NovelToon NovelToon
Ayah Angkat Sang Mafia

Ayah Angkat Sang Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Cinta Terlarang / Beda Usia / Menikah dengan Musuhku
Popularitas:25
Nilai: 5
Nama Author: Ummu Salma

**Tiga belas tahun lalu, dia membantai seluruh keluargaku.**
**Sepuluh tahun lalu, tanpa tahu siapa aku sebenarnya, dia mengangkatku menjadi anak angkatnya.**
**Dua tahun lalu, pria yang seharusnya kupanggil "Ayah" itu... jatuh cinta padaku.**
**Lalu, saat aku paling hancur, dia mencampakkanku begitu saja.**

**Dan malam ini—dua tahun berlalu—kami bertemu lagi.**

Larasati sudah bukan gadis yang dulu. Dengan nama panggung **Nirmala**, dia menjelma menjadi pianis misterius yang namanya menggema tanpa pernah menunjukkan wajahnya. Malam itu, di pesta megah pewaris Mahendra, sebuah cek bernilai fantastis diantarkan ke hadapannya—dari **Arkana Wardhana**. Sang bos mafia yang ditakuti seantero kota itu hendak "membeli" satu malam bersamanya, hanya untuk memastikan satu hal: *dia tak akan pernah lagi memberikan hatinya.*

Larasati tersenyum. Lalu membalasnya dengan selembar uang receh.
Karena tak ada seorang pun yang lebih tahu daripada dirinya—pria itu adalah musuh yang membantai keluarganya, ayah angkat yang membesarkannya dengan tangannya sendiri, sekaligus satu-satunya lelaki yang pernah ia cintai sampai tak bisa lepas. Di antara dendam yang membeku di tulang dan cinta yang menolak padam, Larasati pernah mengangkat pisau ke arah jantungnya... dan tak sanggup menurunkannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ummu Salma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 3

Bab 3

Yang Selamat

Lalu langkah pertama menginjak tangga lipat.

Kakak mengayunkan gagang sapu.

Kayu itu menghantam tangan Jagal. Pria besar tersebut mengumpat, kehilangan pegangan, lalu turun dua anak tangga. Kakak berteriak menyuruh kami lari.

Ibu membuka penutup loteng.

"Ke belakang!"

Kami merangkak keluar di antara debu dan kardus. Kakiku belum menyentuh tangga ketika suara benturan terdengar dari lorong. Kakak jatuh menabrak dinding. Gagang sapunya patah menjadi dua.

Ayah menerjang Arkana.

Seseorang berteriak.

Kemudian terdengar letusan pendek.

Telingaku berdenging.

Ibu menarikku menuju pintu kecil di ujung loteng. Pintu itu membuka ke atap seng tambahan di belakang rumah. Hujan belum turun, tetapi sengnya licin oleh lumut. Di bawah sana ada gang sempit, tumpukan karung, dan gerobak rusak milik tetangga.

"Turun pelan-pelan," Ibu berkata. "Kakak akan menjemputmu di bawah."

"Ibu ikut?"

"Ibu di belakangmu."

Dia berbohong.

Aku baru menurunkan satu kaki ketika Jagal menangkap bahunya. Ibu menjerit dan mendorongku lebih jauh ke atap. Kukunya sempat menggores telapak tanganku sebelum pegangan kami terlepas.

"Lari!"

Itu suara terakhir Ibu yang masih bisa kuingat dengan jelas.

Setelahnya, ingatanku pecah menjadi potongan-potongan.

Wajah Jagal di ambang pintu.

Bayangan Ibu menerjangnya.

Bunyi benda berat jatuh.

Darah di sudut bibir Ibu.

Lalu tangan besar mencengkeram belakang bajuku.

Tubuhku terangkat.

Langit berputar.

Aku melihat Arkana berdiri di lorong dengan wajah yang mendadak berubah. Mulutnya bergerak, seolah meneriakkan sesuatu kepada Jagal, tetapi denging di telingaku menelan semua suara.

Kemudian tidak ada lantai di bawah kakiku.

Aku jatuh.

Atap seng menghantam punggungku. Tubuhku berguling ke tepi. Sebelum kepalaku menyentuh tanah, seseorang menerjang dari bawah.

Kakak.

Lengannya menangkap tubuhku. Kami jatuh bersama di antara karung dan kayu gerobak yang patah.

Rasa sakit menembak dari pergelangan kaki kananku. Aku mencoba memanggilnya, tetapi mulutku hanya terbuka tanpa suara.

Mata Kakak menatapku.

Dia tidak berkedip.

Ada darah di bawah kepalanya, merembes di antara batu-batu gang yang kotor.

Aku mengguncang bahunya.

Sekali.

Dua kali.

Dia tidak bangun.

Di atas, sepatu hitam berhenti di tepi atap. Aku mengangkat kepala dan melihat Arkana. Wajahnya tampak pucat di bawah matahari. Untuk sesaat, mata kami bertemu.

Wajah itulah yang kusimpan.

Bukan teriakan. Bukan darah. Bukan rasa sakit di kakiku.

Wajah seorang pria tampan yang berdiri di atas rumah kami ketika seluruh keluargaku berhenti bernapas.

Setelah itu, dunia menjadi gelap.

***

Ketika sadar, aku berada di sebuah puskesmas dengan kaki kanan dibalut dan selang bening menempel di tangan. Seorang perempuan berseragam bertanya siapa namaku.

Aku tahu jawabannya.

Namun tidak ada suara yang keluar.

Dia bertanya nama ayahku, nama ibuku, dan alamat rumah. Aku tetap menatap langit-langit.

Seorang polisi datang. Lalu petugas sosial. Kemudian orang-orang dewasa berbicara di luar tirai, mengira anak tujuh tahun tidak memahami kata-kata mereka.

"Tiga korban meninggal di rumah."

"Anak laki-laki ditemukan di belakang."

"Yang perempuan satu-satunya selamat."

Selamat.

Mereka menyebutku selamat seolah hidup adalah hadiah.

Padahal setiap kali memejamkan mata, aku kembali jatuh dari atap. Kakak kembali menangkapku. Ibu kembali berteriak menyuruhku lari.

Aku berhenti bicara.

Bukan karena lupa caranya. Kata-kata masih penuh di kepalaku, menumpuk sampai sesak. Aku hanya takut bila membuka mulut, semua jeritan malam itu akan keluar bersamaan.

Setelah lukaku cukup pulih, petugas membawaku ke rumah singgah. Sebulan kemudian aku dipindahkan ke panti lain. Tidak ada kerabat yang datang. Tidak ada orang yang mengenali foto keluargaku dari pengumuman yang ditempel di kantor kelurahan.

Pergelangan kakiku sembuh, tetapi tidak pernah benar-benar kuat. Pada malam dingin atau setelah berjalan jauh, bagian itu berdenyut seperti masih mengingat jatuh.

Aku juga mengingat wajah Arkana.

Setiap pagi, aku menggambarnya dengan arang di belakang kertas bekas. Mata gelap. Rambut rapi. Rokok di antara jari. Setelah selesai, kertas itu kulipat dan kusimpan di bawah kasur.

Petugas panti mengira aku menyukai seorang aktor.

Mereka tidak tahu aku sedang berlatih agar tidak lupa wajah orang yang harus kubunuh.

***

Dua tahun berlalu tanpa suaraku.

Panti ketiga berada jauh dari pusat kota, di belakang kebun singkong dan jalan tanah yang berubah menjadi lumpur setiap hujan. Bangunannya bekas rumah besar dengan atap bocor. Anak-anak tidur berdesakan, enam orang dalam satu kamar.

Aku tidak tinggal bersama mereka.

Karena sering terbangun sambil menendang dan mencakar, pengurus memindahkanku ke gudang kecil dekat dapur. Katanya hanya sementara. Sementara berubah menjadi berbulan-bulan.

Anak-anak lain memanggilku bisu.

Hanya seorang anak laki-laki bernama Gilang yang memanggilku dengan ketukan.

Dua kali di pintu, setiap waktu makan.

Usianya sekitar lima belas tahun. Tubuhnya tinggi dan kurus, rambutnya sering terlalu panjang karena panti jarang memanggil tukang cukur. Dia bertugas mengantar makanan ke kamarku.

Biasanya Gilang meletakkan piring di depan pintu lalu pergi. Dia tidak pernah memaksaku bicara. Tidak pernah menatap bekas luka di pergelangan kakiku terlalu lama.

Pada suatu malam, hujan turun sangat deras. Petir membuat jendela kecil bergetar. Atap bocor tepat di atas kasur, dan air menetes ke selimutku.

Dua ketukan terdengar.

Gilang masuk membawa nasi, telur rebus, dan lilin.

"Listrik mati," katanya. "Aku pikir kamu takut gelap."

Aku memeluk lutut di sudut kasur.

Petir meledak lagi.

Dalam sekejap, cahaya putih itu berubah menjadi letusan di kepalaku. Aku kembali mencium debu loteng, melihat darah di batu gang, dan merasakan tubuhku jatuh.

Piring terlepas dari tangan Gilang ketika aku menjerit tanpa suara. Aku mencakar leher sendiri, mencoba membuka jalan bagi suara yang terperangkap.

"Hei, jangan."

Gilang menangkap kedua tanganku. Aku menendang, memukul, dan menggigit lengannya. Dia tidak membalas. Dia hanya menarikku ke dada dan memelukku erat.

"Tidak apa-apa," katanya berkali-kali. "Kamu di sini. Bukan di tempat itu."

Tubuhku terus gemetar.

"Jangan takut. Ada aku."

Tidak ada seorang pun yang mengatakan itu sejak Kakak berjanji membelikan dua es lilin.

Aku berhenti melawan.

Gilang duduk di lantai sampai hujan mereda. Dia membagi telur rebus menjadi dua dan memakan separuhnya agar aku percaya makanan itu aman. Sebelum pergi, dia memindahkan ember ke bawah titik bocor dan menyelipkan selimut kering di sekeliling kakiku.

"Besok aku datang lagi," katanya.

Aku menatap punggungnya sampai pintu tertutup.

Kemudian aku mengambil selembar gambar dari bawah kasur. Wajah Arkana memandangku dari guratan arang yang hitam.

Gilang telah mengingatkanku bahwa aku masih hidup.

Karena itu, suatu hari nanti aku akan menemukan pria dalam gambar itu.

Aku akan mendekatinya.

Dan aku akan membuatnya membayar untuk setiap orang yang tidak bisa lagi memelukku.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!