Di mata dunia, mereka hanya keluarga kecil yang bahagia: Chiko si karyawan kantor yang penakut, Mila si ibu rumah tangga yang lembut, dan Lala si kecil berusia empat tahun yang konyol dan menggemaskan.
Namun, di balik pintu rumah mereka, kebenaran tersembunyi dengan rapat:
Chiko Leonhart: CEO miliarder yang sedang menyamar untuk menghancurkan musuh bisnisnya.
Mila Leonhart: Viper, ketua mafia legendaris yang menguasai dunia bawah tanah.
Lala Leonhart: Subjek eksperimen rahasia ber-IQ 210 yang menyembunyikan kejeniusannya di balik kecintaannya pada biskuit panda.
Disatukan oleh ketidaksengajaan dan takdir yang rumit, ketiganya saling menyembunyikan identitas asli demi menjaga misi masing-masing.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dena Tan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rencana Balas Dendam dan Kotak Pensil Gambar Panda
Suasana malam di rumah nomor 12B terasa jauh lebih tenang dibandingkan keriuhan di St. Starling Academy tadi sore. Berita di televisi menampilkan ruang aula sekolah yang luluh lantak, dengan narasi pembawa berita yang kebingungan menjelaskan bagaimana kelompok teroris bersenjata lengkap itu bisa dilumpuhkan hanya dalam hitungan menit oleh "kesalahan teknis sistem keamanan dan ledakan asap internal".
Di ruang tamu, Chiko duduk di sofa sambil memangku laptop kinerjanya. Namun, di balik kacamata tebalnya, layar laptop itu tidak menampilkan laporan administrasi kantor, melainkan jaringan intelijen global Leonhart Enterprises.
Jari-jari Chiko menari cepat di atas papan ketik.
[Perintahkan Tim Alpha untuk melacak seluruh sisa anggota Sindikat Kalajengking Hitam. Pastikan penyandang dana mereka kehilangan seluruh asetnya di bursa saham esok pagi. Tidak ada yang boleh mengancam keselamatan putriku dan lolos begitu saja.]
Di tempat terpisah—kamar belakang—Mila sedang melipat pakaian yang baru diangkat dari jemuran. Di tangannya yang lain, ia menggenggam ponsel militer terenkripsi yang menempel di telinganya.
"Bakar semua markas logistik mereka di distrik utara," bisik Mila dingin tanpa ekspresi, suara Viper yang ditakuti dunia bawah tanah kembali terdengar. "Pastikan pimpinan mereka paham bahwa menyentuh anak dari keluarga Leonhart berarti mengundang neraka ke pintu rumah mereka."
"Siap, Ratu Viper. Misi dilaksanakan malam ini," sahut suara di ujung telepon sebelum panggilan terputus.
Mila menghela napas pelan, mengembalikan ponselnya ke mode siaga, lalu melangkah keluar kamar belakang dengan senyuman paling hangat yang ia miliki.
Sementara itu, di kamar anak...
Lala duduk bersila di atas kasurnya yang empuk. Di hadapannya, sepuluh boks biskuit panda berbaris rapi—hadiah atas "keberaniannya" menghadapi serangan teroris tadi sore.
Jam tangan Hello Panda milik Lala memancarkan sinar hijau redup ke arah dinding. Hologram mikro menampilkan pergerakan dua tim taktis yang sedang bergerak di luar sana: Tim Alpha milik Chiko dan Pasukan Black Crimson milik Mila.
Lala mengunyah biskuit pandanya dengan santai, mengamati dua garis merah dan biru di layar hologramnya yang sedang berebut menghancurkan markas Sindikat Kalajengking Hitam.
"Wah... Papa pakai jalur siber, Bunda pakai jalur pemukul," gumam Lala pelan sambil manggut-manggut. "Kasihan paman-paman teroris itu. Besok pagi mereka pasti sudah tidak punya uang buat beli bakso."
Lala lalu menepuk-nepuk tangannya yang berbekal krim cokelat, lalu mematikan hologramnya saat mendengar langkah kaki mendekati pintu.
Klek.
Chiko dan Mila masuk bersamaan. Chiko membawa sebuah kotak hadiah besar berpita merah, sementara Mila membawa segelas susu hangat.
"Lala belum tidur?" tanya Chiko lembut sambil berlutut di samping tempat tidur.
"Belum, Papa! Lala lagi menghitung biskuit!" jawab Lala riang sambil menunjukkan jarinya yang penuh bekas cokelat.
Mila tertawa kecil, memberikan gelas susu hangat pada Lala. "Minum susunya dulu, Sayang. Biar tidak mimpi buruk gara-gara kejadian tadi sore."
"Lala tidak mimpi buruk kok, Bunda," sahut Lala jujur sambil meminum susunya hingga meninggalkan 'kumis putih' di atas bibirnya. "Tadi sore kan cuma main air sama paman-paman bertopeng!"
Chiko dan Mila saling pandang, merasa lega luar biasa karena kepolosan putri mereka berhasil melindunginya dari trauma.
"Nah, karena Lala pinter dan sudah resmi diterima di St. Starling Academy, Papa punya hadiah khusus!" kata Chiko seraya menyerahkan kotak hadiah besar itu.
Mata bulat Lala langsung berbinar-binar. Dengan sabar dan hati-hati, jemari mungilnya membuka pita merah tersebut. Di dalam kotak itu, terbaring sebuah kotak pensil raksasa berbentuk kepala panda berbulu halus yang sangat menggemaskan, lengkap dengan tombol-tombol rahasia di sisinya.
"WAHHH! KOTAK PENSIL PANDA RAKSASA!" jerit Lala gembira, langsung memeluk kotak pensil itu erat-erat di dadanya. "Ada tombolnya juga! Terima kasih, Papa! Terima kasih, Bunda!"
"Sama-sama, Sayang," balas Mila sambil mengecup dahi Lala penuh kasih. "Besok lusa sekolahnya sudah mulai. Lala siap?"
"Siap, Bunda! Nanti di sekolah Lala mau jadi ketua kelas pahlawan panda!" seru Lala mantap sambil mengacungkan kotak pensil barunya ke udara.
Chiko tertawa renyah, membantu merapikan selimut Lala saat bocah empat tahun itu akhirnya mulai menguap lebar. Kelelahan setelah seharian berakting dan meretas sistem sekolah mulai menguasai tubuh kecilnya.
Dalam hitungan menit, Lala sudah tertidur lelap, merangkul kotak pensil panda barunya di satu tangan dan boneka pandanya di tangan lain.
Chiko dan Mila berdiri di samping tempat tidur, menatap putri kecil mereka yang bernapas teratur dalam lelapnya.
"Terima kasih ya, Pah... sudah jadi suami dan ayah yang hebat untuk Lala," bisik Mila lembut sambil menyenderkan kepalanya di bahu Chiko.
Chiko tersenyum manis, merangkul pundak Mila erat-erat. "Papa yang harusnya terima kasih sama Bunda. Tanpa Bunda, rumah ini tidak akan sehangat ini."
Di dalam kamar yang tenang itu, tiga insan dengan latar belakang paling berbahaya di dunia telah menemukan tempat berlindung mereka yang paling aman: sebuah keluarga kecil yang saling menyayangi di balik sejuta rahasia.
Bersambung..