Pernikahan yang didasari cinta belum tentu selamanya akan abadi. Akan ada badai yang akan menghampiri, apakah sang nahkoda bisa mengatasinya atau tidak tergantung kesiapan diri.
Begitu juga dengan rumah tangga Ima, kebahagian yang ia nikmati hancur lebur saat suaminya punya Wanita lain dan lebih menyakitkan mertuanya ikut andil atas pengkhianatan putranya.
Ima yang sakit hati bertekad dalam hati akan membalas semua pengkhianatan suami dan mertuanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ima susanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8
Berbekal alamat yang di berikan oleh almarhum ayahnya sebelum meninggal, Ima nekad pergi untuk menjumpai ibunya meski sebenarnya ia enggan bertemu wanita itu.
Tapi ia tak punya pilihan selain menemui ibunya untuk membantunya membalaskan sakit hatinya atas pengkhianatan suami dan keluarganya.
"Apa betil ini rumahnya ya, bagaimana caranya aku masuk kesana?" Gumam Ima sambil berdiri di depan gerbang kompleks perumahan yang di jaga ketat oleh beberapa satpam.
"Neng, mau kemana?" tanya seorang satpam yang umurnya sudah nampak lebih tua dari yang lain.
"Saya mau masuk kesana, pak. Tapi bingung caranya. "
"Neng mau kerumah siapa?" tanya satpam itu sopan.
"Saya mau kerumah ini pak." Ima menyerahkan kertas berisi alamat ketangan satpam itu tapi tiba - tiba kertas itu di rebut paksa oleh satpam yang mukanya lumayan sadis.
"Yakin mau kerumah ini? Kamu itu ada hubungn apa dengan pemilik rumah? Tidak sembarangan orang bisa kesana?" tanya satpam itu beruntu.
"Emang itu rumah siapa, pak?" tanya Ima sambil mengaruk - garuk kepalanya yang tak gatal. Ia tak tau siapa pemilik asli rumah itu yang ia tau bahwa ibunya tinggal disana.
"Jadi kamu tak kenal pemilik rumah itu? Jangan - jangan kamu penipu ya atau maling?" tanya satpam itu bernada kasar.
"Saya bukan penipu atau maling pak, saya hanya disuruh almarhum ayah saya untuk betemu dengan bu Ambar." ucap Ima membuat satpam saling pandang.
Ima binggung dengan tingkah satpam yang berbisik - bisik lalu salah seorang satpam menghubungi sesorang. Entah siapa Ima tidka tau.
"Kamu tunggu disini ! jangan coba - coba kabur. Saya mau konfirmasi dulu kerumah bu Ambar. Nama kamu siapa?" tanya satpam.
"Ima." lalu satpam itu menghubungi rekannya untuk konfirmasi.
"Kenapa saya di perlakukan seperti orang jahat, pak. Saya bukan penjahat, saya cuma mau bertemu bu Ambar." teriak Ima kesal.
"Sabar ya, neng. Kita tungu jawaban dari sana. " uajr satpam yang pertama menegur Ima tadi. Ima cuma bisa pasrah duduk menunggu layaknya penjahat yang di jaga agar tak kabur.
Tak lama muncul sebuah mobil dan berhenti di depan gardu satpam. Dari mobil turun seorang lelaki yang berotot seperti bodyguard bodyguard di TV. Lelaki itu berjalan menuju kearah Ima duduk.
"Kamu yang bernama Ima?" tanya lelaki itu dingin.
"Be - betul, pak" jawab Ima gugup.
"Nama ayahmu siapa?"
"Kok pakai tanya nama ayah saya segala?" sanggah Ima.
"Jawab saja!"
"Sanjaya."
"Ibumu?"
"Ambar, Ambarwati." jawab Ima.
"Selamat datang, nona. Mari ikut saya, nyonya sudah menunggu di rumah." lelaki itu menunduk hormat dan itu membuat Ima heran. Dari pada di tahan di pos satpam lebih baik ikut lelaki itu. Meski ada keraguan takut jika lelaki itu orang jahat, Ima terpaksa mengikuti saja.
Mobil perlahan berjalan masuk kedalam kompleks yang suasananya begitu asri karna banyak pohon - pohon rindang dan beraneka ragam bunga. Jalannya juga mulus dan bersih. Apalagi jejeran rumah mewah yang berukuran besar - besar. Mobil berhenti di sebuah rumah yang nampak seperti istana.
"Wao...." gumam Ima kagum tanpa suara.
"Mari, non. " lelaki itu menuntun Ima masuk kedalam rumah yang semakin membuat Ima semakin melongo seperti orang bodoh.
"Silahkan duduk, non. Tunggu sebentar nyonya akan datang.
Ima duduk dengan canggung di sofa, matanya menatap sekeliling rumah. Ia melihat sebuah foto keluarga tapi tak ada ibunya di sana. Jangan - jangan ibunya juga pekerja di rumah ini.
Suara sepatu beradu dengan lantai membuat Ima menoleh kearah pintu. Ima tertegun saat melihat seorang wanita cantik berjalan dengan eleganya ke atah dirinya.
"Ima." Suara itu terasa sangat familiar di telinga Ima. Tapi mana mungkin itu Ibunya, karna ibunya pasti juga sudah tua.
"Kamu apa kabar, nak?" sapa wanita itu dengan mata berkaca - kaca.
"Ibu Ambar." ucap Ima.
"Iya ini ibu, nak." Ibu Ambar hendak memeluk Ima tapi Ima menghindari. Untuk saat ini ia belum bisa menerima kehadiran ibunya.
Keduanya nampak canggung karna sudah puluhan tahun tak pernah bertemu. Ia bisa meraskan bahwa putrinya membenci dirinya.
Apakah Ima akan jujur pada Ibunya atau sebaliknya di tunggu saran dan masukanya kk.
...****************...
assalamualaikum kk terimakasih supportnya dan jangan lupa tinggalkan jejak berupa like dan komen serta vote yang banyak biar thor semakin semangat untuk melanjutkannya bab berikutnya 👍🙏🙏