NovelToon NovelToon
Godaan Paman Mantanku

Godaan Paman Mantanku

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO
Popularitas:3.8k
Nilai: 5
Nama Author: Elwa Zetri

​"Sayang, aku ke toilet sebentar ya," ucap Sean halus, sambil menepuk pelan jemari Aura yang berada di atas pangkuan.

​Aura mengangguk pelan, memberikan senyuman terbaiknya. "Jangan lama-lama ya, Sean."

​Sean berdiri dan melangkah menjauhi meja makan melingkar itu, menghilang di antara kerumunan alumni yang sedang asyik mengobrol. Aura kembali menyesap minuman dinginnya, mencoba menikmati suasana. Namun, jarum jam seolah berputar lambat. Lima menit berlalu, lalu sepuluh menit, hingga tak terasa hampir 15 menit Sean tak kunjung kembali ke meja mereka.

​Rasa khawatir dan curiga mulai merayapi pikiran Aura. Dengan menghela nafas panjang, ia berpamitan singkat pada teman-teman seangkatannya lalu berdiri untuk menyusul kekasihnya. Langkah kakinya yang beralaskan gaun anggun dan sepatu hak tinggi mengayun perlahan menyusuri lorong katering yang agak remang-remang menuju area toilet.

​Namun, sebelum langkahnya benar-benar sampai di depan pintu toilet pria, langkah Aura terhenti seketika.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elwa Zetri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Hujan Deras Di Halte Busway

​Denting jam dinding menunjukkan tepat pukul lima sore. Suara riuh rendah kembali menyelimuti divisi analisis data saat para karyawan mulai mematikan layar komputer dan merapikan barang-barang di atas meja kerja mereka. Hari pertama yang penuh dinamika akhirnya resmi berakhir.

​"Akhirnya jam pulang tiba juga!" seru Rena lega seraya meregangkan kedua tangannya ke atas. Ia memutar kursinya menatap Aura yang sedang mematikan sistem komputurnya. "Gimana hari pertama kamu, Ra? Masih aman, kan?"

​Aura tersenyum hangat seraya memasukkan buku catatan dan alat tulisnya ke dalam tas. "Aman banget, Rena. Terima kasih ya buat bantuannya hari ini."

​"Sama-sama! Oiya, kamu pulang naik apa? Mau bareng ke depan jalan raya?" tawar Rena ramah.

​"Aku jalan kaki sebentar ke halte depan, lalu naik busway," jawab Aura lembut.

​Saat mereka melangkah keluar dari area kubikel, Maya melewatinya begitu saja tanpa menyapa, membawa tas bermereknya dengan dagu terangkat. Rena hanya memutar bola matanya jenaka melihat tingkah seniornya itu, membuat Aura terkekeh pelan. Mereka berdua melangkah bersama menuju lift umum dan turun ke lobi utama yang sudah ramai oleh arus karyawan yang hendak pulang.

​Di lobi utama yang megah, Aura berpisah dengan Rena yang dijemput oleh transportasi daring. Gadis itu berdiri sejenak di luar pintu kaca besar, menikmati tiupan angin sore ibu kota yang sejuk.

​Di lantai atas, dari balik jendela kaca besar ruang kerjanya yang tersamar, Arsenio Pratama berdiri tegak memperhatikan sosok Aura dari kejauhan. Pria itu menatap langkah anggun gadis berblazer abu-abu gelap itu yang melangkah tenang menuju halte. Sudut bibir Arsen terangkat tipis, menyimpang sebuah ketertarikan yang kian dalam.

​“Kita lihat sejauh apa kamu bisa bertahan esok pagi, Nona Aura,” gumam Arsen pelan dalam hatinya.

​Aura terus melangkah menuju kontrakan sederhananya dengan perasaan lega yang membuncah. Hari pertama telah berhasil ia lalui dengan baik. Kini, satu-satunya hal yang perlu ia persiapkan adalah keberanian untuk menyambut pukul delapan pagi esok—saat tugas menyeduh kopi hitam untuk sang CEO resmi dimulai.

​Aura berdiri di bawah naungan atap halte yang mulai dipadati oleh calon penumpang lain. Jarum jam tangan mungilnya sudah menunjuk tepat ke angka 5:15 sore, namun belum ada satu pun busway yang menepi. Arus lalu lintas di depan gedung A&P Group tampak terkunci rapat oleh kemacetan parah khas jam pulang kerja.

​Di saat bersamaan, langit sore yang tadinya berwarna keemasan perlahan menggelap berganti awan kelabu tebal. Tak butuh waktu lama, titik-titik air mulai jatuh menimpa aspal, perlahan berubah menjadi hujan deras yang mengguyur ibu kota. Angin kencang berembus, membuat hawa dingin menusuk hingga ke balik blazer abu-abu gelap yang dikenakan Aura.

​Aura memeluk tasnya erat-erat di depan dada, merapatkan tubuhnya ke sudut halte agar tidak terkena cipratan air hujan. Beberapa orang di sekitarnya mulai tampak gelisah, sibuk memeriksa aplikasi transportasi daring di ponsel masing-masing yang menunjukkan harga melambung tinggi akibat cuaca buruk.

​Aura menatap layar ponselnya sendiri. Saldo di dompet digitalnya harus ia hemat seefisien mungkin untuk bertahan hidup hingga gaji pertamanya cair bulan depan. Naik taksi atau ojek daring bertarif mahal jelas bukan pilihan yang bijak saat ini.

​“Sabar, Aura... sebentar lagi bus pasti datang,” bisiknya menenangkan diri sendiri, meski jemari kakinya mulai merasa dingin.

​Sementara itu, di lantai dasar gedung A&P Group, sedan hitam mewah Roll-Royce milik Arsenio Pratama perlahan bergerak keluar dari area parkir VIP. Di dalam kabin belakang yang hangat dan tenang, Arsen duduk menyilangkan kaki seraya menatap dokumen di pangkuannya. Namun, saat mobilnya melaju pelan melewati area halte di depan gedung, mata tajam sang CEO tak sengaja menangkap sosok gadis yang begitu familiar.

​Di antara kerumunan orang yang berdesakan meneduh dari hujan deras, berdiri Aura Kirana—tampak sendirian, memeluk tasnya rapat-rapat dengan bibir tipis yang sedikit mengigil menahan dingin.

​Arsen mengetuk pembatas kaca di depan. "David, hentikan mobilnya di depan halte," perintah Arsen singkat dengan suara berat yang tak terbantahkan.

1
Ryuu
Keren
Ryuu
semangat😍
Ade Chubi
dua pilihan itu ,dua dua nya menguntungkan tuan CEO
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!