NovelToon NovelToon
Becoming Nyonya Kim

Becoming Nyonya Kim

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / CEO / Selingkuh
Popularitas:432
Nilai: 5
Nama Author: Isaidno

Status calon nyonya Kim yang sudah diketahui seantero kota, seharusnya tinggal menunggu pengesahan sebentar lagi, ketika tiba-tiba terjadi perubahan kandidat.

Bagaimana tidak? Tuan Muda Kim - Alexander Kim, yang sebentar lagi akan menikah, malah terjebak satu malam dengan wanita asing yang berakhir final.

Harga yang sangat mahal yang harus dibayar Alexander, sebagai seorang pria, anak, pengusaha dan calon politikus. Benar-benar mahal dan berat, tapi dia tetap membayar karena tidak ingin menjadi Ayah yang gagal.

Tapi bahkan setelah semua harga mahal itu, Alexander yang sudah berkorban banyak masih harus stress menghadapi Soraya -- wanita malam itu, yang hidup tanpa beban.
•
“Kenapa berpisah dengan tunanganmu? Kenapa tidak kalian saja yang merawat anak kita!?” ujar Soraya, yang sukses membuat Alexander sakit kepala.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Isaidno, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 11.

Di benua lain, Soraya dan Alexander berada dalam suasana hati yang sama-sama berbeda.

Setelah jujur bahwa sebenarnya ia tinggal di asrama kampus dan apartemennya hanya digunakan sebagai tempat persinggahan, Alexander segera mengambil alih keadaan.

Menurutnya, apartemen itu terlalu tidak nyaman untuk ditinggali Soraya. Dengan sedikit memaksa, ia meminta izin untuk merenovasinya.

Soraya tentu saja menolak. Namun, sebuah berkas dengan tanda tangan yang menjadikan apartemen tersebut sebagai milik pribadinya, bukan lagi sekadar tempat sewaan, berhasil membuatnya menyetujui semuanya tanpa berpikir panjang.

Ya, apartemen yang selama ini selalu dibayarkan oleh Laith, kakaknya, kini telah dibeli Alexander atas nama Soraya sendiri.

Hal itu membuatnya girang bukan main.

Namun, semakin banyak yang diberikan Alexander, semakin ia tidak menyadari bahwa pria itu perlahan mulai menghancurkan batas-batas yang selama ini ia pikir akan tetap dipertahankan di antara mereka.

Semua itu memang dilakukan dengan tulus, tetapi tetap dalam perhitungan Alexander.

•

•

“Nona Patris, lambaikan tangan Anda.”

Mengikuti instruksi yang diberikan, wanita berusia tiga puluh satu tahun itu mengangkat tangannya sambil tersenyum ke arah luar mobil.

Di sana, cukup banyak orang yang bersorak kegirangan melihatnya. Ia harus mempertahankan senyumnya sampai mobil melaju cukup jauh.

Begitu tidak ada lagi alasan untuk melambaikan tangan, Patris menyandarkan punggungnya ke kursi dengan lunglai.

Sepanjang hari benar-benar menguras tenaganya. Namun, sebagai seorang aktris, ia tidak memiliki alasan untuk mengeluh. Begitu pula sebagai sahabat, ia harus kembali mengangkat ponsel ke telinga dan mendengarkan keluhan Hana di seberang sana.

Sudah cukup lama mereka berbicara di telepon, dan hampir sepanjang percakapan hanya berisi keluhan tentang Alexander.

Patris sendiri tidak habis pikir dengan kakaknya. Mereka sudah bukan anak-anak lagi sampai harus mendengarkan keluhan seperti ini.

Namun, sebagai sahabat sekaligus calon ipar yang baik, ia tentu bersedia meneruskan masalah tersebut kepada orangtuanya.

“Sudah, kau tenang saja, Han. Aku sudah hampir tiba di rumah,” ujarnya setelah cukup lama mendengarkan.

Ia setuju untuk ikut campur kali ini. Dengan harapan keduanya segera menikah, ia juga bisa terbebas sejenak dari pertanyaan yang sama yang terus dilontarkan orangtuanya.

“Oke, bye....”

TET.

Panggilan berakhir.

Patris menggeleng sambil menyisir rambut cokelat lurusnya dengan jari. Ia masih tidak habis pikir dengan kakaknya yang benar-benar workaholic.

Setibanya di rumah, ia mengambil jaket untuk menutupi bagian lengannya yang terbuka, lalu turun dengan cepat. Para pelayan segera menyambutnya dengan membungkuk hormat.

Matanya mencari keberadaan ayah dan ibunya. Ia melihat ke lantai atas yang terbuka, tangga marmer hitam, hingga keseluruhan ruangan bernuansa krem kecokelatan. Tidak ada seorang pun.

“Tuan dan Nyonya sedang berada di taman belakang, Nona.”

“Ah, baiklah.”

Patris meletakkan kedua tangannya di pinggang sebelum berjalan ke belakang.

Namun, semakin dekat dengan taman, semakin ia merapikan penampilannya. Ia bahkan menjepit rambutnya agar terlihat lebih rapi. Entah kenapa, kebiasaan itu selalu muncul setiap kali hendak berhadapan dengan orangtuanya.

“Ayah, Ibu,” panggilnya datar ketika melihat keduanya sedang sibuk dengan urusan masing-masing.

Ibunya, wanita berambut pendek dengan penampilan bersahaja, duduk sambil berkutat dengan laptop. Segelas teh berada di sisi kanannya. Bahkan di usia yang tidak lagi muda, ia masih begitu produktif.

Di sisi lain, ayahnya terlihat cemberut sambil memberi makan ikan di kolam. Meski demikian, pria berkacamata itu tetap menjawab singkat.

“Hm.”

Mendengar jawaban tersebut, Patris mengeluh dalam hati dan kembali menyalahkan kakaknya.

Ternyata bukan hanya ayah Hana yang sedang mengalami krisis. Ayahnya sendiri juga mengalami hal serupa.

Bedanya, krisis pria itu disebabkan oleh satu hal: cucu.

Kakaknya belum juga menikah, membuat pria tua itu mulai memaksa Patris agar segera menyusul.

“Ada apa kamu?”

“Ya ampun, Ayah. Semakin tua semakin galak saja.”

Patris merayu sambil melangkah mendekat dan duduk di kursi depan ibunya.

“Halo, Ibu.”

“Halo, Patricia Ibu.”

Wanita itu membalas sambil mengusap kepala Patris setelah putrinya memeluknya dari belakang.

“Tidak biasanya kamu datang di waktu seperti ini. Ada apa?”

“Dia pasti mau mengeluh, Jiah. Kamu seperti tidak tahu saja.”

Jawaban sang ayah membuat Patris mengusap hidungnya.

“Maaf sekali, Yang Terhormat Pak Tua Barac Kim. Aku memang kemari untuk mengeluh, tetapi bukan tentang masalahku.”

Ia berhenti sejenak, lalu tersenyum penuh kemenangan.

“Ini keluhan dari calon menantu Anda terhadap putra kesayangan Anda, Alexander Kim.”

Seolah terkena mantra, ucapan itu langsung menghentikan aktivitas keduanya. Mereka saling berpandangan.

Barac meletakkan pakan ikan yang masih berada di tangannya, lalu berjalan mendekat. Ia duduk di tengah-tengah putri dan istrinya di meja bundar.

Sebenarnya, pria itu memang sudah cukup gelisah belakangan ini, tetapi belum bisa melakukan apa-apa.

“Apa yang kamu katakan, Patris?” tanya Jiah.

Patris mengangkat sebelah kaki ke kursi sambil memainkan poninya sebelum menjawab. Ada sedikit rasa superior karena kali ini masalahnya bukan tentang dirinya.

“Ehm....”

Ia berdeham.

“Jadi begini. Hana sedang mempertanyakan kesiapan Kakak untuk menikah. Kemarin mereka seharusnya membeli cincin, tetapi Kakak tiba-tiba tidak bisa datang dan malah berangkat ke Montera.”

“Negara Montera?”

“Sabar, Ibu. Ini bahkan belum seberapa.”

Patris mengangkat telapak tangannya, menahan interupsi.

“Masalahnya bukan hanya kemarin. Sudah beberapa kali Kakak melakukan hal seperti ini. Dan satu bulan terakhir adalah puncaknya. Hana terus mengeluh, sampai akhirnya Ayah dan Ibunya ikut mempertanyakan apakah Alexander sebenarnya ingin menikah atau tidak.”

Ia berhenti sejenak.

“Lagi pula, bukankah rencana pernikahan mereka sudah beberapa kali mundur, Ayah?”

Hening.

Hanya ada beberapa embusan napas pelan di antara mereka.

Kali ini Patris tidak mencoba menginterupsi jalan pikiran kedua orangtuanya. Ia hanya sedikit bersenang-senang karena bisa melaporkan masalah tersebut, meskipun di dalam hati juga heran dengan tingkah kakaknya.

Inilah yang sebenarnya meresahkan Barac.

Pernikahan putranya memang sudah beberapa kali tertunda dan mulai menimbulkan pertanyaan dari rekan-rekan sejawatnya. Lebih dari itu, penundaan tersebut juga berarti semakin lama pula ia mendapatkan cucu untuk dibanggakan di antara saudara-saudaranya.

“Tapi kenapa Alexander pergi ke Montera?” tanya Jiah.

Barac hanya melepas kacamatanya. Ia sendiri tidak tahu jawabannya. “Ambil ponsel Ayah.”

“Siap.”

Patris segera mengambil ponsel tersebut. Ada sedikit kegembiraan di wajahnya karena ia ingin mendengar kakaknya dimarahi.

•

•

Sementara itu, di belahan bumi yang lain lagi, orang yang meninggalkan masalah di rumah juga tidak kalah gelisah.

Alexander menatap jam tangannya, bertanya-tanya mengapa Soraya belum kembali setelah membeli roti kukus di seberang jalan.

Entah kenapa, belakangan ini ia terlalu sibuk memikirkan Soraya dan bayi yang dikandung wanita itu. Hal seperti ini bahkan tidak pernah terlintas dalam pikirannya sebelumnya.

Ia menjadi begitu riuh memikirkan hal-hal kecil.

Masih belum puas, ia kembali menggeser tirai biru langit untuk melihat ke luar jendela, berharap bisa melihat Soraya berjalan kembali.

DRRRTTTT—DRRRTTTTT—DRRRTTTTT.

Ponselnya bergetar.

Keinginan untuk segera melihat Soraya kembali berubah menjadi kekhawatiran ketika menyadari siapa yang menelepon.

Ayahnya.

Tentu saja, panggilan itu harus diangkat.

“Halo, Ayah?”

— “Alexander, di mana kamu?” —

Mengusap tengkuknya, ia berusaha terdengar tenang. Sayangnya, Alexander tidak memiliki bakat berakting seperti adiknya.

“Aku di Nesled Ayah. Ada apa?”

— “Apa yang begitu penting di sana sampai kau harus menunda persiapan pernikahanmu?” —

Suara sang ayah terdengar berat dan datar. Alexander yang merasa bersalah seketika gugup.

“A-aku.... Ada urusan, Ayah.”

— “Kemarin di Montera, hari ini di Nesled. Pasti urusannya begitu mendesak, bukan? Jadi jelaskan. Biar keluarga dan tunanganmu mendapatkan jawaban tentang apa yang sedang kau urus, Alexander.” —

DEG.

Kulit kepala Alexander seolah mati rasa.

Ia memang ingin jujur, tetapi bagaimana caranya?

Ia bahkan belum selesai membicarakan semuanya dengan Soraya terkait renovasi apartemen. Lagi pula, ia merasa hal seperti ini tidak seharusnya dibicarakan melalui telepon.

DING—DONG.

Namun, sepertinya alam tidak berpihak pada usaha menyembunyikan kesalahannya lebih lama.

Tepat ketika Alexander masih kebingungan, bel pintu berbunyi dari luar. Suaranya bahkan terdengar sampai ke ponsel.

Dalam situasi yang tidak terduga itu, ia hampir tidak bisa berpikir.

Alexander membuka pintu dengan pikiran bahwa Soraya sudah kembali. Jika memang harus mengatakan semuanya, ia tidak akan menundanya lagi.

Namun, orang yang berdiri di depan pintu bukanlah Soraya.

Ines dan Julia.

Keduanya datang dengan semangat empat puluh lima, berniat menagih oleh-oleh kepada Soraya.

KLEK.

“SORAYAAAAAA!”

DEG.

Teriakan mereka terdengar jelas sampai ke dalam sambungan telepon, membuat Barac dan Jiah ikut terkejut.

Alexander pun membeku.

Begitu pula Ines dan Julia.

“Hei! Siapa kau? Apa yang kau lakukan di apartemen Soraya?”

Alexander benar-benar berada dalam masalah.

“Ayah, maaf. Kita bicara nanti. Aku akan menghubungi Ayah lagi. Bye.”

TET.

1
Isaidno
Tolong like atau tinggalkan komentar ya, kalau suka 🥀
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!