dirinya sendiri. Di dalam kamar Kirana.
Kirana berdandan untuk Bram. Ia bahkan memakai minyak tubuh yang Bram sukai sebelum turun tadi. Sekarang kakak Bram berdiri di antara dirinya dan jendela, menunggunya menjawab.
Kirana membungkuk terlalu cepat. Jarinya meraba-raba karpet sebelum akhirnya menemukan ponsel dan memutus panggilan. Keheningan yang mendadak membuat kamar terasa lebih sempit.
"Keluar," katanya.
Krisna memindahkan gelas anggurnya ke atas meja rias. Ia tampak tak terburu-buru untuk pergi.
"Kamu mengundang seorang pria ke kamar hotelmu."
"Bukan kamu."
"Bukan," ujarnya. "Kamu mengundang adikku."
Panas merambat naik ke lehernya. Krisna bisa membuat sebuah fakta sederhana terdengar kotor, dan bakat itu membuatnya berang.
"Bram itu pacarku."
"Dan Rosalia tunanganku."
Kirana mencengkeram ponsel begitu erat hingga sisinya menggigit telapak tangannya. "Kalau begitu kamu paham betul kenapa kamu harus pergi."
Krisna menyapu tubuhnya dengan pandangan, dari tali gaun hingga ke ujung roknya, lalu kembali ke bibirnya. Kirana berharap ia sudah ganti baju sebelum naik ke atas.
Belum genap seminggu sejak peristiwa di kamar mandi itu. Kirana sudah berjanji pada dirinya sendiri untuk melupakannya. Menghabiskan dua malam bersama Bram tadinya tampak seperti cara yang baik untuk memulai.
Bram akan datang telat, ia akan marah, lalu Bram akan membuatnya tertawa sampai ia memaafkannya. Kirana tahu bagaimana rasanya bersama Bram. Itulah yang ia inginkan malam ini.
"Kamu mengikutiku," katanya.
"Aku ada rapat di Singapura."
"Dan rapatnya berakhir di kamar suiteku?"
"Tidak."
Krisna bahkan tak berusaha mencari alasan.
Ia melangkah lebih dekat. Kirana mundur.
Tatapan pria itu naik ke matanya. "Kamu mengkhianati Rosalia bahkan sebelum aku menyentuhmu di kamar mandi itu."
Dadanya menegang.
"Tidak."
"Kamu sudah melakukannya sejak pertama kali kamu membayangkan tanganku di antara kedua pahamu."
Kirana mengeratkan cengkeraman pada ponselnya. Apakah ia sudah membocorkan dirinya sendiri di kantor waktu itu? Krisna tak mungkin tahu apa yang ia pikirkan malam itu di kamarnya. Ia hanya menebak.
"Berhenti."
"Kamu mengkhianati Bram bahkan sebelum aku menciummu."
"Berhenti."
"Kamu memikirkanku."
Kirana tak sanggup mendengarnya mengucapkannya sekali lagi.
Ia melangkah ke meja rias, menyambar botol mahal pertama yang tersentuh jarinya, dan mengangkatnya.
Krisna menangkap pergelangan tangannya sebelum ia sempat melemparnya.
Botol itu terlepas, membentur marmer, dan pecah. Minyak tumpah dalam genangan berkilat dan wangi di sepanjang lantai.
Kirana meronta melawannya. "Lepaskan."
Krisna langsung melepasnya. Kirana mengusap pergelangan tangannya, meski pria itu sama sekali tak menyakitinya. Ia tak tahu harus diapakan tangannya sendiri.
"Aku mau kamu pergi," katanya.
Krisna memandanginya sesaat, lalu mengangguk.
"Kalau begitu aku pergi."
Ia berbalik menuju pintu. Ia benar-benar akan pergi. Kirana menangkap punggung kemejanya sebelum ia sempat mencapai pintu.
Krisna berhenti. Kirana menatap jari-jarinya yang menggenggam kain itu. Ia baru saja dua kali menyuruhnya pergi.
"Ini gila," bisiknya.
"Ya."
"Kamu sakit."
"Mungkin."
"Aku tidak akan melakukan ini lagi."
Krisna berbalik, cukup pelan untuk memberinya waktu melepaskan tangannya. Kirana tak melepaskannya.
Ketika Krisna menghadapnya, mereka cukup dekat sampai napas Kirana menerpa lehernya.
"Kalau begitu dorong aku pergi sebelum tengah malam," ujarnya.
Kirana melirik jam. Sudah hampir tengah malam; Krisna tak memberinya banyak waktu.
"Itu bukan pilihan."
"Kalau begitu lepaskan kemejaku."
"Kamu pikir kamu sedang bersikap mulia?"
"Tidak."
Jari-jarinya menyentuh tali gaun Kirana, belum menariknya. Hanya bertumpu di sana, hangat di bahunya.
"Aku tidak peduli soal jadi mulia, Kirana. Aku peduli bahwa waktu aku bercinta denganmu, kamu tahu kamu yang membiarkanku."
Kata-kata kasar itu menembusnya seperti sengatan.
Ia merapatkan kedua pahanya. Sekilas tatapan Krisna memberitahunya bahwa ia menyadarinya.
Ibu jari Krisna menyusup ke balik tali gaun. "Kalau kamu bilang stop, aku berhenti. Kalau kamu suruh aku pergi, aku pergi. Kalau kamu taruh kedua tanganmu di dadaku lalu dorong, aku keluar dan tidak akan kembali malam ini."
"Malam ini," ulangnya.
"Aku tidak membuat janji yang tak akan kutepati."
Kirana bisa mengusirnya. Bram mungkin masih akan datang, dan ia bisa berpura-pura bagian malam ini tak pernah terjadi.
Jari-jari Kirana bergerak ke kerah Krisna. Ia bertahan di sana saat Krisna menundukkan kepala dan menciumnya.
Krisna melahap mulutnya seperti orang yang sudah terlalu lama bersabar, satu tangan mengunci di tengkuk Kirana, tangan lainnya menarik ritsleting gaunnya turun dalam desisan logam yang lambat. Kirana mengeluarkan suara ke dalam ciumannya, marah dan penuh hasrat, lalu menggigit bibir bawah Krisna cukup keras hingga terasa darah.
Krisna tertawa menempel di bibirnya.
"Nah, itu baru dia."
"Diam."
"Buat aku diam."
Kirana mencoba.
Ia menciumnya lebih keras, berantakan oleh amarah, menyeret kuku di sepanjang leher kemeja Krisna yang terbuka. Kancing-kancing terlepas di bawah tangannya. Kulit Krisna panas di balik kain linen, dadanya kokoh, napasnya tercekat saat Kirana menyentuhnya.
Kirana bisa merasakan betapa cepat jantung Krisna berdetak. Setidaknya bukan hanya ia sendiri yang terpengaruh.
Kirana mendorong kemeja itu turun dari satu bahu, dan Krisna memanfaatkan gerakan itu untuk melorotkan gaunnya sampai ke pinggul. Bagian atas gaun mengendur. Payudaranya tumpah bebas ke udara dingin.
Krisna menunduk menatapnya, dan Kirana harus berpegangan pada bahunya agar tetap seimbang. Krisna kini bahkan tak lagi berpura-pura tenang.
"Jangan menatapku seperti itu," kata Kirana.
"Seperti apa?"
"Seperti kamu sudah memiliki apa yang kamu lihat."
Krisna menangkup satu payudaranya, ibu jarinya menyapu puting hingga mengeras di bawah sentuhannya.
"Aku tidak memilikinya," ujarnya. "Kamu yang terus membawanya padaku."
Kirana menamparnya. Suaranya menggema tajam di seluruh suite. Selama satu tarikan napas, keduanya tak bergerak.
Lalu Krisna tersenyum. Kirana berbalik hendak lari.
Ia baru melangkah dua kali sebelum tumitnya tersangkut ujung kopernya yang terbuka. Dunia terjungkal. Bahunya membentur lengan Krisna alih-alih lantai, karena pria itu menangkapnya dari belakang, satu tangan melintang di perutnya, tangan lain menopang di bawah tulang rusuknya.
"Biarkan aku jatuh," ketusnya.
"Tidak."
"Kamu menyebalkan."
"Lihat di mana kamu berdiri. Ada pecahan kaca di mana-mana."
Kirana menunduk. Botol yang pecah tergeletak di dekat kakinya, minyak menyebar di atas marmer.
Krisna mengangkatnya melewati pecahan itu dan mendudukkannya di ranjang. Kirana sudah siap melawannya. Diperlakukan dengan begitu hati-hati justru hampir membuatnya menangis, dan itu jauh lebih buruk.
"Jangan berbaik hati sekarang," katanya.
"Aku tidak berbaik hati."
"Lalu ini apa?"
Krisna berlutut dan melepas satu sepatu haknya, lalu yang satunya.
"Ketertarikan."
Kirana mencengkeram seprai. Ia berharap Krisna tak mengucapkannya seperti itu.
Krisna bangkit di atasnya, dan Kirana menaruh kedua tangan di dadanya. Satu dorongan kuat akan memberinya jalan keluar. Otot-otot Krisna terdiam di bawah telapaknya.
"Dorong," katanya.
Kirana melirik jam lagi. Nyaris tak ada waktu tersisa.
Bram pasti akan menelepon lagi sebentar lagi. Ia tak bisa berhenti mengingat suara Bram saat ia menjatuhkan ponselnya tadi.
Krisna menunggu di bawah tangannya. Ia harus mendorongnya sekarang, sebelum ia mulai memikirkan kamar mandi itu lagi. Tangannya justru merayap naik ke bahu Krisna.
Mata Krisna menggelap.
"Kirana."
"Jangan buat aku mengatakannya."
"Aku butuh kamu yang mengatakannya."
Kirana nyaris tak sanggup mengeluarkan kata itu.
"Tetaplah di sini."
Saat jam mencapai tengah malam, Krisna sedang menciumnya.
Ia menurunkan renda itu di sepanjang paha Kirana dan menarik lepas gaunnya. Bibirnya menyusul, berhenti sejenak di pinggulnya sebelum bergerak turun. Kirana menggeliat di antara seprai dan mencengkeram bahu Krisna.
"Krisna."
"Lagi."
"Krisna."
Krisna memberinya imbalan dengan mulutnya di antara kedua pahanya.
Kirana melengkung, satu tangan melesat ke rambut Krisna, tangan lainnya membekap mulutnya sendiri. Krisna menarik lepas tangan itu dan menahannya di samping pinggul Kirana.
"Jangan sembunyi."
"Nanti ada yang dengar."
"Suite ini kedap suara."
"Kamu sudah cek?"
Mulut Krisna melengkung menempel di sisi dalam pahanya. "Aku tadi bertanya."
Lalu ia menjilatnya, lambat dan langsung, dan tawa Kirana berubah menjadi tarikan napas yang patah.
Kirana berharap Krisna berhenti mengamatinya sedekat itu. Ia tak bisa menyembunyikan apa yang ia sukai dari pria itu, dan setiap kali ia mencoba memalingkan wajah, Krisna menunggu sampai ia menoleh kembali. Ponsel berdering.
Nama Bram menyala di layar di atas lantai. Kirana tersentak bangun.
"Bram..."
Krisna berhenti dan mendongak. Kirana tak bermaksud menyebut nama Bram, dan sekarang ia berharap bisa menariknya kembali.
"Burung kecil," ucapnya lembut.
Ia menjangkau ke bawah, menyeret ponsel itu ke atas ranjang, dan menekan tolak tanpa mengalihkan pandangan darinya.
"Waktu kamu di ranjangku," katanya, "kamu tidak memanggil dia."
"Ini ranjangku."
"Tidak lagi."
Kirana menjawabnya dengan mengangkat tubuh menyambut Krisna saat pria itu bergerak menaunginya.
Krisna menciumkan rasa dirinya sendiri ke dalam mulut Kirana, dan ia mengeluarkan suara yang akan ia sangkal sampai mati. Sabuk Krisna terbuka di bawah tangannya yang gemetar. Kendali Krisna mulai koyak saat telapak Kirana melingkupinya, saat ia merasakan persis apa yang telah ia perbuat pada pria itu, keras dan panas dan tak tahu malu di antara jari-jarinya.
"Kondom," katanya.
Kata itu keluar tipis tapi jelas. Krisna terdiam.
Lalu ia meraih dompetnya di atas meja rias.
Krisna tak membantah. Kirana baru sadar ia sudah bersiap-siap kalau-kalau Krisna membantah.
Bungkus foil itu robek di antara giginya. Kasur melesak. Krisna kembali padanya, satu tangan menopang di samping kepala Kirana dan tangan lain mengarahkan dirinya ke tubuhnya.
"Lihat aku."
Kirana menurut.
"Suruh aku berhenti."
Tenggorokannya tercekat. Krisna menunggu. Kirana melirik ke arah jendela di belakangnya, lalu kembali ke wajah pria itu.
"Aku tidak bisa," bisiknya.
"Tidak bisa," ujar Krisna, "atau tidak mau?"
Kirana justru mengeratkan kedua kakinya di sekeliling pinggul Krisna alih-alih menjawab. Krisna mendorong masuk ke tubuhnya perlahan, mengamati wajahnya.
Kirana berpegangan pada bahunya, berusaha menyesuaikan diri. Di kamar mandi tempo hari, ia terlalu takut membangunkan Rosalia untuk bisa menatapnya dengan benar. Di sini ia bisa melihat wajah Krisna, dan Krisna tak akan membiarkannya memalingkan diri.
Napas Kirana patah. Krisna berhenti di pertengahan.
"Masih bersamaku?"
Kirana mengangguk, lalu sadar Krisna menunggu jawaban.
"Ya."
Krisna membenamkan sisanya sampai ke dalam. Sebuah pekik tanpa penjagaan lolos dari mulutnya.
Krisna menangkap suara itu dengan mulutnya dan mulai bergerak.
Kirana mencengkeram bahunya. Krisna mempertahankan irama tenang yang sama bahkan ketika Kirana berusaha menariknya lebih dekat. Ia mengamati Kirana sampai Kirana memalingkan wajah, lalu menangkap rahangnya dan menariknya kembali.
"Jangan sembunyi," ucapnya lagi.
"Aku benci kamu."
"Aku tahu."
"Aku serius."
"Aku tahu."
Krisna mengubah sudutnya, dan hentakan berikutnya merampas kalimat itu dari mulutnya.
Kirana bertahan karena tak ada lagi yang bisa dilakukan. Tubuhnya membuka menyambut Krisna, rakus meski dilanda malu, menerimanya seolah tubuh itu telah menunggu sejak pesan salah yang pertama, sejak empat tahi lalat pertama, sejak pertama kali pria itu menatapnya dan tahu terlalu banyak.
Ponsel menyala lagi. Bram. Krisna menunduk menatapnya, lalu memandang Kirana.
"Jangan," embus Kirana.
"Jangan apa?"
"Jangan diangkat."
Mulut Krisna menyapu telinganya.
"Kalau begitu beri aku suara yang lebih baik daripada namanya."
Kirana tak bisa menjawabnya. Ia malu karena ia masih menginginkan Krisna untuk terus, bahkan dengan nama Bram menyala di layar di sampingnya.
Ia menyebut nama Krisna ke bahunya, lalu ke bibirnya, lalu lebih keras saat tangan Krisna menyusup di antara mereka dan menekan tepat di titik yang sudah terlalu membengkak untuk ditahan tubuhnya. Klimaks menghantamnya keras, melengkungkan tubuhnya lepas dari ranjang, membuatnya memejamkan mata.
Krisna terus bergerak menembusnya, rahang mengetat, kendalinya berderak lepas sedikit demi sedikit.
"Lagi," katanya.
"Aku tidak bisa."
"Kamu bisa."
"Krisna..."
"Nah, begitu."
Ia terus bergerak, dan Kirana nyaris tak sempat menarik napas sebelum ia klimaks lagi. Ia klimaks dengan kuku menancap di punggung Krisna dan panggilan Bram yang tak terjawab berpendar di samping pinggulnya.
Krisna menyusul setelahnya, membenamkan sebuah suara serak di leher Kirana saat tubuhnya mengunci di atasnya. Untuk sesaat yang panjang, keduanya tak bergerak. Layar ponsel padam.
Kirana menatap langit-langit, dadanya naik-turun, kulitnya lembap, tubuhnya masih mengejang di sekeliling apa yang telah mereka lakukan.
Ia sudah memintanya tinggal. Ia terus kembali pada kenyataan itu, bahkan saat ia meraih seprai dan berpaling dari panggilan-panggilan Bram.