NovelToon NovelToon
KUTUKAN GAUN PENGANTIN

KUTUKAN GAUN PENGANTIN

Status: tamat
Genre:Misteri / Horor / Kutukan / Tamat
Popularitas:2.3k
Nilai: 5
Nama Author: Andhig Rosdiana

Anindiya dikenal sebagai seorang makeup artist berbakat yang memiliki sanggar rias pengantin ternama di kotanya. Setiap hari, ia membantu para calon pengantin mewujudkan impian mereka tampil sempurna di hari bahagia. Hidupnya berjalan tenang hingga suatu hari ia mengunjungi sebuah butik tua untuk mencari beberapa gaun pengantin baru.
Di antara deretan gaun mewah, pandangannya terpaku pada sebuah gaun putih yang dipajang anggun di atas manekin. Ada sesuatu yang aneh sekaligus memikat dari gaun itu. Seolah memiliki kehidupan, gaun tersebut memanggilnya tanpa suara. Meski sang pemilik butik memperingatkan agar tidak menyentuhnya, Anindiya justru membawanya pulang.
Sejak saat itu, kejadian-kejadian mengerikan mulai menghantui hidupnya. Bisikan misterius terdengar di tengah malam, bayangan pengantin berlumuran darah muncul di setiap cermin, dan setiap pengantin yang mengenakan gaun tersebut mengalami nasib tragis.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Andhig Rosdiana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

CHAPTER 8

​Alarm ponsel Anindiya berdering tepat pukul tiga dini hari.

​Dengan mata yang masih amat berat dan lengket, ia memaksa dirinya untuk langsung duduk tegak di tepi tempat tidur. Bagi seorang makeup artist, bangun jauh sebelum subuh adalah makanan sehari-hari—terutama jika jadwal rias akad dilaksanakan di luar kota.

​Usai membasuh muka dan mandi kilat, Anindiya mengenakan kemeja seragam kerja berwarna hitam yang dipadu celana kain santai. Rambut panjangnya ia gelung rapi ke belakang agar tak mengganggu pergerakannya saat memegang kuas nanti.

​Setelah memastikan seluruh kotak kosmetik di dalam koper hitamnya terkunci aman, ia bergegas turun ke lantai bawah.

​Suasana ruang sanggar masih gelap gulita, hanya disinari lampu teras yang temaram. Tak lama kemudian, deru halus mesin motor terdengar melambat di halaman depan.

​Tok... Tok... Tok...

​"Ketuk pintu tiga kali... Pasti Rina," gumam Anindiya seraya memutar selot kunci. "Waalaikumsalam, Rin. Masuk!"

​Rina melangkah masuk sambil menenteng tas besar berisi alat hairstyling dan lampu ring portabel. "Pagi banget ya, Mbak," sapanya sambil menguap pelan.

​"Harus dong. Kalau kita mepet berangkatnya, nanti malah keburu kena macet di jalur keluar kota," jawab Anindiya. "Koper rias sudah beres?"

​"Sudah di depan, Mbak. Gaunnya Mbak Siska juga sudah aku amankan di dalam garment bag," sahut Rina.

​Anindiya melirik jam di pergelangan tangannya. "Empat kurang lima menit. Yuk, langsung meluncur!"

​Mereka memindahkan perlengkapan ke bagasi sedan putih. Anindiya memeriksa ritsleting garment bag kain tempat gaun putih gading itu disimpan, memastikan tidak ada celah debu yang masuk. "Awas ya, jangan sampai kainnya terlipat kencang."

​"Aman, Mbak. Sudah digantung rapi kok," balas Rina.

​Mobil pun melaju tenang menembus keheningan jalanan Kota A. Lampu-lampu jalan masih menyala temaram. Di tepi jalan, beberapa pedagang pasar mulai menggelar dagangannya, beriringan dengan gema azan Subuh yang berkumandang dari kejauhan.

​Rina menurunkan kaca jendela mobil sedikit, membiarkan angin dingin pagi menerpa wajahnya. "Udara pagi begini segar banget ya, Mbak."

​Anindiya tersenyum sembari memegang kemudi. "Iya, bikin nggak gampang capai. Moga-moga acara Mbak Siska hari ini berjalan lancar ya."

​"Aamiin..."

​Perjalanan menuju rumah Siska di Kota B memakan waktu hampir satu jam. Sepanjang perjalanan, mereka mengobrol santai seputar jadwal klien berikutnya, ide tata dekorasi, hingga kejadian-kejadian lucu saat merias pengantin beberapa bulan lalu.

​Sekitar pukul lima pagi lewat sedikit, sedan putih itu akhirnya berbelok masuk ke halaman sebuah rumah besar yang sudah ramai oleh kerabat. Lampu-lampu Tenda di halaman masih menyala terang menyambut hawa fajar.

​Begitu mobil berhenti, ayah Siska langsung berjalan menyambut dengan ramah. "Selamat pagi, Mbak Anin, Mbak Rina. Silakan masuk."

​"Selamat pagi, Pak. Terima kasih," balas Anindiya sopan.

​Beberapa sepupu pria ikut membantu membawakan koper rias dan garment bag ke lantai dua. Di dalam sebuah kamar yang luas dan harum, Siska sudah duduk di depan meja rias dengan pakaian santai. Rambutnya masih terurai polos.

​Begitu melihat Anindiya dan Rina melangkah masuk, wajah wanita muda itu seketika berbinar. "Kak Anin!"

​"Selamat pagi, calon pengantin cantiknya Kak Anin," sapa Anindiya hangat.

​Siska terkekeh canggung seraya memegangi dadanya. "Duh, Kak... Jantungku dari tadi rasanya mau melompat, deg-degan banget!"

​Ibu Rahmi yang berdiri di sampingnya tertawa kecil. "Dari jam empat pagi tadi dia sudah bolak-balik keluar-masuk kamar mandi lho, Jeng Anin."

​"Ih, Ibu! Namanya juga mau nikah!" sahut Siska malu-malu, memicu tawa renyah seisi kamar.

​Anindiya bergerak cepat menata puluhan botol fondasion, eyeshadow, dan jajaran kuas di atas meja rias. "Yuk, kita mulai biar nggak buru-buru."

​Siska duduk tegak menghadap cermin. Dengan cekatan, jemari Anindiya mulai membersihkan wajah Siska dan mengaplikasikan pelembab. Delapan tahun pengalaman membuat tiap gerakan Anindiya terasa begitu luwes namun presisi.

​Rina sigap berdiri di sampingnya, menyodorkan spons, spons bedak, hingga pilihan warna lipstik yang sesuai dengan konsep.

​"Warna nude-pink yang ini kan, Mbak?" tanya Rina.

​"Iya, Rin. Samakan dengan warna blush on-nya," petunjuk Anindiya.

​Suasana kamar rias terasa riang dan hangat. Saudara-saudara sepupu Siska sesekali menyelinap masuk hanya untuk mengintip.

​"Wah... belum selesai saja sudah pangling banget!" goda salah seorang kerabat.

​Waktu bergulir cepat. Dalam kurun waktu satu jam setengah, riasan wajah Siska rampung. Wajahnya nampak amat berseri, manis, dan anggun.

​Anindiya mundur selangkah, mengamati hasil karyanya dengan senyum puas. "Nah, sekarang giliran pakai bintang utamanya."

​Mata Siska berbinar. "Gaunnya?"

​Rina bergegas mengambil garment bag dari sudut kamar. Ritsleting digeser pelan, mengeluarkan gaun pengantin putih gading yang tampak begitu megah di bawah cahaya lampu kamar.

​"Masya Allah..." cetus salah seorang sepupu Siska takjub. "Gaunnya beda banget, cantik luar biasa!"

​Siska tersenyum bangga. "Kan... aku bilang juga apa, gaun pilihan aku nggak ada tandingannya."

​Dengan amat hati-hati, Anindiya dan Rina membantu Siska mengenakan gaun tersebut. Bagian demi bagian disesuaikan dengan telaten. Kancing dan ritsleting belakang dipasang presisi. Terakhir, Anindiya menyematkan veil transparan yang menjuntai indah di kepala Siska.

​Begitu Siska berdiri tegak dan berbalik menghadap cermin besar, seluruh isi kamar mendadak bungkam.

​Ibu Rahmi menutup mulutnya dengan kedua tangan. Air matanya langsung meleleh haru. "Masya Allah, Nak... Cantik sekali kamu..."

​Siska yang melihat pantulan dirinya sendiri pun ikut berkaca-kaca. Gaun putih gading itu melekat luar biasa sempurna di tubuhnya. Payet-payet halus di dada memantulkan pendar lembut, sementara kain ekor gaunnya jatuh menjuntai anggun.

​Anindiya tersenyum lega. "Sempurna. Mbak Siska sudah siap jadi ratu sehari."

​"Cantik banget, Mbak Siska!" puji Rina tulus.

​Namun, tepat di tengah momen haru kebahagiaan itu...

​Sret.

​Sebuah wangi harum melati yang sangat pekat mendadak merebak hebat di dalam kamar. Aromanya begitu tajam dan dingin, melebihi wangi melati yang pernah mereka cium di sanggar.

​Anindiya refleks menarik napas panjang. "Lho..."

​Rina menoleh patah-patah ke arah Anindiya. "Mbak... nyium bau melati juga, kan?"

​"Iya," bisik Anindiya bingung. "Harum banget. Ada racikan melati buat pengantin ya?"

​Rina melirik ke seluruh sudut kamar. "Nggak ada, Mbak. Siska kan konsepnya modern, nggak pakai melati."

​Siska yang mendengar bisik-bisik itu justru tersenyum menikmati wewangian tersebut. "Wah, wangi melatinya enak banget ya, Kak? Makin berasa kayak pengantin."

​Anindiya menepis keraguannya dan mengangguk santai. "Iya, mungkin dari wewangian kain gaunnya."

​Mereka kembali sibuk merapikan lipatan ujung veil Siska. Tak ada satu pun dari mereka yang menyimpan curiga.

​Padahal, di saat yang bersamaan...

​Di dalam permukaan cermin besar yang berdiri tepat di belakang Siska...

​Pantulan cermin itu tidak lagi hanya menampilkan Anindiya, Rina, dan Siska.

​Tepat di belakang Siska yang sedang tersenyum bahagia, tampak samar bayangan sesosok perempuan lain sedang berdiri tegak.

​Perempuan dalam cermin itu mengenakan gaun pengantin putih yang kusam, lapuk, dan terkoyak di beberapa bagian. Rambut hitamnya yang panjang terurai berantakan menutupi separuh wajahnya yang pucat pasi. Kepalanya sedikit tertunduk, berdiri begitu dekat hingga seolah-olah hidungnya menempel di pundak belakang Siska.

​Sosok itu diam mematung di dalam cermin.

​Ketika salah seorang sepupu Siska mendadak melangkah lewat area depan cermin, bayangan perempuan bergaun kusam itu perlahan-lahan mengabur dan menghilang tanpa jejak.

​Pantulan kaca kembali normal, hanya memperlihatkan tawa bahagia keluarga Siska.

​Anindiya menggenggam tangan Siska yang terasa agak dingin. "Semua sudah sempurna, Mbak Siska. Selamat melangkah ke lembar baru ya."

​Siska membalas genggaman itu erat. "Terima kasih banyak ya, Kak Anin. Ini beneran hari paling membahagiakan dalam hidup aku."

​Anindiya tersenyum tulus, merasa tugas profesionalnya terlaksana dengan sangat baik.

​Ia sama sekali tidak menyadari... bahwa hari yang dianggap sebagai puncak kebahagiaan itu justru menjadi detik pertama pintu kutukan tua itu terkuak lebar.

1
Mega Arum
bagus kak.. cm kurang dlm dialog dan tokoh pemeran
andhig Rosdiana: siap kak ,sudah memberikan dukungan like dan komen ..untuk kedepannya saya akan lebih baik lagi dalam berkarya 💪
total 1 replies
MARQUES
semoga author lekas sembuh dan tetap semangat berkarya saya menantikan karya terbarunya 🙏
MARQUES
karya yang bagus author
andhig Rosdiana
jelas padat dan tamat 🤭
MARQUES
nah gitu dong cari tahu setelah kehilangan orang yang bisa di andalkan baru ngerasa janggal kan kalau ga sadar juga dah lha selanjutnya Anindya aja yang di incar🤣🙏
andhig Rosdiana
untuk beberapa hari kedepan author belum bisa melanjutkan bab berikutnya ,asam lambung author kambuh ,doain author cepat sembuh ya .jangan lupa tinggalkan like dan koment ya ...🙏
MARQUES: semangat terus buat author semoga lekas sembuh dan bisa up cerita baru🙏
total 1 replies
MARQUES
asli kesal banget sama Anindya jelas depan mata kenyataan begitu hadeh kalau didunia nyata ada orng begitu juga ku gaplok beneran kepalanya kesel asli🤣🙏
MARQUES: susah buat sabar Thor karna cerita nya menarik🤣🙏
total 2 replies
MARQUES
keras banget kepala si Anindya pingin ku gapluk biar sadar 🤣
MARQUES: sama sama author tetap semangat upload walaupun masih sepi pembaca terus up jangan berhenti ya author soalnya cerita nya bagus tanpa ada drama percintaan 🤣🙏
total 2 replies
andhig Rosdiana
jangan lupa tinggalkan jejak like dan komen supaya author tambah semangat berkarya👍🤭
andhig Rosdiana
jangan lupa tinggalkan jejak like dan komen ya suy🤭 supaya author lebih semangat lagi nulisnya 💪
MARQUES
mantap author sekali up banyak saya sangat senang tapi ga ada notif nya jadi telat baca🙏
andhig Rosdiana
jangan lupa tinggalkan jejak ya suy like dan koment, terimakasih sudah memberikan dukungan
MARQUES
biasanya cewe keras kepala gini yang suka mencari masalah
MARQUES
absen author keliatan bagus nih ceritanya 🙏
andhig Rosdiana: siap .... terimakasih udah hadir dan memberikan dukungan ,
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!