NovelToon NovelToon
Suami Om-Om, Tiap Malam Minta Peluk

Suami Om-Om, Tiap Malam Minta Peluk

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak
Popularitas:310
Nilai: 5
Nama Author: Aura Rizki

Demi Rp 288 juta untuk pengobatan adiknya, Senja menikah kontrak dengan Damar Adiwangsa, konglomerat dingin yang sepuluh tahun lebih tua dan memiliki seorang putri kecil. Mereka sepakat tidak melibatkan perasaan. Namun ketika Bintang mulai memanggil Senja Mama, rumah yang semula dingin berubah menjadi keluarga. Damar yang dahulu menganggap Senja matre perlahan menjadi suami posesif yang tak sanggup melepaskannya. Saat kontrak berakhir dan Senja bersiap pergi, Damar justru menagih satu hal yang tidak pernah tertulis dalam perjanjian: cintanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aura Rizki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 25

Bab 25

Mau Senja, Nggak Mau Papa

Senja berdiri lama di tengah ruang keluarga.

"Baik," katanya akhirnya.

Jawaban yang terlalu tenang justru membuat Damar semakin marah. "Baik?"

"Mas menyuruh saya pergi. Saya akan berkemas."

Senja berbalik menuju tangga. Langkahnya belum sepenuhnya kuat, tetapi ia memaksa berjalan tanpa berpegangan. Damar mengikuti sampai anak tangga pertama.

"Kamu tidak mau menjelaskan?"

"Saya sudah menjelaskan. Reza datang tanpa diundang. Rayhan ikut campur tanpa diminta. Mas memilih tidak percaya."

"Kamu terlihat sangat dekat dengan mereka."

"Karena Mas melihat satu menit dan merasa tahu semuanya."

Damar meraih lengannya, lalu segera melepaskan ketika Senja meringis. Bekas operasi memang sudah sembuh, tetapi ototnya masih sensitif.

"Kalau kamu keluar dari rumah ini," katanya, "pengacara akan mengurus sisanya."

Senja menatapnya. "Cerai?"

Kata itu meluncur seperti pisau yang mereka berdua pegang dari sisi berbeda.

"Bukankah itu tujuanmu sejak awal?"

"Tujuan saya mengembalikan Rp 288 juta lebih dulu, bukan diusir dengan tuduhan murahan."

"Aku bisa melepaskan utang itu."

"Saya tidak bisa."

Damar mendengus. "Bahkan saat pergi kamu masih ingin terlihat paling bermartabat."

"Saya cuma ingin tidak berutang kepada orang yang membenci saya."

Suara tangis terdengar dari lantai atas. Bintang berdiri di ujung tangga dengan rambut masih basah, hanya mengenakan piyama dan satu sandal.

"Mama mau pergi?"

Tidak ada yang sempat menjawab. Anak itu berlari turun, nyaris tersandung. Senja segera naik dua anak tangga dan menangkapnya.

"Pelan-pelan."

"Mama jangan pergi." Bintang memeluk lehernya. "Bintang nggak marah lagi. Bintang maafin Mama terlambat."

Senja menahan air mata. "Mama juga minta maaf."

"Papa yang suruh Mama pergi?"

Damar membuka mulut, tetapi Bintang lebih dulu berteriak, "Papa jahat! Bintang nggak mau Papa. Bintang maunya Mama!"

Ia menarik Senja naik ke kamar, lalu membanting pintu di depan ayahnya.

Di dalam, Bintang menangis sampai cegukan. Senja duduk di karpet dan mengeringkan rambutnya perlahan.

"Kamu boleh marah, tapi jangan bilang nggak mau Papa. Papa sayang Bintang."

"Kalau sayang, kenapa bikin Mama pergi?"

"Orang dewasa kadang bicara saat marah. Itu salah, tapi bukan berarti Papa nggak sayang."

"Mama tetap pergi?"

Senja tidak sanggup berbohong. "Mama belum tahu."

Bintang kembali memeluknya. "Kalau Mama pergi, Bintang ikut."

Di balik pintu, Damar mendengar semuanya. Tadi ia yakin kepergian Senja akan mengembalikan rumah pada ketenangan semula. Kini ia hanya membayangkan kamar kosong, meja makan tanpa suara, dan Bintang yang kembali menutup diri.

Namun gengsinya menahan tangan untuk mengetuk.

Senja juga sedang menghitung pilihan. Jika bercerai sekarang, ia kehilangan pekerjaan tetap yang baru dijanjikan, gaji untuk membiayai adik-adiknya, dan kesempatan melunasi mahar dengan tenaganya sendiri. Yang paling berat, ia mungkin tidak akan pernah melihat Bintang lagi.

Ia membenci bahwa pertimbangan itu terdengar seperti perhitungan. Namun hidupnya memang selalu dipaksa menjadi daftar biaya.

"Mama nggak pergi malam ini," katanya.

Bintang mengangkat wajah. "Besok juga?"

"Besok kita bicara lagi sama Papa. Sekarang pakai sandal satunya dulu."

Anak itu akhirnya tersenyum kecil.

Ketika Bintang berganti pakaian, Senja membuka lemari dan mengeluarkan tas kanvas lamanya. Ia hanya membawa sedikit barang saat datang: beberapa baju, ijazah, buku catatan pengeluaran, dan foto tiga adiknya. Mengemasnya seharusnya tidak memerlukan waktu lama.

Bintang melihat satu blus masuk ke tas. Tanpa berkata-kata, ia mengambilnya kembali dan menggantungnya di lemari. Senja memasukkan celana, Bintang mengeluarkannya. Gerakan itu berulang sampai anak tersebut berdiri di depan tas seperti penjaga kecil.

"Kalau baju Mama di sini, Mama nggak bisa pergi."

"Mama cuma merapikan."

"Bohong."

Senja berlutut agar sejajar dengannya. "Mama nggak mau bohong. Papa sedang marah dan menyuruh Mama pergi. Mama belum tahu besok bagaimana. Tapi malam ini Mama tetap menemani Bintang."

"Terus kalau besok Papa masih marah?"

"Mama akan bicara baik-baik."

Bintang mengambil tas kanvas itu, menyeretnya ke bawah ranjang, lalu mendorong dengan seluruh tenaga sampai hanya talinya yang terlihat. "Sekarang tasnya hilang."

Senja tertawa kecil di sela tangis. Ia membantu mendorong tali yang tersisa, kemudian memeluk anak itu.

Di luar, Damar akhirnya mengetuk sekali. "Makan malam sudah siap."

Bintang membalas dari balik pintu, "Mama ikut makan. Kalau nggak, Bintang juga nggak makan."

Keheningan berlangsung beberapa detik.

"Bawa Mama turun," kata Damar akhirnya.

Itu bukan permintaan maaf, tetapi cukup untuk menunda perpisahan sampai besok.

Saat makan malam, Bintang menolak duduk di samping Damar. Ia menyeret kursinya rapat ke Senja dan menyilangkan tangan.

"Papa harus minta maaf."

Damar memandang nasi di piring. "Papa salah karena tidak datang ke sekolah."

"Sama Mama juga."

"Makan dulu."

"Minta maaf dulu."

Senja menyentuh bahu Bintang. "Jangan memaksa Papa. Dan jangan bicara kasar. Papa tetap orang tua Bintang."

"Tapi Papa kasar sama Mama."

"Karena itu kita tunjukkan cara bicara yang baik. Bukan ikut kasar."

Damar mengangkat mata. Perempuan yang baru saja ia usir itu masih mengajari anaknya menghormati dirinya.

"Aku tidak akan menghubungi pengacara malam ini," katanya.

Senja tersenyum hambar. "Terima kasih atas kemurahan hatinya."

"Jangan menyindir."

"Saya sedang berusaha sopan."

Bintang memukul meja dengan sendok. "Kalian berantem lagi. Habis makan kita main petak umpet. Nggak boleh ngomong cerai."

Aturan anak itu menjadi gencatan senjata. Setelah makan, Senja menghitung sampai dua puluh di taman sementara Bintang bersembunyi di balik pot besar. Tempatnya terlalu mudah ditemukan, tetapi Senja sengaja memeriksa semak dan kursi lebih dulu.

"Bintang di mana, ya?"

Tawa kecil terdengar dari balik pot. Ketika Senja akhirnya menemukannya, Bintang berlari dan memeluk pinggangnya.

"Sekarang Mama sembunyi."

Senja bersembunyi di balik pohon kamboja. Bintang mencari sambil memanggil Mama berulang kali, semakin panik ketika tidak segera menemukan. Senja cepat keluar sebelum permainan berubah menjadi ketakutan.

"Mama di sini."

Bintang menabrak pelukannya. "Jangan sembunyi lama-lama."

Dari balkon lantai dua, Damar menyaksikan anaknya memilih Senja sebagai tempat aman. Ada rasa iri yang memalukan dalam dadanya. Bertahun-tahun ia menjadi satu-satunya dunia Bintang. Kini, ketika takut, anak itu tidak lagi memanggil Papa lebih dulu.

Senja mendongak dan melihatnya. Tatapan mereka bertemu di antara cahaya taman.

Damar tidak pergi. Senja pun tidak menunduk.

Untuk sesaat, tidak ada lagi Reza, Rayhan, atau perjanjian yang memisahkan mereka. Hanya ada seorang anak yang takut ditinggalkan dan dua orang dewasa yang sama-sama terlalu keras kepala untuk mengakui bahwa rumah itu telah berubah. Damar menggenggam pagar balkon, lalu berkata cukup keras agar terdengar ke bawah.

"Besok kamu tidak perlu berkemas."

Senja tidak menjawab. Namun tangannya yang memeluk Bintang tidak lagi sekaku tadi.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!