Tiyas adalah seorang istri yang setia dan penuh cinta, namun dunianya hancur seketika saat ia mendapati suaminya, Gio, berselingkuh dengan Mia—yang tak lain adalah saudara sepupunya sendiri. Pengkhianatan berlapis ini meremukkan hatinya, memaksa Tiyas untuk menelan kepahitan dan mengumpulkan serpihan harga dirinya yang tersisa.
Di tengah badai kekecewaan tersebut, takdir mempertemukannya dengan Narendra, yang bernasib serupa sebagai suami Mia yang juga dikhianati. Berawal dari rasa sakit dan luka yang sama, Tiyas dan Narendra perlahan menemukan ruang aman untuk saling menguatkan, menumbuhkan kenyamanan, serta merajut harapan baru di atas reruntuhan masa lalu mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16
Gio menggelengkan kepalanya keras-keras. Lututnya lemas, runtuh di atas lantai marmar yang dingin.
Tanpa urat malu, pria yang semula bersikap congkak itu kini duduk bersila di hadapan Tiyas dengan raut wajah memelas yang menjijikkan.
"Kasih aku kesempatan satu kali lagi, Tiyas." ratap Gio, suaranya gemetar panik.
"Aku berjanji akan berubah! A-aku akan menjauhi Mia sepenuhnya. Aku minta maaf, Tiyas."
Tiyas memejamkan matanya rapat-rapat, mengusir jauh-jauh rasa iba yang sempat mencoba menyusup.
Ia tidak akan jatuh pada lubang yang sama untuk kedua kalinya.
Saat matanya kembali terbuka, hanya ada ketegasan setajam sembilu.
"Maaf, aku tidak bisa memberikan kesempatan lagi," desis Tiyas dingin sebelum akhirnya berteriak lantang, "KELUAR!!"
Mendengar bentakan akhir itu, wajah memelas Gio seketika sirna.
Pria itu bangkit berdiri, menyunggingkan senyum tipis yang sarat akan kebencian dan kebusukan yang belum padam.
"Aku akan membalasmu, Tiyas!" sergah Gio dengan napas memburu dan mata mendelik.
"Di sini kamu juga salah! Aku akan membalasmu!!"
Tanpa menunggu balasan Tiyas, Gio menyambar gagang kopernya kasar lalu menyeretnya keluar dari rumah tersebut.
Ia melangkah menuju jalanan, melempar kopernya ke dalam bagasi mobil sedan tua—satu-satunya kendaraan yang ia beli dengan uangnya sendiri tanpa campur tangan aset Tiyas.
Gio membanting pintu mobil, mencengkeram kemudi erat-erat hingga buku-buku jarinya memutih, lalu memukul setir dengan emosi yang membuncah.
"SIAL!!" teriaknya menggema di dalam kabin, sebelum akhirnya menginjak gas dalam-dalam dan melesat pergi meninggalkan rumah yang tak lagi menjadi miliknya.
Tiyas terduduk di sofa ruang tamu yang kini terasa begitu luas dan lengang.
Kedua telapak tangannya menutup wajahnya yang basah oleh air mata.
Bahunya berguncang hebat, melepaskan seluruh beban berat, ketegangan, dan kepedihan yang menyiksa dadanya selama bertahun-tahun.
"Semuanya sudah selesai, Tiyas." gumamnya lirih di sela isak tangis yang pecah, seolah berusaha meyakinkan dirinya sendiri bahwa badai besar itu kini benar-benar telah berlalu.
Air mata ini bukan lagi tentang rasa sakit atas pengkhianatan Gio, melainkan bentuk pelepasan dari belenggu kebohongan yang selama ini mengikat hidupnya.
Tiyas membiarkan dirinya menangis sepuasnya, membuang sisa-sisa jejak Gio yang pernah singgah di hatinya.
Setelah tangisnya berangsur mereda, Tiyas menarik napas panjang dan mengusap pipinya hingga kering.
Ia meraih ponselnya di atas meja, menguatkan jemarinya, lalu membuka aplikasi pesan.
Dengan ketegasan yang tak lagi tergoyahkan, ia mengetik pesan kepada pengacaranya
[Pak, eksekusi hari ini sudah selesai. Tolong segera daftarkan gugatan perceraian saya ke pengadilan dan proses seluruh pengambilalihan aset secepatnya.]
Setelah menekan tombol kirim, Tiyas menyandarkan punggungnya di sofa, menatap langit-langit rumahnya yang baru.
Untuk pertama kalinya, ia merasa benar-benar bebas.
Di sebuah rumah yang elegan dan penuh dekorasi modern, Mia berdiri di depan cermin sambil menyenandungkan lagu favoritnya. Wajahnya cerah, tubuhnya menari ringan mengikuti irama.
Ia mengenakan gaun santai dan terlihat sangat menikmati suasana.
Tak ada rasa bersalah di wajahnya. Baginya, segalanya masih berjalan mulus. Gio baru saja kembali dari "perjalanan dinas", dan ia yakin Narendra masih sibuk dengan proyeknya di Bali.
Dengan santai, Mia berjalan menuju ruang makan, berniat mengambil segelas jus dingin.
Namun langkahnya terhenti mendadak. Matanya melebar, segelas jus nyaris jatuh dari tangannya.
Di ujung meja makan, duduk seseorang yang sudah sangat dikenalnya.
Seorang pria bertubuh tegap, berwajah dingin dengan mata tajam yang tak berkedip: Narendra.
"B-Naren?" suara Mia tercekat.
Narendra hanya diam, menatap istrinya dengan tatapan yang tak bisa ditafsirkan—campuran kecewa, marah, dan dingin yang menusuk.
"Kamu, di sini? Bukannya kamu masih di Bali?" Mia mencoba tersenyum, meski wajahnya memucat.
"Dari mana kamu?" tanya Narendra, suaranya berat dan datar.
"A-aku dari Bandung. Bukankah aku sudah mengabarkan ke kamu?" sahut Mia gagap.
"Sama siapa?"
"Aku sama tim manajemen, Sayang. Ada apa sih?"
"Tim manajemen?" Narendra terkekeh dingin.
Ia melempar seberkas dokumen, foto-foto intim di vila Lembang, serta gawai yang langsung memutarkan rekaman audio desahan Mia bersama Gio di depan wajah istrinya.
"Lalu, ini apa?"
Mia membelalakkan matanya saat melihat dan mendengar semuanya. Wajahnya seketika pucat pasi.
"Naren, aku bisa menjelaskannya."
"Menjelaskan apa?!" potong Narendra dengan nada tajam menusuk.
"Menjelaskan tentang suara desahan kamu? Kenikmatan kamu sama Gio? Atau yang lain?! Kalau kamu sudah tidak mencintaiku, seharusnya bicara langsung ke aku! Bukan berselingkuh seperti binatang di belakangku!"
Narendra berdiri tegap, menatap Mia tanpa sisa rasa iba sedikit pun.
"Sekarang, aku jatuhkan talak tiga kepadamu, Mia."
Mia menggelengkan kepalanya histeris, air mata mulai menetes membasahi pipinya.
"Naren, aku minta maaf. Aku minta maaf, Naren! Tolong."
"Keluar dari rumah ini! Dan semua pakaianmu sudah aku buang ke tempat sampah di depan!" tegas Narendra dingin.
Pria itu balik badan, meninggalkan Mia yang meratap di atas lantai, hancur oleh perangkap pengkhianatannya sendiri.
Narendra mencengkeram gelas kaca di meja makan hingga buku-buku jarinya memutih, lalu melemparnya sekuat tenaga ke arah pintu utama.
PRANG!
Pecahan kaca berhamburan ke segala arah, menimbulkan suara memekakkan yang membentur dinding keheningan rumah.
"KELUAR!!!" teriak Narendra menggelegar, melepaskan seluruh amarah yang selama ini tertahan rapi di balik topeng tenangnya.
Mia menjerit tertahan, tubuhnya gemetar hebat dikuasai rasa takut yang luar biasa.
Tanpa berani mengucapkan satu kata pun lagi, ia berbalik dan berlari keluar rumah sambil menangis sesenggukan.
Suara langkah kakinya yang panik dan terburu-buru perlahan menjauh, menyisakan Narendra yang berdiri sendirian di tengah ruang makan yang kini hancur berantakan—sama seperti pernikahan mereka yang telah mati.
Setitik air mata akhirnya luruh membasahi pipi Narendra saat menatap pecahan kaca dan berkas-berkas pengkhianatan yang berserakan di lantai.
Pria tegap yang selalu berdiri kokoh itu kini terduduk di kursi makan, membiarkan pertahanan dirinya runtuh sejenak dalam keheningan rumah yang terasa asing.
Rasa sakit akan dikhianati oleh wanita yang pernah ia agungkan menusuk tepat di dadanya.
Namun, Narendra tahu ia tidak boleh berlarut-larut dalam duka.
Dengan napas yang diatur perlahan, ia mengusap sisa air matanya dan meraih ponsel di atas meja.
Jemarinya dengan cepat mencari kontak sang kuasa hukum lalu menekan tombol panggil.
"Halo, Pak," ucap Narendra dengan suara baritonnya yang kembali tenang dan penuh ketegasan.
"Proses perceraian saya dengan Mia bisa didaftarkan hari ini. Pastikan semua bukti rekaman dan dokumen pengalihan aset sudah dilampirkan. Saya ingin proses ini selesai secepatnya tanpa ada celah negotiation sedikit pun."
Setelah mendapat kepastian dari pengacaranya di seberang telepon, Narendra mematikan sambungan.
Ia berdiri, membuang napas panjang, dan mengambil kunci mobilnya.
Bagian dirinya telah usai; kini saatnya ia kembali untuk memastikan Tiyas tidak sendirian menghadapi sisa puing dari badai yang baru saja berlalu.
udh jgain tiyas,posesif bgt smp ga bleh ngpa2in slain istrhat...sm clon mrtua pun ga pelit.....😀😀😀
sokooorrr.....😛😛😛
udh dpt rstu dr shbt n ortumu...mga kali ni klian bhgia,ga ada pngkhianatan lg sprti msa lalu....
aku udh mmpir...slm knal.....
crtanya seru,suka sm tiyas yg tegas dn tngguh....mga bhgia trs sm naren....😘😘😘