Kecelakaan tragis menimpanya, dianggap sudah mati. Rinda kembali ke rumah setelah beberapa bulan.
Namun ketika kembali, bukan sebuah sambutan selamat datang, melainkan sebuah pesta pernikahan megah antara suami dan kakaknya.
"Jasad ku tak kau cari, Gani! Dan kalian malah menikah lalu menggelar pesta megah? Ingat, aku masih istrimu, dan aku masih pimpinan TBBA!"
Semua mata menatap Rinda dengan tubuh yang bergetar takut. Seolah dirinya bangkit dari kematian. Tak terkecuali dengan Gani dan Teani
Namun diantara ketakutan semua orang, ada satu orang yang tersenyum atas kembalinya dirinya. Sang asisten pribadi, Jexen. Pria muda itu terus saja tersenyum ke arahnya.
Lalu, apakah Rinda akan bertahan dalam pernikahannya lalu menerima Teani sebagai madunya, atau melepaskannya?
Dan bagaimana reaksi Rinda ketika Jexen mengungkapkan perasaannya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon IAS, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Aku Hidup 28
Malam bergulir dengan cepat. Hari pun berganti dengan sebuah harapan baru dan juga semangat yang baru.
Rinda merasa tubuhnya terasa jauh lebih segar. Tak ada rasa sakit yang datang menghampiri dan semalam pun dia tidur nyenyak. Hanya saja mimpi buruk ternyata masih ada.
Rinda mengusap wajahnya yang penuh dengan keringat. Meski sudah pagi, tapi langit masih gelap. Rinda duduk tegap di atas ranjangnya, untuk mengatur nafas.
"Tidak!! Mas tolong aku!! Ini sangat sakit sekali. Dingin, aku takut!"
Mimpi itu mengembalikan sebuah ingatan tentang betapa dirinya merasa sangat kesepian waktu berada di tempat yang tak ada siapapun di sana.
Kecelakaan, itu lah yang datang dalam tidur Rinda dan membuat ujung malamnya terasa sangat melelahkan dan menakutkan.
"Kenapa kejadian itu harus datang ke mimpi ku. Aku takut."
Rinda bukan manusia super yang bisa begitu saja lupa dengan peristiwa kecelakaan tersebut. Kecelakaan yang hampir saja merenggut nyawanya. Kecelakaan yang membuatnya harus berada di luaran sana untuk beberapa waktu hingga kesadarannya hilang.
Ditambah pengkhianatan yang dilakukan oleh dua orang yang sangat dipercaya.
Sakit itu nyata. Ketakutan itu memang ada.
Tok tok tok
Hah?
Nafas Rinda tertahan, matanya langsung melayangkan tatapan ke arah pintu, dan tangannya mencengkeram erat selimut. Ia membuang nafasnya kasar.
"Mbak, kamu sudah bangun?"
"Ternyata Jexen," ucap Rinda lirih. Ada perasaan lega yang membuat wanita itu melonggarkan kewaspadaannya.
"Iya, sudah," jawab Rinda.
"Apa aku boleh masuk?"
"Masuk, tidak dikunci."
Ceklek
Pintu kamar di buka perlahan. Jexen muncul dari sana dengan senyum terbaiknya. Tapi senyum itu sirna. Pria muda itu seketika berlari ke arah Rinda setelah melihat wajahnya.
"Mbak, kamu kenapa?" tanya Jexen. Bola matanya memindai setiap inci wajah Rinda. Tanpa sadar, Jexen juga menangkupkan kedua tangannya ke wajah Rinda.
"Aku tidak apa-apa. Kamu kenapa panik begitu," jawab Rinda santai.
"Apanya yang tidak apa-apa. Wajah mu pucat Mbak. Lihat saja, wajahmu berkeringat seperti ini," balas Jexen. Tangannya kini mengusap keringat yang membasahi wajah dan rambut Rinda. Jexen juga menyibakkan beberapa helai rambut yang mengenai wajah nona nya tersebut.
Rinda tersenyum simpul, dia menangkap tangan Jexen dan membawanya menjauh dari wajahnya.
"Aku sungguh tidak apa-apa Jex. Aku cuma mimpi buruk tadi," ujar Rinda.
"Tidak, kamu bukannya tidak apa-apa Mbak. Kamu menahannya sendiri. Kamu menelannya sendiri hanya untuk berkata bahwa kamu tidak apa-apa. Jangan ditahan Mbak, jangan merasa kuat jika memang kamu sedang tidak bisa kuat," tukas Jexen cepat.
Mendengar perkataan Jexen, senyum Rinda perlahan pudar. Tanpa disadarinya, bulir bening keluar dari matanya dan jatuh begitu saja ke pipi.
Hiks
Tangis Rinda pecah, wanita itu tergugu dengan tangan yang memegang erat selimut.
Jexen yang berada di depan Rinda, melihat wanita yang dicintainya itu dengan tatapan sendu. Hatinya porak poranda melihat Rinda yang selalu kuat, kini runtuh juga.
Dengan perlahan, Jexen meraih tubuh Rinda. Membawanya ke dalam pelukannya.
Meski awalnya ragu, tapi Jexen kali ini memberanikan diri untuk melakukannya.
Huaaaa
Tangis Rinda benar-benar pecah. Tak hanya sekedar terisak, namun Rinda sungguh menangis keras. Dia seolah mengeluarjan semua yang ada di hatinya.
"Tak apa, menangislah. Menangis sepuas mu, Mbak. Aku di sini. Aku ada di sini untuk mu."
Jexen menepuk punggung Rinda, membelai lembut kepala dan rambut Rinda. Bahkan Jexen mencium pucuk kepala wanita itu meski hanya sebentar.
Rinda tak sadar atas apa yang dilakukan Jexen. Dirinya sibuk menangis dan meluapkan semua yang dirasakan.
Untuk beberapa saat mereka dalam posisi itu. Hingga pada akhirnya Jexen melerai pelukannya ketika Rinda sudah berhenti menangis.
"Terimakasih Jex," ucap Rinda sambil mengusap wajahnya yang basah.
"Dengan senang hati Nona ku. Sekarang mari kita bersiap hmm. Langit sudah mulai terang," jawab Jexen. Ia turun dari ranjang dan melenggang pergi meninggalkan kamar Rinda.
Klak
Haaah
Jexen menghembuskan nafasnya panjang. Ia juga mengusap wajahnya kasar.
"Dia serapuh ini ternyata," ucapnya lirih.
Jexen tak menyadari bahwa Rinda bisa seperti sekarang. Ia memang tahu bahwa Rinda merasa sakit dan kecewa dengan semua yang terjadi pada dirinya.
Rinda yang selalu menampakkan dirinya sebagai wanita mandiri dan kuat, Jexen pikir kecelakaan itu tak akan mengganggu. Namun Jexen salah, Rinda tetaplah wanita biasa. Dan yang namanya trauma itu pasti ada.
Rinda hanya tidak menunjukkan atau bisa dikata menutup perasaannya yang sesungguhnya.
"Aku kecolongan," ucap Jexen lagi.
Pemeriksaan yang dipinta nya dari sang kakak hanya sebatas pemeriksaan fisik. Jexen lupa bahwa Rinda juga membutuhkan pemeriksaan psikis pasca peristiwa yang hampir merenggut nyawanya itu.
"Mbak," ucap Jexen. Dia langsung merogoh ponselnya dari kantong celana, dan menghubungi sang kakak.
"Ouwh sial, Jex. Memangnya tidak bisa nanti saja ya. Ini masih pagi betul. Aku baru saja merem, karena baru pulang. Semalam aku operasi dua pasien. Haah kamu ini benar-benar ya. Senang sekali mengusik ketenanganku."
Jexen menjauhkan ponselnya dari telinga. Dia hanya bicara satu kata, namun sang kakak menjawab dengan serentetan keluhan.
"Ada apa?"
Akhirnya Xerena bertanya tujuan sang adik menelponnya pagi ini.
"Soal Rinda, kayaknya dia butuh pergi ke psikolog atau psikiater deh Mbak. Trauma pasca kecelakaan itu pasti ada."
Jexen tak ingin basa-basi. Dia langsung bicara pada pokok permasalahan.
"Boleh, itu bagus. Hanya saja untuk melakukan pemeriksaan itu, harus Rinda sendiri yang mau. Kita tidak boleh memaksanya. Kita juga tidak boleh menyudutkannya. Yang perlu kita lakukan adalah memberinya masukan, mengarahkan. Setelah itu kembali ke pribadi Rinda, mau melakukan pemeriksaan atau tidak."
Jawaban Xerena bisa dimengerti oleh Jexen. Perihal psikis, perihal mental, harus orang yang bersangkutan sendiri yang memutuskan. Dimana itu merupakan kesiapan dirinya untuk menghadapi dirinya sendiri.
Hal yang paling sulit adalah mengalahkan ego, dan menyadari tentang kebutuhan sesungguhnya diri sendiri.
"Aku paham Mbak. Nanti aku pelan-pelan ngasih tahu dia," jawab Jexen.
"Oke, good. Ah ya, kamu tidak modus kan di sana. Awas lho ya jangan macam-macan. Bisa dicincang sama mama. Dan juga jangan sembrono, Rinda masih berstatus istri orang."
"Gila kamu ya Mbak. Aku tidak pernah punya pikiran jelek begitu ya. Sudah ah, bicara sama Mbak kelamaan yang ada ngawur."
Tuuuuut
Jexen mematikan secara sepihak panggilannya. Ia menghembuskan nafasnya kasar.
"Aku bukan orang gila yang akan memanfaatkan kesulitan orang. Aku ingin Rinda membutuhkan ku secara alami dan menyadari tentang diriku dengan sendirinya."
TBC