NovelToon NovelToon
Gadis Geng Motor Adalah Istriku

Gadis Geng Motor Adalah Istriku

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / CEO / Balas Dendam
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: Viie27

Sinopsis

Clara Evellyn dikenal sebagai gadis cantik yang keras kepala dan berani. Di balik penampilannya yang anggun, Clara ternyata merupakan anggota geng motor yang disegani. Ia terbiasa hidup bebas, penuh tantangan, dan tidak takut menghadapi siapa pun.

Namun, hidupnya berubah ketika sebuah perjanjian keluarga membuat Clara harus menikah dengan Fedro Alexsander, seorang pria tampan, dingin, dan sangat berkuasa.

Fedro sama sekali tidak menyangka bahwa wanita yang menjadi istrinya ternyata adalah gadis geng motor yang sering membuat kekacauan di jalanan.

Awalnya, pernikahan mereka dipenuhi pertengkaran, rahasia, dan saling curiga. Clara ingin mempertahankan kebebasannya, sementara Fedro berusaha membuat istrinya mengikuti aturan yang telah ia tetapkan.

Tetapi semakin mereka dekat, semakin sulit bagi keduanya untuk menyangkal perasaan yang mulai tumbuh.

Ketika masa lalu Clara mulai mengejar dan mengancam keselamatan mereka, Fedro harus memilih: tetap menjaga jarak atau melindungi

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Viie27, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab. 1

Gadis Geng Motor Adalah Istriku

Bab 1 — Balapan

Malam itu, suara deru mesin motor menggema di sepanjang jalan yang sepi.

Lampu-lampu kota terlihat berkilauan dari kejauhan. Udara malam terasa dingin, tetapi suasana di sebuah jalan kosong di pinggir kota justru semakin panas.

Puluhan anak muda berkumpul di sana.

Sebagian berdiri di pinggir jalan sambil meneriakkan nama pembalap. Sebagian lainnya sibuk memasang taruhan. Namun, di antara kerumunan itu, ada tiga gadis yang menjadi pusat perhatian.

Clara Evellyn berdiri di samping sebuah motor sport berwarna hitam.

Rambut panjangnya diikat tinggi. Jaket kulit hitam menutupi tubuhnya. Tatapannya tajam dan penuh percaya diri.

Di sebelahnya berdiri Inara dan Icha.

“Kamu yakin mau ikut balapan malam ini?” tanya Inara sambil menyilangkan tangan di depan dada.

Clara hanya tersenyum tipis.

“Kenapa tidak?”

“Karena lawanmu bukan orang sembarangan,” jawab Icha. “Kamu tahu sendiri siapa dia.”

Clara menoleh.

“Raka?”

Inara mengangguk.

“Dia sudah menang lima kali berturut-turut. Katanya malam ini dia tidak mau kalah dari siapa pun.”

Clara tertawa kecil.

“Kalau begitu, malam ini dia akan merasakan kekalahan.”

Icha menggeleng sambil tersenyum.

“Itulah Clara. Kalau sudah bicara soal balapan, tidak ada yang bisa menghentikannya.”

Clara memasang sarung tangan kulitnya.

“Bukan aku yang mencari masalah. Mereka yang mengajakku.”

“Dan kamu selalu menerima tantangan,” sahut Inara.

“Karena menolak bukan sifatku.”

Ketiga gadis itu tertawa kecil.

Clara memang berbeda dari kebanyakan gadis seusianya.

Di siang hari, ia bisa terlihat seperti perempuan biasa. Cantik, anggun, bahkan terkadang terlihat lembut.

Namun ketika malam tiba dan suara mesin motor mulai terdengar, sisi lain Clara akan muncul.

Ia adalah gadis yang berani mengambil risiko.

Tidak mudah takut.

Tidak suka dikendalikan.

Dan yang paling penting, Clara tidak pernah membiarkan siapa pun meremehkannya hanya karena dirinya seorang perempuan.

Tiba-tiba suara seseorang terdengar dari tengah kerumunan.

“Pembalap sudah siap!”

Semua orang mulai bersorak.

Clara mengenakan helmnya.

Inara mendekat.

“Clara.”

“Hm?”

“Jangan terlalu memaksakan diri.”

Clara terdiam sesaat.

Kemudian ia mengangguk.

“Aku tahu.”

Icha menepuk bahunya.

“Menang atau kalah, yang penting kamu kembali dengan selamat.”

Clara tersenyum.

“Tenang saja. Aku akan kembali.”

Ia kemudian menaiki motornya.

Mesin dinyalakan.

BRUMMM!

Suara mesin yang menggelegar membuat seluruh kerumunan bersorak semakin keras.

Clara memegang stang motor dengan erat.

Matanya menatap lurus ke depan.

Jalanan di hadapannya membentang panjang dengan beberapa tikungan tajam.

Garis akhir berada sekitar beberapa kilometer dari tempat mereka berdiri.

Seorang gadis berdiri di tengah jalan sambil mengangkat tangannya.

“Siap!”

Clara menarik napas panjang.

“Bersiap!”

Raka yang berada di sampingnya menoleh.

“Jangan menyesal setelah kalah.”

Clara meliriknya dari balik kaca helm.

“Aku justru akan kasihan melihatmu setelah kalah.”

Raka mendengus.

“Kita lihat saja.”

Gadis itu mengangkat tangannya lebih tinggi.

“Tiga…”

Clara memusatkan seluruh perhatiannya ke jalan.

“Dua…”

Tangannya menggenggam gas.

“Satu!”

Tangan gadis itu turun.

BRUUUUMMM!

Dua motor langsung melesat.

Angin malam menerpa tubuh Clara.

Ia menundukkan tubuhnya sedikit agar lajunya semakin cepat.

Raka berada beberapa meter di depan.

Namun Clara tidak panik.

Ia sudah mengenal jalan tersebut.

Ia tahu setiap tikungan.

Ia tahu bagian mana yang harus memperlambat kecepatan dan bagian mana yang bisa digunakan untuk menyalip.

Sementara itu, Inara dan Icha berteriak dari garis awal.

“Ayo, Clara!”

“Jangan kalah!”

Motor Clara semakin jauh.

Lampu belakang motor Raka terlihat seperti titik merah di kejauhan.

Clara mempercepat laju motornya.

Satu tikungan.

Dua tikungan.

Raka masih berada di depan.

Namun saat memasuki tikungan ketiga, Clara melihat kesempatan.

Raka mengambil jalur yang terlalu lebar.

Clara segera mengambil jalur bagian dalam.

Motor mereka hampir sejajar.

Raka terkejut.

“Gadis ini!”

Clara tersenyum di balik helm.

Ia berhasil melewatinya.

“Jangan lengah!” teriak Raka.

Clara tidak menjawab.

Ia terus melaju.

Namun beberapa detik kemudian, suara mesin lain terdengar dari belakang.

Clara melirik kaca spion.

Raka kembali mengejarnya.

Kecepatan mereka semakin tinggi.

Jalanan semakin sepi.

Clara mulai fokus sepenuhnya.

Namun saat memasuki tikungan tajam terakhir, sesuatu terjadi.

Sebuah mobil tiba-tiba muncul dari arah berlawanan.

Clara terkejut.

Ia segera mengurangi kecepatan dan mengendalikan motornya.

Raka yang berada beberapa meter di belakang juga melakukan hal yang sama.

Mobil itu melintas begitu saja.

Clara menarik napas panjang.

“Gila…”

Jantungnya berdetak kencang.

Namun ia tidak boleh kehilangan fokus.

Garis akhir sudah terlihat.

Clara kembali memutar gas.

Raka juga melakukan hal yang sama.

Keduanya melaju bersamaan.

Lima puluh meter.

Tiga puluh meter.

Sepuluh meter.

Clara mencondongkan tubuhnya.

BRUUUM!

Motor hitamnya melewati garis akhir lebih dulu.

Kerumunan langsung bersorak.

“CLARA MENANG!”

“GILA!”

“RAJA JALANAN DIKALAHKAN!”

Clara menghentikan motornya.

Ia turun dan melepas helm.

Rambutnya yang diikat tinggi sedikit berantakan.

Beberapa orang langsung menghampirinya.

Namun Clara hanya tersenyum.

Tidak lama kemudian, Raka tiba di garis akhir.

Ia turun dari motornya dengan wajah kesal.

“Bagaimana bisa?”

Clara mengangkat alis.

“Bisa apa?”

“Kamu menyalipku.”

Clara tersenyum.

“Karena aku lebih cepat.”

Raka mendengus.

“Ini belum selesai.”

Clara menatapnya.

“Kalau ingin balapan lagi, latihan dulu.”

Beberapa orang tertawa.

Raka semakin kesal, tetapi tidak bisa membantah.

Tidak lama kemudian, Inara dan Icha tiba.

Mereka langsung memeluk Clara.

“Kamu menang!”

“Aku tahu!” jawab Clara sambil tertawa.

Inara menggeleng.

“Kamu benar-benar tidak pernah membuat kami tenang.”

Icha ikut tertawa.

“Tapi aku bangga.”

Clara tersenyum.

Malam itu seharusnya menjadi malam yang menyenangkan.

Namun Clara tidak tahu bahwa kemenangan tersebut akan menjadi awal dari perubahan besar dalam hidupnya.

---

Setelah kerumunan mulai bubar, Clara, Inara, dan Icha pergi meninggalkan tempat balapan.

Mereka berhenti di sebuah kedai kecil yang masih buka hingga larut malam.

Ketiganya duduk di meja paling sudut.

Inara menyeruput minumannya.

“Clara, besok kamu ada acara?”

Clara menggeleng.

“Tidak ada.”

Icha menatapnya curiga.

“Serius?”

“Serius.”

“Bukankah keluargamu sedang membicarakan sesuatu?”

Clara langsung diam.

Inara memperhatikan perubahan ekspresinya.

“Ada apa?”

Clara menghela napas.

“Papi menyuruhku pulang lebih cepat besok.”

“Kenapa?”

“Katanya ada hal penting yang ingin dibicarakan.”

Icha mengangkat alis.

“Jangan-jangan…”

“Jangan berpikir macam-macam.”

Clara kembali meminum minumannya.

Tetapi sebenarnya, sejak beberapa hari terakhir ia merasa ada sesuatu yang aneh.

Ayahnya beberapa kali menyuruhnya pulang lebih cepat.

Ibunya juga sering berbicara dengan nada serius.

Namun setiap kali Clara bertanya, mereka selalu mengatakan bahwa semuanya baik-baik saja.

Clara tidak menyukai keadaan seperti itu.

Ia lebih suka mengetahui masalah secara langsung daripada terus dibuat penasaran.

Inara menatapnya.

“Kalau memang ada masalah, jangan hadapi sendirian.”

Clara tersenyum.

“Aku punya kalian.”

Icha langsung mengangguk.

“Benar. Kami akan selalu ada.”

Clara tersenyum hangat.

Persahabatan mereka bukan sekadar teman nongkrong.

Inara dan Icha sudah mengenal Clara selama bertahun-tahun.

Mereka tahu sifat keras kepala Clara.

Mereka tahu kapan Clara sedang marah.

Mereka juga tahu kapan Clara sebenarnya sedang menyembunyikan kesedihan.

Malam semakin larut.

Akhirnya mereka memutuskan pulang.

Clara menaiki motornya.

Sebelum pergi, Inara berteriak.

“Hati-hati!”

Clara mengangkat tangan.

“Besok kita bertemu!”

Motor Clara melaju meninggalkan kedai.

Namun beberapa meter kemudian, Clara merasa seperti sedang diperhatikan.

Ia melihat kaca spion.

Tidak ada siapa-siapa.

Hanya jalanan kosong dan lampu kota.

Clara kembali fokus ke depan.

Ia tidak tahu bahwa malam itu, seseorang telah memperhatikannya dari dalam sebuah mobil hitam.

Seorang pria duduk di kursi belakang.

Tatapannya mengikuti motor Clara sampai menghilang di tikungan.

“Jadi itu Clara Evellyn?”

Pria di sampingnya mengangguk.

“Benar.”

“Gadis yang memenangkan balapan tadi?”

“Ya.”

Pria itu terdiam.

“Menarik.”

---

Keesokan paginya, Clara bangun lebih cepat dari biasanya.

Ia menatap langit-langit kamar sambil mengingat ucapan papinya.

Ada sesuatu yang membuatnya tidak tenang.

Setelah bersiap, Clara turun ke ruang makan.

Papi dan Maminya sudah menunggu.

“Duduklah, Clara,” kata papinya.

Clara duduk.

“Ada apa?”

Papi menatapnya cukup lama.

“Kamu sudah dewasa.”

Clara mengerutkan kening.

“Lalu?”

“Kami ingin membicarakan masa depanmu.”

Clara langsung merasa tidak nyaman.

“Masa depanku?”

Maminya menggenggam tangan Clara.

“Clara, kami tidak ingin memaksamu. Tetapi ada keputusan yang harus kamu ketahui.”

“Keputusan apa?”

Papi menarik napas.

“Kami ingin kamu bertemu dengan seseorang.”

Clara mengerutkan kening semakin dalam.

“Siapa?”

Papi belum sempat menjawab ketika suara pintu utama terdengar.

Seorang pria memasuki rumah.

Langkahnya tenang.

Penampilannya rapi dengan jas hitam.

Wajahnya tampan, tetapi ekspresinya dingin.

Clara menatap pria itu.

Pria tersebut juga menatap Clara.

Beberapa detik berlalu dalam keheningan.

“Clara,” kata papinya, “kenalkan. Ini Fedro Alexsander.”

Clara terdiam.

Fedro mengulurkan tangannya.

“Senang bertemu denganmu.”

Clara menatap tangan itu, kemudian menatap wajah Fedro.

“Untuk apa?”

Fedro sedikit mengangkat alis.

Papi Clara menghela napas.

“Karena ada sesuatu yang harus kalian bicarakan.”

Clara mulai merasa tidak enak.

Ia sama sekali tidak menyangka bahwa setelah memenangkan balapan malam tadi, hidupnya justru akan memasuki sebuah perlombaan yang jauh lebih sulit.

Perlombaan bernama pernikahan.

Dan pria yang berdiri di hadapannya…

Kelak akan menjadi suaminya.

Bersambung

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!