NovelToon NovelToon
Ketika Pengkhianatan Mempertemukan Dua Hati

Ketika Pengkhianatan Mempertemukan Dua Hati

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / CEO
Popularitas:5.6k
Nilai: 5
Nama Author: my name si phoo

Tiyas adalah seorang istri yang setia dan penuh cinta, namun dunianya hancur seketika saat ia mendapati suaminya, Gio, berselingkuh dengan Mia—yang tak lain adalah saudara sepupunya sendiri. Pengkhianatan berlapis ini meremukkan hatinya, memaksa Tiyas untuk menelan kepahitan dan mengumpulkan serpihan harga dirinya yang tersisa.
Di tengah badai kekecewaan tersebut, takdir mempertemukannya dengan Narendra, yang bernasib serupa sebagai suami Mia yang juga dikhianati. Berawal dari rasa sakit dan luka yang sama, Tiyas dan Narendra perlahan menemukan ruang aman untuk saling menguatkan, menumbuhkan kenyamanan, serta merajut harapan baru di atas reruntuhan masa lalu mereka.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 16

Gio menggelengkan kepalanya keras-keras. Lututnya lemas, runtuh di atas lantai marmar yang dingin.

Tanpa urat malu, pria yang semula bersikap congkak itu kini duduk bersila di hadapan Tiyas dengan raut wajah memelas yang menjijikkan.

"Kasih aku kesempatan satu kali lagi, Tiyas." ratap Gio, suaranya gemetar panik.

"Aku berjanji akan berubah! A-aku akan menjauhi Mia sepenuhnya. Aku minta maaf, Tiyas."

Tiyas memejamkan matanya rapat-rapat, mengusir jauh-jauh rasa iba yang sempat mencoba menyusup.

Ia tidak akan jatuh pada lubang yang sama untuk kedua kalinya.

Saat matanya kembali terbuka, hanya ada ketegasan setajam sembilu.

"Maaf, aku tidak bisa memberikan kesempatan lagi," desis Tiyas dingin sebelum akhirnya berteriak lantang, "KELUAR!!"

Mendengar bentakan akhir itu, wajah memelas Gio seketika sirna.

Pria itu bangkit berdiri, menyunggingkan senyum tipis yang sarat akan kebencian dan kebusukan yang belum padam.

"Aku akan membalasmu, Tiyas!" sergah Gio dengan napas memburu dan mata mendelik.

"Di sini kamu juga salah! Aku akan membalasmu!!"

Tanpa menunggu balasan Tiyas, Gio menyambar gagang kopernya kasar lalu menyeretnya keluar dari rumah tersebut.

Ia melangkah menuju jalanan, melempar kopernya ke dalam bagasi mobil sedan tua—satu-satunya kendaraan yang ia beli dengan uangnya sendiri tanpa campur tangan aset Tiyas.

Gio membanting pintu mobil, mencengkeram kemudi erat-erat hingga buku-buku jarinya memutih, lalu memukul setir dengan emosi yang membuncah.

"SIAL!!" teriaknya menggema di dalam kabin, sebelum akhirnya menginjak gas dalam-dalam dan melesat pergi meninggalkan rumah yang tak lagi menjadi miliknya.

Tiyas terduduk di sofa ruang tamu yang kini terasa begitu luas dan lengang.

Kedua telapak tangannya menutup wajahnya yang basah oleh air mata.

Bahunya berguncang hebat, melepaskan seluruh beban berat, ketegangan, dan kepedihan yang menyiksa dadanya selama bertahun-tahun.

"Semuanya sudah selesai, Tiyas." gumamnya lirih di sela isak tangis yang pecah, seolah berusaha meyakinkan dirinya sendiri bahwa badai besar itu kini benar-benar telah berlalu.

Air mata ini bukan lagi tentang rasa sakit atas pengkhianatan Gio, melainkan bentuk pelepasan dari belenggu kebohongan yang selama ini mengikat hidupnya.

Tiyas membiarkan dirinya menangis sepuasnya, membuang sisa-sisa jejak Gio yang pernah singgah di hatinya.

Setelah tangisnya berangsur mereda, Tiyas menarik napas panjang dan mengusap pipinya hingga kering.

Ia meraih ponselnya di atas meja, menguatkan jemarinya, lalu membuka aplikasi pesan.

Dengan ketegasan yang tak lagi tergoyahkan, ia mengetik pesan kepada pengacaranya

[Pak, eksekusi hari ini sudah selesai. Tolong segera daftarkan gugatan perceraian saya ke pengadilan dan proses seluruh pengambilalihan aset secepatnya.]

Setelah menekan tombol kirim, Tiyas menyandarkan punggungnya di sofa, menatap langit-langit rumahnya yang baru.

Untuk pertama kalinya, ia merasa benar-benar bebas.

Di sebuah rumah yang elegan dan penuh dekorasi modern, Mia berdiri di depan cermin sambil menyenandungkan lagu favoritnya. Wajahnya cerah, tubuhnya menari ringan mengikuti irama.

Ia mengenakan gaun santai dan terlihat sangat menikmati suasana.

Tak ada rasa bersalah di wajahnya. Baginya, segalanya masih berjalan mulus. Gio baru saja kembali dari "perjalanan dinas", dan ia yakin Narendra masih sibuk dengan proyeknya di Bali.

Dengan santai, Mia berjalan menuju ruang makan, berniat mengambil segelas jus dingin.

Namun langkahnya terhenti mendadak. Matanya melebar, segelas jus nyaris jatuh dari tangannya.

Di ujung meja makan, duduk seseorang yang sudah sangat dikenalnya.

Seorang pria bertubuh tegap, berwajah dingin dengan mata tajam yang tak berkedip: Narendra.

"B-Naren?" suara Mia tercekat.

Narendra hanya diam, menatap istrinya dengan tatapan yang tak bisa ditafsirkan—campuran kecewa, marah, dan dingin yang menusuk.

"Kamu, di sini? Bukannya kamu masih di Bali?" Mia mencoba tersenyum, meski wajahnya memucat.

"Dari mana kamu?" tanya Narendra, suaranya berat dan datar.

"A-aku dari Bandung. Bukankah aku sudah mengabarkan ke kamu?" sahut Mia gagap.

"Sama siapa?"

"Aku sama tim manajemen, Sayang. Ada apa sih?"

"Tim manajemen?" Narendra terkekeh dingin.

Ia melempar seberkas dokumen, foto-foto intim di vila Lembang, serta gawai yang langsung memutarkan rekaman audio desahan Mia bersama Gio di depan wajah istrinya.

"Lalu, ini apa?"

Mia membelalakkan matanya saat melihat dan mendengar semuanya. Wajahnya seketika pucat pasi.

"Naren, aku bisa menjelaskannya."

"Menjelaskan apa?!" potong Narendra dengan nada tajam menusuk.

"Menjelaskan tentang suara desahan kamu? Kenikmatan kamu sama Gio? Atau yang lain?! Kalau kamu sudah tidak mencintaiku, seharusnya bicara langsung ke aku! Bukan berselingkuh seperti binatang di belakangku!"

Narendra berdiri tegap, menatap Mia tanpa sisa rasa iba sedikit pun.

"Sekarang, aku jatuhkan talak tiga kepadamu, Mia."

Mia menggelengkan kepalanya histeris, air mata mulai menetes membasahi pipinya.

"Naren, aku minta maaf. Aku minta maaf, Naren! Tolong."

"Keluar dari rumah ini! Dan semua pakaianmu sudah aku buang ke tempat sampah di depan!" tegas Narendra dingin.

Pria itu balik badan, meninggalkan Mia yang meratap di atas lantai, hancur oleh perangkap pengkhianatannya sendiri.

Narendra mencengkeram gelas kaca di meja makan hingga buku-buku jarinya memutih, lalu melemparnya sekuat tenaga ke arah pintu utama.

PRANG!

Pecahan kaca berhamburan ke segala arah, menimbulkan suara memekakkan yang membentur dinding keheningan rumah.

"KELUAR!!!" teriak Narendra menggelegar, melepaskan seluruh amarah yang selama ini tertahan rapi di balik topeng tenangnya.

Mia menjerit tertahan, tubuhnya gemetar hebat dikuasai rasa takut yang luar biasa.

Tanpa berani mengucapkan satu kata pun lagi, ia berbalik dan berlari keluar rumah sambil menangis sesenggukan.

Suara langkah kakinya yang panik dan terburu-buru perlahan menjauh, menyisakan Narendra yang berdiri sendirian di tengah ruang makan yang kini hancur berantakan—sama seperti pernikahan mereka yang telah mati.

Setitik air mata akhirnya luruh membasahi pipi Narendra saat menatap pecahan kaca dan berkas-berkas pengkhianatan yang berserakan di lantai.

Pria tegap yang selalu berdiri kokoh itu kini terduduk di kursi makan, membiarkan pertahanan dirinya runtuh sejenak dalam keheningan rumah yang terasa asing.

Rasa sakit akan dikhianati oleh wanita yang pernah ia agungkan menusuk tepat di dadanya.

Namun, Narendra tahu ia tidak boleh berlarut-larut dalam duka.

Dengan napas yang diatur perlahan, ia mengusap sisa air matanya dan meraih ponsel di atas meja.

Jemarinya dengan cepat mencari kontak sang kuasa hukum lalu menekan tombol panggil.

"Halo, Pak," ucap Narendra dengan suara baritonnya yang kembali tenang dan penuh ketegasan.

"Proses perceraian saya dengan Mia bisa didaftarkan hari ini. Pastikan semua bukti rekaman dan dokumen pengalihan aset sudah dilampirkan. Saya ingin proses ini selesai secepatnya tanpa ada celah negotiation sedikit pun."

Setelah mendapat kepastian dari pengacaranya di seberang telepon, Narendra mematikan sambungan.

Ia berdiri, membuang napas panjang, dan mengambil kunci mobilnya.

Bagian dirinya telah usai; kini saatnya ia kembali untuk memastikan Tiyas tidak sendirian menghadapi sisa puing dari badai yang baru saja berlalu.

1
Noey Aprilia
Gmana ga ngsih rstu....naren bnr2 clon suami plus clon mntu idaman...
udh jgain tiyas,posesif bgt smp ga bleh ngpa2in slain istrhat...sm clon mrtua pun ga pelit.....😀😀😀
Noey Aprilia
Stlh psah sm suami durjana,tiyas dptn clon suami idaman....sng mntan pst nysel krna akhrnya hdp mndrta..
sokooorrr.....😛😛😛
Noey Aprilia
Tuuhhh....
udh dpt rstu dr shbt n ortumu...mga kali ni klian bhgia,ga ada pngkhianatan lg sprti msa lalu....
sunaryati jarum
Akhirnya dapat restu dari orang tua
Ariany Sudjana
Tyas masih juga memikirkan pekerjaan, yang penting kamu sehat dulu. dokter sudah minta kamu istirahat, patuhi nasehat dokter
Noey Aprilia
Hai kk....
aku udh mmpir...slm knal.....
crtanya seru,suka sm tiyas yg tegas dn tngguh....mga bhgia trs sm naren....😘😘😘
my name is pho: Terima kasih kak🥰
total 1 replies
Ariany Sudjana
owh ternyata prank 🤣🤣😂😂
sunaryati jarum
so sweet banget Naren ngeprank kamu
sunaryati jarum
Suka
sunaryati jarum
Emak suka ceritanya tidak muter dan bertele-tele
sunaryati jarum
Baru mampir
my name is pho: Selamat membaca kak 🥰🙏
total 1 replies
Heny
Bearti yg kaya Tyas dan Naren gio dan mia benalu
my name is pho: iya kak
total 1 replies
Ariany Sudjana
harusnya Tyas kasih jawaban tunggu sampai putusan pengadilan keluar, kalau pas baru mediasi sudah ada jawaban dari Tyas, bisa jadi senjata untuk gio dan Mia, mereka nanti berpikir Tyas dan Narendra juga selingkuh di belakang mereka
Ariany Sudjana
itulah hukum tabur tuai Mia, kan pilihan kamu sendiri untuk selingkuh dari Narendra demi seorang gio, jadi jalani saja yah 🤣🤣😂😂
Ariany Sudjana
pertimbangkan baik-baik lamaran Narendra tadi Tyas,betul kamu masih terluka, tapi tetap kamu perlu seorang yang bisa melindungi kamu
Ariany Sudjana
bodoh kamu Tyas, sama saja kamu itu sampah seperti Mia, kamu menghancurkan diri kamu sendiri dengan mabuk alkohol
Ariany Sudjana
bagus Tyas dan Narendra, kalian berdua sudah tegas terhadap pasangan pengkhianat tersebut, dan tinggal tunggu sidang saja 😄🙏
Ariany Sudjana
dasar suami bodoh kamu gio, kamu merasa insecure terhadap Tyas, terus apa itu bisa jadi alasan untuk kamu selingkuh ? dasar laki-laki pengecut kamu gio, kamu memilih mengkhianati perempuan hebat seperti Tyas, demi seorang pelacur murahan 🤣🤣😂😂
Ariany Sudjana
bagus Imelda ngomong gitu ke Tyas, biar sadar belum berjuang kok sudah tumbang, karena kesehatan tidak mendukung dan juga ga perlu sok kuat, kamu juga perlu orang untuk berbagi, dan sekarang kamu buat semua orang sibuk Tyas
Ariany Sudjana
ini Tyas yang bodoh, harusnya Tyas rawat inap paling tidak semalam di rumah sakit, ini malah merepotkan orang lain
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!