"Demi menyelamatkan ayahnya, Alya setuju menggantikan kakaknya untuk memenuhi janji pernikahan dengan Mayor Damar. Namun, pada akhirnya semua hanyalah status dan diikat surat perjanjian yang berlaku selama tiga tahun. Di samping itu, Alya dan Damar menjalani kehidupan mereka masing-masing.
Namun, dua tahun kemudian, keduanya dipertemukan kembali di medan perang. Alya sebagai dokter ditugaskan ke perbatasan NTT, tempat Damar bertugas. Kontrak yang awalnya dianggap sebagai garis aman perlahan-lahan berubah menjadi bom waktu ketika cinta mengetuk hati Mayor Damar."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayu Lestari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 10
Bab 10 - Cara Membalas Komandan
Alya bangun dengan seluruh tubuh sakit.
Bukan sakit biasa.
Sakit seperti seseorang memisahkan tulangnya satu per satu, lalu memasangnya kembali tanpa membaca petunjuk.
Dia duduk pelan, meringis.
"Latihan keselamatan lapangan," gumamnya. "Lebih mirip percobaan pembunuhan terencana."
Di meja ruang depan, tas medisnya sudah terletak rapi.
Alya berhenti.
Semalam dia ingat Damar menggendongnya ke kamar. Dia juga ingat mengusir pria itu dengan kalimat sopan. Tapi dia tidak ingat membawa tas masuk.
Berarti Damar kembali masuk.
Dia menatap pintu beberapa detik.
Lalu menggeleng cepat.
Jangan mulai.
Dia mandi, salat subuh, lalu berjalan ke pos kesehatan dengan langkah yang dia usahakan normal. Usaha itu gagal ketika Joko melihatnya.
"Dok, jalannya kenapa?"
"Tidak apa-apa."
"Seperti robot kehabisan oli."
Bidan Rina tertawa sampai hampir menjatuhkan termometer.
Alya menatap mereka berdua.
"Pasien Yonas?"
"Stabil. RSUD telepon pagi tadi. Mama Lusia juga mulai sadar penuh."
Kabar itu membuat rasa sakit di paha Alya terasa lebih bisa diterima.
Pukul delapan, seorang prajurit datang membawa kotak dari dapur pos komando.
"Untuk Dokter Alya."
Joko langsung mendekat. "Apa itu?"
Prajurit membuka kotak. Di dalamnya ada nasi kuning, telur, ayam suwir, sambal terpisah, dan teh hangat dalam botol.
Bidan Rina bersiul pelan.
"Wah."
Alya melihat prajurit. "Dari siapa?"
Prajurit itu menatap lurus ke depan.
"Dapur, Dok."
"Dapur tiba-tiba ingat saya belum sarapan?"
"Perintah... maksud saya, dapur memang menyiapkan lebih."
Joko pura-pura batuk.
Alya menutup kotak itu.
"Terima kasih. Taruh saja."
Prajurit pergi dengan langkah cepat seperti takut diminta bersaksi.
Rina menyenggol bahu Alya. "Dapur baik sekali ya, Dok."
"Makan sebelum dingin," kata Joko. "Perintah dapur."
Alya mengabaikan mereka, tapi tetap makan.
Dia lapar.
Dan nasi kuning itu enak.
Masalahnya, semakin enak makanan itu, semakin kesal dia.
Karena dia tahu siapa yang menyuruh.
Menjelang siang, kesempatan membalas datang sendiri.
Damar masuk ke pos kesehatan dengan Kapten Rendra. Ada goresan di pelipisnya dan luka kecil di punggung tangan. Tidak parah, tapi berdarah.
Alya melihat sekilas.
"Duduk."
Damar berhenti.
Kapten Rendra langsung mengambil kursi. "Silakan, Dan."
Damar menatapnya.
Rendra pura-pura tidak lihat.
"Lukanya perlu dibersihkan," kata Alya.
"Tidak perlu."
"Tentu. Biarkan saja. Infeksi akan membuat Komandan tampak lebih gagah."
Rendra menunduk, bahunya bergetar.
Damar duduk.
Alya memakai sarung tangan, mengambil antiseptik dan kasa. Dia berdiri di depan Damar, cukup dekat untuk melihat debu yang menempel di rahangnya.
"Patroli?"
"Pemeriksaan jalur."
"Jalur memukul wajah Anda?"
"Ranting."
"Ranting pemberani."
Damar menatapnya.
Alya membersihkan luka di pelipis. Damar tidak bergerak, tapi rahangnya mengeras saat antiseptik menyentuh luka.
"Sakit?"
"Tidak."
Alya menekan sedikit lebih kuat.
Damar menangkap pergelangan tangannya.
"Dokter."
Alya menatapnya polos.
"Oh, ternyata bisa sakit."
Rendra mengeluarkan suara aneh seperti tersedak.
Damar melepaskan tangan Alya perlahan.
"Kamu sedang membalas?"
"Saya? Dokter tidak boleh balas dendam pada pasien."
"Tapi boleh menikmati?"
"Sedikit."
Untuk beberapa detik, mereka saling menatap.
Lalu, tanpa diduga, sudut bibir Damar bergerak.
Hampir senyum.
Alya melihatnya dan tiba-tiba lupa kalimat berikutnya.
Rendra tidak melewatkan itu.
"Saya keluar dulu, Dan. Cek radio."
Dia kabur sebelum Damar sempat melarang.
Ruangan menjadi terlalu sepi.
Alya menempelkan plester kecil di pelipis Damar.
"Selesai."
Damar tetap duduk.
"Kamu sudah makan?"
"Nasi kuning dari dapur."
"Bagus."
"Dapur menyuruh Anda bertanya?"
"Aku tidak tahu dapur bisa menyuruhku."
Alya melepas sarung tangan.
"Terima kasih."
"Untuk apa?"
"Sarapan."
Damar memandang meja obat.
"Kamu hampir pingsan semalam."
"Saya tidak pingsan."
"Kamu tidur sebelum sampai rumah."
"Itu berbeda."
"Bagi orang yang harus menggendongmu, tidak terlalu berbeda."
Panas naik ke wajah Alya.
"Anda bisa membangunkan saya."
"Aku sudah mencoba."
"Coba lebih keras."
"Aku tidak sedang membangunkan prajurit."
Alya terdiam.
Kalimat itu sederhana, tapi entah kenapa terdengar lembut. Dia membenci telinganya karena menangkapnya seperti itu.
Damar berdiri.
"Sore ini ada pemeriksaan jalur air bersih di desa. Kamu diminta ikut?"
"Oleh siapa?"
"Kepala desa. Setelah kelas kemarin, mereka ingin kamu lihat keluhan anak-anak sering diare."
Alya langsung mengambil buku.
"Jam berapa?"
"Tiga."
"Saya ikut."
"Tidak perlu kalau kamu masih sakit."
"Saya dokter."
"Kamu juga manusia."
Alya mengangkat wajah.
Damar seperti baru sadar lagi bahwa dia terdengar terlalu peduli.
Dia merapikan lengan bajunya.
"Maksudku, kalau kamu tumbang, pos kesehatan kekurangan dokter."
Alya tersenyum tipis.
"Tentu. Efisiensi tenaga kerja."
Damar keluar tanpa menjawab.
Sore itu, mereka pergi ke desa bersama tim kecil. Anak-anak memang banyak mengalami diare ringan berulang. Alya memeriksa sumber air, melihat jeriken yang tidak tertutup, dan mendengar kebiasaan warga mengambil air sungai saat pipa macet.
Dia berbicara dengan kepala desa dan kader posyandu.
"Saya tidak datang untuk menyalahkan," katanya. "Saya tahu air bersih sulit. Tapi ada beberapa hal yang bisa kita lakukan dulu. Rebus air sampai benar-benar mendidih. Simpan tertutup. Cuci tangan sebelum menyiapkan makanan anak. Kalau ada oralit, pakai. Kalau tidak ada, kita ajarkan larutan gula garam dengan takaran benar."
Seorang ibu bertanya malu-malu, "Kalau anak mencret karena masuk angin?"
"Bisa karena infeksi, makanan, air, atau banyak hal. Yang paling bahaya bukan nama penyakitnya, tapi anak kehilangan cairan. Jadi lihat tanda dehidrasi."
Damar berdiri di belakang, membiarkan Alya memimpin.
Ketika seorang bapak mulai membantah bahwa merebus air buang-buang gas, Damar hampir maju, tapi Alya mengangkat tangan sedikit.
Dia menanganinya sendiri.
"Bapak benar, gas mahal. Maka kita cari cara yang paling mungkin. Air untuk minum anak dulu. Tidak harus semua air sekaligus. Kita mulai dari yang paling berisiko."
Bapak itu terdiam, lalu mengangguk pelan.
Damar menurunkan tangan yang tadi hampir bergerak.
Alya tidak membutuhkan dia untuk melindungi setiap kalimatnya.
Kesadaran itu terasa aneh.
Dalam perjalanan pulang, hujan turun tiba-tiba. Jalan tanah berubah licin. Mobil harus berhenti karena ada pohon kecil tumbang menutup jalur. Prajurit turun membersihkan.
Alya ikut turun sebelum Damar melarang.
"Jangan."
"Saya hanya membantu memegang senter."
"Tanah licin."
"Saya punya mata."
Dia berjalan dua langkah.
Kakinya terpeleset.
Damar menangkap pinggangnya dari belakang.
Tubuh Alya menegang.
Hujan jatuh di antara mereka. Suara prajurit memotong batang pohon terdengar jauh.
Tangan Damar masih di pinggangnya.
"Mata kamu bagus," katanya rendah. "Keseimbanganmu buruk."
Alya menahan napas.
"Lepaskan."
Damar melepaskan pelan.
Alya berdiri tegak, wajah panas meski hujan dingin.
"Saya bisa sendiri."
"Aku tahu."
"Tapi Anda tetap menangkap."
"Refleks."
Kata itu membuat Alya menoleh.
Damar menatapnya, hujan membasahi rambut dan wajahnya. Untuk sesaat, dia tidak terlihat seperti komandan yang jauh. Dia hanya pria yang berdiri terlalu dekat.
Alya mengalihkan pandangan lebih dulu.
"Refleks Anda merepotkan."
"Keras kepalamu juga."
Pohon akhirnya berhasil disingkirkan.
Mereka kembali ke mobil dalam diam.
Malamnya, Alya menemukan pesan dari nomor tak dikenal.
Besok pagi latihan tetap jalan. Jangan lupa makan sebelum datang.
Alya menatap pesan itu.
Tidak ada nama.
Tapi siapa lagi?
Dia mengetik balasan sebelum bisa menahan diri.
Baik, dapur.
Balasan datang hampir satu menit kemudian.
Alya bisa membayangkan Damar menatap layar dengan wajah datar.
Jangan terlambat.
Alya tertawa kecil sendirian.
Lalu tawanya berhenti.
Karena tawa itu terlalu ringan.
Terlalu berbahaya.
Dia meletakkan ponsel jauh-jauh.
Di luar, hujan masih turun. Di dalam rumah, dada Alya terasa hangat oleh sesuatu yang belum berani dia beri nama.
Sebelum tidur, pesan lain masuk.
Obat luka tanganmu sudah habis?
Alya menatap layar, lalu melihat telapak tangannya. Lecetnya memang mulai mengering.
Masih ada.
Balasan Damar datang singkat.
Jangan lupa pakai.
Alya mengetik:
Siap, Komandan Dapur.
Kali ini tidak ada balasan cukup lama. Lalu hanya muncul:
Besok lari ditambah satu putaran.
Alya langsung duduk tegak.
Itu penyalahgunaan kekuasaan.
Dia menunggu balasan lagi.
Tidak ada.
Alya akhirnya tertawa sendiri, lalu cepat-cepat menutup mulut, seolah ada orang yang bisa mendengar dari luar hujan.
Perasaan ringan seperti ini seharusnya tidak berbahaya.
Tapi dengan Damar, hal kecil pun selalu punya ekor panjang.