Sebuah liburan akhir pekan berubah menjadi mimpi buruk saat sekelompok remaja menemukan rahasia kelam di balik keindahan sebuah air terjun terpencil.Satu persatu dari mereka mulai menghilang,memaksa yang tersisa untuk memecahkan kutukan kuno sebelum fajar tiba atau menjadi korban berikutnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Stychin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 8
"aul terlambat lagi ya?kok jam segini belum sampe sih?"Tanya dery kepada dinda dengan suara bisik bisik takut terdengar oleh citra yang sangat sensitif jika dirinya menyebut nama aulia.
"papanya lagi sakit,dia juga bilang kayaknya gak bakal ikut liburan bareng kita"jawab dinda.
Dery hanya mengangguk mengerti meskipun di dalam hatinya ia sempat merasa senang karena saat liburan nanti ia akan dekat dekat dengan aulia.Setelah mendengar jawaban dari dinda rasa semangat itu seakan hilang,apa artinya liburan jika aulia tak ada bersama mereka.
Namun karena jam kerja sudah mulai,dery tak banyak bertanya.Ia duduk di tempat kerjanya sebelum pak gunawan datang secara tiba tiba lagi.
Sementara di rumah sakit,setibanya keluarga itu.Aulia pergi menemui dokter yang sudah mempunyai janji bersamanya.Tak perlu menunggu lama,pak arman di persilahkan masuk ke ruang periksa.
"masih pusing pak?"tanya dokter itu kepada pak arman yang sedang berbaring di ranjang rumah sakit.
"gak terlalu dok,lebih baik dari kemarin"ucap papa gadis itu.
"Alhamdulilah berarti obatnya manjur ya.Berarti bapak sudah boleh pulang gak perlu di rawat inap,perbanyak istirahat dan perbanyak minum air putih ya.Nanti obatnya ambil dikasir silahkan"
Ibu,bapak dan anak itu mengangguk dan bersamaan keluar dari ruangan itu.Pak arman menungu di ruang tunggu bersama bu wida,sedangkan aulia berjalan ke arah apotek di rumah sakit itu untuk mengambil obat papanya.
15 menit sudah aulia kembali dengan membawa satu plastik berisi obat obatan untuk papanya.Ia menghampiri kedua orang tuanya yang tengah duduk menunggu dirinya.
"ayo pa,ma kita pulang"
kedua orang tuanya mengangguk,aulia membantu bu wida yang tengah menuntun pak arman.Ketiganya berjalan ke arah parkiran,dimana mobil aulia terparkir jelas disana.Aulia akhirnya mengendarai mobilnya kembali setelah beberapa waktu mobilnya terbengkalai di garasi rumah.
ia memilih untuk menggunakan mobilnya daripada menggunakan mobil pak arman yang begitu besar baginya.berbeda dengan mobilnya yang tampak berukuran mungil pas dengan ukuran badannya yang kecil.
"papa jangan dulu kerja ya selama beberapa hari ini,biar di urus sama mbak regina.Kalo ada berkas yang harus di tanda tangani sama papa suruh mbak gina aja yang dateng ke rumah."ucap aulia.
pak arman melirik ke arah cermin mobil dimana wajah anaknya terpampang dengan jelas.Bisa ia lihat kekhawatiran di wajah anak dan istrinya.
"siap bos"
Bu wida tersenyum melihat anak dan suaminya sudah tersenyum lagi.Sebelumnya ia sempat cemas karena kondisi suaminya semalam sangat menakuti dirinya.Ia bahkan tidak tidur dengan tenang karena takut suaminya terbangun dan membutuhkan sesuatu yang sulit di raih.
Kantung matanya menghitam menandakan ia kurang tidur,namun ia anggap hal itu tak sia sia karena kondisi suaminya sekarang sudah jauh lebih baik dari semalam.Hatinya sedikit tenang karena akhirnya pak arman bisa pulih secepat ini.
Hanya membutuhkan waktu 20 menit dari jarak rumah sakit ke rumah mereka.Di depan gerbang itu aulia memberhentikan mobilnya.Ia melihat seseorang sedang berdiri disana membawa tas berukuran sedang yang di simpan di tanah begitu saja.
Ia membuka kaca mobil lalu mengenali wajah seseorang itu.Karena di anggap tidak sopan berbicara dengan orang tua,aulia memilih turun dari mobil nya lalu menghampiri orang itu yang masih berdiri disana.
"pak,dari tadi?" Suara aulia membuat tubuh nya berbalik ke arah gadis itu yang kini ada di belakangnya.
"eh non,baru 5 menit aja non.saya tekan bel rumah tapi gak ada yang bukain gerbang kelihatan sepi juga rumahnya"ucap seseorang itu yang ternyata pak sarip.
"saya bawa papa ke rumah sakit,sama mama juga.ayo masuk pak,sebentar ya saya bukain dulu pintu gerbangnya."
pak sarip mengangguk,ia berdiri disana sampai mobil majikannya masuk dan terparkir di garasi rumah itu.
"biar saya yang kunci non"ucap pak sarip yang tengah menghampiri aulia.
"oh iya pak,minta tolong ya pak"
pak sarip menganguk dengan senyuman.ia berlalu pergi ke arah gerbang rumah yang masih terbuka dengan lebar,lalu mengunci nya.
"sekeluarga ini orangnya ramah ramah padahal orang kaya tapi gak punya sifat sombong atau judes sama sekali,beda sama tetangga saya"celoteh pak sarip sambil berjalan di halaman rumah itu.
Karena melihat aulia dan bu wida yang tampak kesusahan merangkul pak arman,pak sarip menghampiri mereka atas inisiatifnya sendiri yang ingin membantu pak arman masuk ke dalam rumahnya.
"makasih lo pak sarip,kalo mau ngopi ambil sendiri aja di dapur ya.untuk sementara waktu bapak tidur di kamar tamu aja dulu,besok saya beresin pos satpam buat diisi kasur dan lain lainnya ya"ucap bu wida.
Pak sarip menganguk dengan sopan,setelah mengantar pak arman ke dalam rumahnya.Ia pamit untuk berdiam di pos satpam takut ada seseorang yang bertamu ke rumah itu.
Jam sudah menunjukan pukul 11.30 pekerjaan rumah sudah aulia bereskan semua tanpa bantuan bu wida.Sementara ia menyuruh mamanya untuk ikut beristirahat di kamar bersama papanya.Ia juga takut bu wida ikut sakit karena kurangnya istirahat.
Ia merebahkan tubuhnya di sofa ruang tengah sambil mengotak atikan ponselnya yang sedari tadi terus berbunyi.
[gimana keadaan papa kamu ul?]
Pesan yang ternyata dari dery.Aulia membalasnya dengan singkat karena tak ingin membuat pesan antara duanya menjadi berkelanjutan.
[udah baikan,ini udah balik ke rumah]
Karena merasa lelah setelah mengerjakan semua pekerjaan rumah.Aulia memilih untuk tidur siang sebentar sebelum nanti bangun untuk mengangkat pakaian yang ia jemur di belakang rumahnya.
Sekarang ia bisa merasakan lelahnya pekerjaan rumah yang setiap hari selalu di lakukan oleh bu wida tanpa keluhan apapun.Bahkan lebih lelah dari pekerjaannya sekarang.
Mata gadis itu terpejam dengan tubuh yang meringkuk.
Di warteg biasa dery tampak risau melihat pesannya yang tak kunjung di balas oleh aulia.Martin yang memperhatikan laki laki itu langsung mengerutkan keningnya.
"lu kenapa sih kayak di kejar kejar utang lu"celetuknya sambil menyuap satu sendok nasi.
"gue chat aul tapi gak di bales bales,tadi online sekarang tiba tiba offline"jawabnya.
"yaelah,mana tau dia lagi sibuk"ucap martin.
"lu cepetan deh makannya lama amat,kita harus temuin dinda sama citra di kantin gue mau ajak mereka ke rumah aulia nanti sore"ucap dery yang kembali duduk menyeruput kopi yang hanya tersisa sedikit lagi.
"ampun..sabar yaelah der.Iya iya ayo kita samperin dah dua cewek itu"
5 menit setelah makanan di piring martin habis,ia membayarnya lalu menyebrangi jalan bersama dery yang ingin menemui kedua teman perempuanya.
"din!!"teriak dery saat melihat dinda yang akan masuk ke dalam kantor.
"napa?"tanya perempuan itu.
"nanti sore pulang kerja ke rumah aulia yu,kita jenguk papanya"ajakan dery membuat satu alis citra terangkat sebelah.
"boleh aja sih gue juga punya niat mau kesana tadinya"
"oke deh deal ya pulang kerja"
citra sama sekali merasa tak di anggap ada,dery dan martin masuk ke dalam ruangan itu tanpa sedikitpun menoleh ke arahnya.Sedangkan dinda menyenggol tangan perempuan itu,menyuruhnya untuk segera masuk karena jam istirahat sudah hampir habis.