Ulfa Apriyani (Ketua OSIS, perfeksionis, anti-kriminal) harus menelan pil pahit saat dijodohkan paksa dengan musuh bebuyutannya, Langit Pradipta (Kapten Basket, bad boy, biang onar).
Masalahnya, Langit sudah punya pacar yang sama populernya: Zara Aprilia (Kapten Cheerleader).
Di sekolah mereka perang dingin, di rumah mereka terpaksa tinggal satu atap.
Awalnya Langit cuek dan kasar karena menjaga hati Zara, tapi perlahan, pesona ketegasan Ulfa mulai meruntuhkan tembok ego Langit.
Saat Langit mulai jatuh cinta, rahasia pernikahan mereka bocor. Badai besar pun dimulai, memaksa Langit harus memilih antara ego masa mudanya atau kehilangan Ulfa selamanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rofiwan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Zara Melihatnya 34.
Sinar matahari pagi menembus celah ventilasi ruang seni, membawa debu-debu kecil yang melayang di udara. Bunyi gemerincing kunci besi tua memecah keheningan yang sejak semalaman mengurung dua jiwa di dalam sana.
Klek.
Pintu kayu jati itu terbuka perlahan, menampilkan sosok Pak Jono dengan seragam cokelat khas penjaga sekolah. Pria paruh baya itu memegang sapu lidi, matanya masih tampak mengantuk.
Di balik kanvas-kanvas besar yang berdebu, Langit dan Ulfa menahan napas.
Jantung mereka berdegup kencang, bukan lagi karena kecanggungan semalaman, melainkan ketakutan setengah mati jika rahasia terbesar mereka terbongkar di sini.
Pak Jono melongokkan kepala ke dalam ruangan. Dia bergumam sendiri, merasa aneh mengapa grendel pintu bagian luar sudah terbuka sedikit sejak subuh—akibat ulah Langit yang mencoba mendobraknya semalaman. Beruntung, Pak Jono tidak melangkah lebih jauh. Pria itu kembali berbalik untuk melanjutkan tugasnya menyapu koridor tengah.
Begitu langkah Pak Jono menjauh, Langit mengembuskan napas panjang. Dia menoleh ke samping. Ulfa, gadis yang mengenakan ban lengan bertuliskan 'Ketua OSIS', sedang sibuk merapikan rok abu-abunya yang kusut parah. Wajah Ulfa pucat, matanya sembap karena kurang tidur dan dinginnya lantai semen.
"Aman," bisik Langit, suaranya serak khas orang bangun tidur. Dia mengulurkan tangan, mencoba membantu Ulfa berdiri.
Ulfa menepis tangan itu pelan, bukan karena benci, tapi karena naluri waspadanya sebagai Ketua OSIS SMA Bhineka yang dikenal perfeksionis. "Jangan sentuh gue di lingkungan sekolah, Lang. Kita sudah sepakat soal ini jauh-jauh hari."
Langit terkekeh sinis, namun ada kilat kepedihan di matanya. "Bahkan setelah semalam kita berbagi kain bludru supaya lu gak mati kedinginan? Lu masih mau akting jadi orang asing?"
Ulfa tidak menjawab. Dia mengancingkan kembali kancing paling atas kemeja putihnya yang sempat dilepas karena gerah.
Di dalam ruang seni yang pengap itu, ego mereka kembali meninggi, membangun benteng pemisah yang runtuh sepanjang malam tadi.
Diluar ruangan ini, mereka kembali berakting agar tidak terbongkar rahasia sepasang suami istri yang terikat pernikahan rahasia akibat wasiat keluarga. Di luar, Langit adalah kapten tim basket yang dipuja, dan Ulfa adalah ketua osis yang tak boleh punya cela.
Mereka mengintip lewat celah pintu. Koridor seni masih sepi karena jam dinding baru menunjukkan pukul 06.15 WIB. Anak-anak OSIS atau atlet basket biasanya belum datang sepagi ini.
"Gue keluar duluan. Lu tunggu tiga menit, baru lewat jalur aula belakang," instruksi Ulfa dengan nada tegas, mencoba mengendalikan situasi meski tangannya sedikit bergetar.
"Gak usah sok ngatur. Kita keluar bareng lewat tangga darurat dekat lab biologi. Lebih sepi," potong Langit. Tanpa menunggu persetujuan, Langit mencengkeram pergelangan tangan Ulfa lembut namun kokoh, menariknya keluar dari ruang seni.
Mereka berjalan mengendap-endap. Koridor SMA Bhineka terasa sangat panjang pagi itu.
Langkah sepatu mereka yang bergesekan dengan lantai marmer terdengar seperti detak bom waktu.
Seragam Langit yang biasanya rapi kini tampak berantakan, kaus dalamnya terlihat karena kancing seragamnya terbuka dua di atas. Sementara Ulfa berjalan dengan rambut yang sedikit acak-acakan, sangat kontras dengan citra rapi yang selalu ia tampilkan saat memimpin rapat.
Mereka hampir mencapai ujung koridor yang terhubung dengan area parkir belakang saat sebuah suara langkah sepatu lain terdengar bergaung dari arah berlawanan. Langkah itu anggun, namun tegas.
Jantung Ulfa mencelos. Langit langsung melepaskan cengkeraman tangannya pada Ulfa, namun semuanya sudah terlambat.
Semesta sepertinya ingin mengajak kedua pasutri itu bermain-main— Di ujung koridor, terlihat ada Zara. Gadis itu baru saja turun dari mobil jemputannya, berniat menaruh tas di kelas lebih awal. Zara mematung. Matanya yang dilapisi eyeliner sempurna itu membelalak menatap dua orang di depannya.
Pandangan Zara turun melihat penampilan mereka. Baju seragam Langit yang kusut, rambut Ulfa yang tak se-rapi biasanya, dan fakta bahwa mereka berdua keluar dari koridor ruang seni yang sama, mengendap-endap di jam di mana sekolah bahkan belum resmi dimulai.
Langit—yang merupakan pacar resmi Zara selama enam bulan terakhir—langsung menegang.
"Langit? Ulfa?" suara Zara bergetar, menuntut penjelasan yang masuk akal atas pemandangan yang menghancurkan logika sehatnya pagi itu.
......................
...****************...
Tbc,
sekarang gimna rasanya jatuh sejatuh"nya🥳🥳