Di kota Neo-Veridia, ingatan bisa diperjualbelikan. Rian, seorang penata memori, menemukan kristal ingatan terlarang yang memperlihatkan dirinya di masa depan—atau masa lalu yang telah dihapus dari otaknya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wildyan NA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Identitas yang hilang
Suara raungan sirine patroli kian mendekat, membelah keheningan malam Neo-Veridia. Kilatan cahaya merah dan biru menembus kaca jendela Archivia, memantul licin di atas lantai besi yang dingin. Rian tahu betul apa arti sirine itu: Penjaga Kategori, satuan pengaman memori kota, sedang menyisir distrik ini. Jika mereka menemukan silinder merah itu di tangannya, Rian tidak hanya akan dipecat—ia akan di-reset, memorinya dikuras habis hingga ia tak lebih dari sekadar cangkang bernapas.
Dengan jemari yang gemetar, Rian mencabut silinder merah dari slot pemindai. Ia memasukkannya ke dalam saku dalam jaket kulitnya yang tebal. Dinginnya tabung kaca itu seolah menembus kain dan menusuk kulit dadanya.
Pintu depan Archivia terhentak keras. Tiga prajurit berseragam pelindung serat karbon masuk dengan senjata laras pendek terangkat. Pemimpin mereka, seorang pria bertubuh tegap dengan visor taktis melingkupi matanya, melangkah maju. Logo elang emas di dadanya berkilau muram.
"Rian Vance?" suara pria itu bergema datar, terdistorsi oleh modulasi mikrofon helmnya. "Kami mendeteksi anomali sinyal pemindaian frekuensi tinggi dari unit ini sepuluh detik yang lalu."
Rian berusaha menata napasnya, mencoba bersikap layaknya seorang Archivist yang kelelahan di akhir shift malam. "Hanya inventarisasi rutin, Komandan. Ada silinder lama yang korup dan memicu lonjakan daya."
Pria itu melangkah mendekati meja kerja Rian. Matanya yang tersembunyi di balik visor seolah menguliti setiap gerak-gerik Rian. Ia mengulurkan tangan yang terbungkus sarung tangan taktis, mengetuk-ngetuk permukaan meja baja.
"Ada seorang wanita yang baru saja keluar dari bangunan ini," kata sang Komandan. "Dia membawa barang curian dari Sektor Nol. Serahkan, dan kau bisa pulang dengan kepala tetap utuh."
"Tidak ada wanita yang masuk," jawab Rian perlahan, menatap lurus ke arah visor hitam itu. "Tempat ini ditutup sejak pukul sembilan malam."
Suasana mendadak mencengkam. Pria itu menyipitkan mata, lalu mengangkat tangannya untuk memberi sinyal pada dua anak buahnya. "Geledah seluruh lantai. Periksa log transaksi pemindai."
Rian tahu log pemindai di mejanya tidak bisa dibohongi; jejak akses memori merah itu tersimpan di sistem internal. Begitu mereka menekan tombol History, semuanya selesai.
Tanpa berpikir panjang, Rian memutar tubuhnya dan menyenggol botol cairan pembersih kimia terkonsentrasi tinggi di pinggir meja hingga jatuh tepat ke atas terminal daya utama. Percikan api menyambar hebat. BZZZT! Asap tebal membubung seketika, memicu alarm kebakaran dan memadamkan seluruh aliran listrik di gedung lantai tiga itu.
"Sialan!" teriak salah satu prajurit di tengah kegelapan yang mendadak.
Rian tidak membuang detik. Mengandalkan hafalannya atas seluk-beluk Archivia yang telah ia huni selama bertahun-tahun, ia menerobos kegelapan, berlari melompati pagar pembatas, dan menerobos pintu darurat menuju tangga belakang.
Ia menuruni anak tangga besi dengan gila-gilaan saat suara tembakan energi terdengar memantul dari lantai atas. Rian mendarat di gang sempit yang basah oleh air hujan. Udara dingin membentur wajahnya, tetapi otaknya terasa membara.
Sambil terus berlari menyusuri gang-gang gelap Distrik 4, Rian menyentuh pipi kirinya lagi. Kulitnya tetap halus. Namun, sosok dirinya di dalam memori tadi—pria berwajah sama yang memiliki parut luka dan mengendalikan Proyek Oblivion—terus menari-nari di ingatan penjelajahannya.
Siapa sebenarnya Rian Vance? Apakah ingatan yang ia jalani selama ini sebagai seorang Archivist biasa hanyalah sebuah kepalsuan yang ditanamkan ke dalam otaknya?