NovelToon NovelToon
Kutukan Mbah Golok Sakti

Kutukan Mbah Golok Sakti

Status: sedang berlangsung
Genre:Komedi / Epik Petualangan / Sistem
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: Soobin Chan

Reno Alvarez (25 tahun) punya visual secakep Yeonjun TXT, tapi statusnya tragis: PEngangguran JAkarta BARat yang hobinya cuma rebahan.

Nasib Reno mendadak korslet setelah nekat membuang golok warisan kakeknya ke tong sampah. Bukannya hilang, golok penuh daki itu malah auto-summon balik ke bawah bantalnya.

Reno resmi terkena kutukan Mbah Golok Sakti! Jiwanya mulai disedot paksa masuk ke berbagai dimensi absurd setiap kali tidur. Mulai dari dikejar zombie modal kolor Doraemon, operasi tenggorokan singa di Afrika, sampai debut dadakan jadi member TXT gara-gara Yeonjun asli lagi diare di toilet!

Setiap misi emang dapet cuan, tapi kalau Reno harus pindah dimensi terus nyawa bisa jadi taruhannya. Mampukah sang beban negara ini bertahan?

Warning: Jangan baca sambil minum, rawan nyembur! 🤣🔥

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Soobin Chan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 7. Dikejar Zombie

"Awss... sshh... duh... jahanam bener, aset masa depan gue..."

Reno meringis kesakitan sambil kedua tangannya refleks mengelus bagian bokongnya yang baru saja menghantam permukaan aspal jalanan yang keras dan kasar.

Awalnya ia mengira kalau dirinya hanya sekadar terjatuh dari atas kasur empuknya. Namun, begitu ia membuka kedua kelopak matanya...

"ASTAGFIRULLAHALADZIM... Di mana ini?! Ini sebenarnya lokasi syuting film horor hollywood atau gue lagi kena prank jebakan dari kru TV?!"

Reno terperangah tak percaya. Ia kini mendadak berada di tengah-tengah jalan raya raksasa yang diapit oleh gedung-gedung pencakar langit yang kondisinya sudah hancur lebur, runtuh kayak hati seorang remaja yang diputusin pacar pas lagi sayang-sayangnya.

Mobil-mobil mewah berserakan dalam kondisi terbalik, saling bertumpuk satu sama lain kayak rongsokan besi tua di gudang loak.

Reno mencoba mencubit pipinya kuat-kuat. "Awss... perih beneran!"

PLAK!! PLAK!! PLAKK!!

Belum percaya, ia menampar kedua pipinya sendiri berkali-kali sampai kulit wajahnya merah merona.

"Sakit asli! Masa mimpi rasanya bisa se-realistis begini sih? Harusnya kan kalau di dalam mimpi dipukulin itu rasanya kayak cuma dielus-elus manja doang?!"

Reno berdiri tegak dengan kedua kaki yang bergetar hebat. Penampilannya saat itu sungguh tragis dan memprihatinkan: bertelanjang dada, otot perut yang cuma satu kotak (itupun sebenarnya adalah cadangan lemak sisa makan malam) terpapar langsung oleh udara malam yang dingin mencekam, dan tubuh bagian bawahnya hanya dibungkus oleh kolor Doraemon sakti penolak bala.

"Tempat apaan sih ini sebenarnya? Kenapa suasananya sepi dan sunyi banget kayak hati gue pas tanggal tua di akhir bulan?! Ini kota mati atau Jakarta lagi menerapkan sistem lockdown jilid dua puluh?"

Suasana di sekeliling Reno benar-benar mencekam. Gelap, sunyi tanpa suara kendaraan, dan tercium bau busuk yang luar biasa menyengat, seolah-olah ada ribuan bangkai tikus got yang sengaja dibiarkan membusuk tanpa dikubur.

CRATT!!

Kaki kanan Reno mendadak menginjak sesuatu yang terasa sangat lembek, basah, dan berlendir di atas aspal. Ia langsung mengangkat kakinya tinggi-tinggi dengan ekspresi wajah jijik level dewa.

"Aduh, apaan nih yang barusan gue injak? Jangan-jangan ini adalah lendir milik slime monster atau kotoran ayam raksasa?!"

Ia terpaksa berjongkok sedikit untuk memastikan objek tersebut. Kedua matanya menyipit di tengah kegelapan.

"Ini... mirip potongan daging busuk? Baunya... bau bangkai amis darah yang sudah mengering!"

Reno kembali berdiri, mencoba melangkah berjalan lagi. Namun anehnya, setiap langkah kaki yang ia ambil selalu saja menginjak benda lembek serupa. Dan saat pandangan matanya mulai terbiasa dengan minimnya cahaya di tempat itu, ia melihat sebuah pemandangan mengerikan yang membuatnya ingin pingsan di tempat detik itu juga.

Potongan tubuh manusia, serpihan daging yang sudah membusuk dikerumuni lalat gaib, dan ceceran darah kering ada di mana-mana memenuhi jalan raya.

"BUSSETT DAHLAAAH!! Ternyata banyak banget bangkai manusia di sini! Ini tempat terkutuk apaan sih?! Gue jadi parno beneran... HUAAA... GUE PENGEN PULANG KE JAKBAR!! SIAPA SAJA TOLONGIN RENO YANG GANTENGNYA MIRIP ARTIS KOREA INI!!"

Reno akhirnya menangis sejadi-jadinya, air mata kebanggaannya mengalir deras membasahi pipi. Bayangkan saja, seorang pemuda tampan yang visualnya mirip Yeonjun TXT sedang menangis sesenggukan di tengah-tengah kota mati, sendirian, dan cuma memakai selembar kolor motif Doraemon.

Pemandangan konyol itu benar-benar berada di antara batas bikin kasihan atau bikin orang pengen melempar sandal jepit.

GRRRMMMM...!

Tiba-tiba, sebuah suara geraman rendah nan serak terdengar menggema dari balik sebuah mobil sedan yang posisinya terbalik. Sepasang mata berwarna merah menyala tampak menatap lurus ke arah Reno dengan pandangan penuh rasa lapar yang haus akan darah.

Tak lama kemudian, muncul sesosok makhluk berkulit pucat pasi dengan pakaian compang-camping. Rahang bawah makhluk itu tampak sudah copot sebelah—mungkin karena kebanyakan makan kerupuk kulit yang teksturnya keras. Sosok itu mulai berjalan menyeret kakinya ke permukaan.

"WAAAHH ANJIR, ZOMBIE BENERAN INI MAH!" teriak Reno histeris setengah mati.

"Aduh Mama, kalau tahu beneran bakal ketemu zombie asli begini, mendingan tadi Reno ikut nonton film Train to Busan aja di kamar daripada sombong! Ternyata nasib Om Gong Yoo jauh lebih beruntung daripada gue! Dia minimal di dalam film masih pake baju kemeja lengkap, lah gue di sini kenapa cuma modal pake kolor doang?!"

Dalam keadaan yang sangat terdesak dan nyawa sudah di ujung rambut, otak Reno yang sedang konslet mendadak teringat akan motif celana yang sedang dipakainya. Dengan gerakan yang super dramatis, ia mulai merogoh-rogoh bagian depan karet kolornya, seolah-olah ia sedang mencari kantong ajaib rahasia di perut Doraemon.

"Ayo Doraemon sakti! Keluarkan baling-baling bambu sekarang juga! Atau minimal Pintu Kemana Saja deh! Gue mau check-out dan pindah hotel dari mimpi buruk ini sekarang juga!" serunya penuh harap dengan mata terpejam.

Namun, alih-alih menemukan alat ajaib masa depan yang bisa membuatnya terbang, jari-jari Reno hanya menyentuh sebuah benda kecil, pipih, dan terasa agak lengket di dalam lipatan kain. Ia menarik benda itu keluar dengan penuh semangat membara.

"INI DIA! SE--... lah? Bungkus permen?!"

Reno seketika melongo dengan wajah cengo menatap selembar bungkus permen kaki yang sudah lecek, robek, dan berdebu hasil peninggalan zaman purba yang entah sejak kapan nyelip di saku kolornya.

Makhluk zombie itu menggeram makin keras, langkah kakinya yang pincang mulai bergerak makin cepat mendekati posisi Reno.

"Doraemon penipu! Ternyata ini cuma kolor KW hasil beli di pasar pagi!"

Reno pun tanpa pikir panjang langsung mengambil langkah seribu. Ia berlari secara zig-zag dengan kecepatan penuh sambil kedua tangannya sibuk memegangi karet kolornya agar tidak melorot dan menciptakan insiden tragis berupa "belalai ayunan" jilid dua.

"AMPUN MBAH ZOMBIE! JANGAN MAKAN GUE, PLEASE! DAGING GUE RASANYA ASAM DAN AMIS, KEBANYAKAN MAKAN SEBLAK CEKER LEVEL 100!!"

Reno terus berlari kencang membelah jalanan kota mati. Napasnya sudah putus-putus di tenggorokan, rasanya sangat kering seperti aspal jalanan yang gersang.

Keringat dingin yang bercampur dengan debu jalanan membuat tubuh telanjang dadanya itu terlihat makin mengkilap, persis kayak penampakan ikan bawal yang baru selesai dibakar di warung tenda.

"Gila bener bener! Ini zombie atau atlet lari maraton sih?! Kenapa lari mereka cepat banget!"

Reno sempat menoleh ke belakang sejenak, dan jantungnya hampir saja copot dari dada. Ternyata tidak hanya satu zombie. Puluhan zombie dengan berbagai macam bentuk estetika yang mengerikan—ada yang tangan kirinya tinggal satu, ada yang posisi kepalanya miring 90 derajat kayak orang lagi fokus mendengarkan gosip tetangga—sedang melakukan aksi pengejaran massal terhadap dirinya.

Reno bingung harus mengarahkan kakinya ke mana lagi. Setiap gang kecil yang ia tuju selalu saja memunculkan sosok-sosok kelaparan baru dari balik kegelapan. Ia merasa dirinya saat itu sudah mirip seperti seekor tikus got yang terjebak di dalam labirin raksasa penuh dengan monster kelaparan.

"Aduh, kaki gue udah mau copot rasanya! Mana jempol kaki kanan gue sempat nyangkut di rongsokan kabel jalanan lagi!" keluhnya merana sambil terus memacu sisa-sisa tenaga di kakinya untuk terus berlari.

Langkah lari Reno terpaksa melambat hingga akhirnya berhenti total saat ia sampai di sebuah area jalan buntu yang dikelilingi oleh pagar kawat besi yang menjulang tinggi.

Di depannya hanya ada tembok beton besar yang mustahil untuk dipanjat, sementara di arah belakangnya, gerombolan puluhan zombie lapar sudah menutup rapat satu-satunya jalan keluar. Reno benar-benar telah terpojok di ujung maut.

"A-ampun... Mbah Zombie, Om Zombie, Tante Zombie... jangan makan Reno yang tampan ini,"

1
Zyren Vale
mampir dong Thor 🗿
umar aryo
lanjut thor.... bagus cerita dan gaya bahasanya...
Ed Troivan
lanjut thor 💪
Ed Troivan
💪💪💪👍👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!