Orielle Celeste mati bersama bayi yang tak sempat ia lahirkan. Semua orang mengira wanita lemah yang selalu menangis itu akhirnya menyerah pada hidup. Mereka tidak tahu… Tubuhnya kini dihuni oleh Celeste Seraphina, mantan bodyguard profesional yang cerewet, dan ahli bela diri. Hal pertama yang ia lakukan setelah membuka mata bukanlah menangis. Ia menandatangani surat cerai, menghajar mantan suaminya hingga bersimbah darah, lalu meninggalkan rumah neraka itu tanpa sedikit pun penyesalan. Baginya, perceraian hanyalah awal. Namun, bahkan Celeste tidak menyangka seseorang telah menunggunya. Caspian Orion Devereux. Pria yang dijuluki sebagai villain paling berbahaya. Sosok yang bahkan dunia bawah pun enggan menyentuhnya. Tanpa banyak basa-basi, Caspian meletakkan sebuah kontrak pernikahan di hadapannya. “Menikahlah denganku.” “Sebagai gantinya, aku akan memastikan mantan suamimu… dan siapa pun yang pernah menyakitimu menerima balasan yang setimpal.” Kesepakatan yang terdengar menguntungkan. Sayangnya, bermain-main dengan seorang villain tidak pernah berakhir sederhana. Terlebih ketika pernikahan yang semula hanya sebuah kontrak perlahan berubah menjadi obsesi. Dan sang villain memutuskan bahwa wanita itu… adalah miliknya
Noh yg suka bini yg jijik liat suami pas Transmigrasi nohhhh.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jeje Jennifer, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Menyusul
Disisi lain, di dalam mobil Maybach hitam antipeluru yang melaju mulus membelah jalanan malam, suasana terasa sangat kontras dengan hiruk-pikuk kelab malam.
Caspian duduk bersidekap di kursi belakang, manik mata kelamnya menatap dingin ke luar jendela, sementara tablet di pangkuannya menampilkan laporan keamanan real-time dari mansion utama Devereux.
Xanderion, yang duduk di kursi penumpang depan sebelah pengemudi, tampak memegang ponsel dengan dahi berkerut cemas, baru saja menerima panggilan dari kepala pengawal di mansion.
"Tuan..." panggil Xanderion hati-hati, memecah keheningan kabin mobil. "Nyonya Celeste... beliau meminta diantar ke supermarket di simpang jalan distrik utama menggunakan alasan izin dari Anda. Tapi setelah dicek oleh kepala pengawal, beliau tidak kunjung kembali. Dan setelah dilacak melalui ponsel serta koordinasi dengan pelayan Serena, Nyonya ternyata pergi ke Club V bersama sahabatnya."
Xanderion menelan ludah, bersiap menerima amukan atau perintah tegas untuk menyeret sang nyonya baru kembali ke mansion.
Namun, di luar dugaan siapa pun, terutama Xanderion yang mengira sang tuan akan murka besar—Caspian justru terdiam sejenak. Alih-alih mengeraskan rahang atau mengeluarkan aura membunuh seperti biasa, sudut bibir pria itu perlahan terangkat membentuk seulas senyuman tipis yang amat berbahaya.
"Dasar nakal..." gumam Caspian rendah, suaranya terdengar begitu santai namun penuh dominasi terselubung. "Belum genap sehari sah menjadi istriku, dia sudah berani bermain-main di belakangku."
Xanderion mengerjap bingung, nyaris tidak percaya dengan reaksi tuannya. "Lalu... apa perintah Anda, Tuan? Apakah kami harus mengirim tim untuk menjemput dan membawa pulang Nyonya?"
Caspian menutup tablet di pangkuannya, lalu menyandarkan punggungnya dengan tenang. Iris kelamnya memantulkan lampu-lampu jalanan kota yang berkilauan.
"Tidak perlu dijemput paksa," balas Caspian datar. "Kita ubah rute. Langsung ke Club V"
Pria itu merapikan manset jasnya, seringai tipis masih bertengger di bibirnya.
"Biar aku sendiri yang pergi menyusul istri nakal itu."
Dentuman musik elektronik di dalam Club V semakin menggila seiring jarum jam yang merayap mendekati pukul sembilan malam lebih. Di lantai dansa, lautan manusia tampak bergerak liar mengikuti irama bass yang menggelegar.
Namun, di dalam booth mereka, Celeste dan Cassandra justru tengah menikmati obrolan seru sambil menenggak gelas kesekian dari pitcher cocktail pesanan mereka.
"Sumpah ya, Cassa, hidup emang harus seimbang. Habis nikah, ya harus healing dugem!" tawa Celeste renyah, wajahnya tampak sedikit merona karena pengaruh alkohol yang mulai mengalir di aliran darahnya.
Cassandra ikut tertawa lepas, mengangkat gelasnya tinggi-tinggi. "Lo aja yang berubah terlalu banyak setan. Cheers buat suami misterius lo yang semoga aja nggak tau kalau bini barunya lagi mabok di sini!"
Tepat saat tawa mereka berdua mereda, suasana di luar area booth mendadak terasa berbeda. Penjagaan ketat di sekitar tangga menuju lantai dua mendadak melonggar secara drastis karena siapa pun yang datang baru saja mengambil alih tempat tersebut.
Diiringi langkah kaki tegas yang berwibawa, sosok Caspian Orion Devereux berjalan memasuki area klub dengan aura dominasi yang begitu pekat hingga mampu membuat udara di sekitar terasa menipis.
Pria itu mengenakan kemeja gelap dengan beberapa kancing atas terbuka, memperlihatkan tulang selangka, dibalut jas rapi yang disampirkan di lengannya. Di belakangnya, Xanderion mengekor setia dengan tatapan tajam mengawasi sekitar.
Alih-alih langsung menghampiri Celeste di sudut ruangan lantai bawah untuk menyeretnya pulang, Caspian menghentikan langkahnya sejenak. Iris kelamnya menatap sekilas ke arah meja tempat istri kecilnya sedang tertawa lepas bersama sang sahabat yang membelakangi mereka.
Seringai tipis dan dingin terukir di bibir sang penguasa dunia malam itu.
"Tuan, kita langsung menemui Nyonya?" bisik Xanderion hati-hati.
Caspian menggeleng pelan. Matanya masih mengunci sosok Celeste yang sedang meneguk minumannya dengan gaya tanpa beban.
"Tidak," balas Caspian dengan suara baritonnya yang tenang namun penuh mutlak. "Biarkan dia menikmati malamnya sebentar lagi. Kita ke ruang VVIP di lantai atas. Siapkan tempat yang punya pandangan langsung ke arahnya."
Tanpa membantah, Xanderion segera memberi isyarat kepada manajer klub yang langsung datang dengan gemetar ketakutan menyambut kedatangan sang pemilik mutlak tempat tersebut.
Caspian melangkah menaiki tangga menuju lantai dua, memasuki ruangan VVIP privat berlapis kaca satu arah (one-way glass) yang memberikan pemandangan sempurna ke seluruh penjuru klub—khususnya ke arah meja tempat Celeste berada.
Duduk di sofa kulit mewah dengan segelas wiski di tangan, Caspian menyandarkan punggungnya. Sepasang mata tajamnya menatap lurus ke bawah, menikmati pemandangan istri nakalnya yang sama sekali tidak tahu bahwa singa yang ia tantang kini sedang mengawasinya dari atas, siap menerkam kapan saja ia mau.
Xanderion berdiri di sisi sang tuan dengan tenang, memegang sebuah tablet hitam yang menampilkan profil singkat orang-orang yang sedang bersama sang nyonya baru malam itu. Jari Xanderion dengan cepat menelusuri data tersebut sebelum akhirnya beralih menatap Caspian.
"Tuan," ucap Xanderion dengan nada rendah namun jelas di tengah dentuman musik. "Dari hasil penelusuran, Nyonya Celeste tidak sedang bersama orang asing. Beliau bersama sahabat karibnya sejak masa masuk SMA..."
Xanderion berhenti sejenak, melirik sekilas ke arah tablet, lalu melanjutkan dengan nada sedikit tercekat, "...yang ternyata adalah adik kandung Anda sendiri, Tuan. Nona Cassandra."
Mendengar nama itu, gerakan tangan Caspian yang hendak mendekatkan gelas wiski ke bibirnya seketika terhenti. Iris kelamnya menyipit tajam, menatap ke arah gadis berambut cetar yang sedang tertawa lepas bersama Celeste di lantai bawah.
Suasana di dalam ruang VVIP mendadak terasa semakin dingin.
Caspian mendengus pelan, sebuah tawa sarkas lolos dari bibirnya.
"Cih..." desis Caspian dingin, rahangnya mengeras tipis. "Cassie benar-benar memanjakannya. Pantas saja istriku itu berani keluyuran ke klub malam tanpa izin." (Padahal Caspian sudah tahu mereka sahabatan)
Pria itu kembali menyandarkan punggungnya di sofa mewah, menatap tajam ke arah dua wanita yang masih asik bersenang-senang di bawah sana. Seringai tipis penuh ancaman terukir di wajah tampannya.
"Aku akan membekukan seluruh kartu kredit anak itu nanti," lanjut Caspian datar, tanpa sedikit pun keraguan dalam suaranya.
Di lantai bawah, di tengah kerumunan pengunjung yang semakin padat dan alunan musik yang menghentak dada, bulu kuduk Celeste mendadak meremang begitu saja. Gadis itu menghentikan gerakannya yang hendak meneguk kembali gelas minumannya, lalu mengusap kedua lengannya yang tiba-tiba terasa dingin.
"Eh, anjir..." gumam Celeste sambil bergidik pelan, menatap sekeliling dengan dahi berkerut. "Kok gue merinding ya, bestie? Kayak ada yang ngeliatin kita gitu..."
Cassandra, yang sudah setengah mabuk dan terhanyut dalam suasana, sama sekali tidak peduli. Ia terkekeh renyah sambil melambaikan tangannya sekenanya.
"Ah, perasaan lo doang kali, Cele! Efek kebanyakan minum tequila itu mah," sanggah Cassandra santai. "Udah, nggak usah peduliin hal-hal gaib atau paranoid nggak jelas begitu. Mending kita joget sekarang!"
Tanpa menunggu persetujuan Celeste, Cassandra langsung menyambar pergelangan tangan sahabatnya itu dan menariknya bangkit dari sofa.
Mereka berdua langsung menerobos kerumunan orang-orang yang mulai memenuhi area lantai dansa. Di bawah sorotan lampu laser yang berputar liar dan dentuman bass yang menggetarkan lantai, Cassandra langsung meliukkan tubuhnya mengikuti irama musik, mengajak Celeste untuk ikut melebur bersama lautan manusia yang malam itu tengah menikmati kebebasan dunia malam.
Celeste, yang awalnya sempat canggung, akhirnya membiarkan dirinya terbawa arus musik. Ia melepaskan tawanya, melupakan sejenak rasa meremang di tengkuknya, dan mulai ikut berjoget bersama Cassandra di tengah keramaian.
Efek alkohol yang mulai merambat naik ke kepala membuat kesadaran Celeste dan Cassandra sedikit melayang, melebur sepenuhnya ke dalam euforia malam.
Di tengah kerumunan orang-orang yang berdansa, keduanya bergerak lincah mengikuti irama musik elektronik yang menghentak. Celeste menggoyangkan pinggulnya luwes, melepaskan tawa renyah tatkala Cassandra menyenggol bahunya dengan penuh semangat. Mereka berdua berputar, melompat kecil, dan menikmati momen kebebasan tanpa beban itu seolah dunia hanya milik mereka berdua.
Jauh di atas sana, dari balik dinding kaca ruang VVIP lantai dua, pemandangan tersebut tertangkap jelas oleh sepasang mata kelam Caspian.
Pria itu duduk dengan salah satu kaki disilangkan santai di atas sofa kulit hitam. Jari-jemarinya yang panjang menjepit sebatang rokok yang menyala perlahan.
Asap tipis mengepul ke udara, sementara manik mata Caspian menatap tajam ke bawah—mengunci sosok istri kecilnya yang sedang asik bergoyang bersama sang adik kandung.
Tidak ada raut amarah di wajah tampannya saat itu. Sebaliknya, sudut bibir Caspian terangkat membentuk seulas senyuman tipis yang teramat tenang, nyaris lembut. Ia bisa melihat betapa bahagianya Celeste malam ini—senyum tawa yang begitu lepas, jauh berbeda dari bayangan gadis tertekan yang dia bayangkan.
Caspian menghisap rokoknya dalam-dalam, membiarkan nikotin memenuhi rongga dadanya, sementara matanya tak pernah lepas dari lekuk tubuh Celeste yang bergerak gemulai mengikuti irama lagu.
(Nikmati puas-puas malam ini, istri. Dan lihat besok pagi...) batin Caspian datar, sementara tatapannya berubah.
Suasana di lantai dansa terasa semakin panas dan penuh energi. Di tengah kerumunan orang-orang yang melompat mengikuti irama musik, Celeste menarik napas dalam-dalam, berusaha menetralkan debaran jantungnya akibat efek alkohol dan kelelahan.
Dengan mata yang sedikit menyipit karena pusing, Celeste merapatkan posisinya pada Cassandra. Ia melingkarkan kedua tangannya ke leher sahabatnya itu, menumpukan sedikit berat badannya karena Cassandra kebetulan memiliki postur tubuh yang lebih tinggi darinya.
Cassandra spontan menghentikan goyangannya, menunduk untuk menatap Celeste dengan dahi berkerut di tengah bisingnya musik.
"Kenapa, Cele? Capek ya?" tanya Cassandra setengah berteriak agar suaranya terdengar di atas dentuman musik.
Celeste menggeleng pelan, bibirnya menyunggingkan senyuman tulus yang teramat manis. Ia menatap lekat-lekat mata sahabat setianya itu, dipenuhi rasa haru yang tiba-tiba membuncah di dadanya.
"Cassa..." panggil Celeste dengan suara lembut namun cukup jelas di dekat telinga sahabatnya. "Makasih ya..."
Cassandra mengerjap bingung. "Makasih buat apa, anjir? Tiba-tiba banget mellow gini, nggak kesambet kan?"
"Makasih karena selalu ada buat gue selama ini," lanjut Celeste tulus, suaranya terdengar sedikit bergetar. "Pas gue hancur, pas gue menderita, pas gue nggak punya siapa-siapa... lo selalu ada di samping gue. Kalau nggak ada lo, mungkin gue nggak bakal sekuat sekarang."
Mendengar pengakuan jujur itu, pertahanan keras Cassandra seketika runtuh. Senyum lebar langsung terukir di wajahnya. Ia merengkuh pinggang mungil Celeste erat-erat, ikut mengeratkan pelukan di tengah riuhnya lantai dansa.
"Heh, apaan sih sok romantis gini!" teriak Cassandra gemas, meski matanya sendiri tampak berkaca-kaca karena terharu.
"Udah, nggak usah melow! Kita kan besties for life! Siapa lagi yang mau nanggung beban hidup lo kalau bukan gue?"
Celeste tertawa renyah, mengeratkan rangkulannya di leher Cassandra sebelum akhirnya mereka kembali melompat dan tertawa bersama, menikmati ikatan persahabatan yang telah teruji oleh waktu dan badai kehidupan.
Dari balik dinding kaca ruang VVIP di lantai dua, Caspian menyaksikan setiap detik interaksi intim itu dengan saksama. Hembusan napas berat lolos dari bibirnya.
Iris kelamnya menatap lurus ke bawah, melihat bagaimana sang istri melingkarkan tangannya dengan begitu nyaman di leher sang adik. Ada kilatan emosi di dalam mata tajam pria itu—perpaduan antara rasa tidak suka melihat orang lain menyentuh miliknya, namun di sisi lain terselip kehangatan asing yang jarang sekali ia rasakan.
Caspian mematikan puntung rokoknya di atas asbak kaca dengan gerakan perlahan.
Sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman tipis, penuh kuasa namun menyembunyikan rasa penasaran yang teramat dalam terhadap apa yang akan dilakukan istri nakalnya itu selanjutnya.
Setelah cukup lama berdansa dan melebur di tengah lautan manusia, energi Celeste dan Cassandra mulai terkuras, sementara pengaruh alkohol kian menguasai kepala mereka. Dengan napas yang memburu dan pipi merona merah, keduanya memutuskan untuk kembali ke meja booth.
Mereka menjatuhkan diri ke atas sofa empuk sambil tertawa terbahak-bahak karena kelelahan.
Tanpa banyak bicara, keduanya kembali menenggak beberapa gelas minuman keras hingga kesadaran mereka benar-benar melayang di ambang batas mabuk ringan yang menyenangkan.
Musik remix yang menghentak keras kembali menarik magnet tubuh mereka. Alih-alih kembali ke tengah kerumunan lantai dansa, Cassandra dan Celeste justru berdiri di dekat area meja mereka yang menghadap langsung ke arah ruang terbuka klub.
Cassandra mulai meliukkan tubuhnya, sementara Celeste berbalik membelakangi meja.
Celeste mulai menggoyangkan pinggul dan bokongnya mengikuti irama.
Gerakan mereka tampak begitu luwes, alami, dan memancarkan pesona liar yang teramat kuat.
Perpaduan kecantikan dan lekuk tubuh yang bergerak selaras dengan musik menciptakan pemandangan yang sangat indah dan memikat mata siapa pun yang melihatnya.
Caspian, yang semula duduk bersandar santai sambil menikmati rokoknya, perlahan menegakkan tubuh. Iris kelamnya menyipit tajam. Di bawah sana, gerakan menggoda Celeste yang tengah bergoyang bersama sang adik mulai menarik perhatian para pengunjung pria di sekitar mereka.
Beberapa pasang mata mulai melirik penuh minat, bahkan ada beberapa pria hidung belang yang mulai bersiul dan melangkah mendekat ke arah meja mereka dengan seringai penuh niat terselubung.
Rahang Caspian langsung mengeras. Urat-urat di pelipisnya menegang, dan cengkeramannya pada gelas wiski di tangannya hampir meremukkan kristal bening tersebut.
Sialan.
(Kenapa cemburu bos? Kan pernikahan kontrak, eh)
"Dia milikku. Hanya milikku" batin Caspian dingin, gelombang dominasi gelap mendadak melonjak dalam darahnya.
Tanpa berkata sepatah kata pun, Caspian langsung meletakkan gelasnya dengan kasar di atas meja hingga menimbulkan bunyi dentingan nyaring. Ia bangkit berdiri begitu cepat, membuat Xanderion yang berdiri di belakangnya langsung tersentak kaget.
"Tuan?" panggil Xanderion bingung.
Namun Caspian tidak menjawab. Pria itu melangkah lebar meninggalkan sofa VVIP, menuruni anak tangga dengan aura membunuh yang begitu pekat dan mengerikan, siap mencabut nyawa siapapun yang berani mendekati miliknya malam ini.
POV cassian : bukan rejeki yg melebar tp kepala ma telinga saya yg melebar ,, 😒😒😒😒😒😒
🤭🤭🤭🤭🤣🤣🤣🤣
kasihan caspian di sekitar ny byk org2 di luar Nurul ,, termasuk sang istrii ,,
Kade di Kadek ,, 😂😂😂😂